Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Misi Bertahan Hidup XI


__ADS_3

Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.


Terima kasih dan selamat membaca


______________________________


Akira memulai pertarungan, menghunuskan kedua pedangnya pada Thamuz. Sementara Thamuz menyambut pedang yang Akira arahkan dengan tiga cakar miliknya.


Pertarungan pun terjadi. Akira mengerahkan serangan demi serangannya untuk mengalahkan Thamuz. Thamuz sendiri menangkis setiap serangan Akira dengan mudah tanpa sama sekali menyerangnya balik.


Thamuz malah seperti sedang meremehkan kemampuan Akira, hal itu berhasil membuat Akira sedikit terprovokasi.


Setelah beberapa saat bertukar serangan, Akira merasakan ada yang aneh dengan pertarungannya kali ini. Firasatnya memburuk saat melihat Thamuz selalu bisa tersenyum lebar saat beradu serangan dengannya.


Pada saat yang sama, Akira merasakan ada yang aneh pada dirinya sendiri. Dia tidak bisa menebak apa itu. Hanya dua persoalan yang terpikirkan olehnya,


'Tunggu dulu...Apa gerakanku yang kini melambat, atau dia yang terlalu cepat sampai bisa dengan begitu mudah menghindari setiap seranganku...' Akira mengamati setiap serangannya dalam diam.


Tidak ingin ambil pusing, Akira pun memutuskan untuk lebih serius dengan meningkatkan kekuatannya lebih jauh lagi hingga ke titik 100%.


'Aku tidak bisa menganggap remeh lawanku kali ini.'Akira mengakui kekuatan Thamuz yang mampu menangkis setiap serangannya dengan baik.


Dengan kekuatan penuhnya sekarang, Akira menyerang membabi buta menggunakan kedua pedangnya yang bisa memanjang ke segala arah, sesekali dia juga mengeluarkan skillnya demi bisa mengalihkan perhatian lawan.


Sayangnya lagi-lagi Thamuz masih bisa menyeimbangi kekuatan Akira dengan mudah, atau bahkan jika dilihat mampu menandinginya meski dia kali ini sudah mengerahkan seluruh kekuatan penuhnya.


Akira berdecak kesal menyadari hal itu. Dia segera bergerak mundur untuk mengambil jarak.


"Ada apa, manusia kecil? Mana sikap aroganmu tadi? Apa hanya sampai segini saja kemampuanmu?" ejek Thamuz.


"Cih. " Akira berdecih kesal tidak menjawab. Dia sesaat menoleh ke arah Charla yang tampak tengah menatapnya cemas.


"Dia terlalu kuat. Apa aku harus menggunakan itu..." gumam Akira.


Belum sempat Akira memutuskannya, Thamuz kali ini menyerangnya balik secara tiba-tiba, membuat Akira tidak siap menyambut serangannya hingga pada akhirnya sedikit luka berhasil tertoreh di tubuh kecilnya.


Akira segera memposisikan kondisinya dalam posisi bertahan, memperpanjang jarak demi bisa menghindari serangan.


Thamuz berhenti bergerak, tidak lagi menyerang. Dia menatap Akira dengan tatapan licik, " Sudah saatnya aku membuatmu menderita," katanya pelan kemudian menoleh ke arah dimana Charla berada.


Menyadari Thamuz seperti ingin berbuat sesuatu, Akira memutuskan menyerangnya lebih dulu. Dia menghunuskan pedangnya menyerang Thamuz seperti tadi, sementara Thamuz menyambut setiap serangannya dengan santai seperti biasa, bahkan dengan sengaja dia menguap di depan Akira.


Akira menggertakan giginya kesal karena terprovokasi oleh sikapnya yang seperti itu. Di satu sisi, Akira segera menyadari alasan mengapa setiap serangannya bisa dapat dengan mudah dihindari, hal itu karena gerakannya kali ini seiring waktu terus melambat.


'Ada apa ini?' Akira tidak mengerti dengan keanehan yang sedang terjadi padanya.


Belum sempat Akira menemukan jawaban dari keadaannya saat ini, Thamuz sudah mulai serius memberikan serangan balik pada Akira. Dia yang awalnya dapat dengan mudah menahan setiap serangan Akira kini dapat dengan mudah pula mendaratkan setiap serangan pada tubuh kecilnya.


Akira mulai dibuat kewalahan saat melihat setiap serangan Thamuz begitu cepat dan tidak bisa dihindari sempurna olehnya hingga dapat dengan mudah memberikan celah bagi Thamuz untuk mendaratkan serangan pada tubuhnya.


"Akira-san, awas!!"


"Celaka!!"


Sret!


Thamuz berhasil mendaratkan serangan yang cukup fatal pada tubuh Akira, membuatnya mengerang kesakitan dan memaksanya bergerak mundur. Dia segera memulihkan kondisinya menggunakan skill pemulihnya.


