Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Hilang Ingatan


__ADS_3

Zero melepas pegangannya lalu menatap Sherria penuh tanya.


"Bagaimana bisa kau tidak mengenalnya?" Zero tidak tahu harus mempercayainya atau tidak. Karena berdasarkan yang dia lihat ciri-ciri gadis rubah berambut oren di depannya dengan adiknya Charla hampir serupa.


Sherria menundukkan sedikit wajahnya, "M-Maaf, Tuan. Aku benar tidak mengenalnya…" ujar Sherria terlihat tidak sedang berbohong.


Padahal baru saja Zero merasa bodoh karena baru menyadari kalau gadis demi-human di depannya ini adalah sosok yang dia cari, namun ketika mendengar Sherria tidak mengenal siapa itu Charla membuatnya jadi kebingungan.


'Dia tidak sedang berbohong…' Skill Lie Detection milik Zero pun tidak mendeteksi ada kebohongan dari ucapan Sherria.


'Atau jangan-jangan bukan dia…' Zero mengamati Sherria lebih jauh dari atas sampai bawah, membuat Sherria merasa tak nyaman dilihat seperti itu.


"Kau yakin tidak mengenalnya?" Zero memastikan sekali lagi. Entah kenapa dia merasa sangat yakin jika gadis di depannya ini adalah sosok yang dia cari. Perasaan yang dia rasakan rasanya akrab sekali sama seperti ketika dirinya bersama Charla.


"T-Tidak, Tuan." Sherria menggeleng pelan.


"Ah, benar…" Teringat akan kalung milik Charla, Zero segera mengeluarkannya dari dalam inventory. Sherria yang menyaksikan Zero bisa mengeluarkan benda dari ruang kosong membuka sedikit mulutnya tertegun.


Setelah mengeluarkannya, Zero segera memperlihatkan isi dari bandul kalung itu pada Sherria.


"Ini...Apa kau tidak ingat dengan dia…" Zero menunjuk gambar Charla, mencoba membuktikan bahwa gadis di depannya ini memanglah sosok yang dia cari.


Sherria memperhatikan secara seksama sosok yang ada di sana sampai sejurus kemudian entah kenapa tiba-tiba kepalanya merasakan pusing yang begitu hebat.


"A-Aku tidak mengingatnya…" Sherria mengernyitkan wajahnya sambil memegang keningnya yang terasa pusing setelah melihat gambar yang ada di bandul itu.


"Ada apa, Sherria?" tanya Zero melihat Sherria seperti orang kesakitan.


"Tidak tahu, Tuan. Kepalaku tiba-tiba pusing sekali…" Sherria menggeleng pelan, masih memegangi keningnya.


Menyaksikan hal itu, skill Sage Eye milik Zero tiba-tiba aktif, mendeteksi bahwa Sherria telah hilang ingatan.


'Hilang ingatan?' Zero mengerutkan dahinya saat menerima pemberitahuan itu.


'Apa maksudnya ini? Jangan-jangan dia tidak bisa mengingatnya karena dia kehilangan ingatan, ' pikir Zero.


"Sherria, apa kau ingat dengan tempat tinggalmu?" Zero mencoba memastikannya.


"T-Tidak, Tuan…"


"Keluargamu?"


"Emm…" Sherria menggeleng pelan


"Apa kau tidak mengingat apapun tentang dirimu?"


"Tidak, Tuan. Yang aku tahu sewaktu aku membuka mata, aku hanyalah seorang budak dari majikanku, " jelas Sherria.


'Begitu rupanya. Kemungkinan ini pasti ulah majikannya.' Zero bisa menebak alasan mengapa Sherria hilang ingatan.


"Sudah tidak perlu dipikirkan." Zero tersenyum tipis sambil memegangi sejenak pundak Sherria.

__ADS_1


"Baik, Tuan." Sherria mengangguk. Dia merasa anak kecil yang telah menyelamatkannya ini bukanlah orang jahat.


"Anu~ Kalau boleh tahu, Charla-sama ini siapanya, Tuan?" tanya Sherria hati-hati.


"Dia hanya salah satu orang yang kusayang," jawab Zero tersenyum ringan.


"Kau… pakaianmu…" Zero melihat pakaian milik Sherria sudah tidak layak lagi dipakai sebelum membuang muka saat tanpa sengaja melihat hal yang tidak pantas dia lihat.


Merasa demikian dia pun segera membuka menu inventory-nya dan membeli pakaian yang cocok di sana.


Sherria yang menyaksikan Zero menyentuh-nyentuh ruang kosong hanya bisa berkerut tidak tahu apa yang sedang dilakukannya.


"Pakai ini…" Zero mengeluarkan pakaian yang dia beli.


Sherria melihat pakaian di tangan Zero yang entah dari mana asalnya itu, "Ini...tidak bisa, Tuan. Ini terlalu bagus. Aku tidak pantas memakainya." Sherria menolak.


"Aku tidak peduli. Sudah cepat pakai sana." Zero melempar baju itu ke pangkuan Sherria lalu berjalan ke belakang, kembali bersandar di pohon tadi.


Sherria sejenak ragu namun ketika melihat pakaiannya memang tidak pantas untuk dilihat dia pun menerima pakaian pemberian Zero.


"Terimakasih, Tuan." Sherria segera bangkit mencari tempat untuk memakai pakaian itu.


"Sistem, coba carikan obat yang bisa memulihkan ingatan seseorang," titah Zero selagi menunggu Sherria berganti pakaian.


