
Di salah satu bagian wilayah kerajaan Blue Diamond terdapat sebuah desa kecil yang hanya dihuni oleh kurang dari seratus ras demi-human. Meskipun tinggal di desa terpencil dan berkecukupan, selama bertahun-tahun ini mereka bisa hidup dengan damai.
Namun suatu hari kedamaian di desa itu tidak dapat lagi dirasakan setelah desa itu terlibat masalah dengan salah satu kota terdekat.
Dampak dari masalah itu membuat desa itu jadi tidak diperbolehkan mempunyai hubungan dengan kota atau desa manapun sehingga usaha orang-orang di desa itu pun menjadi tersumbat. Orang-orang di desa itu bahkan dilabeli sebagai orang yang buruk dan membuat mereka jadi terkucilkan dan tidak dianggap oleh siapapun.
Selain itu, kota yang pernah berkonflik dengan desa itu selalu mencari-cari masalah dan membuat kedamaian yang tercipta selama bertahun-tahun di desa itu sirna seutuhnya.
Dalam beberapa waktu sebelum gelombang monster dimulai, mereka yang ada di desa itu mulai dilanda kecemasan karena tidak tahu harus berlindung di mana saat gelombang monster nanti.
Tidak ada satupun tempat yang memperbolehkan mereka untuk berlindung dikala gelombang monster tiba. Tidak ada siapapun yang mau membantu desa mereka. Mereka juga tidak memiliki cukup uang untuk meminta bantuan petualang untuk setidaknya melindungi desa itu selama beberapa waktu.
Pada akhirnya, semua ras demi-human di desa itu benar-benar merasa tidak berdaya dan hanya bisa pasrah pada kenyataan.
"Sepertinya hari ini akan menjadi hari terakhir kita hidup di dunia ini..." kata kepala desa di desa itu tampak sudah pasrah dengan kehidupannya.
Semua warganya yang kini berkumpul di hadapannya pun merasakan hal yang sama. Mereka tidak lagi memiliki semangat untuk hidup.
"Jangan terpengaruh perkataannya!" Namun, seorang pemuda ras demi-human jenis musang yang barusan berteriak masih memiliki tekad untuk tetap hidup.
"Benar. Jangan dengarkan apa yang baru saja dia katakan." Begitupun dengan keempat orang sahabatnya.
Pemuda itu dan keempat orang sahabatnya menghampiri semua warganya yang sudah menyerah untuk hidup. Saat di depan mereka, pemuda itu kembali berusaha memberikan motivasi pada mereka yang sudah menyerah untuk bangkit.
"Dengar! Tidak ada yang akan mati di sini!" teriaknya di hadapan semua warga desanya.
"Sudahlah, Thomas. Berhenti membuat mereka berharap.Terimalah kenyataan. Tidak ada yang bisa kita lakukan di gelombang monster kali ini," kata kepala desa yang tidak lagi memiliki semangat untuk berdiri.
"Tentu saja ada! Kita akan bertarung melawan monster-monster itu!" serunya penuh tekad.
Keempat rekannya turut membantu meyakinkan yang lain untuk bangkit dan bekerja sama dengan mereka melawan para monster itu daripada hanya berdiam diri saja.
"Percuma, kita tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi monster-monster itu." Salah satu warga menyuarakan pendapatnya yang kemudian disepakati oleh yang lainnya.
Semuanya tampak ragu untuk mengikuti saran Thomas dan sahabatnya. Sebab mereka tahu, untuk menghadapi monster tingkat paling bawah saja akan sulit mengingat mereka tidak memiliki kekuatan.
"Bodoh! Kita tidak akan tahu kalau belum mencobanya!" teriak Thomas membentak semua warga desanya yang pengecut.
"Apakah kalian yakin ingin mati begitu saja tanpa berjuang sedikitpun, hah?" kata Thomas dengan nafas memburu, "Jika memang begitu, kenapa kalian tidak bunuh diri saja sejak kemarin!"
Semua warga di desa itu terdiam mendengar perkataan Thomas kali ini.
