Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Misi yang tak terduga


__ADS_3

Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.


Terima kasih dan selamat membaca


______________________________


"Kalian...Bagaimana kalian bisa mendengar percakapan kita?" Akira terkejut saat mengetahui salah satu dari mereka mampu menguping percakapannya tanpa terdeteksi sedikitpun oleh persepsinya. Dia cukup yakin dengan status sensenya sekarang yang sudah sangat tinggi dan seharusnya dia bisa mengetahui keberadaan mereka dalam jarak hingga radius seratus meter.


"Hahahah! Jangan remehkan pendengaranku, bocah. Aku bahkan bisa mendengar detak jantungmu sekarang. Kau cukup hebat juga karena masih bisa tenang saat melihat keberadaan kita. Tidak seperti gadis di sampingmu itu," kata salah seorang dari mereka yang mempunyai bentuk telinga tiga kali dari ukuran biasa sambil membawa sabit di pundaknya.


"Oh, pantas saja…" kata Akira datar, tidak terlalu menanggapi perkataannya. Sementara Charla terdiam tidak bisa berucap apa-apa dan tampak ketakutan.


"Bagaimana Kakak pertama, apa perlu kita mengambilnya secara paksa... Omong-omong gadis yang terluka itu cukup cantik juga, " bisik salah seorang dari mereka yang mempunyai hidung panjang ke pemimpin kelompok itu yang mempunyai mata besar.


Salah seorang yang mempunyai bibir lebar menimpali, "Kakak kedua, tunggu dulu. Apa kau tidak merasakan sesuatu dari anak ini. Kelihatannya dia bukan anak biasa. Lihat, dia membawa senjata di punggung dan pinggangnya," ucapnya sambil menunjuk ke senjata yang dimaksud.


"Hahahah, Kenapa Kakak keempat? Apa kau takut melawan seorang bocah?" Salah seorang bergigi tonggos tertawa, "Kalau begitu biar aku maju lebih dulu." Dia kemudian turun dari pohon sambil membawa gada berukuran sedang dan berjalan mendekati Akira.


Akira terlihat tenang sekali meski salah satu dari mereka turun mendekatinya.


Akira kemudian beralih memperhatikan Charla yang masih meringis kesakitan, "Kita harus pergi dari sini..." lirih Charla.


Akira tidak menjawab. Dia lalu mengeluarkan sebotol kecil Potion Health kelas tinggi dari kantong ajaibnya, "Obati dulu lukamu…" dan menyerahkannya pada Charla.


"Tapi ini...bukannya ini potion kelas tinggi…" Charla ragu untuk menerimanya, karena potion yang Akira berikan terlalu mahal baginya.


Melihat Charla ragu-ragu menerimanya, Akira membuka botolnya lalu menyiramkan cairannya langsung pada luka Charla. Seketika luka tusukan di punggung Charla menutup sampai hilang tanpa bekas.


"Kenapa kau menggunakannya..." Charla tidak tahu harus merasa senang atau tidak namun di satu sisi dia merasa berterima kasih pada Akira.


"Aku masih memerlukan informasi darimu. Lagian potion seperti itu tidak terlalu berharga dan sudah seperti permen bagiku," kata Akira pelan. Charla tidak lagi protes dan hanya bisa mensyukurinya.


"Lukanya langsung sembuh." Mereka berempat di atas pohon yang melihat hal itu terkejut sekaligus senang. Mereka saling berpandangan satu sama lain sambil menyeringai sebelum ikut turun dengan membawa masing-masing senjata di tangannya.


"Bocah, seberapa banyak barang yang kau simpan disitu?" Si tonggos tersenyum lebar memimpin langkah mereka.


"Oh, disini terdapat ratusan barang bawaanku yang berharga. Diantaranya seperti makanan, item-item mahal dan potion-potion seperti yang tadi kalian lihat." Akira bersikap santai, mencoba memancing mereka dengan menyebutkan isi yang ada di dalam kantong ajaibnya.


"Hei...kenapa kau menyebutkan isinya. Lebih baik sekarang kita pergi saja dari sini…aku tidak mau kita kenapa-kenapa..." ajak Charla yang tampak ketakutan sambil menarik-narik baju Akira tetapi Akira sama sekali tidak meresponnya.


"Kalau begitu serahkan kantong itu pada kita sekarang, maka kita akan memberikanmu kesempatan untuk hidup." Pemimpin kelompok itu berkata dingin selagi berjalan beriringan bersama yang lainnya.

__ADS_1


Meski jarak mereka sudah sangat dekat, Akira masih bersikap santai sambil menggorek-gorek telinganya, "Kalau aku tidak mau bagaimana?" tanyanya seakan menantang.


"Bocah tengik, berhenti bermain-main dengan kita. Kalau kau tidak mau memberikannya sekarang, kau akan kubuat menyesal."Si Tonggos mulai terbawa emosi.


"Dengan cara?" Akira mengangkat kepalanya bersikap menantang, membuat keempat yang lainnya ikut tersulut emosi.


"Kau...! Kau memang harus diberi pelajaran terlebih dahulu, bocah tengik!" si Tonggos tidak bisa menahan emosinya lagi dan bergerak lebih dulu menyerang Akira.


Naas di tengah langkahnya tiba-tiba sesuatu melesat dengan cepat menghantam jidat si Tonggos hingga membuatnya terpukul mundur.


