
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terima kasih dan selamat membaca
______________________________
Petualangan yang sesungguhnya di dalam Menara Agung baru dimulai.
Lantai 27…
Lantai 29...
Lantai 30…
Hari-hari di dalam Menara Agung, Akira habiskan dengan menyelesaikan misi demi bisa menaiki lantai berikutnya.
Lantai demi lantai yang berhasil Akira daki di dalamnya terdapat berbagai macam rintangan yang jauh lebih mengerikan dari siksaan neraka sekalipun yang terus mengiringi langkahnya tanpa henti.
Lantai 32...
Lantai 34...
Lantai 30...
Tidak terukur seberapa mengerikan rintangan yang Akira hadapi, mengingat setiap waktu di dalam Menara Agung selalu dihabiskan oleh pertarungan hidup dan mati. Sekalinya dia mati atau gagal di pertengahan lantai, dia akan dibawa lagi ke tempat semula (Check Point) dan mengulang kembali semuanya dari awal. Jujur, itu benar-benar membuat Akira frustasi, dan kata 'menyerah saja' selalu menghantui pikirannya pada saat itu terjadi.
Lantai 35…
Lantai 38...
Lantai 35...
Rasa sakit akan sebuah kematian sudah beberapa kali Akira rasakan. Yang pasti setelah melalui semua rasa sakit itu, kematian bukanlah suatu hal yang menakutkan lagi baginya. Bahkan malaikat kematian pun merasa iba karena terus-terusan mencabut nyawa bocah ingusan yang malang nasibnya ini.
Lantai 35…
Lantai 38…
Lantai 39...
Pada saat Akira berada di lantai tiga puluh ke atas, dia selalu dihadapkan oleh pertarungan melawan monster-monster tingkat tinggi antara Highest-grade sampai Ancient. Bukan hanya satu dua saja melainkan puluhan.
Sewaktu di lantai 25 ketika melawan satu monster tingkat Ancient saja Akira sudah dibuat tidak berdaya, apalagi dihadapkan oleh beberapa dari mereka. Tidak heran mengapa Akira harus mengulang beberapa kali demi bisa menyelesaikan setiap lantai disini.
Lantai 45...
Hingga satu bulan delapan hari berlalu, atau tepatnya dua bulan sudah Akira berada di dalam Menara Agung, dia akhirnya berhasil mencapai empat puluh lima lantai. Hanya tinggal menyisakan lima lantai lagi yang tersisa sebelum akhirnya Akira bisa menapaki dunia luar.
Perjuangan yang sangat melelahkan...
*~*
"Selesai sudah…" Akira terbaring lemas, melepas penat sambil menatap langit biru yang tampak cerah.
Sebelumnya Akira telah berhasil menyelesaikan misi di lantai 45 yang dimana lawannya kali ini yaitu 200 monster tingkat high-grade dan 30 monster tingkat Ancient. Sekarang dia tengah berada di sebuah arena lapangan pertarungan yang sangat luas dengan dinding melingkar sebagai pembatas.
"Sistem Call: Berapa lama lagi waktu yang kumiliki…" Akira bertitah setelah nafasnya terasa stabil.
{29 hari| 22 jam| 25 menit| 42 detik|
"Tidak terasa, sudah dua bulan, ya…"
Dua bulan telah terlalu berlalu Akira berada di dalam Menara Agung. Jika diakumulasikan dengan waktu yang berputar serta efek dari potion peningkat tubuh, selama dua bulan ini umur Akira bertambah empat tahun. Atau lebih tepatnya, umur Akira sekarang yaitu kurang lebih lima tahun setengah.
Meskipun umurnya baru lima tahun namun fisik Akira sudah terlihat seperti anak yang berusia delapan tahunan. Tinggi badannya berada di kisaran 130-140 cm dan jika dilihat dari balik bajunya akan tampak perut sispek yang jarang ditemui anak seusianya.
Satu jam Kemudian, Akira telah selesai berkemas dan bersiap melaju ke lantai berikutnya
"Yosh! Semangat, tinggal lima lantai lagi…"
"Sistem Call: bawa aku ke lantai berikutnya."
