
Semua orang yang bertempur di tempat itu tidak mengenali siapa kedua pria yang baru saja turun dari langit dan kini berdiri di tengah-tengah semua orang.
Terkecuali kedua petugas yang sejak tadi mengamati jalannya pertempuran. Mereka langsung menebak kalau salah satu dari kedua pria itu kemungkinan adalah petualang pangkat diamond yang sejak tadi mereka tunggu.
"Mungkinkah dia petualang pangkat diamond itu?" tanya petugas itu pada rekannya sambil menunjuk pria yang paling mencolok di antara kedua pria itu.
"Tidak salah lagi, itu pasti dia. Aku tidak menyangka dia datang juga ternyata. Apalagi cara dia datang ke tempat ini benar-benar mengejutkan. Kupikir dia sama seperti ketiga petualang pangkat diamond itu, tapi nyatanya dia jauh lebih mengerikan," jawab rekannya kali ini tampak antusias melihat kedatangan petualang itu.
"Benar. Seperti rumornya, dia memang sangat mengerikan. Dari cara dia menghabisi monster-monster itu, aku yakin dia pasti jauh lebih kuat dari semua orang yang ada di sini. Bahkan jika ketiga petualang diamond itu bekerja sama melawannya aku berani bertaruh mereka tidak akan menang." Petugas itu begitu yakin dengan kekuatan petualang itu yang tidak lain adalah Zero.
Suasana di tempat pertempuran saat ini mendadak hening karena kemunculan Zero dan Gladius yang baru sampai di tempat itu.
"Sepertinya kita terlambat, ya. Apa sudah selesai pestanya?" tanya Zero setelah turun dari wyvern yang ditungganginya sambil mencari tahu keadaan sekitar. Gladius mengikuti setelahnya.
Kedua wyvern itu menghilang dan masuk ke dalam bayangan Zero, mengejutkan sekali lagi orang-orang di situ yang melihatnya, mengingat monster seperti itu sangat jarang ditemui di dunia ini.
Lagi pula siapa pemilik makhluk langka tersebut?
Orang-orang di tempat itu tidak menjawab pertanyaan Zero karena disibukkan oleh pertanyaan-pertanyaan lain di kepala mereka menyangkut kedua pria misterius itu.
'Apa benar salah satu dari mereka yang baru saja menurunkan petir-petir tadi untuk membunuh monster-monster itu.' Ketiga petualang pangkat diamond menanyakan hal yang sama karena masih ragu jika di antara kedua pria itu ada yang memiliki kemampuan semenakutkan itu.
Terutama Sean yang saat itu menyaksikan dengan jelas bagaimana monster Ogre yang sebelumnya hendak membunuh petualang di hadapannya seketika hangus terbakar dalam sekali sambaran.
'Jika memang pelakunya ada di antara mereka, orang itu pastinya akan menjadi sosok yang berbahaya jika dijadikan musuh,' pikir Sean yang tidak ingin mencari masalah dengan pelaku dibalik turunnya petir itu. Dia masih belum tahu siapa di antara kedua pria itu yang menjadi pelakunya.
"Kurasa pestanya belum selesai, Tuan. " Gladius memberitahu Zero saat melihat monster-monster kembali bermunculan.
__ADS_1
'Tuan?'
Sean dan kedua petualang diamond lainnya mendengar satu kata itu keluar dari mulut pria bermata sipit yang selalu menunjukkan senyuman ramah.
Mereka sama-sama menyimpulkan:
'Apa mungkin pria di sampingnya pelakunya?' terka Sean.
'Jika memang benar, tapi kenapa dia terlihat biasa-biasa saja.' Iris tidak melihat sesuatu yang luar biasa dalam diri Zero yang membuktikan kalau dia pelakunya, "Bahkan aku tidak merasakan sedikitpun energi sihir dalam tubuhnya,' lanjutnya.
"Harus ku akui, dia memang memiliki aura yang aneh namun terkesan mengerikan dibalik penampilannya yang biasa-biasa ini." Bobby merasakan aura aneh itu dalam diri Zero.
Ketiga petualang itu menemukan fakta yang membingungkan dari sosok yang disebut Tuan oleh pria bermata sipit. Mereka masih ragu jika memang pria itu pelakunya.
"Baguslah kalau begitu. Meski hanya tinggal penyisaan, setidaknya ini merupakan bagian yang terbaik." Zero tersenyum puas karena menemukan monster yang muncul berada tingkatan yang tinggi.
