Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Misi Bertahan Hidup IX


__ADS_3

Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.


Terima kasih dan selamat membaca


______________________________


Dor! Dor!


Dor! Dor!


Dor!Dor!


Dor!Dor!


Tembakan demi tembakan saling dilontarkan oleh kedua belah pihak yang memegang pistol, namun masing-masing pihak belum ada satupun yang berhasil mendaratkan serangan yang mematikan. Mereka menembak lalu bersembunyi dari balik pohon selagi terus berpindah tempat dan bertempur dari jarak yang lumayan dekat.


Jujur, Akira cukup dibuat terkesan oleh kombinasi mereka bertiga.


Setiap serangan yang Akira lepaskan kalau tidak dihindari pasti selalu bisa ditahan oleh Sigurd yang tidak lain merupakan seorang penyihir kelas 1 tipe Tank. Sigurd selalu berdiri di depan menjadi tembok bagi kakak dan adiknya demi menghalau setiap serangan Akira menggunakan tamengnya yang kini berwarna hitam tanpa bersembunyi di balik pohon.


Akira sedikit terkejut saat mengetahui tameng Sigurd kali ini jauh lebih kuat dari yang sebelumnya, sampai-sampai setiap serangan dari pistolnya pun hanya mampu memberikan goresan kecil.


"Hahaha! Bocah, sekarang kau tidak bisa menembus tamengku lagi!"


Akira tersenyum santai menanggapi kesombongan Sigurd.


Selain Sigurd, Akira juga dibuat terkesan oleh salah satu penyihir kelas 1 tipe Support diantara mereka, Abel. Karena jika bukan karena dia yang terus memberikan buff ke kedua orang kakaknya itu mungkin Akira bisa mengalahkan mereka dalam beberapa tarikan nafas saja. Goresan-goresan kecil yang lambat laun membesar pun seketika kembali lagi seperti semula setelah dipulihkan lagi olehnya.


Berkat buff yang diberikan oleh Abel, kecepatan serta kekuatan Regius meningkat cukup pesat. Dia kini mulai bisa mengimbangi kecepatan serta keakuratan menembak seperti Akira meski Akira saat ini masih belum menggunakan segenap kekuatannya.


"Tank, Support, Archer...benar-benar kombinasi yang merepotkan. " Meski berkata demikian, Akira masih bisa tersenyum dan tampak cukup menikmati pertempurannya kali ini.


Sayangnya saat ini Akira tidak memiliki banyak waktu untuk bermain-main lebih lama dengan mereka saat menyadari di panel map, zona merah sedang mulai mendekat. Pada saat yang sama, Akira juga teringat dengan Charla yang berada di belakangnya. Dia khawatir terjadi sesuatu padanya.


"Benar. Aku tidak mempunya banyak waktu meladeni mereka. Sudah saatnya aku mulai serius." Akira mulai masuk dalam mode serius, kecepatannya meningkat beberapa kali lipat.


"Pertama-tama, aku harus mengincar support mereka terlebih dulu. " Menyadari kalau support mereka adalah kunci kekuatan ketiga orang itu, Akira segera beralih memfokuskan serangannya pada Abel.


Akira bergerak mengitari pepohonan, mengintai Abel yang selalu dilindungi oleh Sigurd di depannya dan Regius di sampingnya untuk mencoba mencari celah sebelum menyerang.


Akira lalu mengganti senjatanya dengan pedang kembar di punggungnya. Menggunakan senjata Blade of Chaos-nya, Akira bergelantungan dari pohon satu ke pohon lainnya seperti kera, bermanuver di udara layaknya elang yang sedang mengintai mangsanya.


"Bocah ini...bagaimana dia bisa bergerak seperti ini?" Regius sedikit terpana sampai menghentikan tembakannya sesaat ketika melihat bocah yang menjadi lawannya bisa bergerak selihai itu di udara.


"Apa dia berniat menyerang kita dari jarak dekat?" Regius segera menyadari saat Akira mulai mempersingkat jarak dengannya.


"Kemungkinan begitu. Kita harus hati-hati, Kak, " saran Sigurd yang dibalas anggukan kakaknya.


Menyaksikan aksi Akira, mereka bertiga meningkatkan kewaspadaannya, bersiap menerima serangan yang bisa datang secara tiba-tiba.


Setelah berhasil menemukan sedikit celah, dengan satu hentakan kaki yang berpusat pada batang pohon, Akira melesat ke arah Abel. Dia menghunuskan pedangnya dan bersiap untuk menghabisinya dalam sekali serangan.


Sayangnya sebelum serangan yang Akira arahkan itu sampai pada Abel, Sigurd dengan cepat menangkis pedangnya menggunakan tameng miliknya.


Trang!

__ADS_1


"Bocah, aku bisa menebak pikiranmu. Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh adikku!" Sigurd tersenyum angkuh menatap Akira. Sementara Abel yang dalam posisi terjatuh mengernyit karena terkejut melihat Akira tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Cih."


