Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Misi Bertahan Hidup VIII


__ADS_3

Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.


Terima kasih dan selamat membaca


______________________________


"Akira-san…" Charla segera berlindung di belakang Akira saat melihat kehadiran ketiga orang itu.


"Bocah, hebat juga kau bisa memprediksi tembakanku. " Salah seorang pemimpin dari ketiga orang itu yang mempunyai wajah cukup tampan berkata dingin dengan sorot mata yang masih sangat tajam menatap Akira.


Tatapannya berubah menjadi nakal saat melihat Charla di belakangnya, "Oh, kau seorang demi-human ternyata. Jika dilihat dari dekat ternyata kau lumayan cantik juga. Maaf soal yang barusan karena aku sudah salah mengincar sasaran. Bagaimana kalau sekarang kau ikut dengan kita?"


Mendengar hal itu, tatapan Akira semakin tajam menatap orang yang masih berada di atas pohon tersebut, sementara Charla menundukan kepalanya bersembunyi di belakang Akira.


"Ho~ternyata kau, pengecut yang sudah menyerang kita barusan. Sama halnya denganmu, Aku juga cukup terkesan kau bisa menembak seakurat itu meski dalam jarak yang begitu jauh, " balas Akira yang tidak mau kalah.


Pemimpin kelompok itu diam-diam terkejut dalam hatinya saat mengetahui Akira mampu memprediksi keberadaannya tadi. Seingatnya dia sudah menyembunyikan keberadaanya sebaik mungkin agar tidak terdeteksi oleh siapapun.


Tatapannya kini berubah menjadi sedikit waspada terhadap Akira.


'Bocah ini...pertama dia bisa menghindari seranganku, kedua dia mampu bertahan di tempat ini tanpa terluka sama sekali, dan sekarang dia ingin bilang kalau dia sudah memprediksi keberadaanku tadi. Tidak salah lagi, dia pasti bukan bocah biasa, 'gumam Pemimpin kelompok itu segera menyadari sambil mengamati Akira yang masih bisa tetap tenang meski di hadapannya ada bahaya yang menghadang.


"Omongmu besar juga, bocah. Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?" kata salah seorang dari mereka yang mempunyai tubuh kekar sambil membawa tameng berukuran sedang yang menempel di lengan kanannya.


Akira tidak menjawab. Dia masih tenang sambil menampilkan senyuman.


"Jangan terlalu dipikirkan, Kak Regius. Mungkin dia tadi hanya beruntung saja bisa lolos dari tembakanmu, " kata salah seorang dari mereka pelan mencoba menghibur kakaknya yang tampak termenung seperti sedang memikirkan sesuatu.


Dia sendiri mempunyai bentuk tubuh yang kecil, wajahnya sedikit polos dan membawa tongkat kayu sebagai senjatanya.


"Tidak...Sigurd, Abel, jangan remehkan dia. Bocah ini bukanlah semut biasa. Aku merasakan ada sesuatu yang aneh darinya. Coba lihat, dia juga mempunyai senjata langka yang sama sepertiku, " kata Regius pelan agar hanya terdengar oleh kedua adiknya sambil menuntun pandangan mereka ke senjata yang menempel di pinggang Akira.


Akira bisa mendengar perkataan Regius dengan jelas meski dia berkata sangat pelan. Dalam hatinya akira bergumam, 'Menarik. Pengamatannya cukup bagus. Ternyata dia tipe orang yang suka berhati-hati sebelum mengambil tindakan. Lawan yang akan sangat merepotkan.'


"Tenang saja, Kak. Senjata mainan seperti itu tidak akan bisa menembus pertahananku." Sigurd sengaja membesarkan suaranya dengan lantang agar terdengar oleh Akira. Dia tidak peduli dengan peringatan kakaknya barusan.


"Oh, ya? Apa kau ingin mencobanya?" tanya Akira menantang dengan sudut bibir meninggi. Dia kemudian mengeluarkan senjata pistolnya lalu mengarahkannya pada Sigurd yang berada di atas pohon dengan sebelah tangan.