__ADS_1
"Kalian tahu kenapa kalian sampai saat ini tidak melakukannya? Itu karena kalian masih berharap keajaiban akan datang menolong kalian! Dengan kata lain kalian masih berharap untuk hidup!" lanjut Thomas yang berhasil menggoyahkan perasaan semua warga desanya.
"Jangan terus-terusan menjadi pengecut! Apa hanya gara-gara kita mempunyai banyak masalah dengan kota itu kalian jadi merasa lemah dan bodoh seperti ini!" Thomas berteriak habis-habisan untuk menyadarkan mereka.
"Jika kita tidak bisa menghadapi monster-monster itu dengan kekuatan, kita masih bisa menggunakan akal kita untuk mengalahkannya! Itupun terkecuali jika kalian tidak punya akal!"
Sebagian dari mereka mulai tersadarkan oleh perkataan Thomas karena yang dikatakan olehnya memang benar, mereka bisa berakhir seperti ini karena mereka menganggap diri mereka lemah dan bodoh. Mereka hanya bisa menerima semua masalah yang diberikan oleh kota itu tanpa berani untuk melawannya balik.
"Hei, coba katakan padaku, apa benar kalian tidak ingin hidup?!" tanya Thomas berteriak dengan kencang untuk menyadarkan mereka kembali. Semua orang di desanya seketika menjadi terdorong untuk bangkit setelah mendengar pertanyaannya itu.
"Benar, aku tidak ingin mati begitu saja. Harga diriku sebagai laki-laki merasa terluka jika aku hanya diam saja tanpa memberikan perlawanan."
"Aku juga masih ingin hidup. Aku masih mempunyai impian yang harus dikejar. Aku tidak ingin mati di sini."
"Ya, meskipun kesempatan yang kita miliki untuk menang sangat kecil atau bahkan tidak ada sama sekali, kita harus tetap berjuang. Kita tidak bisa hanya diam saja. Setidaknya jika kita mati, kita masih mampunyai sedikit kebanggan karena kita mati dalam keadaan terhormat."
Setelah mendengar perkataan kepala desa yang kini tercerahkan oleh perkataan Thomas, semua orang di desa itu mulai bangkit dari keterpurukannya dan bersiap memperjuangkan hidupnya sampai tetes darah penghabisan.
"Aku akan bertarung bersama kalian."
"Aku juga!"
Saat gelombang monster tiba, semuanya bersiap bertempur di garis depan melawan para monster meskipun menggunakan alat seadanya. Tidak hanya para pria, para wanita, anak-anak, dan lansia pun tidak mau hanya diam saja.
Dengan dipimpin oleh seorang pemuda yang telah membangkitkan semangat mereka, semuanya memulai pertempuran untuk memperjuangkan kehidupan mereka.
"Berhasil!"
Semua orang di desa itu terlihat mempunyai harapan untuk menang saat tahu jebakan-jebakan yang mereka buat ternyata berhasil menumbangkan para monster yang bermunculan di tempat itu.
Tidak hanya mengandalkan jebakan, mereka juga turut bertarung habis-habisan dengan senjata yang selama ini dijadikan alat untuk mereka bekerja.
Biarpun hanya menggunakan senjata seperti itu tetapi nyatanya mereka berhasil menghabisi semua monster yang bermunculan di tempat itu. Semuanya bersorak dengan penuh rasa kebanggaan saat mengetahui mereka mampu melakukannya.
Sayangnya rasa bangga itu seketika sirna saat melihat monster-monster selanjutnya yang bermunculan di tempat itu bukanlah monster yang sanggup mereka lawan.
"Jangan takut! Aku yakin kita bisa mengalahkan mereka jika kita bekerja sama!" teriak Thomas mencoba mengubah ketakutan mereka menjadi semangat.
Dengan hanya mengandalkan jebakan dan alat seadanya, mereka berjuang habis-habisan melawan monster-monster itu.
Namun sayangnya kali ini mereka benar-benar tidak berdaya saat mengetahui monster-monster kali ini tidak bisa mereka taklukan, baik oleh jebakan yang mereka buat apalagi senjata yang mereka gunakan.
__ADS_1
Pada akhirnya, satu demi satu dari mereka tewas. Mereka semua yang sejak tadi sudah berjuang habis-habisan kini kewalahan karena rekan-rekannya sudah tidak ada lagi yang bisa membantu.
