
Satu jam waktu istirahat telah usai, masa pertengahan gelombang monster pun dimulai. Semua petarung yang semula beristirahat kini bangkit dan bersiap bertempur kembali.
"Apa petualang itu masih belum datang juga?" Petugas yang bertugas memantau jalannya pertempuran menanyakan sosok petualang pangkat diamond yang hingga saat ini tak kunjung muncul juga.
"Sudah abaikan saja petualang itu. Dia pasti tidak berniat membantu kota ini. Jika dia memang berniat melakukannya seharusnya dia sudah berada di kota ini sejak kemarin. Sudah, lebih baik kita fokus kembali mengamati pertempuran selanjutnya yang sebentar lagi akan dimulai." Rekannya terlihat sudah tidak mempedulikan petualang itu dan memilih untuk kembali melanjutkan tugasnya mengamati pertempuran berikutnya.
Petugas yang sebelumnya mengeluh mengikuti sarannya itu dan mulai mengamati apa yang akan terjadi di depannya.
"Pertempuran kali sedikit ini berbeda. Kemungkinan sedikit lebih sulit bagi mereka yang kekuatannya di bawah rata-rata, mengingat monster yang muncul kali ini berada di tingkat antara middle-grade sampai highest-grade." Petugas itu mengutarakan pendapatnya.
"Benar sekali. Kekuatan dari monster highest-grade sendiri hampir setara dengan seorang Magic Warrior tahap akhir yang mampu menghabisi seratus orang biasa hanya dalam satu waktu. Tentu saja hal itu akan membuat monster setingkat ini menjadi sulit untuk dikalahkan." Rekannya ikut berpendapat.
Meskipun apa yang dikatakan oleh kedua petugas itu benar, hal itu kelihatannya tidak membuat mereka yang bertempur takut ataupun menyerah, malahan mereka tampak semakin bersemangat karena dengan semakin tingginya tingkatan monster yang muncul kali ini, semakin besar pula keuntungan yang bisa mereka peroleh.
Dengan membawa semangat itu, di pertempuran selanjutnya ini mereka akan berusaha memburu monster di tingkat itu sebanyak-banyaknya untuk memperoleh keuntungan yang maksimal.
Tidak hanya mereka saja, tiga petualang pangkat diamond tampaknya jauh lebih siap untuk memburu semua monster di tingkat tersebut.
Sebelumnya mereka tidak terlalu bersemangat dan bahkan tidak sampai berkeringat saat melawan monster-monster di masa permulaan. Namun sekarang semangat mereka mulai menyala karena dapat memburu monster di tingkat highest-grade yang lumayan susah untuk ditaklukkan.
Memulai pertempuran, Bobby melompat ke atas dan mengayunkan palu besarnya (yang merupakan senjata class S) dengan kuat ke arah sekumpulan monster yang bergerak mendekatinya.
Bum!
Suara berdebam terdengar menggelegar disertai gelombang angin kuat yang dapat menyapu siapapun yang ada di sekitarnya. Bahkan, tanah yang dipijaki oleh mereka yang berdiri tak jauh di sekitar situ bergetar karena serangan tersebut.
"Oh, kalian tangguh juga rupanya."
Sayang sekali serangan pembuka Bobby hanya mampu menghabisi monster-monster di tingkat high-grade ke bawah, sedangkan monster di tingkat highest-grade berhasil selamat meski ada beberapa yang terluka.
Sean mendengus pelan sambil tersenyum melihat serangan Bobby barusan. "Dasar. Dia memang tidak main-main ketika melancarkan serangannya," katanya seolah sudah terbiasa melihat serangan tersebut.
Setelah serangan pembuka itu, semua petarung di tempat itu serempak maju untuk bertempur melawan monster-monster yang berdatangan.
Pertempuran sengit pun terjadi.
"Sepertinya kali ini aku juga akan sedikit lebih serius." Sean yang tidak mau kalah bersiap menunjukkan keahliannya. Dia memanggil kedua senjata andalannya, yaitu berupa tombak kembar yang merupakan senjata class S.
Di kedua tangannya kini terdapat tombak merah bercorak api dengan di ujungnya tersundut api merah yang siap membakar apa saja yang disentuhnya.
"Mari kita mulai bersenang-senangnya."
Sean menyeringai sambil memposisikan kedua tombaknya sebelum selanjutnya dia memutar kedua tombak apinya itu layaknya baling-baling sambil berjalan ke arah sekumpulan monster di sekelilingnya. Setiap monster yang terkena putaran tombaknya akan terbakar. Ada yang terluka, ada yang langsung hangus seketika.
Monster-monster itu tampak ketakutan untuk mendekati putaran tombak itu apalagi saat menyaksikan sekawannya tidak bisa melakukan apa-apa saat mencoba menghentikannya.