"Hei, apa boleh semua monster ini untukku?" tanya Zero pada semua orang di situ.
"Aku anggap diam kalian ini sebagai jawaban yes." Zero tersenyum lebar melihat mereka hanya terdiam. Dia tentunya mengerti alasan kenapa mereka hanya diam seperti ini. Pastinya mereka sangat terkejut dengan sambutan yang diberikannya tadi.
"Baiklah, aku akan mengambil semua monster ini. Gladius, jangan ikut campur dan biarkan aku bersenang-senang sebentar. Kau kumpulkan saja semua inti monster yang sudah dan akan aku kalahkan." Zero memberi perintah.
"Yah, padahal saya juga ingin ikut bersenang-senang, Tuan. Tapi ya sudahlah, karena ini perintah Tuan, saya akan melaksanakannya," patuhnya menunjukkan sikap hormat.
Tanpa menunggu lagi, Zero kemudian berjalan ke arah di mana monster-monster itu muncul seiring mengeluarkan pedang class A di dalam inventory-nya.
Di tengah langkahnya, dia melihat seseorang tergeletak dengan luka parah dan sedang dibantu oleh rekan-rekannya.
__ADS_1
Tatapan Zero kemudian tertuju pada Sean karena dia sebelumnya melihat orang itu bisa terluka seperti itu gara-gara dirinya. Namun untuk sekarang Zero tidak ingin mempedulikan mereka dan fokus pada monster yang akan dihadapinya.
Pedang yang Zero keluarkan perlahan diselimuti oleh api merah kelam hingga api itu menyebar ke seluruh bilahnya.
Semua orang begitu khusyuk menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Ketiga petualang itu ingin membuktikan dengan kedua matanya sendiri apa benar Zero pelakunya.
"Yosh, kuharap kalian bisa sedikit menghiburku." Zero tersenyum sinis sebelum melesat untuk menghabisi semua monster tingkat tinggi yang bermunculan di tempat itu.
Zero bergerak begitu cepat dan lincah. Pedang yang diselimuti api merah kelamnya diayunkan ke setiap monster yang berhadapan dengannya.
"Luar biasa. Dia mampu mengalahkan monster setingkat itu dengan begitu mudahnya."
"Aku tidak menyangka orang itu ternyata akan semenakutkan ini."
"Ya, tidak salah lagi orang itu pasti yang tadi telah menurunkan petir-petir itu."
Semua orang yang ada di situ membuka mulutnya karena terkejut menyaksikan bagaimana pria itu mampu menghabisi setiap monster tingkat tinggi hanya dalam sekali tebasan.
Sekali tebasan itu memang tidak langsung membunuh monster itu, tetapi api merah kelam yang tertoreh di tubuh monster itu dapat dengan cepat membesar dan menghanguskan monster itu hingga mengubahnya menjadi abu.
Semua orang di tempat itu setuju jika api merah kelam yang Zero keluarkan sangat berbahaya untuk disentuh bahkan untuk secuil sekalipun. Api terbaik dari tombak milik Sean saja tidak sampai membuat monster setingkat itu tak berdaya seperti itu. Sean benar-benar tidak terima melihat kenyataan tersebut.
Kali ini ketiga petualang itu percaya jika Zero adalah pelaku dari balik turunnya hujan petir tadi karena buktinya sudah jelas ada di depan mata. Mereka sungguh tidak menyangka jika ternyata ada petualang lain yang sangat kuat selain mereka di tempat itu.
"Pria ini pandai menyembunyikan kekuatannya sehingga orang-orang tidak dapat mengetahui kalau dia sebenarnya adalah orang yang sangat berbahaya. Jika saja ada orang yang tidak berhati-hati saat berurusan dengannya sudah dapat dipastikan orang itu akan celaka," kata Iris menilai sosok Zero.
Saat ini semua orang di situ hanya bisa terdiam tanpa ingin mengganggu aksi Zero yang tampak sangat menikmati pembantaian sepihaknya. Panggung pertempuran itu kali ini sudah sepenuhnya milik Zero, sedangkan mereka hanya berperan sebagai penonton.
__ADS_1
Setelah setengah jam berlalu tidak ada lagi monster yang muncul di tempat itu dan semuanya pun kini sudah dimusnahkan oleh Zero.
"Oh, sudah selesai, ya. Kenapa cepat sekali. Padahal barusan itu cuma pemanasan."