"Hahaha! Begitulah jika kau berani melawanku, manusia!" Thamuz tertawa lantang. Dia kemudian mendekati Akira dengan langkah santai dan senyuman meremehkan.


Akira yang hendak bergerak tiba-tiba merasakan sakit yang begitu hebat menghujam jantungnya. Dia dibuat berlutut hingga tidak bisa berdiri di depan Thamuz.

__ADS_1


Begitu jaraknya dekat, Thamuz menendang keras tubuh kecil Akira hingga membuat tubuh kecilnya itu terpental seperti bola dan berakhir berhenti menghantam sebuah pohon.


"Akira-san!" Charla berteriak memanggil Akira dan menatapnya penuh cemas.


"Argh!" Akira mengerang kesakitan. Darah segar keluar dari tepian bibirnya.


"Bagaimana, manusia? Apa kau sudah mengerti sekarang? Ras rendahan sepertimu tidak akan pernah bisa melawanku." Thamuz berkata lantang sambil tersenyum sinis menatap Akira.


Dia kemudian mengarahkan senyumannya ke arah tempat dimana Charla berada dan bergerak menghampirinya.


"Apa yang ingin kau lakukan?!" seru Akira selagi menahan rasa sakit. Dia memaksakan tubuhnya yang terluka untuk berdiri.


"Percuma! Kau tidak akan pernah bisa menghancurkan pelindung itu!" seru Akira saat melihat Thamuz sudah berada beberapa langkah di dekat Charla dan seperti ingin menghancurkannya.


"Akira-san..." Charla ketakutan melihat Thamuz kini berada beberapa langkah darinya. Dia tersungkur ke belakang dalam posisi terduduk sambil menutup matanya tidak berani menatap Thamuz.


"Tenang saja, Charla. Dia tidak akan bisa menghancurkan pelindung itu." Akira melangkah tergopoh-gopoh mendekati Charla. Meski dia tahu kalau tabir pelindung itu tidak bisa dihancurkan dengan mudah, tapi dia merasakan firasat yang buruk.


Ketika Thamuz sudah berdiri di samping pelindung yang melindungi Charla, dia menatap Akira sekali dengan senyuman melebar sebelum sesaat kemudian dalam sekali sentuhan jari, tabir pelindung itu pecah berkeping-keping.


"Tidak mungkin...bagaimana bisa..." Langkah Akira terhenti, matanya terbelalak lebar, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia saksikan.


"Kenapa manusia? Apa kau pikir pelindung seperti ini tidak bisa kuhancurkan?" Pertanyaan yang mengisi kepala Akira segera dijawab oleh perkataan Thamuz, "Hahaha! Kau terlalu percaya diri, manusia!" Thamuz tertawa puas melihat reaksi terkejut Akira.


Thamuz kemudian melangkah mendekati Charla, meraih kerah bajunya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.


"A-Akira-san..." Leher Charla tercekik kerah bajunya sendiri sampai tidak bisa memanggil nama Akira dengan jelas.


"Lepaskan!! Jangan sentuh dia!!" Akira segera melangkah cepat mendekati Charla tanpa peduli dengan rasa sakit yang sedang dia rasakan. Rasa takut akan kehilangan mengisi perasaannya saat melihat Charla berada di tangan Thamuz.


"Hentikan!" Akira bergerak secepat yang dia bisa.


Namun naas, di tengah-tengah langkahnya, kaki Akira tiba-tiba tidak bisa bergerak. Dia pun tersandung dan berakhir tidak bisa berdiri lagi.


"Berdiri!! Kenapa kakiku tidak bisa digerakan!! Berdiri sialan! Berdiri!!" Akira menarik-narik kakinya untuk bergerak namun tetap tidak bisa. Situasinya sekarang hampir serupa dengan situasi sebelum dirinya tewas di kehidupan pertamanya. Hal itu mengingatkannya akan trauma yang sangat menakutkan yang sudah dia coba lupakan.


Akira lantas menatap Thamuz yang tersenyum lebar menatapnya, "Sialan! Apa yang sudah kau lakukan!!"


"Hahaha!" Thamuz hanya menanggapinya dengan sebuah tawaan dengan wajah meremehkan.


"Manusia, bagaimana rasanya menyaksikan seseorang yang kau sayangi menderita tepat di depan matamu? Tentunya itu akan sangat menyenangkan bukan?" Selesai berkata demikian,Thamuz mulai memainkan aksinya. Dia meraba-raba tubuh Charla tepat di depan mata Akira.


"Akira-san..." Charla mendesah kesakitan, dengan segenap usaha dia berusaha melepaskan diri dari genggaman Thamuz.


"Jangan sentuh dia, Iblis sialan!! Lepaskan!!" Wajah Akira bergetar, urat di wajahnya terbentuk oleh amarah yang begitu hebat. Dia masih terus memaksakan kakinya untuk melangkah tapi tetap tidak bisa.


"Lepaskan!!!"


Tawaan Thamuz semakin lantang melihat Akira semakin terbawa emosi. Merasa belum puas melihat penderitaan Akira, Thamuz pun merobek baju Charla tepat di depan matanya.