[Baik]


Sistem segera membawa Zero ke satu obat yang dia cari.


Tanpa banyak tanya, Zero segera membelinya dan mengeluarkannya dari sana.


"Aku masih belum tahu apakah dia benar adiknya Charla atau bukan, tapi perasaan ini…" Zero teringat dengan perasaan yang rasanya akrab sekali dalam diri Sherria.


"Tidak salah lagi. Aku harus membuktikannya." Dia mencoba percaya pada perasaan itu.


Tak butuh waktu lama, Sherria akhirnya selesai berganti pakaian.


"Anu~ Sepertinya ini memang terlalu berlebihan, Tuan." Sherria bersikap malu memperlihatkan pakaian bagus pemberian Zero yang saat ini dia gunakan.


Zero tertegun melihat betapa anggunnya Sherria ketika memakai pakaian yang senada dengan warna rambutnya itu. Aura yang terpancar dari kecantikannya kini terlihat semakin bertambah dari yang sebelumnya. Sayang sekali jika gadis demi-human seperti ini berakhir menjadi seorang budak.


"Tuan…" Sherria sampai melihat Zero bahkan tidak bisa berkedip saat melihatnya.


"Ah, iya." Zero menggelengkan kepala menyadarkan dirinya, "Sudah, itu terlihat sangat cocok untukmu…" lanjutnya sambil tersenyum tipis.


"Seharian kau pasti belum makan bukan…" Zero membuka menu store-nya dan membeli sup hangat untuk Sherria.


"Makanlah…" Dia lalu menyuruh Sherria untuk mengambil sup yang ada di tangannya itu.


"Anu, Tuan. Maaf, kalau boleh tahu lagi, siapa Tuan sebenarnya…" Sherria mengetahui seseorang yang bisa melakukan sihir sehebat itu pasti bukanlah orang biasa. Dia merasa tidak enak berhubungan dengan orang hebat seperti itu.


"Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya manusia biasa." Untuk kali ini Zero merendah agar membuat Sherria tidak menganggapnya berlebihan.

__ADS_1


"Sudah makanlah. Nanti keburu dingin…"


Sherria mengangguk kemudian mengambilnya, "T-Terimakasih, Tuan…" Dia pun duduk tak jauh di dekat Zero lalu memakannya.


Saat dia baru pertama kali menyuapkan satu sendok sup itu pada mulutnya tiba-tiba air mata keluar dari matanya.


"Kenapa kau menangis? Apa rasanya tidak enak." Zero mengerutkan dahi melihatnya.


"Ah, maaf…" Sherria menyeka air matanya," Tidak, Tuan. Ini enak sekali. Baru pertama kali ini aku merasakannya." Sherria untuk pertama kalinya memperlihatkan senyumannya pada Zero, senyuman itu seolah ingin mengartikan betapa bahagianya dirinya saat ini.


"Oh, begitu."


Zero mengetahui pasti selama ini Sherria sangat menderita, tergambar jelas ketika dia melihat betapa senangnya Sherria memakan sup pemberiannya itu dan makan dengan lahap.


Beberapa saat kemudian, Sherria akhirnya selesai menghabiskan satu mangkuk sup berukuran besar itu sendirian.


"Terimakasih atas makanannya."


"Ya. Sama-sama."


"Sekarang minumlah ini…" Zero menyerahkan segelas air putih serta satu satu pil pemulih ingatan yang tadi dia beli pada Sherria.


"Apa ini Tuan?" Sherria melihat pil tersebut.


"Ini akan memulihkan ingatanmu yang hilang." Zero menjelaskan secara singkat


Sherria terlihat ragu untuk meminumnya.


"Jangan khawatir. Aku tidak sedang meracunimu atau menanamkan obat tidur dalam pil itu. Lagi pula jika aku ingin berbuat sesuatu padamu sudah sejak tadi aku lakukan." Zero mencoba menghilangkan keraguan Sherria.


"Baik." Sherria percaya kalau Zero pasti bukan orang jahat. Menurutnya Zero hanya ingin ingatannya pulih supaya dia bisa menemui Charla yang dia sebut sebagai sosok yang dia sayang dan juga sosok yang menjadi kakaknya.


"Bagaimana, apa kau sudah mengingatnya?" Zero bertanya setelah Sherria mengkonsumsi pil itu.


"Belum, Tuan." Sherria menggeleng pelan.


Sebelum Zero hendak bertanya, Sistem sudah lebih dulu menjawabnya.


[Efek dari pil ini tidak akan langsung membuat seseorang mengingat semuanya. Setelah meminum pil ini seiring waktu kepingan ingatan yang hilang dari seseorang yang mengkonsumsinya akan terbentuk kembali sampai sepenuhnya]


Zero memahami penjelasan dari pil tersebut. Yang perlu dia lakukan sekarang yaitu hanya perlu menunggunya saja.


"Tidak apa-apa, suatu saat kau akan mengingat semuanya…" Zero tersenyum ringan menatap Sherria.


"Terima kasih atas semuanya, Tuan." Sherria membungkukkan setengah tubuhnya berterima kasih.


"Sudah hentikan. Sudah berapa kali kau berterima kasih padaku." Zero menghela nafas bosan.


"Baik, Tuan." Sherria mengangguk.


"Dan jangan sebut aku Tuan. Aku bukan tuanmu," pinta Zero

__ADS_1


"Mmm...Baik, Zero-sama." Sherria tersenyum kembali menatap Zero.


__ADS_2