
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terima kasih dan selamat membaca
______________________________
Akira bersama yang lainnya kembali dengan selamat tanpa ada satupun yang terluka. Kali ini mereka bisa mempertanyakan alasan mengapa Akira menyuruh mereka bergerak mundur dengan cepat.
Namun Akira tidak menjawab alasannya kenapa dan hanya menyuruh mereka untuk berkumpul mendiskusikan hasil penemuannya nanti setelah dirinya beristirahat.
Para ras duyung terlihat sudah berkumpul di tempat biasa menyambut kedatangan mereka untuk mempertanyakan hasil yang didapat dari ekspedisi tersebut, berharap hasilnya baik.
Akira tidak memiliki selera untuk membahas hal itu sekarang. Dia mengabaikan mereka dan kembali ke ruangannya untuk mengistirahatkan pikiran dan tubuhnya yang sudah sangat letih oleh berbagai hal yang terjadi.
Akira menyerahkan hasil ekspedisinya itu ke Zaltra dan yang lainnya meskipun mereka tidak tahu harus memberitahukan hasil apa karena sejak tadi mereka hanya mengamati pertarungannya. Meski begitu Zaltra bersama yang lainnya menuruti keputusan Akira, membiarkan Akira untuk beristirahat terlebih dahulu.
Sesampainya di ruangan, Akira mengeluarkan kapsul yang berisi seperangkat alat tidur lalu menempatkannya pada ranjang batu itu. Dia akan merasa nyaman jika tidur dengan alas yang empuk seperti ini.
Akira kemudian mengganti pakaiannya yang basah dan tidur dengan kondisi telanjang dada.
Hahh~
Akira menjatuhkan tubuhnya di kasur, membungkus diri dalam selimut. Selama beberapa saat berkutat memikirkan solusi serta strategi untuk menghadapi Binatang Jahanam, Akira perlahan memejamkan matanya dan tidur dengan tenang.
"Tuan…"
"Tuan…"
"Tuan…"
Sampai suara seorang perempuan terdengar, Akira akhirnya terbangun dari tidur nyenyaknya.
"Masuk…" Akira bangkit dari posisinya sambil mengucek-ngucek mata.
Mata Akira yang saat itu masih melek seketika terbuka saat melihat belasan ras duyung berkelamin perempuan kini memasuki kamarnya.
"Tunggu, ada apa ini? Kenapa kalian semua kesini?" tanya Akira terkejut meliputi rasa heran dan penasaran menatap mereka.
"Mm...kami semua kemari ingin melakukan tugas kami, Tuan..." Salah seorang ras duyung malu-malu mengutarakan maksudnya. Yang lain pun ikut bersikap malu-malu.
Akira memandangi satu persatu ras duyung di depannya. Harus Akira akui, belasan ras duyung perempuan yang berdiri di depannya saat ini lumayan cantik. Sisik kecil nan halus yang menempel di wajah mereka yang bersih tidak membuat wajah mereka terlihat jelek, malahan hal itu memberikan kesan yang unik dari kecantikan ras duyung.
Pakaian biru senada disertai manik-manik laut yang mereka gunakan menambah kesan lain yang mampu menarik hasrat pria dewasa terutama pada bagian perut mereka yang tidak tertutupi.
"Maksudnya?" Akira yang sesaat terbius oleh penampilan mereka sampai tidak mengerti apa yang dia dengar barusan.
"Kami semua ingin melakukan tugas kami, Tuan…" Salah seorang ras duyung melangkah maju kemudian duduk di tepian ranjang, "Ah, sudah lama aku tidak merasakan kasur senyaman ini. Sepertinya tempat ini sangat cocok," gumamnya saat bokongnya menyentuh kasur.
"Tugas apa?" Akira berkerut dahi memandangi mereka secara bergilir sampai pandangannya terpaku pada wanita dewasa yang duduk di tepian kasurnya.
"Tugas yang hanya bisa dilakukan oleh para kaum perempuan, " kata wanita dewasa itu. Semua yang berada disitu menatap Akira seakan ingin memberikan sebuah kode tapi Akira tidak mengerti maksud dari kode tersebut.
