
"Nee-san..."
Sherria menutupi mulutnya dengan kedua tangan bersamaan dengan deraian air mata yang mengalir deras dan tak bisa dia tahan. Dia kesulitan mengungkapkan apa yang dirasakan saat ini hanya dengan lewat kata-kata saja. Namun satu hal yang pasti, air mata yang mengalir di pipinya saat ini menunjukkan kalau dirinya sangat bahagia.
"Mustahil…"
Sementara kedua kakak beradik di samping Sherria kini terjatuh lemas setelah membuktikan dengan kedua matanya sendiri jika apa yang diucapkan Zero tadi ternyata terbukti benar. Mereka pun sulit menjelaskan perasaannya saat ini. Yang terjadi di depannya sekarang benar-benar tidak bisa dipercaya.
"Charla… seperti perkataanmu waktu itu, suatu saat kita akan bertemu kembali..."
Zero sendiri yang telah berhasil membangkitkan Charla kini mencoba menahan tangis harunya, merasa senang karena bisa bertemu kembali dengan sosok yang dia sayangi.
Charla yang berada dalam peti perlahan membuka matanya. Pandangannya masih belum jelas untuk mencari tahu siapa sosok yang ada di depannya sekarang. Dia belum bisa mengingat apapun apalagi mencerna keadaannya saat ini.
Charla melangkah keluar dalam peti, namun langkahnya terasa lemas hingga akhirnya dia pun terhuyung ke depan. Beruntungnya Zero dengan sigap menangkapnya sebelum dia terjatuh.
"Siapa…" Pandangan Charla masih buram menatap sosok anak kecil yang menangkapnya sebelum dia tidak sadarkan diri lagi.
"Sepertinya keadaanmu masih belum pulih sepenuhnya. Kau harus beristirahat terlebih dahulu..." Zero tersenyum sambil mengusap-usap pipi Charla yang masih pucat.
Zero kemudian mengangkat tubuh Charla lalu membawanya ke satu tempat untuk diistirahatkan. Sherria beserta yang lainnya mengikutinya dari belakang.
"Sherria kau jaga kakakmu disini…" Zero membaringkan tubuh Charla di dekat pohon yang rindang.
"Baik, Zero-sama... " Sherria mengangguk lalu membungkukkan tubuhnya menghadap Zero," Dan terima kasih…" lanjutnya dengan deraian air mata yang masih belum berhenti.
Zero berdiri lalu mengelus lembut rambut Sherria, "Tidak perlu berterima kasih…lagipula aku sudah berjanji akan mempertemukan kalian kembali…sudah, sekarang tersenyumlah, jangan menangis lagi…"
Mengikuti arahan Zero, Sherria menegakkan tubuhnya kembali lalu tersenyum menatap Zero
"Baik, Zero-sama…"
Baru pertama kali ini Zero melihat senyuman Sherria yang seperti ini. Dari senyumannya terlihat jelas bahwa Sherria saat ini sangat bahagia sekali.
Sementara itu sepasang kakak beradik di belakangnya pun ikut merasa senang melihat Sherria bisa berkumpul kembali dengan kakaknya.
Mereka masih tidak habis pikir jika hal seperti ini benar-benar akan terjadi. Menghidupkan kembali orang yang sudah mati yang mereka pikir sebagai hal tabu dan tidak pernah mungkin terjadi kini terpecahkan oleh seorang bocah?
Hahaha! Jangan bercanda, ini terlalu menggelikan. Andai mereka menyebar luaskan berita seperti ini ke seluruh dunia sekalipun sudah dipastikan tidak akan ada satupun yang percaya, dan kemungkinan besar semuanya hanya akan menganggap mereka gila.
Yang menjadi pertanyaan mereka sekarang yaitu, siapa bocah menakjubkan ini sebenarnya? Setahunya mereka tidak pernah mendengar ada bocah sepertinya.
Akan tetapi mereka mengetahui satu sosok yang bisa melakukan hal yang menakjubkan seperti ini.
Kakak beradik itu saling berpandangan memberi kode lalu mengangguk sebelum bersujud di depan Zero.
"De-Dewa! Maaf, karena sebelumnya kami telah meragukan Anda!" kata kedua kakak beradik itu serempak.