Tanpa disadari oleh si Tonggos, Akira melesatkan potion yang sudah kosong tadi melalui satu jentikan jari. Meskipun hanya menggunakan sedikit tenaga namun serangan tersebut mampu memberikan sedikit pelajaran bagi si Tonggos.


"Adik keempat! Kau tidak apa-apa?" tanya kakak pertama yang mempunyai mata besar menghampiri si Tonggos yang terkapar. Diikuti dengan yang lainnya.


"Siapa yang baru saja menyerangku?" Si tonggos memegangi jidatnya yang kini berlebam.


"Bocah, apa ini ulahmu?" Si Mata Besar menatap tajam Akira. Dia yang pertama kali menyadari kalau serangan tiba-tiba barusan adalah ulahnya. Dia juga menemukan pecahan-pecahan yang berukuran sangat kecil berserakan di sekitarnya.


"Entah." Akira mengangkat bahunya pura-pura tidak tahu apa-apa.


Mereka berlima menjadi waspada terhadap Akira. Sementara Charla yang tadi sempat melihat aksi Akira kini menatapnya dengan cara yang berbeda. Sekarang dia tahu alasan kenapa Akira masih bisa tenang meski dihadapkan oleh lima orang di depannya sekaligus. Ternyata dia sangat kuat, begitu pikir Charla saat menatap Akira.


"Kalau kakak pertama sudah berkata seperti itu apa boleh buat..." Satu persatu dari mereka berpencar membuat formasi dengan mengelilingi Akira.


Akira terkekeh,"Kenapa? Apa kalian ingin mengeroyok ku?" tanya Akira saat melihat mereka mulai membentuk formasi menyerang.


"Apa kalian tidak malu mengeroyok anak kecil sepertiku?" ejek Akira yang masih tetap santai dengan kedua tangan terlipat di dada.


"Bocah, kalau kau tidak mau menyerahkan kantong ajaib itu sekarang juga, kita akan mengambilnya secara paksa," ancam si Mata besar.


Akira mengambil kantong ajaibnya dan memperlihatkannya pada mereka, "Ambil kalau kalian bisa, " tantang Akira.


"Kalau itu pilihanmu, dari pada memberimu kesempatan hidup, aku akan membunuhmu sekalian! " Si Mata besar bergerak lebih dulu, bersiap menyerang Akira menggunakan kapak besarnya. Akira tidak bereaksi sedikitpun dan tetap tenang dalam posisinya.


Akira menoleh ke Charla yang terlihat cemas di sampingnya,"Hei, namamu Charla bukan?" tanya Akira di sela-sela si Mata besar menyerang.


"Iya." Charla mengangguk-ngangguk.


"Apa kau suka darah?" tanya Akira lagi sambil memperlihatkan senyuman yang membuat Charla bergidik ketakutan.


"Ti-tidak, " jawab Charla terbata.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu tutup matamu," titah Akira pelan. Pandangannya kembali pada si Mata Besar.


"Hah?"


"Tutup matamu."


"B-baik." Charla dengan cepat menurut dan segera menutup matanya. Dia mengerti maksud Akira.


Melihat reaksi Akira yang masih bisa tenang, si Mata Besar semakin murka. Pada saat jaraknya dekat, si Mata Besar mengayunkan kapaknya ke arah pundak Akira, "Mati kau bocah!!"


Dengan sengaja Akira tidak menghindari kapak itu dan membiarkannya mendarat di pundaknya. Kapak yang mengenai pundak Akira tidak sedikitpun memberikan bekas, malahan kapak itu menjadi hancur setelah merasa seperti menghantam sebuah logam yang sangat keras, dan itu berhasil membuat kelima orang itu terkejut.


"Tidak mungkin..." Si Mata Besar jauh lebih terkejut karena setahunya kapak yang dia gunakan bukanlah kapak biasa. Si Mata besar yang berdiri di dekat Akira kini bergetar ketakutan.


"Enyahlah..." Akira mengibaskan tangannya dan seketika membuat si Mata besar terpental hingga berakhir membuatnya berubah menjadi gumpalan darah saat tubuhnya menghantam sebuah batang pohon yang besar, "Kau yang lebih tua yang seharusnya mati."


"Kakak pertama!!" Keempat adik itu serempak berseru memanggil kakaknya yang telah hancur.


Dor! Dor! Dor!


"Berisik..." Belum sempat mereka bereaksi lebih jauh, keempat orang yang tersisa itu ikut menyusul kakaknya setelah tubuhnya dilubangi oleh Akira.


"Bocah..." kata mereka serampak menatap Akira penuh amarah sebelum akhirnya tumbang di tanah.


{Anda mendapatkan 200 Exp} x 5


{Anda mendapatkan 100 Orb} x 5


{Anda mendapatkan 150 BP } x 5


Mereka semua mati. Mayat mereka yang masih utuh berubah menjadi partikel cahaya.


"Lumayan besar juga hadiahnya ternyata, " gumam Akira menatap panel hadiah yang didapat.


Sebuah panel yang lain muncul di sampingnya.


{Quest lantai 46—Misi : Bertahan hidup}


{89/100} {9 hari| 20 jam | 41 menit| 12 detik}


"Yang benar saja. Apa benar ini misiku?"

__ADS_1


__ADS_2