Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Lanjut


__ADS_3

Mengabaikan kedua orang tadi, Zero kembali pada tujuannya untuk mencari tahu lebih jauh tentang Viona. 


"Yu..- Ah, maksudku Viona. Aku sudah mendengar sedikit tentangmu dari, Charla. Seperti kelihatannya, kau memang gadis yang baik. Aku senang bisa berkenalan denganmu," kata Zero tersenyum menatap Viona yang tampak masih enggan menatapnya. 


"Aku juga senang bisa berkenalan dengan Viona-san, Zero-sama." Charla tersenyum pada Zero kemudian pada Viona dan seolah ingin meminta pendapatnya. 


Viona mencoba membalas senyuman mereka, "Iya. Aku juga senang bisa berkenalan dengan kalian." 


Zero bertopang dagu pada kedua tangan yang ditempel di meja sebelum bertanya, "Lalu, bagaimana denganmu? Apa kau sudah mendengar tentangku darinya?" katanya seraya tersenyum.


Viona mengangguk, "Kemarin Charla sudah menceritakan banyak hal tentangmu," jawabnya. 


"Oh, begitu," jawab Zero sambil menegakkan tubuhnya, "Aku penasaran ingin tahu bagaimana pendapatmu tentangku." Zero memainkan sedikit senyumannya.


"Aku juga sejak tadi penasaran ingin bertanya hal itu," sahut Charla. 


Menanggapi pertanyaan tersebut, Viona kembali membuang muka dengan bibir sedikit ke depan, "Kamu terlihat sombong dan menyebalkan. Aku kurang suka orang sepertimu," jawabnya. 


Zero menutupi mulutnya dengan kepalan tangan, mencoba menahan tawa mendengar jawaban Viona yang terang-terangan seperti itu tentangnya. Charla sendiri tersenyum  mendengarnya sambil memandangi Zero. 


Viona menatap Zero, terlihat jengkel dengan respon yang dia tunjukan, "Apakah ada yang lucu dengan jawabanku? Bukankah kamu memang terlihat seperti itu?"


"Ya, itu terdengar lucu karena baru kali ini aku mendengar seseorang berani menyebutku begitu," kata Zero sambil terkekeh. 


Viona yang merasa sebal mencoba mengendalikan dirinya dengan menghela nafas. 


"Tapi…" kata-kata Viona tertahan untuk sesaat dan membuat Zero berhenti terkekeh, "Meskipun kamu terlihat seperti itu, aku tahu kamu bukanlah orang jahat, " lanjut Viona. 


Perkataannya menyenangkan hati Zero sampai senyuman lembut pun terukir di bibirnya. Viona sejenak memandangi senyumannya itu sebelum kembali membuang pandangan. 


"Benar seperti yang Viona-san katakan, Zero-sama bukanlah orang jahat. Dia orang yang sudah menyelamatkanku, adikku, dan juga semua orang di desaku. Aku bersyukur sekali bisa bertemu dengannya," timbal Charla tampak ingin meyakinkan Viona tentang sosok Zero yang begitu berharga baginya.


"Jangan terlalu menyanjungku, Charla," kata Zero. 


Charla menggeleng kepala, "Aku tidak menyanjungmu, Zero-sama. Kenyataannya memang seperti itu. Zero-sama yang selama ini sudah memberikan kehidupan yang berarti bagiku dan juga yang lain. Jika Zero-sama tidak ada, mungkin aku tidak bisa jadi seperti sekarang ini. "


Zero hanya menanggapinya dengan senyuman sambil mengusap kepala Charla. 


Viona merasa ikut senang mengetahui Zero tampak sangat dihormati oleh Charla dan juga yang lainnya, tidak seperti pada kehidupan masa lalunya. 


Hidangan yang mereka tunggu sejak tadi akhirnya sampai. Mereka bertiga menyantap hidangan itu sembari berbincang santai. Sering berjalannya percakapan, Zero terus melontarkan pertanyaan pada Viona untuk mencari tahu lebih jauh tentangnya.


