
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terima kasih dan selamat membaca
______________________________
Membuka cerita, Zaltra menjelaskan jika dia bersama seluruh rasnya yang berada disini sudah terjebak selama ratusan tahun.
"Oh, ternyata masih ada orang lain selain engkau dan adikmu."
"Ya. Seluruh rasku yang tersisa semuanya ada disini."
"Begitu, ya…"
Zaltra kembali melanjutkan. Dia menceritakan alasan kenapa dia bersama rasnya yang lain bisa berada di tempat ini kemungkinan ada kaitannya dengan kejadian di masa lalu, yang mana pada saat itu mereka semua mati di tangan yang sama, yakni di tangan Binatang jahanam yang sampai sekarang ini pun masih meneror kehidupan mereka.
Akira memotong cerita Zaltra untuk bertanya, "Berhenti, aku ingin bertanya, sebenarnya makhluk apa Binatang Jahanam ini?"
Zaltra menghela nafas, menatap Akira sebentar lalu menjawab pertanyaannya,
Binatang Jahanam merupakan sejenis binatang pembawa petaka yang diciptakan oleh bangsa iblis dengan tujuan untuk menghancurkan semua makhluk di muka bumi pada zaman nenek moyang mereka.
Terdapat banyak jenis Binatang Jahanam dengan kekuatan yang menakutkan, yang bahkan satu ekornya saja sudah mampu untuk menghancurkan sebuah negara, diantaranya seperti yang Akira kenali sekarang.
Pada zaman mereka, Binatang Jahanam seharusnya sudah tidak ada lagi. Akan tetapi pada waktu itu salah seorang manusia berhasil membangkitkannya kembali dan mengirim salah satu Binatang Jahanam tersebut ke wilayah mereka dengan tujuan untuk merampas seluruh kekayaan ras yang mereka miliki.
Hal itu membuat semua ras duyung menjadi panik ketakutan. Mereka semua menjadi murka pada yang namanya manusia. Ada juga yang merasa bersedih dan putus asa.
Hingga akhir cerita semua rasnya pada saat itu dibantai satu demi satu oleh Binatang Jahanam tersebut, dan setahu Zaltra mereka yang ada disini merupakan ras terakhir yang tewas pada saat itu.
Zaltra tidak tahu apakah di dunia asalnya sekarang masih ada diantara rasnya yang masih hidup. Dia hanya bisa berharap semoga saja ada.
"Pantas saja adikmu barusan terlihat seperti sangat tidak suka padaku. Tidak, kemungkinan semua bangsamu pun sama. Aku turut prihatin mendengarnya." Akira menunjukkan rasa prihatinnya pada Zaltra setelah mendengarkan ceritanya yang menurutnya lumayan menyedihkan.
__ADS_1
"Terimakasih atas perhatiannya." Zaltra menunjukkan sikap terima kasih.
Akira mengubah posisi duduknya di tepian ranjang dengan kaki terayun ke bawah, kemudian dia berkata, "Sangat mengejutkan kalian masih bisa bertahan hidup di tempat ini selama ratusan tahun. Bagaimana caranya kalian mencari makanan atau sejenisnya?"
Zaltra menggeleng pelan dengan pandangan sedikit menunduk ke bawah, "Tidak... Kami semua yang ada disini tidak bisa merasakan lapar maupun haus. Kami tidak bisa menua dan kami juga tidak bisa mati untuk mengakhiri semua ini. Setiap kami mati, kami selalu dibangkitkan kembali dan berakhir di tempat ini.
Ini benar-benar memuakkan. Kehidupan kami semua disini tidak jauh berbeda dengan ikan di dalam akuarium, tidak bisa bergerak bebas dan selalu hidup dalam teror masa lalu yang memuakkan. Bagi kami tempat ini jauh lebih buruk dari neraka sekalipun... " jelas Zaltra terdengar ada kesedihan mendalam yang terkandung dalam setiap ucapannya.
"Bagaimana bisa...." Akira tidak bisa menutupi rasa terkejutnya saat mendengar penjelasan Zaltra. Di satu sisi dia sedikit tersentuh mendengar seberapa menyedihkannya keadaan Zaltra beserta rasnya disini.
"Entahlah. Kami pun tidak tahu..." Zaltra menggeleng lemas sebelum bangkit dari posisinya dan secara mengejutkan tiba-tiba bersujud di bawah kaki Akira.
"Oleh karena itu kumohon! Bantu kami keluar dari tempat ini, Makhluk Agung!" Zaltra rela menjatuhkan harga dirinya di depan sosok yang sangat dia benci, semua itu demi kebaikan rakyatnya.
"E-eh, tunggu. Kenapa kau ini? Siapa yang kau sebut Makhluk Agung?" Akira berdiri di atas ranjang itu, terkesiap sekaligus heran melihat sikap Zaltra.
"Sebelum kami berakhir disini kami sempat diberitahukan oleh seseorang bahwasannya akan ada satu makhluk yang akan membantu kami keluar dari tempat ini. Dan kami semua mendengarnya dengan panggilan Makhluk Agung.
Akira menggaruk kepalanya merasa risih,"Ya, ya, ya, akan kupertimbangkan permintaanmu, tapi sebelum itu berdirilah, " ucap Akira dengan sedikit helaan nafas dan kembali duduk seperti biasa.