"Hahaha! Hanguslah kalian semua!" Sean melancarkan serangan brutalnya itu sambil tertawa seolah-olah itu adalah sesuatu yang menyenangkan.
Sean terus memutar tombaknya itu untuk menghanguskan semua monster yang ada di jangkauannya. Bukan hanya di jangkauannya saja, dia juga bergerak ke tempat petualang lain untuk menghabisi monster-monster yang ada di sana.
"Hei kalian semua, awas!"
__ADS_1
Orang-orang yang mendengar peringatan itu segera bergerak menjauh karena tidak ingin terkena sebatan tombak api yang berputar itu.
"Gila! Apa dia mencoba membunuh kita?"
"Hampir saja tombak itu mengenaiku."
"Beruntung nyawaku masih bisa diselamatkan."
Kesal orang-orang yang hampir terkena tombak api milik Sean.
Karena tidak ada pilihan dan tidak mau bermasalah dengan Sean, mereka memutuskan untuk mencari tempat pertempuran lain karena tempat itu sudah tidak aman lagi.
Di sisi lain, Iris atau petualang pangkat diamond yang lain menggelengkan kepala sambil tersenyum melihat aksi Sean dan Bobby yang begitu brutal.
"Ah...kalian jangan memancingku untuk melakukannya juga." Iris merasa ingin melakukan hal yang sama seperti mereka. Perasaan itu semakin kuat saat melihat kedua petualang itu semakin brutal melancarkan aksinya.
Iris yang merupakan seorang penyihir yang ahli menggunakan sihir tumbuhan ikut unjuk diri memperlihatkan kemampuannya.
"Keluarlah wahai anak-anakku. Kita buktikan kepada semua orang kalau kita bisa melakukan hal yang lebih hebat seperti mereka." Setelah berkata demikian, tumbuh-tumbuhan berukuran besar bermunculan dari tanah.
Tumbuhan-tumbuhan itu sedikit mirip seperti monster tumbuhan meski yang ini sedikit lebih menakutkan. Dan kelihatannya bukan tampangnya saja yang menakutkan, kekuatannya juga tidak bisa diremehkan.
"Baiklah, mari kita mulai pestanya!" Iris menggerakan kedua tangannya untuk mengendalikan tumbuh-tumbuhan miliknya untuk menghabisi monster-monster yang bermunculan di sekelilingnya.
Aksi brutal yang dilakukan oleh ketiga petualang pangkat diamond itu sejenak menyita perhatian semua orang yang bertempur di sana, berpikir bahwa panggung pertempuran kali ini sepenuhnya milik mereka bertiga.
*~*
Beberapa petualang tampak kecewa karena hasil yang didapat dari perburuan kali ini kurang memuaskan. Semua itu karena hampir semua mosnter yang muncul kali ini diambil alih oleh ketiga petualang pangkat diamond itu.
"Kalian kumpulkan semua inti monster dari monster yang tadi kukalahkan. "
"Baik ketua."
Ketiga petualang itu memberi perintah pada masing-masing anggota party-nya. Anggota partynya juga ikut andil dalam quest yang diambil oleh ketua mereka.
Pertempuran di masa pertengahan ini cukup melelahkan bagi ketiga pahlawan itu karena mereka sudah mengerahkan banyak tenaga.
Sean menghela nafas panjang kemudian duduk di kursi yang sudah disediakan. "Ah~ melelahkan sekali. Seharusnya aku jangan terlalu menikmatinya tadi..." katanya sambil tersenyum seolah yang dilakukannya tadi adalah sesuatu yang menyenangkan.
Orang-orang yang duduk di dekatnya diam-diam menatapnya dengan tatapan tidak suka. Sean menyadari tatapan tersebut dan menebak reaksi mereka seperti itu pasti gara-gara dirinya yang telah mengambil bagiannya tadi. Alih-alih menyesal, Sean malah merasa puas bisa membuat mereka kesal.
Setelah satu jam waktu istirahat berlalu, semuanya kembali bersiap-siap untuk menghadapi masa penghabisan. Pertempuran di masa penghabisan ini merupakan akhir dari pertempuran gelombang monster yang terjadi hari ini.
Monster-monster yang muncul di masa penghabisan ini berada di tingkat antara high-grade sampai Ancient yang membuat pertempuran kali ini akan menjadi semakin sulit.
Semua orang yang bertempur terlihat sudah masuk ke dalam mode serius karena musuh yang akan dihadapi kali ini tidak bisa diremehkan. Begitupun dengan ketiga petualang diamond itu, mereka tampak sangat bersemangat sekali karena ini merupakan momen yang mereka tunggu-tunggu sejak tadi.
"Ha!!"
Teriakan dari orang-orang yang bertempur di tempat itu menjadi tanda dimulainya pertempuran antara kedua belah pihak.
