Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Memastikan


__ADS_3

Lawrence sama tidak berdaya di hadapan bocah yang tadi menjadi lawan bertarungnya. Dia kini tertunduk lemah tanpa bisa melakukan apa-apa. Zirahnya yang sejak tadi dia banggakan kini telah Zero ubah menjadi serpihan tak bernilai hanya dalam sekali ayunan. 


Lawrence saat ini menyadari betapa sombongnya dirinya hanya karena dirinya yakin tidak akan ada yang bisa menembus zirahnya tersebut. Dengan itu juga dirinya yakin bisa mengalahkan Zero.


Pedangnya juga yang tadi dia banggakan dan dengan piawai dia ayunkan kini tergeletak tak jauh di sampingnya. Tangannya seperti enggan untuk menyentuh pedang itu lagi saat tahu betapa kuatnya Zero. 


Ketakutan, keputusasaan, kesedihan semua dia rasakan disaat yang sama sekaligus. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menanti kematian dan meratapi orang-orang yang dia sayangi yang sebentar lagi akan dia tinggalkan. 


"Bunuh aku…" lirih Lawrence yang tampak sudah pasrah. 


"Kau yakin ingin mati disini?" tanya Zero datar. Dia kini sudah kembali ke wujud asalnya. 


Lawrence terkekeh, "Apa maksudmu? Apa aku boleh meminta padamu untuk mati di tempat lain selain disini?" Lawrence balik bertanya. 


"Tentu saja. Itupun jika kau sungguh ingin mati." 


Perkataan Zero tidak dapat dimengerti oleh Lawrence. Dia menengadahkan kepalanya menatap Zero dan berkata, "Aku sama sekali tidak mengerti dengan maksudmu. Bukankah seharusnya kau membunuhku disaat aku sudah seperti ini?" 


Zero menghela nafas kemudian berkata, "Apa kau berpikir dengan mati semuanya akan selesai? Kau yakin ingin meninggalkan orang-orang yang kau sayangi begitu saja?" tanya Zero yang membuat Lawrence semakin tidak mengerti. 


Lawrence menatap Zero dengan raut wajah yang sulit diartikan. Dia mencoba memastikan apakah dia tidak salah dengar. Kenapa Zero seolah ingin memberitahukan kalau dirinya akan membebaskannya setelah apa yang dia perbuat padanya. 


"Aku tanya sekali lagi, apa kau sungguh yakin ingin mati?" tanya Zero kali ini terdengar dingin. 


"Jangan bercanda! Jika kau ingin membunuhku, bunuh saja aku!" teriak Lawrence. 


Dia tidak ingin mendapatkan belas kasihan dari lawannya seperti ini. Tapi di satu sisi dia juga masih berharap untuk hidup. Dia masih berharap bisa bersama dengan orang-orang yang dia sayangi.


"Bodoh, dari awal aku tidak pernah ada niatan untuk membunuhmu." 


Pernyataan Zero seketika membuat mata Lawrence melebar dan menatap Zero penuh ketidakpercayaan. 


"Kenapa begitu?" tanya Lawrence. 


"Karena aku tidak membencimu, dan aku tidak mempunyai alasan yang kuat untuk membunuhmu," jawab Zero. 

__ADS_1


Lawrence terdiam dengan mulut sedikit terbuka, mencerna perkataan Zero yang tidak terduga. 


Menurut rumor dan laporan yang didapat, sosok bocah bertopeng di depannya sekarang merupakan makhluk yang tidak mempunyai belas kasihan dan akan selalu menghabisi siapapun yang berani mengganggunya, baik untuk kepentingannya atau sekedar untuk bersenang-senang. Itu sudah cukup membuat Lawrence berpikir seharusnya Zero membunuhnya sekarang. Tapi pernyataan Zero barusan membuatnya berpikir beberapa kali. 


"Ini untuk terakhir kalinya aku mengulangi pertanyaanku. Jawabanmu akan menentukan takdirmu selanjutnya…" Zero memecah keheningan setelah sejak tadi Lawrence terdiam. 


"Apa kau sungguh ingin mati?" Zero menatap Lawrence tajam, menanti jawaban yang akan keluar dari mulutnya. 


"Aku...Aku…" Lawrence menundukkan wajahnya, kesulitan menjawab pertanyaan Zero, karena jawabannya sekarang akan menjadi penentu takdirnya. 


"Aku tidak ingin meninggalkan orang-orang yang ku sayangi. Aku masih ingin bersama mereka...aku tidak ingin mereka bersedih atas kematianku..." Lawrence mengungkapkan keinginannya. Air mata keluar, berjatuhan ke tanah. 


"Aku… aku tidak ingin mati…aku masih ingin hidup..." Lawrence memberikan jawaban atas pertanyaan Zero tadi. 


Zero terdiam memandangi Lawrence yang berbicara sesuai dengan kata hatinya. Dia sudah pernah melihat Lawrence dan orang-orang terdekatnya. Mereka bukanlah manusia-manusia busuk seperti yang dia kenal. Menurutnya mereka pantas untuk hidup di dunia ini. 


"Baik, aku tidak akan membunuhmu. Aku juga tidak akan melukai orang-orang terdekatmu. Tapi sebagai gantinya, aku ingin kau bersama semua orang terdekatmu agar jangan pernah berurusan lagi denganku. Terutama kau. Sekali lagi aku melihat kau mencari gara-gara denganku, bukan hanya kau saja yang akan aku habisi. Tapi seluruh orang yang kau sayangi akan mengalami hal yang serupa. Ingat itu…" ujar Zero. 