__ADS_1
"Karena kami disini tidak bisa membantu Tuan melawan Binatang Jahanam, setidaknya kami bisa sedikit membantu melayani, Tuan." Beberapa dari mereka ikut maju, duduk di tepian kasur sambil tersenyum penuh arti menatap Akira.
"Tunggu-tunggu, aku tidak paham tugas apa yang kalian maksud?" Wajah polos Akira dipenuhi tanda tanya memandangi mereka.
Menanggapi kepolosan Akira, wanita dewasa itu terkekeh sambil menutupi mulutnya dengan satu tangan, sebelum tangan yang satu mulai membuka satu kancing pakaiannya lalu memperlihatkan sedikit buah dada miliknya pada Akira, membuat mata Akira terbelalak tidak percaya!
"Tuan seorang pria, tidak mungkin Tuan tidak mengerti maksudku..." Dengan kedipan nakal dia pun perlahan merangkak mendekati Akira.
Akira menelan ludah, akhirnya dia mengerti apa maksud dari perkataan dan tujuan mereka.
"P-pria? Bodoh, aku masih di bawah umur. Aku masih belum bisa melakukan hal seperti ini! " Akira merangkak mundur, wajahnya terlihat gugup menyaksikan hal yang tak senonoh di depannya.
"Kami tidak percaya."
"Benar. Tuan jauh lebih dewasa dari yang terlihat."
"Kalau Tuan tidak bisa biar kami yang melakukannya sendiri. "
Tiga orang perempuan ikut merangkak mendekati Akira setelah membuka satu kancing pakaiannya dan ikut memperlihatkan buah dada miliknya yang berisi, disusul yang lainnya yang mulai ikut mengerubungi, menutup celah bagi Akira untuk kabur.
"T-T-Tunggu dulu, kenapa harus sebanyak ini?!" Tersenyum kaku, Akira mengangkat kedua tangannya sambil merangkak mundur.
"Lebih banyak lebih bagus..." Wanita dewasa berkata manja mendekat lebih dulu sampai jaraknya dengan Akira hanya tinggal beberapa jengkal lagi.
"Bukan itu maksudku." Akira semakin gugup dengan situasinya sekarang. Dia mulai merasakan ada sesuatu yang berdiri tegak di bawahnya namun dia yakin itu pasti bukan keadilan!
Akira tidak bisa bergerak mundur lagi dan sudah mentok di belakang ranjangnya. Wajahnya memerah, pikirannya kalut tidak tahu harus melakukan apa. Di satu sisi dia ingin kabur namun nalurinya sebagai laki-laki menyuruh dia untuk diam dan seolah berkata 'nikmati saja...'
"Tuan terlihat lebih menggemaskan sekarang."
"Ah~ aku suka pria seperti, Tuan."
Wanita dewasa itu sudah berada satu jengkal di depan Akira. Dia membuka satu kancing lagi dan mulai bersiap melakukan aksinya.
"Stop!!" Tidak berani melihat, Akira membuang muka dengan kedua tangan ke depan. Naas tanpa disengaja, tangannya kini memegang sesuatu yang kenyal dan secara naluriah dia tahu apa itu.
"Ah~ Tuan memegangnya. Apa Tuan menginginkannya?"
Para perempuan disitu terkekeh geli melihat reaksi Akira.
"Ti-Tidak!" Akira dengan cepat melepaskan tanganya kembali. Jantung Akira berpacu kencang karena belum siap melakukan hal seperti ini. Ini sepuluh tahun lebih cepat baginya!
Wanita dewasa itu mendekatkan tubuhnya, menatap Akira dengan senyuman nakal.
"Jangan mendekat..." Akira menutup matanya namun lagi-lagi nalurinya sebagai laki-laki seakan menolak keinginannya itu meskipun dirinya saat ini hanyalah anak kecil.
"Ah, tubuh Tuan bagus juga…" Sambil terkekeh wanita dewasa itu meraba secara lembut perut sispek Akira, perlahan tapi pasti hingga ke tengkuk lehernya.
Akira merasakan ada sesuatu yang aneh dalam dirinya saat wanita dewasa itu meraba-raba tubuhnya seperti itu. Anak burung yang ada di bawah selangkannya semakin menegang.