Akira melompat mundur ke belakang sambil menyempatkan mengeluarkan salah satu skillnya.


"Fire Ball." Bola api berukuran besar keluar dari mulut kecil Akira.


"Iron-!" Dengan sigap Sigurd memperkuat tamengnya demi menangkis serangan tersebut.


'Bocah ini bahkan bisa menggunakan sihir sekuat ini?' Sigurd dan Abel terkejut dalam hatinya setelah merasakan dampak sihir yang Akira lepaskan barusan sangatlah kuat, sampai membuat mereka terpukul jauh ke belakang.


Begitu Akira berhenti melayang dan memijakan kakinya di tanah, Regius tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya, menatapnya dingin sembari mengarahkan pistol miliknya tepat ke kepala Akira. Meski dalam kondisi seperti itu, Akira masih sempat menunjukan senyuman angkuhnya pada Regius, membuat Regius mengerutkan dahi untuk sesaat sebelum dia menarik pelatuknya.


"Berakhir sudah..."


Dor! Satu tembakan mematikan mendarat di kepala Akira membuatnya terhuyung ke samping.


Memang benar tembakan itu berhasil mendarat di kepala Akira, akan tetapi tembakan itu tidak berhasil membunuhnya apalagi sampai melukainya, hanya saja tembakan itu sedikit membuat pandangannya memburam.


Meskipun demikian, jika dilihat dari HP yang Akira miliki, dampak dari tembakan yang mengarah pada titik vitalnya tersebut membuat HP-nya berkurang cukup besar.


Akira segera bergerak mundur karena jika dua tembakan seperti tadi mengarah lagi pada tempat yang sama mungkin dia bisa terbunuh.


"Mustahil..."


Raut wajah mereka bertiga yang awalnya merasa puas saat mengetahui kemenangan sudah tepat di depan mata seketika berubah menjadi sangat terkejut bercampur takut saat menyaksikan tembakan Regius tidak berbekas di kepala Akira.


Regius pun ikut bergerak mundur mendekati kedua adiknya. Berlindung dari balik pohon.


"Siapa dia sebenarnya? Aku tidak bisa percaya kalau dia manusia." Raut wajah Regius tampak dipenuhi oleh rasa tidak percaya.


"Bahkan sebelum kita mati, kita belum pernah mendengar ada bocah seperti dia." Raut wajah Sigurd dan Abel pun tidak kalah beda.


"Bocah yang menakutkan..." gumam Sigurd. Kali ini ketakutan tampak jelas di wajahnya.


"Keakuratan tembakannya melebihi seorang penyihir kelas 1 tipe Archer sepertiku. kecepatannya jauh lebih cepat dariku, bahkan melebihi seorang penyihir tipe Assassins. Terlebih lagi dia juga bisa menggunakan senjata dua tangan dengan handal seperti seorang penyihir tipe warrior..." Regius mengutarakan pengamatannya.


"Bukan hanya itu, dia bahkan bisa menggunakan sihir yang sangat tinggi seperti seorang penyihir tipe magician. " Abel ikut berpendapat.


"Dan yang terakhir ketahanan tubuhnya melebihi seorang Magic General tipe tank, " kata Sigurd mengingatkan mereka akan kejadian tadi.


"Tidak salah lagi... dia pasti seorang Expert," kata mereka serempak. Expert yang mereka maksud adalah seorang penyihir luar biasa yang mampu menguasai lebih dari dua tipe.


"Benar-benar tidak bisa dipercaya. Di usianya yang masih sangat belia, bagaimana dia bisa menguasai semua itu? Aku yakin dia pasti bukan manusia." Regius terkekeh prihatin sambil memijat keningnya yang semakin pusing seakan tidak bisa terima akan kenyataan tersebut.


"Sudah selesai menilai siapa diriku? " Tiba-tiba Akira berdiri gagah di depan ketiga orang itu, menatap mereka dingin, dan membuat mereka bertiga terkejut, "Tepat seperti perkataan kalian, aku bukanlah manusia melainkan makhluk istimewa, " lanjutnya dengan senyuman angkuh.


Sebelumnya Akira memulihkan dirinya sesaat selagi menguping perkataan mereka dari jarak jauh. Alasan mengapa Akira tidak segera menyerang mereka karena dia merasa tertarik dengan informasi dunia luar yang mereka katakan.


Regius menghela nafas sebelum berkata,"Ya...kau bisa membunuh kita bertiga sekarang. Toh, sebelumnya kita juga sebenarnya sudah mati. " Regius melemparkan pistolnya ke tanah, ke dekat Akira. Dia menyatakan kalau dia sudah pasrah.


Sementara kedua adiknya terlihat menghela nafas berat. Tidak bisa berbuat apa-apa setelah melihat kakaknya sudah tidak memiliki semangat bertarung. Mereka bertiga sadar tidak mungkin bisa menang melawan seorang Expert seperti Akira.