Srek!


Aksi Thamuz membuat emosi yang ada di dalam tubuh Akira membludak seperti magma yang terpendam selama ribuan tahun kini keluar sepenuhnya ke permukaan saking tidak bisa ditampung lagi olehnya.


"APA YANG KAU LAKUKAN SIALAN!!" Akira meronta-ronta untuk membebaskan diri dari jeratan kakinya yang tidak bisa bergerak. Dia menatap Thamuz penuh amarah, matanya memerah, rahangnya bergetar, nafasnya memburu. Yang bisa dia lakukan sekarang hanya memukuli tanah sampai berdarah untuk meluapkan emosinya.


Selagi tertawa lantang, tangan Thamuz meraba-raba tubuh kembali Charla dari atas sampai bawah, menjilati wajahnya dengan penuh tatapan b*nal.


"Akira-san...maaf..."


Air mata mengalir di wajah Charla saat melihat Akira sangat terpukul menyaksikan hal yang tidak senonoh tepat di depan matanya. Dia sudah berusaha melepaskan diri dari genggaman Thamuz tapi sayangnya dia tidak memiliki kekuatan untuk melakukan itu dan hanya bisa pasrah.

__ADS_1


"Hentikan!! Hentikan!! Hentikan!!" Akira menyeret kakinya yang tidak bisa bergerak mendekati Charla.


"Hahaha!!" Thamuz semakin menggila melakukan aksinya seakan menikmati penderitaan Akira.


"Hentikan Sialan! Hentikan!!" Akira ikut semakin dibuat menggila melihatnya.


"Hentikan!!"


Akira terus menyebutkan kata yang sama, hingga beberapa menit kemudian, suaranya pun semakin mengecil karena merasa lelah dengan tubuhnya yang tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak lagi bergerak maupun bersuara.


Akira kembali meratapi betapa lemahnya dirinya hingga tidak bisa melindungi sesuatu yang sangat berharga baginya.


Padahal dia sudah melewati berbagai rintangan, mengalami beberapa kali rasa sakit akan kematian hanya untuk bisa bertambah kuat. Namun kenyataan sekarang benar-benar membuatnya sangat terpukul. Dia bahkan tidak bisa melindungi sosok yang sangat berharga baginya padahal dia sekarang berada tepat di depan matanya.


"Hentikan..." Akira kembali bersuara.


Melihat Akira sudah tidak lagi memiliki tenaga Thamuz menghentikan aksinya, "Sepertinya sudah saatnya aku mengakhiri penderitaanmu, manusia," katanya sambil menatap Akira dengan senyuman jahat.


"Apa yang ingin kau lakukan..." lirih Akira yang sudah tidak lagi bisa bersuara kencang.


"Apa yang ingin aku lakukan? Tentu saja membunuhnya, apalagi?" Thamuz mengangkat tubuh Charla tinggi-tinggi.


Charla sendiri terlihat sudah sangat lelah. Air mata sudah tidak lagi keluar di matanya karena sejak tadi dia terus menangis, menangisi kondisi Akira yang tidak kalah menyedihkan dengannya.


"Jangan..." Akira menggelengkan kepalanya lemas.


"Kenapa? Bukankah aku terlalu baik? Dengan membunuhnya penderitaanmu juga akan berakhir. " Thamuz tertawa sinis di ujung kalimatnya.


"Sudah...Kumohon hentikan..." lirih Akira sudah tidak kuat bicara lagi.


Thamuz mengerutkan dahi sambil terkekeh, "Kau memohon pada iblis? Lucu sekali." Thamuz kembali tertawa lantang mendengar perkataan Akira barusan.


Thamuz lalu menggerakan tangannya mencengkram kepala Charla erat-erat dan memperlihatkannya dengan jelas di mata Akira.


"Hentikan..." Akira menggeleng pelan. Suaranya terdengar sedikit bertenaga.


"Sayangnya aku tidak bisa menuruti permintaanmu." Thamuz mengencangkan cengkramannya sambil menyeringai puas.


"A-Akira-san...maaf..." Charla tersenyum lemas meminta maaf menatap Akira. Dia sudah pasrah akan yang namanya kematian.


"Jangan...!" Akira menggeleng keras diikuti wajahnya yang semakin panik dan kembali meronta-ronta.


Hal itu membuat Thamuz kembali menikmati penderitaannya. Dia terus menguatkan cengkramannya sambil tertawa menatap Akira yang sungguh sangat menderita.


Hentikan!!


Cengkaramannya semakin kuat seiring Akira berkata demikian.


Hentikan!!


Semakin kuat.


Hentikan!!


Semakin kuat.


HENTIKAN!!!!


Crat!


Hingga Kepala Charla tidak bisa menahan beban dari cengkraman Thamuz dan membuatnya hancur tepat di depan mata Akira

__ADS_1


TIDAK!!


__ADS_2