
Tepat setelah budak itu ber 'hah', Zero menjentikkan jarinya ke area perut budak itu. Yang terjadi berikutnya membuat semua pasang mata terkejut saat menyaksikan budak itu terpental dengan begitu keras dan berakhir di ujung tembok dalam keadaan yang mengenaskan selayaknya tomat yang hancur.
"Bagaimana terasa tidak?"
O~O
Apa yang disaksikan oleh para budak saat ini hampir membuat jantung mereka terlepas dari tempatnya karena saking terkejutnya mengetahui jika bocah yang sebelumnya mereka remehkan ternyata merupakan sosok yang sangat mengerikan.
Sekalipun tidak pernah mereka menemukan ada orang yang mampu menewaskan seseorang dengan begitu mudahnya, bahkan hanya dalam sekali jentikkan jari. Terlebih orang yang mampu melakukan hal semengerikan itu ternyata hanya seorang bocah.
Mereka mengusap-usap matanya berulang kali untuk memastikan apa yang disaksikannya barusan hanyalah ilusi, juga berharap sosok yang hancur di tembok itu bukan salah satu rekan mereka.
Namun sayang, berapa kali pun mereka melakukannya, ilusi tersebut tidak hilang juga, itu berarti apa yang terjadi di depan matanya sekarang memang sungguh nyata.
Di kejauhan, penjual budak yang dengan jelas menyaksikan apa yang dilakukan oleh Zero pada budak itu sampai dibuat terjatuh lemas. Dia benar-benar merasa lega karena sewaktu tadi Zero tidak melakukan hal yang buruk padanya meskipun dirinya sudah beberapa kali membuatnya kesal.
Gladius terkekeh melihat reaksi penjual budak lalu tersenyum melihat tubuh budak yang sudah hancur di tembok setelah terkena jentikkan jari Tuannya.
Para budak segera mengambil kesadarannya dan buru-buru menjauh dari tempat Zero berada karena tidak ingin mengalami hal yang serupa seperti rekannya barusan. Mereka tidak lagi menganggap sosok Zero seperti bocah manja pada umumnya yang bisa mereka olok-olok.
"Benar, seperti ini baru seru. Kalian juga harus ikut bermain denganku," kata Zero begitu menemukan mereka yang semula meremehkannya kini menjadi waspada dengannya.
Pemimpin kawanan budak itu menyuruh semua anak buahnya untuk melakukan formasi, bersiap menghadapi bocah di hadapannya ini yang jelas tidak bisa mereka remehkan. Mereka tidak menggunakan senjata apapun untuk menghadapinya selain murni menggunakan tangan kosong. Meski begitu mereka percaya jika dengan bekerja sama mereka pasti bisa mengalahkannya.
"Gladius! Buat rune di pintu masuk kurungan ini agar mereka tidak kabur," titah Zero berjaga-jaga.
"Serahkan padaku, Tuan," sahut Gladius tampak antusias ingin melihat penampilan terbaik Tuannya.
"Hei, apa semua budak ku akan dihabisi olehnya?" tanya penjual budak pada Gladius yang sedang memasang rune.
Penjual budak terlihat sangat menyayangkan jika budak-budak terbaiknya malah berakhir tanpa menghasilkan apapun untuknya.
"Entahlah. Kalau anda ingin mencari tahunya, coba tanyakan saja langsung padanya," kata Gladius sambil terkekeh.
Penjual budak menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak mau. Aku tidak ingin berakhir seperti budak ku yang tadi," katanya terdengar takut.
"Kalau begitu anda diam saja di sini dan lihat apa yang akan dilakukan olehnya." Gladius memberi saran sambil memperhatikan situasi Zero yang masih berdiri di tempat yang sama dan tengah dikepung oleh para budak itu.
Para budak mulai bergerak menyerang Zero secara keroyokan agar mempermudah mereka untuk mengalahkannya, tetapi Zero kelihatannya tidak semudah itu untuk dikalahkan sekalipun mereka terus menyerangnya tanpa henti.
Zero tidak berniat menyerang mereka balik dan memilih untuk menghindarinya sembari memberikan penilaian terhadap setiap serangan mereka.
Dari yang Zero lihat, para budak itu tidak memiliki esensi sihir dalam tubuhnya sehingga mereka bisa dikatakan lemah walaupun fisik mereka cukup kuat.
Zero patut menghargai kepercayaan diri mereka yang berpikir bisa mengalahkannya padahal sudah jelas rekannya saja barusan tewas dengan begitu mudah di tangannya. Hal itu tentu menunjukkan kalau mereka berada di level yang berbeda dengannya.
"Oi, kau yakin tidak ingin ikut bermain denganku?" tanya Zero melirik ke arah pemimpin budak.
__ADS_1
Sejak pertama kali para budak itu bergerak menyerangnya, pemimpin sekawanan budak itu malah memilih mengamatinya, tak ingin ikut andil membantu yang lainnya.