"Akira-san hati-hati...mereka bertiga pasti seorang penyihir... " Charla berkata lirih mengingatkan.


"Aku tahu. Tenang saja..." balas Akira menoleh sejenak ke Charla yang berada di belakangnya.


"Coba saja kalau kau bisa menembus tamengku ini, bocah!" seru Sigurd sambil memposisikan tamengnya bersiap menghadang.


"Kalau itu maumu…" Akira tersenyum tipis selagi mulai mengalirkan mana pada pistolnya sampai ujung pistolnya seiring detik mengeluarkan cahaya.


"One Shot, One Kill..." Akira menarik pelatuknya, dan Dor! satu peluru melesat ke arah Sigurd.

__ADS_1


Sigurd dengan senyuman angkuhnya memposisikan tamengnya bersiap menghadang laju peluru yang Akira lontarkan. Namun sebelum peluru itu sampai ke tameng Sigurd, sebiji peluru yang lain segera menghadangnya lebih dulu.


Naasnya peluru itu kalah kuat dengan peluru yang Akira lontarkan hingga pada akhirnya peluru milik Akira tetap sampai ke tameng Sigurd.


Ketiga orang itu seketika terdiam membeku menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Semuanya serempak melihat bekas tembakan yang Akira lontarkan di tameng Sigurd. Mereka secara bersamaan menahan nafasnya begitu melihat sebuah lubang menembus sangat dalam di tameng Sigurd.


"T-Tidak mungkin..."


Tatapan ketiga orang itu berubah, kini mereka menatap Akira penuh kewaspadaan saat mengetahui satu pelurunya saja mampu menembus tameng yang setahu mereka susah untuk ditembus apalagi sebelumnya peluru itu sempat ditahan oleh peluru yang lain.


"Bagaimana? Apa kalian ingin mencobanya langsung ke tubuh kalian? " Akira tersenyum sinis ke arah ketiga orang itu.


"Sudah kubilang jangan remehkan bocah ini!" sentak Regius pada Sigurd.


"Kita mundur dulu!" Merasa panik, mereka bertiga pun segera bergerak mundur menjauhi Akira, dan setelah jauh, mereka bersembunyi di balik pohon yang besar.


"Dasar pengecut, malah kabur..." Akira terkekeh melihat tingkah mereka.


"Tidak, mereka tidak sepenuhnya kabur..." Samar-samar Akira masih bisa merasakan keberadaan mereka. Yang Akira rasakan, mereka bertiga seperti sedang merencanakan sesuatu yang pastinya akan berbahaya jika dia tidak menyikapinya dengan hati-hati.


"Akira-san apa kau ingin melawan mereka bertiga?" tanya Charla setelah melihat mereka bertiga pergi.


"Tentu saja. Mereka juga tidak akan melepaskan kita begitu saja. Dan sekarang mereka pasti sedang menyusun rencana sebelum kembali menyerang kita, "kata Akira berdasarkan pengamatannya.


Di sisi lain.


"Maaf, Kak...aku tidak tahu kalau bocah itu sebenarnya kuat. Lagi pula apa kalian pernah bertemu dengan bocah seperti dia, tidak kan? " Sigurd mencoba membela diri sambil mengelus bekas jitakan kakaknya.


"Memang benar. Aku pun berpikiran sama. Di tempat ini kita sudah menemui berbagai macam orang tapi kita baru pertama kali ini melihat ada seorang bocah, terlebih bocah itu bukanlah bocah biasa. " Regius membenarkan perkataan Sigurd.


"Kemungkinan dia seorang penyihir kelas 1 tipe Archer sepertimu, Kak Regius." Abel menyuarakan pendapatnya sambil mencoba menenangkan kakaknya.


"Bisa jadi...tapi aku juga melihat ada senjata lain di punggungnya...kemungkinan lain dia adalah seorang penyihir yang mempunyai dua keahlian." Regius ikut mengeluarkan pendapatnya.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Sigurd hati-hati.


"Tentu saja kita akan melawannya, " jawab Regius penuh optimis.


"Bagaimana dengan seorang demi-human di sampingnya?" tanya Abel.


