
"Akira-san, ini sungguh dirimu, kan?" tanya Charla masih dalam pelukannya.
"Iya, ini a—" Kata-kata Zero seketika terhenti saat tiba-tiba dia merasakan rasa sakit di dadanya dan sontak dia pun melepas pelukan itu.
"Argh! Kenapa ini!" Zero beralih memegangi dadanya yang terasa sakit.
"Akira-san, kenapa? Apa yang terjadi!" Charla menjadi panik melihatnya.
"Aku juga tidak tahu…"
Saat Zero tidak tahu penyebab mengapa dadanya terasa begitu sakit, tiba-tiba suara Sistem terdengar menjelaskan alasannya.
[Peringatan! Karena nama Anda sekarang sudah diganti, Anda tidak boleh memakai nama itu lagi. Jika ada seseorang yang menyebut nama itu, Anda akan menerima rasa sakit]
'Sialan! Kenapa kau baru memberitahukannya sekarang!' kesal Zero.
Zero segera membekap mulut Charla, menyuruhnya untuk berhenti menyebut nama terdahulunya.
"Charla, tolong jangan sebut nama itu lagi…" pintanya sambil melepas bekapannya.
"Kenapa?" Charla tidak mengerti.
Zero kemudian menjelaskan alasannya karena syarat untuk menghidupkannya kembali yaitu dengan mengorbankan namanya. Meski tidak sepenuhnya bohong, tapi Zero mencoba agar Charla tidak memanggil nama itu lagi.
"Namaku sekarang bukan lagi Akira, tapi Zero. Mulai sekarang kau harus memanggilku Zero." Zero menjelaskan namanya saat ini.
"Siapa pun namamu, kau masih tetap sosok yang kukenal…" Charla tidak terlalu mempermasalahkannya.
"Baiklah kalau begitu…" Charla menhela nafas sambil memejamkan mata, sebelum ketika membuka matanya kembali dia tersenyum riang menatap Zero.
"Aku kembali, Zero-sama…" Charla mengulangi dialog sebelumnya.
Zero menegakkan tubuhnya kemudian menyatukan keningnya dengan kening milik Charla.
"Selamat datang, Charla…" Kata-kata Zero terdengar lembut di telinga Charla.
Sekali lagi takdir mempertemukan kembali dua makhluk berbeda ras yang sebelumnya sempat berpisah dalam suasana sore yang hangat nan mengharukan. Semburat jingga yang menerpa mereka berdua memberikan nuansa yang romantis dan penuh akan estetika di dalamnya.
Di sisi lain, Sherria yang sejak tadi mengamati dari balik pohon awalnya khawatir saat melihat Zero tiba-tiba kesakitan namun sekarang dia merasa senang melihat mereka berdua bisa bersama kembali.
*~*
Saat ini di depan Zero semua ras demi-human yang telah hidup kembali berjajar rapih, termasuk Charla dan Sherria semuanya sudah berjajar di depannya. Mereka semua terlihat masih belum percaya kalau saat ini mereka telah dihidupkan kembali, terlebih lagi yang menghidupkan mereka hanyalah seorang bocah manusia.
"Apa kalian sudah mendengar semua tentangku?" tanya Zero.
"Sudah, Tuan," jawab mereka semua serempak. Sebelumnya mereka sudah mendengar tentang semua aksi yang sudah bocah manusia itu lakukan dari Rob dan Droy.
"Bagus, jadi aku tidak perlu repot lagi memperkenalkan diri." Zero mengangguk-anggukan kepalanya menatap satu demi satu para ras demi-human di depannya.
__ADS_1
Berdasarkan yang dia lihat semua ras demi human di desa ini beragam jenisnya. Dari mulai rakun, kelinci, rubah, kucing, anjing semuanya ada di sana.
"Apa kalian masih tidak percaya kalau saat ini kalian bisa hidup kembali?" Zero melihat raut wajah mereka masih sulit menerima kenyataan itu.
"Benar, Tuan. Kami sungguh tidak percaya bisa hidup kembali dan berkumpul lagi seperti ini. Namun disaat yang sama kami semua bahagia merasakannya," kata pria paruh baya yang tidak lain kepala desa ini.
"Ya. Aku tidak akan memaksa kalian untuk mempercayainya atau tidak." Zero mengibas-ngibaskan tangannya tidak peduli.
"Kami tidak tahu harus memberikan apa untuk membalas semua yang sudah Tuan lakukan. Rasa terima kasih pun sepertinya tidak akan mungkin cukup untuk membalas semua kebaikan Tuan," kata kepala desa mewakili mereka semua.
"Tidak perlu. Aku tidak menginginkan apa-apa. Aku hanya ingin mulai sekarang kalian menjadi abdiku." Zero menyilangkan kedua tangan di dada bersikap angkuh
Mereka semua saling berpandangan mendiskusikan apa yang Zero inginkan. Permintaan menjadi abdinya terlalu besar bagi mereka tapi itu sebanding dengan apa yang Zero berikan.
Namun satu hal yang mereka ketahui bocah di depannya ini bukanlah orang jahat. Karena berdasarkan yang mereka dengar dari Rob dan Droy bocah di depannya ini mempunyai hubungan khusus dengan Charla dan Sherria yang menjadi alasan mengapa dia mau membangkitkan mereka semua.
"Kenapa? Apa kalian tidak mau?" Zero melihat keraguan mereka.
"Tuan, bisa tolong jelaskan maksudnya?" tanya kepala desa.
"Maksudnya mulai saat ini juga nyawa kalian ada di tanganku. Apapun yang terjadi kalian tidak boleh menolak perintahku. Semua perkataanku mutlak dan tidak boleh dibantah dan kalian akan menerima hukuman jika melanggar semua itu," jelas Zero dengan intonasi angkuh.
