Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Gelombang Monster XX


__ADS_3

Binatang jahanam yang ada di kota Buldovia tidak hanya kelabang raksasa yang saat ini sedang dihadapi oleh Zero. Ada dua lagi dan saat ini masing-masing sedang diurus oleh kelompok petualang dan pasukan militer kerajaan. 


Di kelompok petualang, mereka kini sedang dihadapkan dengan cacing raksasa yang mempunyai kemampuan bersembunyi di dalam tanah. Binatang jahanam yang menjadi lawan mereka saat ini terlalu sulit untuk ditaklukan sekalipun mereka bekerja sama. 


"Dasar pengecut. Makhluk ini beraninya hanya menyerang secara sembunyi-sembunyi seperti ini padahal tubuhnya sebesar itu. Ayolah keluar, kita sudah bosan menunggu," gumam Sean terdengar geram sambil mengamati keadaan sekitarnya untuk menebak di mana selanjutnya cacing raksasa itu akan muncul. 


Cacing raksasa yang menjadi lawan mereka saat ini berhasil merepotkan mereka karena pandai bersembunyi dari dalam tanah tanpa terdeteksi sedikitpun dan menyerang secara tiba-tiba ketika lawannya sedang lengah. 


Sejauh ini sudah ada tiga petualang yang tewas dilahap oleh cacing tanah itu dan membuat orang-orang di situ menjadi extra siaga serta berhati-hati dalam memposisikan dirinya. 


Fokus mereka kini sepenuhnya tertuju ke area di sekitarnya, tak ingin mengalihkannya pada yang lain meskipun saat itu perhatian banyak orang sedang teralihkan oleh aksi Zero yang tengah menghadapi salah satu binatang jahanam seorang diri. 


Ketika salah satu petualang di situ tak tahan ingin mengalihkan perhatiannya untuk melihat aksi Zero yang begitu menarik perhatian, saat itu juga cacing raksasa yang sejak tadi bersembunyi di dalam tanah muncul menyerangnya. 


"Sekarang!"


Semua orang bereaksi dengan kemunculan cacing raksasa itu tanpa peduli dengan siapa yang kali ini menjadi mangsanya. Mereka yang berada tak jauh dengan petualang yang lengah itu serempak menyerangnya tepat setelah cacing itu keluar dari tempat persembunyiannya. 


Serangan secara bersamaan itu kali ini berhasil membuat cacing raksasa itu menjerit kesakitan sebelum dia buru-buru bersembunyi kembali ke dalam tanah. Setelah itu terjadi semuanya kembali bersiaga. 


'Dari serangan barusan aku menyadarinya. Meskipun kecepatan dan kemampuannya tinggi, bagian tubuhnya ternyata tidak terlalu keras dan bahkan kelihatannya bisa dengan cepat untuk dihancurkan. Dalam beberapa serangan secara bersamaan seperti tadi, aku yakin monster ini pasti bisa dikalahkan.' Sean menemukan peluang untuk menang setelah barusan ikut menyerang cacing tanah itu.


"Baiklah, sekarang siapa yang akan menjadi targetnya." Sean memperlihatkan senyuman penuh rasa percaya diri selagi menunggu kemunculan cacing raksasa itu kembali. 


Di tempat yang sama, Bobby tidak sedikitpun menurunkan kewaspadaannya setelah dia memahami sesuatu. 


"Pertempuran melawan monster ini sebenarnya tidak terlalu sulit. Ini hanya menguji kesiagaan dan fokus kita dalam menghadapinya. Artinya, hanya mereka yang lengah yang akan mati di sini." Bobby memamahi gambaran situasi pertempurannya saat ini. 


"Makhluk ini sangat mengerikan. Dia mampu menyadari mereka yang lengah dengan begitu cepat bahkan sebelum orang itu bisa memusatkan perhatiannya kembali. Aku kurang yakin bisa selamat andaikan nanti tertangkap olehnya." Iris menilai kemampuan binatang jahanam ini yang menurutnya sangat mengerikan. 

__ADS_1


Sudah beberapa menit mereka menunggu kemunculan cacing raksasa itu, tetapi dia tak kunjung muncul lagi. Hal itu terjadi karena semua petualang di situ sudah menyadari kalau mereka akan mati jika tidak bersiaga. 


'Cih, jika terus seperti ini, dia tidak akan pernah muncul.' Sean mulai kesal melihat tidak ada dari mereka yang menurunkan kewaspadaannya untuk memancing binatang jahanam itu keluar. 


'Apa boleh buat, aku sudah lelah menunggu. Sepertinya hanya ini satu-satunya cara untuk mengalahkannya.' 


Sean berniat melakukan siasat licik. Dia mengambil benda kecil berbentuk bulat dari sakunya dan diam-diam menjentikkannya ke salah satu petualang yang ada di situ. 


Begitu benda kecil itu mengenai kepala petualang itu, dia menjerit kesakitan. Saat itu terjadi fokusnya menjadi lengah dan membuat cacing raksasa itu muncul ke permukaan untuk memangsanya. 


Kali ini cacing raksasa itu muncul tepat di sekitar Bobby dan Iris. Kesempatan itu tentunya tidak bisa mereka sia-siakan. 