Meski demikian, sejak tadi dia tidak hanya santai mengamati pertarungan mereka saja. Dia juga sedang memikirkan cara terbaik untuk menghadapi bocah yang tidak biasa ini dan mencari cara agar bisa keluar dari situasinya sekarang.
"Bocah siapa kau sebenarnya? Dan apa tujuanmu datang ke sini?" Pemimpin budak itu bertanya dikala Zero sedang disibukkan oleh anak buahnya.
"Siapa aku?" Zero terkekeh pelan dan menjawab, "Entahlah. Kau akan segera mengetahuinya setelah ini." Zero menunjukkan senyuman jahat di ujung kalimatnya.
Pemimpin budak terdiam melihat respon bocah itu sebelum kembali bertanya. "Apakah kau tahu siapa kita?" tanya pemimpin budak itu terdengar sedikit congkak seolah ingin memberitahukan kalau dirinya memiliki eksistensi yang lebih tinggi dibanding dengannya.
"Tentu saja. Kalian seorang budak, kan?" jawab Zero terdengar meledek.
"Ya, tadinya memang begitu, tapi sebelum kita berakhir di sini, kita dulunya adalah perampok nomor satu di kerajaan ini." Pemimpin budak itu mengatakan itu untuk membuat Zero mengerti seberapa menakutkannya mereka meskipun yang dikatakannya barusan adalah sebuah kebohongan.
"Terus?" Zero menyunggingkan senyuman tipis, merasa lucu mengetahui seberapa bodohnya pemimpin budak itu.
"Kau tidak dengar? Kita adalah perampok nomor satu di kerajaan ini! Jadi berhenti bermain-main dengan kita," tegas pemimpin budak.
"Coba beritahukan padaku, apa yang perlu ditakuti dengan kelompok sampah seperti kalian?" Zero memperlihatkan ekspresi menghina.
Alih-alih merasa takut mendengar perkataan pemimpin budak, Zero malah prihatin dengannya yang masih belum sadar juga kalau perbedaan antara dia & kelompoknya dengan dirinya seperti halnya langit dan bumi.
"Bocah..." Pemimpin budak itu terlihat mulai emosi karena perkataannya barusan tidak mendapat respon yang sesuai dengan yang dia inginkan. Dia malah mendapat hinaan yang benar-benar melukai perasaannya.
"Kau memang perlu diberi pelajaran agar mengerti siapa kita sebenarnya..." kata pemimpin budak itu kali ini terlihat berniat menghadapi Zero.
Kepercayaan diri itu didapat lantaran di antara semua budak di tempat itu hanya dirinya yang memiliki esensi sihir dalam tubuhnya dengan tingkatan sihir berada di tingkat penyihir kelas satu.
Pemimpin budak itu mulai memanggil senjata andalannya berupa kapak besar yang merupakan senjata kelas B. Sudah lama dia tidak menggenggam kapak itu lantaran semenjak dirinya dibelenggu oleh belenggu yang ada di tempat itu, dia tidak bisa menggunakan sihirnya untuk memanggil senjatanya tersebut.
Pemimpin budak itu terlihat yakin bisa mengalahkan Zero setelah menemukan kalau ternyata Zero tidak memiliki energi sihir sama sekali dalam tubuhnya meskipun harus diakui dia memang memiliki fisik yang luar biasa. Baginya fisik yang luar biasa saja tidak cukup untuk melawan orang yang memiliki energi sihir.
Zero yang bisa membaca pikirannya merasa prihatin mengetahui betapa bodohnya pemimpin budak itu.
"Sudah hentikan. Kalian bukanlah tandingannya. Biar aku saja yang mengatasinya. Aku akan memberinya pelajaran yang berarti yang tidak akan pernah dilupakan seumur hidupnya."
Setelah mendengar perkataan boss mereka, segera mereka mundur dan memberikan jalan untuk bosnya bertarung melawan bocah itu.
"Memberiku pelajaran, ya…" Zero tersenyum mendengar betapa lucunya istilah itu keluar dari mulut seorang budak, "Aku menantikan pelajaran seperti apa yang akan diberikan oleh seorang budak..." katanya terkesan meledek.
Begitu Zero selesai berkata, pemimpin budak itu langsung berlari mendekatinya sambil membawa kapak besar. Dia mengayunkan kapak besarnya itu dengan sebelah tangan untuk membelah tubuh kecil bocah itu.
Zero menghindari setiap ayunan kapak itu dengan mudah tanpa kesulitan sedikitpun, bahkan dirinya tak segan untuk menguap dikala dirinya diserang seperti itu.
"Bukannya tadi kau bilang ingin memberiku pelajaran yang berarti. Mana pelajaran yang kau maksud. Aku belum mendapatkannya sejak tadi. Kau benar-benar mengecewakanku tahu..." kata Zero dengan intonasi malas selagi terus menghindari setiap serangan kapak yang diarahkan pada tubuhnya
"Berisik! Pelajaran yang kumaksud adalah membunuhmu! Cepat mati sana bocah!" Pemimpin budak itu semakin brutal menyerang Zero.
