Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Hiburlah Aku


__ADS_3

Hanya dengan menggunakan skill Infinity Touch-nya, Zero tidak perlu butuh waktu dan tenaga untuk membunuh mereka berenam.


Perlu diketahui kembali, skill infinity touch milik Zero merupakan skill pertama yang dia dapatkan pada saat dirinya masih berada dalam Menara Agung.


Skill ini bukan hanya memberikan gaya dorongan dan tarikan saja, tetapi juga mampu memberikan daya rusak yang tinggi sesuai dengan status kekuatan yang Zero miliki.


Zero mampu menghancurkan tubuh mereka begitu saja karena dipengaruhi oleh tiga hal. Pertama, karena status kekuatan yang dia miliki sudah tinggi serta skillnya sudah mencapai level maksimal. Kedua karena tubuh mereka yang dihancurkan tidak memiliki sihir atau memiliki sihir yang rendah—Meksi begitu jika orang yang tidak memiliki sihir itu mempunyai mempunyai ketahanan fisik yang kuat, itu tidak akan berpengaruh padanya. Dan yang ketiga karena fisik tubuh mereka yang dihancurkan terbilang lemah.


Kesimpulannya kekuatan maksimal yang bisa dikeluarkan dari skill ini hanya akan menghancurkan tubuh orang-orang yang masuk dalam ketiga kategori itu saja.


Sudah cukup penjelasannya dan kembali ke cerita.


"Sherria, kenapa? Kau terlihat murung begitu?" Zero melirik ke Sherria di belakangnya yang tampak murung sejak kejadian tadi.


"Ah, bukan apa-apa." Sherria mencoba terlihat baik-baik saja.


"Jangan diambil hati perkataan mereka." Zero bisa mengetahui apa yang membuat Sherria demikian.


"Baik…" patuhnya. Sherria tidak ingin memberitahukan kalau dirinya merasa bersedih karena tadi mendengar salah satu dari mereka menyebutnya sebagai barang bekas.


Di saat sore hampir padam, Zero akhirnya menemukan tempat yang cocok untuk beristirahat. Mereka berdua pun berhenti dan beristirahat di tempat itu. Zero bersandar di dekat pohon sedangkan Sherria menjaga jarak lima meter di depannya.


Tidak mempermasalahkan hal itu, Zero mulai mengeluarkan makan pokoknya dari dalam inventory untuk mengisi perutnya yang minta diisi.


'Kalau kau ingin makan sesuatu yang lain kau boleh memintanya. Katakan saja." Zero menawari Sherria.


"Emm…" Sherria menggeleng pelan menolak tawaran Zero. Diberi makanan saja sudah cukup baginya.


"Yasudah…" Zero kemudian membeli sup seperti tadi dari menu store-nya lalu memperlihatkannya pada Sherria.


"Ambilah…" Zero menyodorkan mangkuk sup itu untuk diambil.


Sherria mengangguk pelan kemudian berdiri menghampiri Zero. Namun naasnya ketika satu langkah lagi sampai, tiba-tiba Sherria tersandung sesuatu dan berakhir terjatuh tepat ke arah Zero. Yang terjadi berikutnya sup yang Zero sodorkan untuk diambil itu malah balik tumpah menimpanya.

__ADS_1


"Ah, m-maaf, Zero-sama! Aku tidak sengaja!" Sherria segera meminta maaf dan membersihkan baju Zero yang terkena tumpahan sup itu.


Zero sejenak terdiam, merasa terkejut saat terkena tumpahan itu. Melihat Sherria di depannya sedang membersihkan kesalahannya dari tumpahan sup itu, Zero memegang bahunya lalu mendorongnya untuk menyuruhnya berhenti.


"Tidak apa-apa, hanya ini saja, tidak perlu dikhawatirkan." Zero tidak terlalu mempermasalahkannya.


"Tapi Zero-sama…" Sherria masih merasa bersalah dan tidak enak hati.


"Sudah, nanti biar aku sendiri yang membersihkannya. Lebih baik kita makan saja dulu." Zero membuka menu store-nya kembali dan membeli sup seperti tadi.


"Ambil dan duduklah…" Lalu menyerahkannya pada Sherria.


Sherria terlihat ragu untuk mengambilnya.


"Kalau kau tidak mau mengambilnya aku akan marah." Zero berkata dingin memaksa Sherria untuk mengambil sup itu dari tangannya.


Sherria dengan penuh rasa bersalah mengangguk dan mengambil sup itu kemudian duduk di depan Zero.