"Sekarang!" 


Bobby dan Iris serta orang-orang di sekitarnya menyerang cacing raksasa itu secara bersamaan menggunakan kekuatan penuhnya. 


Serangan mereka berhasil menorehkan luka yang cukup dalam untuk cacing raksasa itu walaupun belum benar-benar bisa menumbangkannya. 


"Hei, siapa yang barusan melemparkan sesuatu ke kepala rekanku sampai membuatnya seperti itu?" tanya salah rekannya yang sudah dilahap oleh cacing raksasa tadi tanpa menurunkan kewaspadaannya mesksipun ekspresinya menunjukkan kalau dia sedang marah 


Dia merasa ada seseorang yang sengaja membuat rekannya menjadi lengah hingga berakhir seperti itu. Sayangnya dia tidak tahu siapa pelakunya. 


Selain dirinya, yang lain pun sebenarnya merasakan hal yang sama. Namun dengan situasi saat ini, mereka memilih untuk tidak memikirkannya dulu. 


Biarpun mereka mendengar pertanyaan itu, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang menjawabnya. Semuanya terlalu fokus dengan keadaan sekitarnya tanpa mau menanggapi sesuatu yang bisa membuatnya lengah. 


'Sialan, siapa yang telah berbuat licik seperti itu pada rekanku…' Rekannya yang tewas tadi berusaha tetap tenang meski kondisi mentalnya saat ini sedang tidak stabil. 


Selagi fokus dengan keadaan sekitarnya, dia mencari tahu siapa pelaku dibalik kematian rekannya tadi. 

__ADS_1


Ketika sesekali mengamati setiap orang yang ada di situ, pandangan petualang itu berhenti di sosok Sean yang terlihat sedang melakukan gerakan mulut untuk memberitahukan sesuatu pada petualang itu. 


"Aku yang melakukannya..." Gerakan mulut Sean setidaknya mengatakan seperti itu padanya. 


Mata petualang itu terbelalak dan fokusnya menjadi kacau mengetahui ternyata Sean pelakunya. 


"Jadi kau yang telah—"


Belum sempat petualang itu melampiaskan kekesalannya pada Sean, cacing raksasa yang memangsa rekannya tadi muncul memangsanya kali ini.


"Celaka!" Petualang itu tidak sempat bereaksi karena tertangkap cacing raksasa itu. 


Cacing raksasa itu kembali muncul di sekitar Bobby dan Iris. Mereka tanpa lama-lama menunggu segera melancarkan serangannya lagi dan membuat cacing raksasa itu merasakan sakit yang sama untuk yang kedua kali. 


Cacing raksasa itu kembali ke dalam tanah setelah mendapatkan mangsanya. Mereka kembali bersiaga. Sean terkekeh dalam hatinya seperti menikmati pertempurannya kali ini yang begitu menarik menurutnya. 


'Baiklah, siapa yang akan menjadi tumbal berikutnya.' Sean mencari orang-orang di sekitarnya yang pantas dijadikan tumbal dalam mencapai kemenangannya. 


Memulai aksinya kembali, Sean menjentikkan benda-benda kecil yang diambil dari sakunya ke orang-orang yang tengah bersiaga di tempat itu untuk membuat mereka lengah dan berakhir menjadi umpan cacing raksasa itu. 


Orang-orang yang menjadi lengah setelah terkena lemparan benda kecil itu tewas dengan cara yang sama. Hebatnya tidak ada satupun dari mereka yang menyadari kalau itu adalah perbuatan Sean, bahkan untuk kedua petualang pangkat diamond itu sekalipun.


Orang-orang yang bertempur di situ kini tak hanya fokus pada cacing raksasa itu, melainkan pada serangan tiba-tiba yang bisa membuat mereka lengah seperti orang-orang yang berakhir mengenaskan tadi.


Aksi licik Sean berhasil membuat mereka yang bertarung di situ jadi mempunyai kesempatan untuk menyerang cacing raksasa itu beberapa kali dan memperbesar peluangnya untuk menang. 


'Tinggal tiga sampai empat kali lagi aku yakin makhluk itu akan jatuh.' Sean terkekeh sinis dalam hatinya mengetahui kemenangan yang dia tunggu-tunggu sebentar lagi akan dia raih. 


'Kalau begitu siapa empat orang berikutnya yang akan menjadi tumbal terakhir sekaligus sebagai persembahan kemenangan ini.' Sean mengamati orang-orang yang masih bertahan di tempat itu yang sedang dalam kondisi siaga penuh.  

__ADS_1


'Dia… dia… dia… atau dia…' Sean melirik orang-orang di sekitarnya, mencari siapa yang pantas menjadi tumbal terakhir untuk meraih kemenangannya. Pandangan Sean kemudian terhenti pada dua sosok terkuat di tempat itu.


'Tidak ada salahnya juga bukan jika mereka berdua ikut menjadi persembahan kemenangan ini. Dengan begitu, aku tidak perlu membagi hasil dari kemenangan ini dengan mereka,' batin Sean sambil melihat Bobby dan Iris dengan tatapan jahat.


__ADS_2