Tidak salah lagi, bocah di depanya ini pastilah seorang dewa, itu yang mereka pikirkan saat melihat aksi Zero.
Zero memutar badannya beralih menatap mereka berdua dengan sedikit helaan nafas. Dia tidak suka sosoknya disamakan dengan ras banyak tingkah seperti dewa.
"Jangan memanggilku dewa. Aku bukan makhluk seperti yang kalian pikirkan. " Zero menjawab malas.
"Tidak, Anda pastilah dewa. Tidak ada makhluk yang bisa membangkitkan orang yang sudah mati selain dewa." Mereka masih yakin pada pikirannya.
__ADS_1
"Tentu ada. Buktinya ada di depan kalian sekarang." Zero menjawab sombong.
"Sudah berdirilah dan jangan pernah memanggilku dewa." Zero menekankan empat kalimat terakhirnya agar mereka mengerti. Dia tidak suka dianggap berlebihan seperti ini.
"Baik." Mereka menuruti perintahnya. Namun hatinya masih enggan mengakui kalau bocah tersebut ternyata adalah manusia.
"De..- Ah, maksudku Tuan, tolong hidupkan kembali semua keluarga kami. Kami akan melakukan apapun yang Tuan inginkan." Mereka berdua membungkukkan tubuhnya memohon pada Zero.
"Kalian sudah mendengar darinya kan tadi…" Zero menoleh ke arah Sherria di belakangnya yang tengah bersandar di pohon dengan Charla tertidur di pangkuannya sebelum melanjutkan, "Memang itu tujuanku kesini…"
Mereka berdua saling berpandangan, sangat senang mendengar hal itu.
"Terima kasih, Tuan! Terima kasih, Tuan! Terima kasih, Tuan!" Mereka berdua membungkuk sebanyak tiga kali berterimakasih.
"Aku akan menyelesaikan ini secepatnya…" Zero berjalan kembali ke tempat makam tadi. Kedua ras demi-human kembar itu membuntutinya dari belakang.
Sesampainya di sana Zero mulai melanjutkan aksinya menghidupkan kembali mereka semua yang terkubur di tanah. Dia tidak perlu repot-repot mengeluarkan mereka terlebih dahulu karena selagi fisiknya masih ada di bawah dia bisa membangkitkannya dengan cara apapun.
Andai ada orang lain di desa ini yang menyaksikan apa yang sedang Zero lakukan sudah dipastikan orang itu akan terkejut setengah mati atau bahkan gila. Buktinya kedua kakak beradik itu sampai kesulitan bernafas dibuatnya.
Satu demi satu peti terus bermunculan di tanah menuju ke permukaan. Ketika peti itu terbuka mereka tidak langsung sadar seperti semula. Mereka semua pingsan karena belum bisa menstabilkan diri dengan keadaan.
Sayangnya meskipun Zero bisa membangkitkan mereka yang sudah mati sebagian dari mereka ada yang tidak berhasil Zero bangkitkan karena faktor orang tersebut sudah merasa cukup untuk tinggal di dunia ini.
Dengan ratusan ribu Orb yang dia miliki serta tubuh yang abadi, Zero mampu membangkitkan kembali dua ratus lebih para ras demi human di desa itu.
Butuh waktu yang lama sampai akhirnya semuanya selesai, mengingat Zero tidak bisa membangkitkan mereka semua sekaligus.
Langit tampak sudah hampir sore. Zero menyerahkan semua penduduk desa tersebut pada Rob dan Droy. Setelah itu dia mengistirahatkan diri selagi menunggu Charla tersadar. Perlu diketahui membangkitkan mereka semua yang sudah mati menguras habis energi sihir dan mentalnya.
Di samping lain, Sherria sejak tadi masih menunggu Charla sadar dengan bersandar di batang pohon yang rindang. Saking lamanya menunggu dia sampai harus tertidur.
"Ah…" Charla akhirnya tersadar. Saat pertama kali membuka matanya, Charla menemukan seorang gadis rubah berambut oren tengah tertidur.
Mendengar Charla mendesah, Sherria ikut tersadar dari tidurnya. Matanya langsung terbuka saat melihat kakaknya sudah sadar.
"Nee-san, akhirnya kau sadar juga…" Sherria terlihat senang sekali.