__ADS_1
Para budak lainnya tidak tahu harus melakukan apa selain menyaksikan pemimpin mereka yang sejak tadi belum berhasil mendaratkan serangan kapaknya sekalipun pada tubuh Zero. Mereka merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi terlebih saat melihat bocah itu sudah tidak lagi berekspresi seolah sudah bosan bermain-main dengan pemimpin mereka.
"Bagaimana kalau kita akhiri permainan ini sekarang…" kata Zero berniat mengakhiri pertarungannya yang mulai membosankan.
Beberapa serangan berikutnya, Zero dengan sengaja tidak menghindari kapak itu dan membiarkan pemimpin budak itu mengayunkannya dengan sekuat tenaga.
"Kalau begitu matilah!"
Harapan pemimpin budak dan semua anak buahnya yang semula berpikir Zero akan tewas terkena serangan itu seketika sirna setelah menyaksikan kapak itu berhasil ditahan oleh Zero hanya dengan menggunakan ujung jarinya, sebelum ketika dia menjentikkan jarinya yang lain seketika kapak miliknya itu hancur berkeping-keping dan membuatnya terkejut.
"Kau tidak pantas memberikan pelajaran pada siapapun..."
Setelah mengatakan itu, Zero menendang kaki pemimpin itu hingga suara tulang hancur terdengar nyaring di telinga mereka dan membuat pemimpin itu berteriak kencang kesakitan.
"Karena kau sendiri saja bahkan tidak bisa mengambil pelajaran dari apa yang sebelumnya kau lihat..."
Saat tubuh pemimpin itu terkulai ke depannya, Zero menggunakan kakinya yang lain untuk menendang wajah pemimpin budak itu hingga hancur. Bahkan darahnya yang muncrat ketika kepalanya hancur sampai mengenai anak buahnya yang menyaksikan aksi brutal itu dari kejauhan.
Suasana di tempat itu mendadak menjadi hening setelah menyaksikan kejadian brutal tersebut. Semuanya terlalu syok menyaksikan bagaimana seorang bocah mampu melakukan hal yang begitu mengerikan.
Para budak itu langsung bergidik ngeri dan tiba-tiba kakinya menjadi terasa lemas karena mengetahui sosok yang telah mereka singgung ternyata jauh lebih menakutkan dari malaikat pencabut nyawa sekalipun.
Penjual budak yang juga memperhatikan aksi tersebut sontak terjatuh ke belakang tepat setelah Zero menendang kepala budaknya itu hingga hancur. Ketakutan terukir jelas di wajahnya mengetahui bocah yang menjadi pelanggannya itu ternyata bukan manusia, dia jauh lebih mirip seperti iblis.
Mungkin hanya Gladius seorang di sana yang takjub dengan aksi yang Zero tunjukkan. Aksinya tersebut menurutnya benar-benar luar biasa.
Para budak di situ menatap nanar kondisi pemimpinnya yang kini tewas tanpa kepala. Sungguh mereka tidak menyangka jika ternyata pemimpin mereka akan lebih dulu meninggalkan anak buahnya.
Zero melihat para budak yang masih syok dengan keadaannya sekarang dan terlihat ketakutan dengannya. Mereka tidak bisa kabur dari tempat itu dan hanya bisa pasrah pada nasib yang akan mereka terima selanjutnya.
"Berlututlah..." kata Zero dingin sambil menatap rendah para budak itu.
Perintah Zero barusan secara tanpa sadar dilaksanakan oleh para budak itu. Rasa takut yang teramat sangat sepertinya berhasil menjinakkan mereka. Mereka perlahan berlutut menghadap Zero dengan kepala menunduk dan bersikap seolah patuh padanya.
"Kubilang berlututlah…" Zero melihat ada satu budak yang tidak berlutut karena masih syok berat sampai tidak mendengar perintahnya barusan.
"B-Baik!" Budak itu buru-buru berlutut menghadap Zero mengikuti rekannya yang lain.
Semua budak itu kali ini sepenuhnya sadar jika mereka sekarang bukan lagi perampok yang seperti dulu yang ditakuti oleh banyak orang, melainkan hanya seorang budak yang keberadaannya tidak jauh berbeda dengan hewan peliharaan.
"Hei, kau..." Zero menunjuk salah satu budak lalu mengulurkan kakinya yang berceceran darah ke arahnya
"Bersihkan…" titahnya.
Perintah Zero segera dilaksanakan oleh budak yang Zero suruh. Dia berjalan hati-hati mendekati Zero lalu membersihkan kakinya yang terdapat ceceran darah pemimpinnya tadi yang sudah tewas. Setelah benar-benar bersih, dia kembali ke tempatnya semula dalam posisi berlutut.
Zero kemudian berkata dengan nada angkuhnya.
__ADS_1
"Pemimpin kalian sudah tidak ada. Sekarang kalian semua adalah milikku. Mulai hari ini juga kalian semua akan menjadi budakku."