"Jangan khawatir, dia hanyalah seorang demi-human biasa yang bahkan tidak memiliki energi sihir dalam tubuhnya," jawab Regius santai.


"Kita ada bertiga, sementara dia sendiri. Kita pasti bisa menang, " kata Regius yakin.


"Abel, segera perbaiki tameng Sigurd yang rusak." titahnya yang segera dilaksanakan oleh Abel, Baik!


"Repair..." Abel menggunakan salah satu skillnya. Cahaya menyelimuti tameng yang berlubang itu dan secara bertahap tameng itu kembali seperti semula.

__ADS_1


"Sigurd buat tamengmu lebih kuat. Usahakan kejadian tadi tidak lagi terulang."


Sigurd segera mengangguk melaksanakannya.


"Baik. Aku tidak akan menganggap remeh bocah itu lagi." Sigurd mengikuti arahan kakaknya. Dia memejamkan matanya, berfokus pada tamengnya hingga seketika ukuran dan bentuk tamengnya berubah. Kali ini ukuran tamengnya dua kali dari ukuran tadi dan terdapat benjolan-benjolan seperti duri dengan warna gelap kelam mendominasi yang menakutkan.


"Abel beri aku buff untuk meningkatkan kecepatan dan kekuatanku. Dan buff untuk pertahanan Sigurd."


"Baik." Abel kemudian menutup matanya dan mulai merapalkan sesuatu.


Setelah Abel merapalkan sesuatu, cahaya berwarna putih menyelimuti tubuh Regius dan cahaya biru menyelimuti tubuh Sigurd


"Sekarang kita tidak perlu takut lagi melawannya."


Selepas mempersiapkan berbagai hal demi bisa mengalahkan Akira, mereka pun bergerak kembali menghampiri Akira.


"Kemari kau, bocah tengik!"


*~*


"Mereka datang." Akira bisa merasakan kembali kehadiran mereka dengan jelas. Mereka bertiga kini sedang melesat ke arahnya. Tidak seperti sebelumnya, aura yang mereka pancarkan kali ini sedikit berbeda.


"Bersembunyi!" Beberapa peluru tiba-tiba melesat secara beruntun dengan sangat cepat ke arah mereka berdua. Beruntung Akira bisa dengan cepat menarik Charla untuk ikut berlindung di balik pohon.


"Akira-san..." Nafas Charla terengah-engah menyaksikan kejadian tersebut


"Tenang, jangan takut. Kau tunggu saja disini,." Akira menenangkan Charla dan menyuruhnya untuk tetap bersembunyi. Charla segera mengangguk menurut.


"Aegis..." Akira membuat tabir pelindung untuk melindungi Charla dari segala serangan yang datang.


"Akira-san, hati-hati..." Meski Charla tahu kalau Akira sangatlah kuat tetapi tetap saja dalam hatinya dia merasa khawatir.


Akira mengangguk pelan, "Ya. Serahkan saja mereka padaku. Aku berjanji akan kembali dengan selamat."


Setelah berkata demikian, Akira ikut mendekati mereka bertiga. Berpindah ke satu pohon ke pohon lainnya sembari menghindari peluru-peluru yang mengarah ke arahnya.


Akira merasa situasinya saat ini seperti seolah-olah dia sedang bermain game battle royale virtual reality. Sensasinya sangat nyata dan yang pasti permainan yang dia mainkan kali ini jauh lebih menyenangkan dari permainan battle royale yang dia kenal di dunianya , apalagi permainan kali ini taruhannya adalah nyawa.


Pada saat jarak Akira cukup dekat dengan keberadaan mereka, Akira bisa menebak apa yang sudah mereka lakukan tadi.


Akira menyeringai sinis selagi bersembunyi dari balik pohon, "Begitu, ya...Baiklah kalau kalian sudah serius ingin melawanku, Aku akan dengan senang hati melayaninya." Akira kemudian mengangkat kedua senjata di pinggangnya. Seringaiannya semakin melebar seolah dia sangat menikmati pertempurannya kali ini.


"Kita mulai pertempurannya sekarang...


Bersiaplah..."


DOR!

__ADS_1


__ADS_2