"Sekali lagi maaf, Zero-sama…"


Setelah itu mereka berdua mulai mengisi perutnya masing-masing. Selama makan tidak ada percakapan yang terdengar diantara mereka, membuat suasana menjadi canggung.


"Kau sudah kenyang? Kalau kau masih lapar bilang saja." Zero selesai makan lebih dulu.


"Tidak, terima kasih. Ini sudah cukup." Sherria menggeleng keras menolak tawaran Zero.


"Baik, aku ingin ganti baju dulu…" Zero bangkit dari posisinya dan berjalan ke salah satu pohon. Di sana dia mengganti bajunya yang terkena tumpahan sup itu dengan baju baru berwarna biru yang dia beli dari menu store-nya.


*~*


Selesai salin, Zero kembali menampakkan dirinya di depan Sherria yang kelihatannya sudah selesai memakan sup permberiannya sampai habis. Zero berjalan ke dekat pohon lalu menyandarkan tubuhnya disana.


"Sherria, bagaimana dengan ingatanmu? Apa sudah ada sesuatu yang kau ingat sekarang?" Zero mengecek khasiat dari pil pemulih ingatan yang Sherria konsumsi tadi.

__ADS_1


"Belum, Zero-sama." Meski sudah beberapa waktu berlalu tapi Sherria masih belum mengingat apapun.


"Begitu, ya…" Zero menghela nafas pelan. Sepertinya akan membutuhkan waktu bagi Sherria kembali mengingat semuanya, itu yang Zero pikirkan.


Merasakan kantuk setelah makan, Zero mengeluarkan kapsul yang berisi bantal dari kantong ajaibnya, memposisikannya ke belakang lalu menyandarkan tubuhnya ke benda yang terasa empuk dan nyaman itu. Setelahnya dia mulai memejamkan mata.


"Anu~" Sherria terdengar ingin mengatakan sesuatu.


"Mmm…" Zero merespon dengan gumaman.


"Zero-sama…" panggil Sherria.


"Ya. Ada apa?" Suara Zero terdengar lemas karena mengantuk. Dia sudah siap masuk ke dalam dunia mimpinya.


"Mmm...Apa ada yang bisa aku lakukan? Apapun itu aku akan melakukannya." Sherria ingin dirinya terlihat lebih berguna sebagai bentuk terima kasih karena Zero sejak tadi selalu menolongnya.


"Baiklah, kalau begitu hiburlah aku…" Perintah itu spontan keluar dari mulut Zero sebelum akhirnya dia masuk ke dalam dunia mimpinya.


Sherria yang mendengar perintah itu terdiam, ragu untuk melaksanakannya. Tetapi barusan dia sudah berjanji akan melaksanakan perintah Zero apapun itu dan lagi dia berpikir mungkin hanya dengan begini dia bisa membalas semua kebaikan yang telah Zero berikan selama ini padanya.


"Baik, Zero-sama." Sherria menerima perintah Zero. Dia mulai mendekati Zero yang tengah memejamkan matanya seperti orang tertidur, tapi Sherria tidak mengiranya demikian. Dia mengira mungkin Zero bersikap seperti ini karena sudah siap dilayani olehnya.


Menekukkan kedua lututnya di depan Zero, Sherria membuka satu kancing pakaiannya, bersiap melayani Zero. Dia memandangi wajah tampan Zero dari dekat dengan penuh kegugupan. Jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya, pipinya yang semula putih kini menjadi merah merona layaknya tomat yang matang.


'Aku harus melakukannya.' Sherria berusaha memantapkan dirinya.


Sherria memikirkan apa yang pertama harus dia lakukan untuk melayani orang seperti Zero. Sebelumnya Sherria belum pernah melayani seseorang secara langsung seperti ini, jadi dia belum mempunyai pengalaman.


Setelah beberapa saat berpikir, Sherria memutuskan mencoba memulainya dari cara yang termudah. Dia mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya dengan wajah Zero lalu perlahan menempelkan bibirnya yang lembut dengan bibir mungil milik Zero.


Saat Zero baru saja ingin tenggelam ke dalam lautan mimpinya, tiba-tiba dia merasakan ada sesuatu yang basah dan lembut menempel di bibirnya, hal itu seketika membuatnya tersadar.


Begitu membuka matanya, Zero melihat Sherria yang tengah berada tepat di depan matanya sedang mencoba meng*lum bibirnya. Hal itu membuat Zero spontan menggerakkan tangannya menampar pipi Sherria.

__ADS_1


Plak!


"Ahh!" Sherria yang menerima tampan dari Zero pun terjatuh ke belakang. Dia meringis kesakitan sambil memegangi bekas tamparan barusan yang membuat pipinya memerah


__ADS_2