*~*


"Viona, terimakasih karena kau sudah mau berteman dengannya mengingat sejak dia keluar dari desa, dia belum sempat mempunyai teman perempuan orang luar seperti dirimu. Kuharap kau bisa berteman baik dengannya."


"Aku pun sangat senang bisa berteman dengan, Charla," balas Viona. 

__ADS_1


"Kalau begitu apa kau mau berteman denganku juga?" tanya Zero. 


"Itu…" Viona ragu menjawabnya, "Aku akan memikirkannya nanti."


Zero tertawa pelan menanggapinya, "Baiklah, aku tidak akan memaksamu jika kau tidak mau, tapi aku akan senang jika kau mau menerimanya."


Charla melihat Zero begitu antusias sekali dengan Viona. Sejak tadi Zero tidak berhenti mencari tahu tentangnya sambil sesekali menggodanya. Cara Zero memperlakukan Viona pun sangat berbeda dibandingkan ketika Zero memperlakukan perempuan lain pada umumnya. 


Charla mengamati Viona di depannya dengan tatapan yang kali ini tampak berbeda seolah ada rasa cemburu dalam tatapannya, 'Apa sekarang Viona-san akan menjadi sainganku juga?' batinnya. 


"Ada apa, Charla?" Viona menyadari tatapan Charla. 


"Ah, tidak apa-apa." Charla kembali berekspresi seperti biasa, membuang apa yang baru saja dipikirkannya.


"Sudah berapa lama kau tinggal di kota ini?" Zero melanjutkan percakapan. 


Viona terdiam mendengar pertanyaan Zero kali ini. Namun beberapa saat kemudian dia menjawab, "Sejak aku lahir."


"Oh, dari lahir, ya. Kukira kau baru-baru ini tinggal di kota ini. Ternyata aku salah." Zero tersenyum tipis saat menemukan kebohongan dalam ucapan Viona. 


"Hmm...kenapa sejak tadi kau hanya menjawab pertanyaanku. Apa kau yakin tidak ingin bertanya balik tentangku atau Charla? Apa kau tidak penasaran tentang kita berdua" tanya Zero memancing Viona untuk bertanya. 


Sebenarnya Viona mempunyai banyak pertanyaan yang ingin disampaikan pada Zero, tetapi dia tidak bisa mengutarakannya karena suatu alasan. 


"Ya sudah kalau kau tidak ingin bertanya. Sepertinya kau memang gadis yang pemalu." Zero yang mengerti situasi Viona saat ini mencoba untuk tidak mempermasalahkannya.


Permintaan itu sudah Viona perkirakan sejak tadi. Sekarang Viona tidak tahu harus menuruti permintaan tersebut atau tidak.


"Kenapa? Apa tidak boleh?" tanya Zero. 


Viona ragu mengeluarkan lukisan itu dari tas yang dibawanya, tetapi dia merasa tidak enak jika tidak menuruti permintaan Zero. Apalagi Charla tampak ingin sekali Zero melihat lukisan yang mirip dengannya itu. 


Mau tidak mau akhirnya Viona pun menuruti permintaan Zero dan memperlihatkan lukisan tersebut padanya. 


Saat pertama kali membuka gulungan kertas yang berisikan lukisan yang mirip dengan wajahnya, mata Zero berkaca-kaca, terpukau karena Viona ternyata mampu melukiskan wajahnya dengan sangat bagus.


"Lihat, Zero-sama. Aku tidak berbohong, kan. Dia mirip sekali denganmu." Charla ikut terpukau untuk kedua kalinya. 


"Kau benar, Charla. Lukisan ini memang mirip sekali denganku. Aku bahkan sampai mengira kalau ini memang diriku," jawab Zero lalu tersenyum penuh arti pada Viona seolah ingin mengatakan sesuatu padanya, tetapi Viona bersikap seolah tidak mengerti maksud dari senyumannya. 


"Bagaimana caramu membuat lukisan yang mirip sekali denganku seperti ini?" tanya Zero dengan seulas senyuman menyelidik. 


"Mungkin hanya kebetulan saja mirip denganmu." jawab Viona terlihat tidak ingin membahas lukisan itu lebih jauh. 


