Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Berpisah


__ADS_3

Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.


Terima kasih dan selamat membaca


______________________________


Para ras duyung bersorak gembira menyeruakan kemenangannya diliputi rasa haru karena akhirnya musuh yang selama ratusan tahun ini telah membuat mereka menderita kini berhasil mereka taklukkan. Mereka meluapkan perasaan tersebut dengan caranya masing-masing.


Ada yang berenang kesana kesini, "Huuuu~!"


Bersorak kemenangan, "Kita menang! Kita menang!"


Saling merangkul satu sama lain, "Kita berhasil menaklukkan Binatang Jahanam itu, kak! Kita berhasil! "


"Ya. Semua itu berkat kerja sama kita semua!"


Dan ada juga yang menangis karena tak kuasa menahan kegembiraan atas kebebasan yang selama ratusan tahun ini selalu mereka nantikan.


"Tidak kusangka jika hari ini ternyata akan tiba."


"Benar. Kita semua bisa bebas sekarang."


"Hei, coba jelaskan, apa aku tidak sedang bermimpi?"


"Tidak, ini semua nyata kawan."


Bukan hanya mereka saja.


Di sisi lain, mereka yang tadi sempat gugur dan kini hidup kembali pun ikut bahagia begitu mendengar sorakan itu yang memberikan tanda bahwa mereka yang ada disana telah berhasil meraih sebuah kemenangan.


"Yahoo!!!"


Biarpun mereka tidak ikut menyaksikan bagaimana Binatang Jahanam itu ditaklukkan tetapi mereka ikut bersorak merayakan kemenangan mereka semua dari jauh.


Begitu juga dengan para ras duyung yang tidak ikut bertempur. Meski jasa mereka hanya dibutuhkan sekali tapi mereka sangat senang bisa ikut berjasa bagi yang lain.


"Hore!"


"Mereka berhasil!"


"Kita menang! Kita menang!"


Mereka saling meluapkan kegembiraan tersebut dengan berpelukan, menangis dan saling merangkul satu sama lain.


Setelah itu mereka semua bergerak menuju tempat para ras duyung yang sudah berperan besar dalam menaklukkan Binatang Jahanam berkumpul.


"Tuan! Kita berhasil!" Zaltra mengepalkan satu tangannya ke atas, tersenyum lebar menatap Akira sambil tangan yang satu merangkul pundak adiknya. Faltra yang di sisinya pun ikut memberikan tanda yang sama pada Akira yang kemudian dibalas dengan cara yang sama juga.


Akira yang merupakan sosok pahlawan yang sudah membawa kemenangan bagi mereka ikut merasa senang melihat mereka bahagia. Dia tersenyum ringan memandangi mereka semua dari kejauhan sebelum kembali ke mode asalnya dan mengambil alih semua senjata yang dia lepaskan tadi.


{Fatigue: 53}


{Anda mendapatkan 300000 EXP}


{Anda mendapatkan 28000 Orb}


{Anda mendapatkan 125000 BP}


{Level Up}


"Sudah berakhir, ya…" Akira melihat Binatang Jahanam yang mengambang kaku dan sudah tidak bernyawa itu perlahan mulai berubah menjadi partikel cahaya.


"Tuan...! "


Sejurus kemudian, Akira mendengar beberapa orang perempuan memanggilnya secara bersamaan, dan ketika menoleh, Akira menemukan para ras duyung perempuan seperti tengah berenang ke arahnya, sementara ras duyung lainnya ikut bergabung bersama yang lain, ikut meluapkan rasa bahagianya bersama mereka semua.


Akira membelalakan kedua matanya saat melihat para ras duyung perempuan yang selalu menggodanya itu ternyata benar-benar menghampirinya. Belum sempat Akira bereaksi, wanita dewasa yang lebih dulu sampai di dekatnya secara mengejutkan langsung memeluknya dan dilanjut membenamkan wajahnya ke bagian dadanya.


"Terimakasih, Tuan…" ucap wanita dewasa itu terdengar bahagia sekali.


Wajah Akira memerah, jantungnya kini berpacu lebih cepat dibanding saat melawan Binatang Jahanam tadi begitu merasakan sensasi lembut dari buah dada milik wanita dewasa itu.


"Curang, kau selalu saja mengambil start lebih dulu dari kita..." Salah seorang perempuan yang tiba selanjutnya dengan cepat meraih tubuh Akira dan memeluknya dengan cara yang sama, "Terimakasih, Tuan…"

__ADS_1


"Eh~ aku juga mau..."


"Aku juga."


"Aku juga."


"Giliranku."


Akira terus bergilir dipeluk oleh mereka dengan cara yang serupa dan merasakan sensasi lembut nan kenyal yang berbeda-beda. Anehnya Akira sama sekali tidak memberontak dan seolah pasrah saat mereka memperlakukannya demikian. Entahlah, mungkin nalurinya sebagai lelaki yang membuatnya ingin diperlakukan seperti itu.


Sampai ketika nafasnya mulai terasa pengap karena terus dihimpit oleh dua pegunungan, Akira segera menyadarkan dirinya dan melawan nalurinya sendiri. Dia tidak ingin mati konyol karena kehabisan nafas gara-gara hal sepele seperti ini!