"Baguslah kalau begitu..." Akira menyunggingkan sudut bibirnya meremehkan. Dia lalu mengambil pistol yang Regius lempar itu.

__ADS_1


"Ho~ lumayan...apa senjata seperti ini banyak di duniamu?" tanya Akira sambil meneliti pistol milik Regius.


"Di duniamu? Berarti kau bukan berasal dari duniaku?" Regius mengerutkan keningnya.


"Ya."


"Pantas saja aku tidak pernah mendengar siapa dirimu," Regius terkekeh mendengarnya, " Tidak, senjata itu adalah senjata langka dan hanya bisa digunakan oleh penyihir tipe Archer yang mempunyai keahlian tinggi," jelasnya menjawab pertanyaan Akira.


"Begitu, ya..." Akira mengelus dagu memahami.


"Ya. Sudah jangan banyak bicara, kau datang kesini karena ingin membunuh kita, kan?" tanya Regius dengan senyuman pasrah. Kedua orang lainnya pun sama


"Tidak. Aku tidak akan membunuh kalian." Akira mengangkat pistol itu dan menarik pelatuknya ke arah kaki mereka bertiga.


Dor! Dor! Dor!


Mereka bertiga mengerang kesakitan sambil memegangi kakinya yang berlubang dialiri darah.


"Aku cukup baik memberikan kalian sedikit waktu untuk berbincang-bincang." Akira berkata santai sambil menyelipkan senjata itu di pinggangnya Mereka bertiga tidak bisa berkata apa-apa dan hanya bisa menahan rasa sakit.


Menggunakan skill Infinity Touch-nya, Akira mengambil tongkat sihir milik Abel dan tameng milik Sigurd.


"Sebagai balasan karena kebaikanku, aku juga boleh mengambil ini bukan?" Akira menunjukkan tameng dan tongkat sihir itu pada mereka sambil tersenyum lebar, membuat Abel dan Sigurd menatapnya penuh amarah, "Kalau begitu, selamat menikmati detik-detik kematian kalian..." Sesaat berikutnya Akira pergi dari hadapan mereka.


"Hahaha, bocah sialan! Pada akhirnya kita semua tetap akan mati...!"


"Akan kutunggu kau di neraka nanti!" Regius tertawa lantang meski rasa sakit masih dia rasakan, meluapkan kekesalannya pada Akira yang sudah tidak lagi di hadapannya.


Dia bersama adiknya tentu tahu kalau zona merah saat ini sedang mendekat. Kemungkinan hanya tinggal menunggu waktu beberapa menit lagi sampai akhirnya mereka akan mati dilahap zona merah.


"Kakak...kali ini kita benar-benar akan mati..." kata Abel menunjukan senyuman pasrah. Tanpa tongkat sihirnya dia tidak bisa mengobati kaki mereka berdua dan lagi dia tidak memiliki banyak sihir.


*~*


Di samping itu, Akira cepat-cepat melesat kembali ke tempat Charla berada.


Setelah tiba, Akira merasa lega karena melihat Charla baik-baik saja dan sepertinya dia menuruti apa perkataanya tadi.


"Sudah selesai?" tanya Charla sambil tersenyum, merasa lega melihat Akira kembali dengan selamat.


"Ya. Jangan banyak bicara dulu. Kita harus segera pergi dari sini." Charla mengangguk menurut.


Dengan segera Akira membopong Charla dan melesat pergi, menapaki pohon satu ke pohon lainnya demi bisa menghindari zona merah yang sedang mendekat.


Di tengah perjalanannya, Akira bersama Charla sesaat melihat mereka bertiga yang berada di bawah. Mereka tampak tengah bersenda gurau seakan menikmati waktu yang Akira berikan tadi.


Akira tersenyum tipis melihatnya sementara Charla mengerutkan dahi, tidak mengerti apa yang sudah Akira lakukan tadi. Charla berfikir Akira sudah membunuhnya.


Sepanjang perjalanan menjauhi zona merah, Charla bisa melihat raut wajah Akira kali ini sangatlah berbeda, tidak seperti sebelumnya. Dia tampak seperti sedang memikirkan suatu hal yang sepertinya sangat sulit. Charla tidak bisa menebak apa yang sedang Akira pikirkan dan dia belum bisa menanyakan apa itu.


Setelah lamanya Akira bergerak sampai berhasil berada di titik dimana zona merah tidak akan bisa mengejarnya lagi, langkahnya seketika terhenti saat mendengar ada beberapa orang berteriak meminta pertolongan.


Merasa penasaran, Akira bergerak menuju sumber suara.


Ketika sampai disana, pandangan mereka berdua mendapati sebuah pemandangan yang tidak lazim. Sebuah pembantaian yang sungguh mengerikan terpampang jelas di depan mereka.

__ADS_1


"I-iblis..." Mata Charla bergetar tidak percaya dengan satu sosok yang sedang membantai tiga manusia di depannya tidak lain adalah iblis.


__ADS_2