Sementara Charla yang mengamati ekspresi dan reaksi mereka merasakan kalau di antara mereka memang ada hubungan tertentu yang tidak diketahuinya. Semuanya tampak jelas, apalagi dengan kenyataan kalau lukisan tersebut mirip sekali dengan Zero.


Perasaan yang Charla rasakan itu semakin menguat setelah beberapa percakapan berikutnya. Zero terlihat seperti berusaha melempar kode khusus pada Viona meskipun Viona bersikap seolah tidak mengetahuinya. Charla semakin yakin kalau memang ada hubungan di antara mereka.

__ADS_1


Hingga sore pun tiba, mereka akhirnya selesai berbincang-bincang dan keluar dari restoran tersebut. 


"Terima kasih karena sudah mau mengajakku makan bersama." Viona menunjukkan sikap terima kasih. Dia merasa lega karena akhirnya bisa keluar dari perasaan yang sejak tadi memberatkannya. Dia berjanji sebisa mungkin untuk tidak berurusan lagi dengan Zero. Hari ini baginya sudah cukup.


"Sama-sama," jawab Zero dan Charla serempak. 


"Kalau begitu aku pamit duluan."


"Ya."


"Sampai jumpa lagi, Viona-san."


Zero mengamati Viona yang mulai melangkah pergi dari hadapannya. Jujur hari ini dia merasa sangat senang karena takdir telah mempertemukannya kembali dengan sosok yang dulu dikasihinya.


Sebelum menyusul pergi dari tempat itu, Zero mengucapkan sepatah kata melalui skill telepatinya yang hanya bisa terdengar oleh Viona. 


Viona berhenti melangkah saat mendengar perkataan Zero tiba-tiba memasuki pikirannya. Dia pun segera berbalik dan menemukan Zero sudah melenggang pergi dari tempat itu. Pandangan mereka sejenak bertemu. Bertepatan dengan itu, Zero menunjukkan senyuman yang mengartikan maksud dari perkataannya barusan pada Viona. 


*~*


"Zero-sama, boleh aku memastikan sesuatu?" tanya Charla selagi berjalan kembali ke penginapan.


"Ya, apa?" Zero menanggapi.


"Apa Zero-sama mempunyai hubungan dengan, Viona-san?" tanya Charla sambil menundukkan sedikit wajahnya, mencoba agar ekspresi cemburunya tidak telihat.


"Kenapa kau berpikir begitu?"


"Habisnya sejak Zero-sama bertemu dengan Viona-san, sikap Zero-sama terasa berbeda. Padahal sebelumnya Zero-sama tidak pernah bersikap seperti itu dengan wanita lain." Charla menjelaskan apa yang dirasakannya.


"Kau menyadarinya, ya." Zero terkekeh pelan.


"Jadi benar Zero-sama mempunyai hubungan dengannya."


"Entahlah..." Zero menjawab santai seolah tidak peduli dengan hal itu. Charla tidak senang dengan sikapnya tersebut.


"Zero-sama..." Charla tiba-tiba berhenti di depan Zero dan menatapnya dengan serius, "Kumohon jawab yang sejujurnya. Apa benar Zero-sama mempunyai hubungan dengan Viona-san?" Charla bertanya sungguh-sungguh. 


Zero mengamati tatapan Charla yang tampak serius sebelum menghela nafas kemudian tersenyum sambil memegang pundak Charla.


"Kau tidak perlu mengetahuinya sekarang. Aku akan menjawabnya nanti. Namun yang pasti, untuk sekarang aku sungguh tidak mempunyai hubungan apapun dengannya selain hanya sebatas kenalan," jawab Zero mencoba meyakinkan Charla.


Charla menghela nafas, membuang perasaan cemburunya itu dan menuruti apa yang Zero katakan.


"Baiklah aku akan menunggunya sampai Zero-sama mau memberitahukannya padaku."


"Terimakasih karena sudah mau mempercayaiku." kata Zero sambil kembali melangkah.

__ADS_1


"Sudah ayo kita pulang. Setelah tiba di penginapan, kita akan membahas soal masalah gelombang monster bersama yang lain."


__ADS_2