"Aahh! Sudah hentikan!" Akira melepaskan diri dari pelukan mereka dan bergerak menjauh, "Baik-baik...sudah cukup...apa kalian mencoba membunuhku, hah..." kata Akira dengan nafas terputus-putus sambil mengangkat kedua tangannya.


"Ehh~ Jahat…padahal kami hanya mencoba berterima kasih, Tuan." Para ras duyung perempuan itu menutup mulutnya dengan satu tangan seperti terlihat ingin tertawa melihat ekspresi Akira.


"Tuan suka pura-pura begitu. Bilang saja Tuan tadi menikmatinya, kan." goda wanita dewasa itu sambil membelai dadanya yang berisi.


"Mana mungkin!" teriak Akira dengan wajah memerah.


"Hahahah!" Para ras duyung tertawa riang menyaksikan pahlawan mereka diperlakukan seperti itu oleh kaum perempuannya. Begitu pula dengan para perempuan itu. Semua orang yang hadir disitu ikut tertawa dan membuat suasana menjadi terasa hangat karena aksi konyol tersebut.


Namun sayang, kelihatannya suasana itu tidak bisa bertahan terlalu lama saat beberapa saat kemudian tubuh mereka satu persatu mulai mengeluarkan cahaya yang perlahan mulai berubah menjadi butiran. Tawa mereka berhenti dan diganti dengan raut wajah yang sulit diartikan. Suasana pun menjadi hening.


Akira yang sempat terbawa suasana kembali menenangkan dirinya dengan sedikit helaan nafas,"Sepertinya sudah waktunya kita berpisah..." kata Akira pelan memandangi para ras duyung yang perlahan berubah menjadi partikel cahaya.


Para ras duyung sesaat saling berpandangan melontarkan senyuman tipis kemudian mengangguk dan bergerak bersama mendekati Akira lalu berjajar di depannya.


Zaltra bersama dua perwakilan lainnya yang lebih tua maju memberi hormat pada Akira yang sudah kembali bersikap tenang seperti biasa di depan mereka.


"Saya sebagai orang yang paling tua disini mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas bantuan Tuan Makhluk Agung," kata yang lebih tua menundukkan sedikit kepalanya. Akira mengangguk pelan membalas rasa terima kasihnya.


"Terimakasih karena telah membantu kami bebas dari tempat ini, " kata Zaltra mencoba tetap terlihat tegar di depan Akira meski perasaannya kini sedang goyah.


Waktu yang dia habiskan bersama Akira memang terbilang singkat, tapi hal itu sangat berkesan baginya dan juga semua orang. Zaltra telah mempelajari banyak hal yang tidak pernah dia temui dari Akira, dari sosok manusia yang seharusnya dia benci.


"Ya..." Akira mengangguk membalas rasa terima kasih itu. Dia pun sejujurnya merasa senang bisa bertemu dengan seseorang yang mempunyai karakter seperti Zaltra. Berkatnya dia juga bisa mempelajari banyak hal yang berharga.


Akira kemudian beralih memandangi mereka semua yang seperti ingin mengucapkan terimakasih juga.


"Terimakasih telah menghibur kami selama beberapa hari ini. Kami doakan semoga Tuan disana bisa bahagia bersama mereka." Para ras duyung perempuan tersenyum menatap Akira. Meski sikap mereka padanya selalu mesum seperti itu tapi harus Akira akui sebenarnya dia cukup merasa terhibur.


"Terimakasih sudah membawa kami ikut berperan besar bersama yang lainnya." Ludius dan sekawanannya membungkukkan setengah tubuhnya menunjukkan rasa hormat pada Akira.


"Ya. Terimakasih juga karena kalian telah bersedia ikut bertarung di garis depan bersamaku."


Akira memandangi mereka kembali sampai kemudian pandangannya berhenti di Faltra yang terlihat tengah menggaruk kepalanya seperti malu-malu mengungkapkan perasaannya, "Etto~ Mmm...Maaf.....maaf kalau sebelumnya aku pernah menyinggung perasaanmu, " katanya sambil membuang muka, "Dan, terimakasih…"


Akira hanya tersenyum tipis dengan sedikit gelengan kepala melihat sikap Faltra yang seperti itu. Akira juga merasa berterima kasih pada Faltra karena berkat informasi darinya dia bisa membawakan kemenangan bagi semua orang.


"Sama-sama..."


Satu persatu dari mereka ikut mengucapkan rasa terimakasih dengan bahasanya masing-masing pada Akira seiring partikel cahaya yang membawa terbang tubuh mereka menghilang.


"Kisahmu akan kami kenang selamanya dan akan kami ceritakan pada mereka semua yang ada disana, " kata Zaltra. Kemudian semuanya memberikan sikap hormat pada Akira untuk yang terakhir kalinya sampai akhirnya mereka semua hilang sepenuhnya dari pandangan Akira.


"Sayonara!"