"Baiklah, sekarang biar aku yang menjadi pembuka untukmu, Tuan…" Wanita dewasa itu membawa tengkuk Akira, bersiap menyatukan bibirnya dengan bibir milik Akira.
__ADS_1
"Hentikan!!" Sebelum kedua bibir itu sampai, Akira dengan cepat melepaskan diri dan berguling ke bawah ranjang dan spontan membuat mereka yang berada disitu bergerak mundur.
"Stealth." Akira menggunakan skill yang membuatnya tidak terlihat kemudian bergegas kabur dari tempat yang mengerikan itu menerobos mereka yang menghalangi.
"Aw. Ada sesuatu yang menabrakku."
"Kemana dia?"
"Dia menghilang."
"Dia kabur dari kita."
Mereka yang berada disitu tidak sempat bereaksi dan baru menyadari Akira kini hilang dari pandangan mereka dengan begitu cepat.
"Kejar dia!" suruh wanita dewasa itu yang segera dipatuhi oleh semua orang yang berada disitu.
"Baik!" Mereka pun berhamburan keluar ruangan mengejar jejak Akira, meninggalkan wanita dewasa itu yang masih dalam ruangan seorang diri.
"Dasar manusia bodoh..." Menggeleng pelan, wanita dewasa itu terkekeh mengingat reaksi Akira tadi sebelum ekspresinya berubah saat pandangannya terpaku pada sesuatu di dekat bantal.
"Kalung?" Wanita dewasa itu mengambil sesuatu yang tidak lain sebuah kalung kemudian membuka bandul hati yang menggantung di talinya. Di dalamnya dia melihat gambar dua anak perempuan ras demi-human berbeda jenis tengah berpose ria dengan senyuman merekah.
"Ada hubungan apa manusia itu dengan kedua ras demi-human ini? Apa mereka anaknya?" Dia mulai menerka-nerka, "Lalu, apakah dia sudah mempunyai pasangan?" Matanya terbelalak saat terkaannya mengarah ke arah situ.
"Ah gawat! Kalau benar itu berarti aku sudah melakukan hal tidak baik! " Wanita dewasa itu memegangi kepalanya, "Pantas saja dia menolak bermain denganku, dia pasti seorang pria yang setia."
Wanita dewasa itu segera bangkit sambil membawa kalung itu. Dia mengancingkan bajunya lantas bergegas keluar ruangan untuk mencari Akira.
Kembali pada kondisi Akira.
"Tuan! Kau dimana?!"
Akira kini tengah mencari tempat persembunyian yang aman dari kejaran para ras duyung perempuan yang terdengar sedang mencarinya.
Akira belum mengenal jauh kuil bawah laut ini jadi dia tidak tahu harus bersembunyi dimana. Banyak persimpangan serta ruangan-ruangan yang didalamnya berisikan para ras duyung yang tengah beristirahat. Sampai akhirnya Akira menemukan ruangan Zaltra dan memutuskan bersembunyi di sana.
"Tuan, sejak kapan?" Zaltra terkejut melihat Akira tiba-tiba berdiri di depannya, apalagi dalam kondisi telanjang dada. Dia lantas berdiri dari posisinya yang tengah berbaring.
"Diam..." Akira mengintip dari balik pintu untuk melihat para ras duyung yang tampak masih sibuk mengejarnya.
"Apa ada masalah dengan mereka?" tanya Zaltra ikut mengintip dan menemukan para perempuan sedang menyebut-nyebut namanya.
"Seharusnya aku yang bertanya. Apa kau yang sudah menyuruh mereka semua?" Akira bertanya balik, terdengar tidak suka.
"Menyuruh apa?" Zaltra mengerutkan dahinya.
"Bukankah kau yang menyuruh mereka untuk pergi ke kamarku?" Akira ikut berkerut dahi.
"Tidak. Aku tidak menyuruh apa-apa." Zaltra mengangkat kedua tangannya sambil menggeleng kepala.
"Apakah mereka berbuat sesuatu padamu?" tanya Zaltra penasaran.
__ADS_1
Akira bergidik saat mengingat lagi kejadian tadi sebelum menjawab,
"Ya. Yang pasti itu adalah sesuatu yang sangat mengerikan..."