Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Sarang Perampok Bulan Merah (selesai)


__ADS_3

Netero beserta Gladius yang berada di ruangan itu mengusap matanya berulang kali untuk memastikan jika apa yang terjadi di depannya ini benar nyata atau hanya ilusi. p


Mereka berdua sungguh tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang manusia membangkitkan kembali orang yang jelas sudah mati? Apakah itu mungkin terjadi? Apa benar dia seorang manusia? Tidak, itu tidak mungkin. Tidak mungkin ada manusia yang bisa melakukan hal tabu seperti itu. Pasti yang Zero lakukan ini hanya sebuah trik untuk mengejutkan mereka.


Namun kenyataannya seberapa kali pun mereka berusaha memastikannya, apa yang terjadi di depannya sekarang ini membuat mereka tidak ada pilihan lain selain percaya.


'Ini sungguh sulit dipercaya. Siapa dia sebenarnya…' pikir Netero menatap Zero penuh tanya kemudian memandangi kedua rekannya yang kini bisa bernafas kembali dengan perasaan yang sulit diartikan.


'Ayah...kakak… apa kalian melihatnya...lagi-lagi aku menemukan sesuatu yang menarik darinya...ahh~ aku tidak bisa menahannya lagi... Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan makhluk seluarbiasa ini. Aku memang tidak salah pilih. Dia memang orang yang selama ini kucari…' Gladius memperlihatkan ekspresi penuh nafsu di sisi yang tidak bisa dilihat oleh yang lain.


Kedua orang yang Zero hidupkan kembali mulai menggerakkan tubuhnya untuk bangkit dalam posisi duduk. Mereka berdua masih terlihat kebingungan dengan situasinya saat ini.


"Apa yang terjadi…" Mereka berdua menatap pintu ruangan karena mendengar suara yang sangat berisik di sana, kemudian pandangan mereka berputar dan terpaku pada kedua orang pria di sampingnya.


"Kalian sebelumnya sudah mati." Zero tersenyum tipis melihat reaksi mereka.


"Hah? Mati?" Mereka merajut alisnya bersamaan.


"Tunggu, kalian berdua…" Mereka menunjuk Zero dan Gladius saat ingatannya mulai terbentuk sampai akhirnya mengenali kedua pria di sampingnya itu.


"Ketua…" Saat memutar pandangannya lagi mereka baru menyadari kehadiran pemimpinnya yang kini tengah berlutut di samping Zero.


Sontak mereka pun segera berdiri dan menghampiri pemimpinnya yang nampaknya sudah tidak berdaya.


"Kenapa ketua menjadi seperti ini?"


"Aku sudah kalah dengannya."


Penjelasan Netero membuat kedua orang itu mengerti dengan situasinya sekarang, namun mereka masih belum mengerti bagaimana caranya mereka bisa hidup kembali.


"Apa kau tidak mengingat apa yang sudah terjadi sebelumnya?" tanya Zero.


"Aku mengingatnya…dia... dia tadi sudah mencabut jantungku…" Pandangan mereka terarah pada Gladius yang tengah tersenyum ramah.


"Lalu bagaimana caranya aku masih hidup? Apakah yang tadi itu hanya ilusi?" terka mereka.


"Tidak, kalian sebelumnya memang sudah mati, dan aku membangkitkan kalian kembali," jelas Zero.


"Kau tidak sedang bercanda, kan?" Mereka tidak mempercayai dengan omongan Zero.


"Kalau kau tidak percaya kau bisa menanyakannya langsung pada dia." Zero menunjuk Netero.


"Ketua, apa benar yang diucapkannya barusan?" Mereka memastikan.


"Ya. Aku pun sebenarnya masih sulit mempercayainya, tetapi aku menyaksikannya sendiri, dia memang menghidupkan kalian kembali," ujar Netero dengan helaan nafas di ujung kalimatnya.


'Bagaimana bisa seorang manusia melakukan hal seperti ini?' pikir mereka.


"Apa benar kau manusia?" tanya Netero mewakili rasa penasaran yang lainnya.

__ADS_1


"Seperti yang kalian lihat." Zero merentangkan kedua tangannya, "Tapi jika kalian tidak bisa mempercayainya tidak masalah. Terserah kalian mau menganggapku seperti apa juga," ucap Zero mengangkat sedikit bahunya.


Mereka hendak bertanya lagi namun kali ini Zero segera menghentikannya.


"Sudah cukup, sekali lagi kalian bertanya, selanjutnya kalian akan benar-benar mati," ancam Zero yang langsung membuat mereka bungkam.


"Aku bisa membangkitkan kedua rekan kalian yang sudah kubunuh tadi asalkan kalian mau menerima tawaranku," kata Zero sambil mengambil kembali pedang Netero yang tadi dilepas.