Akira menengadahkan kepalanya memandangi lamat-lamat partikel cahaya yang terbawa terbang lalu memejamkan matanya sambil menghela nafas panjang. Ini untuk ketiga kalinya Akira merasakan perpisahan seperti ini, dan rasa yang dia rasakan masih tetap sama.


"Bodoh..." Akira tersenyum tipis sambil menggeleng pelan lalu membuka matanya kembali. Butuh beberapa saat sampai Akira bisa melupakan mereka dan bisa fokus kembali pada tujuannya sekarang.


Akira menoleh ke samping tuk melihat pemberitahuan misi yang telah dia selesaikan.


{Binatang Jahanam telah dikalahkan}


{Selamat Anda telah berhasil menyelesaikan misi di lantai ke empat puluh tujuh ini}


{Reward misi:


-1 Super Magical Chest


-600000 BP

__ADS_1


-85000 EXP


-100 SP


-Inti Binatang Jahanam}


{Message — Promosi job/class}


Banyak sekali yang ingin Akira lakukan dengan semua pemberitahuan itu, tapi dia memilih mengabaikannya dan kembali ke kuil tadi untuk melepas penat sejenak disana.


"Sistem Call: Tampilkan waktu yang kumiliki."


[Baik]


{ 0 bulan| 14 hari|3 jam|12 menit| 24 detik}


"Dua minggu lagi, ya... Kira-kira selanjutnya misi seperti apa yang akan aku hadapi. Apa waktu yang kumiliki sekarang cukup untuk menyelesaikan semua lantai yang ada disini." Sambil merebahkan tubuhnya, Akira memikirkan berbagai hal terkait misi yang akan dia hadapi.


"Ah...aku ingin segera keluar dari tempat ini..." gumam Akira sebelum akhirnya dia memejamkan matanya dan tidur dengan nyenyak.


Akira beristirahat di dalam kuil itu selama beberapa waktu sampai tubuhnya segar dan kembali siap tuk lanjut ke lantai selanjutnya selepas menyiapkan berbagai hal.


"Sistem Call: Bawa aku ke lantai selanjutnya."


[Baik]


Akira segera dialokasikan oleh Sistem menuju lantai empat puluh delapan.


*~*


[Anda kini berada di lantai empat puluh delapan]


Akira langsung membuka matanya saat merasakan hawa panas seakan mencoba membakar tubuh kecilnya. Dia menelan ludah saat menyaksikan tempatnya kini berada sungguh membuatnya tercengang. Dia tidak bisa percaya dengan apa yang dia lihat sekarang.


Apa ini benar nyata? Apa benar ini lantai empat puluh delapan? Apa Sistem tidak salah mengalokasikannya? Coba jawab woi!


Banyak pertanyaan yang muncul di benak Akira saat dia membuka matanya. Lahar panas seperti sungai yang mengalir menyapa retinanya untuk yang pertama kali. Jeritan-jeritan seseorang yang kesakitan beresonansi di tempatnya kini berdiri. Saat pandangan Akira menyisir lebih jauh tempat itu dia menemukan tulang-belulang makhluk hidup berserakan dimana-mana, seperti pernah terjadi pembantaian di tempat tersebut.


"Sistem Call: Oi, jawab, apa kau tidak salah membawaku kesini?"


[Tidak]


"Lalu, apa benar sekarang aku sedang berada di neraka?"


[Tidak. Anda sekarang berada di lantai empat puluh delapan]


Neraka? Ya, mungkin satu kata itu bisa mendeskripsikan tempat Akira sekarang. Melihat bagaimana keadaan tempatnya sekarang sungguh sangat mengerikan.


"Lagi-lagi aku dibawa ke tempat yang aneh." Akira menggelengkan kepalanya sambil terkekeh seolah ada yang lucu.


{Quest lantai empat puluh delapan—Kalahkan iblis di lantai ini}


Akira merajut alisnya dalam melihat panel di depannya yang memberitahukan misi yang harus dia hadapi sekarang.


"Iblis?"


"Di tempat ini?"


"Dimana?"


Pandangan Akira menulusuri tempat tersebut. Sampai ketika dia menemukan sebuah anak tangga yang mengarah langsung ke bawah, Akira segera melangkah kesana.


Sesampainya disana, di bawah, Akira menemukan ada seseorang yang tengah sibuk membantai seseorang lainnya dengan keji. Meski tidak terlalu jelas namun Akira langsung bisa mengetahui siapa sosok tersebut. Ya, Akira bisa menebak kalau itu pasti sosok iblis yang harus dia hadapi.


Akira menyeringai dengan cara yang mengerikan saat tahu kalau misinya kali ini ternyata hanya melawan seorang iblis.


Akira menyatukan kedua kepalan tangannya dan berkata,


"Yosh! Aku jadi tambah semangat!"


 


Terimakasih buat kalian semua yang masih nungguin cerita ini sampai sini. Untuk tiga lantai terakhir akan diisi oleh pertarungan-pertarungan yang seru. Semoga kalian masih suka dengan cerita ini.

__ADS_1


Mmm apalagi, ya?


Kalau kalian mau tanya, ngasih saran atau kritik soal cerita ini silahkan saja:)


__ADS_2