"Siapa…" Charla masih kesulitan mengingat sosok di depannya.
"Ini aku, Sherria. Kenapa Nee-san tidak mengenalku."
"Sherria…." Charla bangkit dari pangkuannya, mencoba mengingat-ingat nama itu.
Secara perlahan kepingan ingatannya satu persatu mulai kembali sampai akhirnya ingatannya dibawa pada kejadian waktu desanya dijarah dan saat itu terjadi dia teringat pada sosok di depannya.
"Sherria!" Charla memeluk erat sosok di depannya yang tidak lain adalah adiknya.
"Nee-san…" Sherria membalas pelukannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Charla belum mengerti akan keadaannya sekarang.
"Apa Nee-san tidak mengingat apapun?" Sherria melepas pelukannya.
"Aku hanya ingat saat kejadian dimana desa kita diserang," jelas Charla.
__ADS_1
"Apa hanya itu saja?" Sherria memastikan.
"Mmm…" Charla mengingat-ingat hal lain.
"Ah benar, setelah itu aku bermimpi dibawa ke suatu tempat, dan di sana aku bertemu dengan seorang anak manusia," jelas Charla sebelum sesaat kemudian dia berpikir kalau itu bukanlah mimpi.
"Tunggu, aku tidak tahu apakah itu mimpi atau bukan, tapi entah kenapa rasanya sangat nyata." Charla terlihat kebingungan membedakannya.
Sherria terkekeh melihat ekspresi kakaknya, "Nee-san sebelumnya sudah mati," jelasnya yang membuat Charla terkejut.
"Hah? Mati?" Charla membuka mulut dan matanya lebar-lebar.
"Iya."
"Lalu, bagaimana caranya aku bisa hidup kembali?" Charla mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Kakak pasti akan terkejut." Sherria terkekeh seiring membangkitkan diri.
"Ikuti aku." Sherria menarik tangan Charla dan membuatnya berdiri.
"Kemana?"
"Sudah ikut saja." Sherria membawa Charla ke tempat dimana sosok yang telah membangkitkannya menunggu.
"Nee-san, semua ini berkatnya. Nee-san pasti mengenalnya, kan?" Sherria menunjuk ke arah anak kecil yang tengah berbaring di hamparan rumput yang sedikit menjorok ke bawah.
"Jangan-jangan…" Charla menutupi mulutnya dengan kedua tangan, tidak percaya kalau sosok yang sempat terlintas di ingatannya yang dia pikir hanyalah mimpi kini ada di depan matanya.
"Ayo, temui dia. Dia sudah menunggumu sejak tadi…"
Charla menoleh sekali ke arah Sherria yang melangkah pergi kemudian melangkahkan kakinya mendekati anak kecil itu.
Menyadari ada seseorang mendekat, anak kecil itu membangkitkan dirinya lalu menoleh ke arah Charla sambil memperlihatkan senyuman mengejek.
"Yo, apa sudah nyenyak tidurnya?" ejek anak kecil itu.
Mendengar ejekan anak kecil itu, Charla berhenti melangkah. Tiba-tiba saja setetes air mata mengalir di sebelah pipinya saat pandangannya bertemu dengan anak kecil itu.
"Apa semua ini berkatmu…" Charla tersenyum tetapi air matanya mulai mengalir deras saat mengenali sosok anak kecil itu, biarpun wajahnya kini tampak berbeda.
"Ternyata kau masih mengingatku, kupikir setelah kau mati, kau akan lupa." Anak kecil itu terkekeh pelan seiring dirinya membangkitkan diri.
Charla menggeleng pelan, "Tidak, aku mengingatnya… meskipun wajahmu sekarang terlihat berbeda, aku masih mengingatnya…"
Charla melanjutkan langkahnya, berlari mendekati anak kecil itu. Saat berada di depannya, Charla langsung menekukkan tubuhnya memeluk erar anak kecil itu, meluapkan rasa bahagianya karena bisa bertemu kembali dengan sosok yang dia cintai.
Anak kecil itu membalas pelukan Charla sambil mengelus-elus lembut rambutnya.
"Selamat datang, Charla..."
"Aku kembali, Akira-san…"
——
Karena suka lupa dengan like-nya, mulai saat ini saya akan peringatkan :)
__ADS_1