"Baik..." Lawrence yang tidak berdaya hanya bisa menuruti perkataan Zero. Dia tidak peduli lagi dengan harga dirinya. Yang dia inginkan yaitu hidup bahagia bersama orang-orang yang dia sayangi, sudah itu saja.


"Suatu saat kau bisa membuktikannya sendiri..." Zero memandangi Lawrence yang terkapar dan perlahan memejamkan matanya.


Setelah Lawrence pingsan, Gladius yang sejak tadi menyaksikan pertarungan mereka muncul di hadapan Zero.


"Apa kau sudah puas menontonnya, hah?" tanya Zero terdengar sarkastik.


"Sudah, Tuan. Aku selalu puas dengan aksi yang Tuan tunjukkan. Apalagi dengan harta suci milik Tuan tadi. Menurutku itu adalah harta suci terbaik yang pernah aku lihat, " ujar Gladius penuh kekaguman.


Gladius sebelumnya takjub melihat zirah Lawrence yang setahunya tidak bisa dihancurkan kini hancur oleh Zero melalui pedang luar biasa yang dia pikir adalah harta suci.


Zero tidak terlalu memperdulikan pujian Gladius dan aksinya sejak tadi yang hanya membuntutinya saja.


"Baik, kalau begitu kau bawa dia ke rumahnya," titah Zero menunjuk Lawrence yang dibalas anggukkan mantap Gladius.


*~* 

__ADS_1


Eleine yang mendapati kabar dari salah satu pelayan tentang Lawrence pulang tak sadarkan diri segera keluar dari kamarnya.


"Lawrence... apa yang terjadi dengannya, ayah?" tanya Eleine terlihat khawatir melihat kekasihnya sudah terbaring di kursi.


"Dia mencoba melawan bocah bertopeng seorang diri. Beruntung saat itu ada Zero dan Gladius disana yang membantunya, dan mereka yang membawa dia kesini, " jelas Edward menunjuk Zero dan Gladius yang berdiri di sampingnya.


"Lawrence, kenapa kau begitu gegabah..." Eleine mendekati Lawrence lalu memeluknya.


Zero diam-diam tersenyum melihat Eleine begitu peduli dan menyayangi kekasihnya. Dia merasa tidak salah mengambil keputusan. Dia berharap suatu saat Lawrence bisa bekerja sama dengannya.


"Terima kasih Zero, Gladius karena sudah membawanya kemari." Edward menunjukkan sikap terima kasih pada kedua pria yang dikenalinya itu


"Sama-sama. Kalau begitu kita pamit." Zero dan Gladius kemudian pergi dari rumah besar itu dan kembali ke penginapan.


"Zero-sama tidak apa-apa?" tanya Charla saat melihat Zero kembali melalui balkon kamar. Charla yang khawatir sejak tadi menunggu kedatangannya disitu sambil melihat keadaan kota yang heboh seperti telah terjadi sesuatu.


"Kenapa kau terlihat khawatir seperti itu, Charla. Aku baik-baik saja." Zero tersenyum sambil memegangi pucuk kepala Charla mencoba menenangkannya.


"Kekacauan di kota ini... apa Zero-sama yang melakukannya?" tanya Charla hati-hati, takut menyinggung Zero.


Charla tahu belakangan ini Zero sering keluar untuk menjalankan sesuatu yang tidak dia ketahui. Saat itu terjadi selalu ada kehebohan di kota itu dan rumor tentang bocah bertopeng selalu menjadi topik utama dalam kehebohan itu.


"Jika memang iya kenapa? Apa kau tidak suka?" tanya Zero dingin, tidak ada lagi senyuman di bibirnya.


Baru kali ini Charla melihat Zero bersikap dingin seperti ini. Sepertinya Zero tidak menyukai pertanyaannya barusan yang terkesan membuatnya seperti orang jahat.


"Maaf kalau aku bertanya seperti itu, Zero-sama. Tapi...bisa tolong jelaskan padaku, kenapa Zero-sama melakukan itu?" tanya Charla.


Zero menghela nafas. Dia mengerti Charla bertanya seperti itu karena khawatir dengan keadaannya. Dia memang tidak seharusnya menutupi hal ini pada Charla.


"Aku hanya memberikan pelajaran yang pantas bagi mereka-mereka yang telah mengotori kota ini." Zero kemudian menjelaskan pada Charla kejadian saat dirinya berhadapan dengan perampok bulan merah dan tentang permintaan yang dia dapatkan dari kelompok tersebut.


"Syukurlah kalau memang begitu..." Charla memeluk Zero, merasa lega mendengar kebenarannya, "Maaf kalau aku sudah berpikiran yang tidak-tidak. Aku hanya tidak ingin Zero-sama berjalan diarah yang salah, "kata Charla


"Selama kau ada disini, aku tidak akan melakukannya, Charla..." Zero membalas pelukan Charla sambil mengusap-usap rambutnya.

__ADS_1


"Sudah, sekarang kau istirahat. Besok kita akan pergi ke ibu kota kerajaan. Kita akan melanjutkan tujuan kita selanjutnya."


__ADS_2