Thomas dan keempat sahabatnya yang merupakan seorang penyihir kelas dua pun tidak bisa mengatasi monster-monster yang terus bermunculan di tempat itu.
Rasa putus asa kembali menyelimuti perasaan mereka. Semuanya tidak ada lagi yang berharap bisa hidup di tempat itu saat tahu sekalipun mereka berjuang mati-matian mereka tetap tidak akan bisa selamat.
Meskipun begitu, setidaknya mereka merasa lega karena bisa mati dengan cara seperti ini.
Thomas yang semula optimis bisa memenangkan pertempuran ini kini mulai pesimis saat melihat keempat sahabatnya satu persatu tewas di depan matanya.
Hampir semua orang di desa itu telah gugur dan kini hanya tersisa belasan orang saja yang masih bertahan di tempat itu. Mereka hanya tinggal menunggu waktu saja sampai akhirnya mereka pun akan menyusul rekan-rekannya yang sudah tiada.
"Siapapun tolong kami!" Thomas berteriak sambil menghadap ke atas, berharap ada seseorang yang membantunya.
Dia jelas tampak sangat frustasi dengan situasinya saat ini. Dia merasa dirinya sangat lemah sampai tidak bisa melakukan apapun untuk melindungi orang-orang di desanya.
Selain itu dia juga merasa bersalah karena desanya menjadi seperti itu salah satunya gara-gara dirinya yang sudah berani bertindak bodoh karena menentang perintah walikota yang saat itu meminta pajak yang sangat besar pada desanya.
"Sial! Setidaknya beri aku kesempatan hidup untuk membalas perbuatan mereka! Aku tidak akan bisa mati dengan tenang sebelum mereka mati!" Thomas berteriak habis-habisan selagi menghadapi beberapa monster berukuran besar di hadapannya.
Beberapa orang yang masih bertahan pun ikut berteriak menyuarakan kekesalannya pada salah satu walikota yang sudah membuat desa mereka sengsara
"Siapapun tolong selamatkan kami! Kami masih belum ingin mati!" teriak Thomas yang sudah sangat-sangat depresi. Ekspresinya begitu buruk, dipenuhi oleh amarah yang membludak.
"Mau manusia, dewa, atau iblis pun tidak masalah! Tolong selamatkan kami!" Thomas mengerahkan tenaga terakhirnya untuk berteriak sekencang-kencangnya, mengeluarkan semua amarah yang menumpuk di dadanya.
Tepat setelah Thomas berteriak sekencang itu, sesuatu dari langit tiba-tiba melesat turun di depannya dengan sangat cepat. Suara berdebam terdengar nyaring dan membuat perhatian semua makhluk yang ada di situ segera teralihkan pada sosok yang baru saja turun dari langit itu.
Sosok itu tertawa keras dan memecah perhatian mereka. Sayangnya mereka tidak bisa melihat siapa sosok tersebut karena terhalangi oleh debu yang tercipta dari pendaratannya barusan.
Sosok tersebut mengerai tawanya kemudian berkata,
"Manusia, dewa, iblis? Untuk apa kau memohon pada mereka. Kau pikir mereka akan mendengarkan permohonanmu?" Suara sosok yang terdengar angkuh itu terdengar seperti anak kecil. Thomas dan rekannya yang masih hidup penasaran dengan sosok tersebut.
Hingga ketika debu itu menghilang, semua makhluk yang ada di tempat itu akhirnya bisa melihat siapa sosok yang turun dari langit tersebut.
"Siapa kau..." tanya Thomas tanpa menutupi keterkejutannya saat melihat sosok tersebut ternyata hanyalah seorang anak kecil.
Anak kecil itu tidak jawab pertanyaan Thomas. Dia berjalan dengan santainya ke tempat di mana para monster berkumpul. Dan dalam sekali ayunan tangan, para monster yang berada di jangkauannya seketika lenyap terbakar oleh api merah kelam yang keluar dari tangannya.
"Aku akan merasa senang jika kau menganggapku sebagai pahlawan..." Anak kecil itu menjawab pertanyaan Thomas barusan.
__ADS_1