"Coba jelaskan seperti apa penawaranmu itu?" Netero kali ini mau mendengarkan penawaran Zero.


"Sebelum itu beritahu aku bagaimana caranya agar tubuhku kembali seperti semula?" tanya Zero sambil mengamati pedang itu.


"Kau hanya perlu memukul tubuhmu dengan ujung gagang pedang itu," jelas Netero.


Zero mengikuti arahan Netero dengan memukulkan ujung gagang pedang itu ke tubuhnya agar berat tubuhnya kembali seperti semula. Setelah memastikannya dia memukulkannya juga pada Gladius dan kedua pedangnya tadi. Terakhir dia memukulkannya pada Netero untuk membuatnya kembali berdiri seperti semula.


"Selanjutnya jawab dulu pertanyaanku tadi. Apa tujuan kalian mendirikan kelompok ini?" Zero memainkan pedang Netero di tangannya untuk berjaga-jaga.


"Tujuan utama kita mendirikan kelompok ini yaitu untuk membantu mereka yang membutuhkan sekalian menumpas kebusukan yang sering dilakukan oleh para bangsawan serta konglomerat yang culas dan orang-orang busuk yang lainnya yang sering menyengsarakan masyarakat kecil," jelas Netero. Zero tidak menemukan kebohongan dalam penjelasannya.


"Oh, jadi kalian disini bekerja sebagai pahlawan ya. Menarik…" Zero tersenyum tipis lalu menancapkan pedang milik Netero di sampingnya.


"Tawaranku ini menguntungkan bagiku dan kalian semua yang ada disini." Zero berdiri di depan Netero lalu mengulurkan tangannya," Aku ingin mulai sekarang kalian semua berhenti melakukan pekerjaan seperti ini dan bergabunglah dengan kerajaanku," kata Zero.


"Kerajaan? Kerajaan mana yang kau maksud?" Netero tidak menyambut tangan Zero karena masih belum mengerti penjelasannya.


Zero mengulur balik tangannya dan berkata, "Aku mempunyai kerajaanku sendiri dan saat ini sedang dalam proses pembangunan. Kerajaanku tidak termasuk dari tiga kerajaan yang kau kenal namun lokasinya masih berada di benua ini. Kalian bisa membawa semua orang yang memerlukan tempat tinggal atau mata pencaharian ke kerajaanku dengan syarat mereka harus orang baik-baik. Kebetulan saat ini aku sedang membutuhkan banyak tenaga kerja untuk membangun banyak tempat di kerajaanku. Kalian semua bisa saling membantu di sana," jelas Zero.


"Bagaimana? Apa kalian mau menerimanya?" tanya Zero.


Ketiga orang itu saling melempar kode sebelum mengangguk mengambil keputusan.


"Apa kata-katamu bisa dipercaya?" Netero memastikan.


"Ya. Aku tidak pernah bermain-main jika menawarkan sesuatu." Zero meyakinkan mereka.


"Baiklah kalau begitu, kita akan menerima tawaranmu jika itu memang yang terbaik bagi kita semua. Lagi pula dengan situasi kita sekarang kita tidak mempunyai pilihan lain selain menerimanya," kata Netero yang mengerti dengan situasinya.


"Baguslah kalau kau mengerti." Zero tersenyum mendengar keputusan mereka kemudian mengulurkan tangannya kembali dan berkata, "Namaku Zero. Siapa namamu?"


Netero kali ini menyambut tangan Zero, "Namaku Netero," jawabnya memperkenalkan diri.


"Baik Netero, bira aku ulangi sekali lagi. Mulai sekarang kau dan semua anggotamu akan membantuku membangun kerajaan dimana tidak akan ada lagi orang-orang busuk di dalamnya. Aku membutuhkan bantuan kalian, terutama kalian disini mempunyai kekuatan yang bisa digunakan untuk melindungi yang lain. Aku pastikan kalian semua akan hidup bahagia disana. Jadi mohon kerjasamanya." ujar Zero tersenyum.


"Jika itu demi membangun tempat dimana semua orang bisa hidup bahagia, kita semua akan dengan segenap hati membantunya." Netero balas tersenyum, menerima penawaran Zero dan percaya dengan perkataannya.


"Sekarang biar kau saja yang menjelaskannya pada mereka." Zero menunjuk pintu ruangan yang masih terdengar kericuhan mereka yang tidak bisa masuk ke dalam.


*~*

__ADS_1


Singkat kata, mereka semua akhirnya mau menerima penawaran Zero setelah Netero dan kedua orang rekannya berusaha beberapa kali meyakinkan mereka.