__ADS_1
Para petarung yang memiliki kekuatan di bawah rata-rata memilih untuk bekerja sama melawan monster di tingkat yang setara dengan kekuatan mereka. Ada juga yang bekerja sama untuk menghadapi monster di tingkat Highest-grade sampai Ancient demi memperoleh keuntungan yang besar.
Hanya ketiga petualang pangkat diamond itu yang berani melawan monster tingkat tinggi seorang diri. Tidak hanya satu monster tingkat tinggi, lima monster pun mereka jabani.
Pertempuran baru berlangsung selama sepuluh menit namun beberapa dari mereka sudah ada yang kewalahan karena sulit menaklukkan monster-monster yang muncul kali ini. Bahkan beberapa dari mereka pun ada yang terluka sehingga mereka memutuskan untuk mundur dan mengobati luka itu terlebih dahulu sebelum kembali bertempur dengan yang lain.
Meski monster yang muncul kali ini tidak terlalu banyak seperti sebelumnya, monster-monster ini sangat sulit untuk ditaklukkan. Akan tetapi dengan bekerja sama dan tidak menyerah, satu demi satu dari monster itu berhasil ditaklukkan.
"Yosha! Akhirnya kita berhasil!" teriak mereka yang berhasil menaklukkan satu monster tingkat Ancient.
"Mana inti monsternya?"
Segera mereka mencari inti monster dari monster yang mereka kalahkan itu. Sayangnya mereka menemukan inti monster itu kini menggelinding dan berhenti tepat di bawah kaki Sean yang saat itu sedang mundur sejenak untuk mengatur posisi.
"Heh~Kalian hebat juga ternyata bisa mengalahkan monster itu." Sean mengambil inti monster milik mereka yang ada di bawah kakinya.
"Tolong kembalikan, itu punya kita," pinta salah satu petualang yang berpartisipasi dalam mengalahkan monster itu.
Namun Sean seolah tidak mendengarkan permintaan petualang itu dan asik mengamati inti monster milik mereka.
"Hei, cepat kembalikan, itu punya kita." Mereka tampak mulai kesal karena Sean sama sekali tidak merespon permintaan mereka.
Merasa kesal, salah satu dari mereka pun maju untuk mengambil inti monster itu dari Sean. "Jangan main-main, cepat kembalikan inti monster itu!" teriaknya sambil mendekati Sean.
Naas ketika orang itu sedang berjalan mendekati Sean, dia tidak menyadari ada satu monster Ogre yang berlari ke arahnya sambil membawa kapak.
"Hei awas di sampingmu!" teriak rekannya yang juga baru menyadari kedatangan monster itu.
Sialnya petualang itu telat menyadarinya sehingga bahunya berakhir terkena bacokan oleh monster ogre tingkat Ancient yang datang ke arahnya. Meski nyawanya berhasil selamat, tetapi situasi dan kondisinya saat ini benar-benar tidak menguntungkan.
Sean terkekeh melihat petualang itu terjatuh setelah dibacok oleh monster. "Padahal aku hanya ingin melihat benda ini sebentar, kenapa kau mendadak kesal seperti itu. Lihat, karena kau lengah, kau pun berakhir seperti ini. Benar-benar menyedihkan," katanya dengan senyuman licik melihat sebentar lagi petualang itu akan tewas di tangan Ogre yang bersiap menghabisi nyawanya.
Rekan-rekannya serempak buru-buru menyelamatkannya walaupun jarak antara petualang itu dengan rekannya tidak memungkinkan untuk membuatnya selamat.
"Sialan…" lirih petualang itu sambil menatap Sean dengan penuh amarah.
Sean tersenyum sinis melihat detik-detik bagaimana petualang itu tewas di tangan Ogre yang sudah mulai mengayunkan kapaknya.
Sayang sekali ekspektasi yang Sean harapkan seketika sirna saat menyaksikan apa yang terjadi pada Ogre itu.
Ogre itu tiba-tiba tersambar oleh petir hebat yang turun dari langit dan seketika menghanguskannya sebelum akhirnya ogre itu tumbang ke tanah dan petualang itupun selamat dari maut.
"Apa yang terjadi?" Sean segera mencari tahu siapa pelaku dari balik serangan petir tersebut.
Sesaat berikutnya petir-petir lain berjatuhan dari langit dan mengarah ke setiap monster di tempat itu. Hanya dalam sekali sambaran, monster-monster yang terkena petir itu seketika hangus dan berubah menjadi abu.
Semua orang yang menyaksikan fenomena itu jelas saja kebingungan karena tidak tahu sumber dari petir dahsyat itu berasal.
Sampai akhirnya mereka menemukan sosok di balik turunnya petir-petir itu saat pandangan mereka tertuju ke langit.
Kini semua orang bisa melihat dua orang pemuda yang tengah menunggangi wyvern turun dari langit dan mengejutkan semua orang yang menyaksikannya.
__ADS_1