Zaltra menurut. Dia lantas berdiri lalu ikut duduk di posisinya semula. Dia menatap Akira penuh harap, berharap dia mau mengabulkan permohonannya.
Akira menoleh, membalas tatapan Zaltra dengan tatapan malasnya lalu berkata, "Bukankah seluruh rasmu akan sangat membenciku jika mereka tahu siapa aku sebenarnya? Kenapa kau memohon bantuan seperti ini padaku?
Akira menolehkan wajahnya lagi ke depan, tidak lagi menatap Zaltra,"Begini-begini aku juga seorang manusia, ras yang sangat kalian benci, kau tahu itu bukan? Dengan meminta bantuan pada orang yang sangat kau benci bukankah itu berarti sama saja dengan menjilat kotoranmu sendiri...
Dan satu hal lagi, apakah kau sudah sepenuhnya yakin bahwa informasi yang kau dapat sebelumnya itu benar?" Akira berniat menguji pendirian Zaltra untuk mencari tahu seberapa yakin dia pada keputusannya.
'Coba perlihatkan apa yang akan kau lakukan sekarang...' batin Akira menunggu jawaban Zaltra.
Zaltra berdiri dan berkata penuh tekad, "Tidak peduli! Sekalipun harus memakan kotoranku sendiri, aku tidak peduli! Yang kami inginkan hanya satu, yaitu kebebasan. Kami semua sudah lelah terus-terusan terkurung di tempat ini. Kami hanya ingin bebas, sudah itu saja."
Zaltra menatap serius Akira, saking seriusnya sampai terlihat seperti ada bara api yang membara di matanya, "Kau bertanya seberapa yakin aku pada informasi itu, aku sudah seribu persen yakin kalau informasi itu sepenuhnya benar. Dari apa yang sudah kulihat, kau tidak seperti manusia yang kukenal. Lagi pula tidak ada manusia sepertimu yang mempunyai keberanian menghadapi Binatang Jahanam itu seorang diri.
__ADS_1
Jadi sudah dipastikan kalau kau adalah Makhluk Agung itu, sosok yang akan membebaskan kami dari tempat ini. Maka dari itu kumohon, bantulah kami…" Di ujung kata, Zaltra membungkukkan tubuhnya bersikap memohon.
"Kau adalah pemimpin di tempat ini, kan?" tanya Akira
"Benar."
Akira terkekeh pelan, "Rela menjatuhkan harga dirinya di depan sosok yang paling dibenci. Sebagai pemimpin kau tidak terlalu buruk."
"Pertanyaannya sekarang, apakah kau bisa memastikan seluruh rasmu mau menerima uluran tangan dariku?"
Zaltra terdiam membeku, tidak yakin untuk menjawab pertanyaan Akira, karena pertanyaan Akira sebenarnya sudah sejak tadi dia pikirkan tetapi dia belum sama sekali menemukan jawabannya. Meskipun begitu, keadaannya sekarang memaksanya untuk segera mengambil keputusan.
"Akan kupastikan mereka mau menerimanya." Ada sedikit keraguan dalam perkataan Zaltra.
Sesaat Akira menatap Zaltra untuk mencari tahu keseriusan Zaltra pada pilihannya sebelum berdecak malas, "Baiklah, aku akan membantumu. Anggap saja ini sebagai balas budi karena kau sudah menyelematkanku." Akira bersikap seolah-olah dia yang paling dibutuhkan disini.
Padahal kenyataanya dia juga sangat membutuhkan bantuan mereka, karena dengan begitu dia bisa dapat dengan mudah mengalahkan Binatang Jahanam itu dan melaju ke lantai berikutnya dengan cepat.
"Benarkah?" Zaltra menegakkan tubuhnya dan membuka mulutnya, tampak senang mendengar permohonannya terkabulkan. Air matanya sempat ingin mengalir namun dia dengan cepat menyekanya.
"Ya." Akira mengangguk pelan.
Zaltra membungkuk lagi sebanyak tiga kali diiringi kata, "Terimakasih, terimakasih, terimakasih!"
Akira mengibas-ngibaskan satu tangannya, "Ya, ya... Sudah tidak perlu banyak berterima kasih. Sekarang aku ingin melihat rasmu yang lain. Ada dimana mereka sekarang?" Akira turun dari ranjang itu.
"Baik. Aku akan menunjukkannya padamu. Ikuti aku..." Zaltra berjalan keluar ruangan lebih dulu tuk memandu Akira ke tempat rasnya yang saat ini tengah menunggu diluar.
"Apa tidak apa-apa meninggalkannya disini?" tanya Akira menghentikan langkahnya saat melihat Faltra masih terkapar tidak sadarkan diri.
Zaltra tersenyum ringan melihat kepedulian Akira, "Sesuai dugaanku, kau tidak seperti manusia yang kukenal. Sudah biarkan saja. Akan sangat merepotkan jika nanti dia terbangun." Zaltra melangkahkan kakinya kembali.
Akira tidak mengindahkan perkataan Zaltra. Dia menurut dan mengikuti Zaltra dari belakang.
__ADS_1