"Aku tidak sekedar omong kosong. Aku sungguh sedang membuat kerajaan dimana kalian semua bisa hidup bahagia. Kalian bisa memulai kehidupan baru disana." Zero berkata pada ketiga ratus orang di depannya yang kini bersikap hormat di depannya.


Zero sangat yakin mereka semua bisa sangat berguna bagi kerajaannya. Dirinya menugaskan mereka untuk menjadi pasukan yang akan melindungi kerajaannya.


Zero kemudian mengeluarkan sekarung kecil berisikan gepokan uang kertas dan menunjukkannya pada mereka tanpa memperdulikan reaksi mereka yang tercengang dengan aksinya dan uang sebanyak itu.


"Ini lima puluh juta keping emas. Aku ingin kalian gunakan uang ini untuk…" Zero menyebutkan satu-satu persatu yang harus mereka lakukan dengan uang itu.


"Sebagiannya aku ingin kalian simpan di kerajaanku." Zero menutup penjelasannya.


Mereka memahami apa yang Zero jelaskan dan berkata siap menjalankan tugas itu.


"Sebagai gantinya, aku akan mengambil semua harta hasil curian kalian sebagai bukti kalau aku sudah menyelesaikan tugas ini. Tidak masalah bukan?"


Mereka saling berpandangan lalu mengangguk mantap mengambil keputusan bersama.


"Bagus, sekarang kemasi barang kalian dan keluar dari tempat ini. Sedangkan kau Netero kumpulkan semua lembaran permintaan yang sebelumnya kau katakan serta tuliskan semua informasi yang aku butuhkan," titah Zero yang segera dilaksanakan oleh mereka semua.


Sementara mereka menjalankan perintahnya, Zero dan Gladius pergi ke tempat gudang harta curian yang tadi mereka temui.


"Tuan, apa Tuan yakin akan menyerahkan semua ini sebagai bukti?" tanya Gladius memandangi gunungan harta di depannya.


"Bodoh, tentu saja tidak. Untuk apa aku menyerahkan semua ini sebagai bukti." Zero terkekeh mendengar pertanyaan Gladius.


"Lalu?"


"Aku hanya akan menyerahkan seperdelapannya, sementara sisanya tentu saja untukku." Zero tersenyum licik kemudian tertawa keras, "Hahaha! Clarise benar-benar pintar memberikan quest yang bagus untukku. Sepertinya aku perlu memberinya sedikit dari hasil curian ini."


Gladius hanya tersenyum menanggapi perkataan Zero. Dirinya sangat menyukai sifat Zero yang seperti ini.


Setelah mengosongkan semua harta curian itu, Zero dan Gladius kembali ke ruangan sebelumnya untuk menemui Netero.


Netero tampak tengah duduk di meja kerjanya dan sedang melihat-lihat lembaran kertas di mejanya. Saat melihat kehadiran Zero segera dia bangkit lalu menghampirinya sambil membawa kertas di tangannya.


"Zero-sama, aku sudah menuliskan semua informasi yang kau butuhkan." Netero menunjukkan beberapa informasi yang sudah dia tulis dalam lembaran kertas pada Zero.


Zero mengambilnya dan melihatnya sejenak sambil tersenyum. Informasi itu sangat dibutuhkan baginya untuk menyelesaikan salah satu tujuannya.


"Dan ini…" Netero menyerahkan beberapa lembaran lainnya.


"Apa Zero-sama yakin akan menyelesaikan semua permintaan itu?"


Sebelumnya Netero menjelaskan pada Zero kalau kelompoknya masih mempunyai beberapa permintaan yang harus dipenuhi. Dia merasa tidak enak hati karena sudah menerima uang mereka dan berjanji akan menyelesaikannya.


"Ya. Biar aku saja yang menyelesaikannya. Kau laksanakan saja tugasmu sekarang dan bimbinglah semua anggotamu. Lagi pula aku mendapatkan imbalan yang besar dengan menyelesaikan semua permintaan ini. Jadi ini pekerjaan yang sangat menguntungkan bagiku." Zero tersenyum sinis membaca beberapa lembaran permintaan itu yang menurutnya menarik untuk diselesaikan.


Setelah itu mereka keluar dari tempat itu, dan setelah Zero membangkitkan mereka yang sebelumnya dia bunuh, Netero bersama semua anggotanya berpamitan pada Zero dan Gladius untuk menjalankan tugas yang Zero tadi katakan dan menjalani kehidupan barunya di kerajaan yang Zero sebutkan.

__ADS_1


Kerajaan impian, dimana tidak akan ada lagi orang-orang busuk di dalamnya, dan semua orang bisa hidup bahagia...


__ADS_2