Mereka semua terdiam, ragu menerima permintaan Zero, karena permintaannya ini sama saja dengan dirinya menyuruh mereka untuk menjadi budak. Bahkan Charla dan Sherria yang mendengarnya pun terdiam, tidak tahu harus berkata apa dan tidak menduga Zero akan meminta hal seperti ini.
"Hahaha! Tidak perlu tegang seperti ini. Aku hanya bercanda."
"Aku tidak akan memaksa kalian melakukan hal yang sulit. Aku hanya ingin kalian membantuku mengolah kerajaanku dan tinggal selamanya disana." Zero menjelaskan permintaannya.
"Kerajaan?" Selain Sherria, mereka semua terkejut mendengar istilah itu.
"Ya. Aku sedang membuat kerajaan. Dan aku membutuhkan tenaga kalian di sana," jelas Zero
Para ras demi-human saling mendiskusikan permintaan Zero sebelum mereka mengambil satu kesepakatan.
"Baik, kalau itu mau Tuan, kami semua bersedia melakukannya." Kepala desa mewakili mereka semua.
"Bagus, mohon kerjasamanya."
"Mohon kerjasamanya juga, Tuan," jawab mereka serempak.
"Baiklah karena kalian semua sudah menerimanya mari kita semua sekarang pergi ke kerajaanku," kata Zero sambil memegang kedua pinggangnya.
"Anu, Tuan. Kalau boleh tahu bagaimana cara kita semua untuk sampai ke sana? Apa kita hanya jalan kaki?" tanya Rob mewakili mereka. Dia dan yang lainnya tidak tahu kerajaan mana yang Zero maksud
"Tenang saja, aku mempunyai transportasi bagus yang memungkinkan kita bisa sampai disana sebelum malam hari tiba." Zero menyunggingkan sudut bibirnya angkuh.
Zero kemudian melambaikan satu tangannya sambil memberi perintah, setelah itu sesosok naga putih tiba-tiba muncul di hadapan mereka semua. Dan tentunya mereka semua terkejut menyaksikannya.
"Naga…" Mereka menggumamkan kata yang sama, memastikan apa yang ada di depannya saat ini benar-benar naga atau hanya ilusi belaka.
__ADS_1
"Hahaha, tidak perlu terkejut seperti itu saat berada di depanku." Zero dengan santai menanggapi keterkejutan mereka. Dia berjalan mendekati naga itu lalu mengelus-elusnya untuk membuktikan ke mereka kalau naga di depannya saat ini benar-benar nyata.
"Bagaimana caranya naga ini membawa kami semua?" tanya salah satu dari mereka.
"Sederhana, aku hanya tinggal menyuruh kalian masuk ke dalam cincin ini…" Zero menunjukkan cincin yang tersemat di jarinya.
Mereka semua tadi melihat naga itu keluar dari cincin itu, yang berarti ada sebuah tempat atau ruangan di dalam cincin itu, dan kemungkinan mereka juga bisa masuk ke dalamnya.
"Mendekatlah…" titah Zero.
Mereka semua mendekati Zero yang tengah berdiri di kaki naga itu. Mereka kini bisa menyaksikan dengan nyata kalau apa yang ada di depannya saat ini benar-benar naga. Sulit menebak siapa sosok bocah pemilik naga ini sebenarnya.
"Charla, Sherria kemarilah…" Zero hanya memisahkan mereka berdua.
"Ayo…" Orang tua Charla dan Sherria mendorong pelan kedua anaknya itu untuk mendekati Zero. Tersenyum mereka melihat anaknya bisa bertemu dengan manusia yang nampaknya begitu perhatian seperti Zero.
"Selain mereka berdua aku menyuruh kalian untuk masuk ke dalam cincin ini…" Zero melambaikan tangannya ke arah mereka semua.
"Baik."
Setelah serempak berkata demikian, mereka semua dimasukkan ke dalam cincin itu.
Di dalam ruang cincin itu mereka semua bisa melihat pemandangan laut dan daratan yang sangat luas layaknya samudra dengan pepohonan dan perairan yang bertebaran di segala tempat. Mereka semua kemudian mendarat di sebuah hamparan rumput yang tampak asri dengan pemandangan pepohonan yang sangat indah layaknya surga.
Mereka kesulitan mengekspresikan bagaimana perasaan mereka sekarang saat mengetahui ada tempat seperti ini di dalam sebuah cincin yang ukurannya bahkan tidak sampai seibu jari.
"Apa kalian mendengarku?" Zero mengamati mereka yang ada di dalam cincin itu, memastikan keadaan mereka.
"Iya, Tuan, kami mendengarnya," jawab mereka serempak
"Bagus…"
Zero mengambil kesadarannya kembali di dunia nyata dan fokus pada dua sosok gadis demi-human di depannya.
"Zero-sama, apa benar naga ini temanmu. Sebelumnya saat bersamamu aku belum pernah melihatnya." Charla menempelkan wajahnya di bulu halus Fluffy. Sherria di sampingnya ikut mengelusnya.
"Benar Charla, dia temanku. Aku bertemu dengannya setelah kau tiada. Namanya Fluffy. Kau bisa memanggilnya Flo." Zero memperkenalkan naga itu sambil mengelus-elus kepalanya
"Begitu, ya... Salam kenal, Flo." Charla melepas pelukannya dan tersenyum ke arah Fluffy.
"Sudah cukup. Sudah saatnya kita pergi dari desa ini…" titah Zero.
"Baik, Zero-sama," jawab mereka serempak.
Setelah itu Zero bersama mereka berdua menaiki punggung Fluffy, dan dalam sekali kepakan sayap, Fluffy melesat ke ketinggian membawa mereka kembali ke desa sebelumnya.
——
Jangan lupa like dan komennya
__ADS_1