[Baik]
*~*
[Anda berada di lantai 46]
__ADS_1
Akira dibawa ke lantai empat puluh enam. Tempat dan suasananya seperti biasa berbeda. Dia sekarang berada di tengah hutan dengan pepohonan rimbun yang menjadi ciri khasnya. Langit tampak cerah memperjelas pandangan Akira.
"Hutan..."
Akira melihat-lihat sekelilingnya dan tidak menemukan bahaya apapun. Setelah itu Akira mulai menyusuri hutan untuk mencari tahu misi yang harus dihadapi di lantai ini karena belum ada pemberitahuan sama sekali dari Sistem.
"Kabut? Kabut apa ini?" Akira merajut alisnya dalam saat tiba-tiba ada kabut yang mendekat dan perlahan menyelimuti pandangannya.
Ketika menyadari kabut itu tidak biasa, pandangan Akira memburam sampai akhirnya dia terjatuh lemas,"Celaka! Ini kabut tidur…"
Akira tidak sempat menyadari kalau kabut itu adalah kabut tidur dan berakhir dia tidak sadarkan diri di tengah hutan.
Pada saat kembali membuka matanya, Akira bisa melihat secara samar-samar sepasang telinga kelinci berukuran sedang, bergerak-gerak menutupi pandangannya yang menghadap langit. Begitu pandangannya jelas barulah Akira bisa mengetahui pemilik dari telinga tersebut.
"Hallo~ apa kau sudah bangun?" Pemilik telinga tersebut memiringkan wajahnya menatap Akira sambil mengelus-elus kepalanya.
Akira terkejut saat mengetahui ada orang lain di tempat ini, apalagi dia adalah seorang perempuan.
Dan juga Ini baru pertama kali Akira lihat perempuan tersebut, karena berdasarkan dari apa yang dia lihat, perempuan tersebut bukanlah manusia.
Yang lebih membuatnya terkejut dari kedua hal itu yaitu ketika dia baru menyadari kalau dirinya kini tengah tertidur di pangkuannya. Sontak Akira membangkitkan tubuhnya dan bergerak mundur sambil mengeluarkan senjata.
"Siapa?" Akira bersikap penuh waspada.
"Eh?" Perempuan tersebut terlihat kebingungan saat melihat anak berambut pirang yang sudah dia tolong kini menodongkan pistol ke arahnya.
"Aku tanya sekali lagi, kau siapa?" tanya Akira sambil menatapnya tajam dan sudah bersiap menarik pelatuknya.
"Aku?"
"Ya. Siapa lagi."
"Oh, namaku Charla…" Perempuan yang mempunyai nama Charla ini tersenyum ramah memperkenalkan diri. Dia tidak terlihat takut sama sekali terhadap Akira meskipun Akira kini menodongkan senjata ke arahnya.
"Bukan itu maksudku."
"Lalu?"
Akira menatap Charla lamat-lamat untuk mencari tahu apakah dia berbahaya atau tidak. Dia lalu menurunkan senjatanya saat mendapati Charla tidak berbahaya sama sekali, malahan dia terlihat seperti seorang perempuan biasa yang lugu.
"Tentu saja..." Charla berdiri dan berputar memperlihatkan lekukan tubuhnya yang ramping serta dadanya yang berisi, "Aku seorang demi-human jenis kelinci. Chessss…" lalu tangannya membentuk huruf V memiring yang ditempelkan di pelipis matanya.
"Demi-human?" Mata Akira semakin menyipit.
"Kenapa? Apa kau baru melihat seorang demi-human sepertiku?" Kali ini Charla yang balik bertanya sambil mengerutkan dahi.
'Ah, benar juga, kenapa aku baru menyadarinya. Di dunia ini pasti banyak ras-ras lain selain manusia,' gumam Akira dalam hati.
"Tidak. Hanya saja aku baru pertama kali ini melihat ada seorang demi-human aneh sepertimu… " ejek Akira sambil membuang muka dan bersikap malas.
"Jahat…padahal aku sudah menolongmu." Charla memanyunkan bibirnya tampak sebal.
Akira menatap Charla kembali dan bertanya dengan raut wajah datar, "Jadi, kenapa seorang demi-human sepertimu bisa ada disini?"
"Aku tidak mau menjawabnya, " rajuk Charla sambil melipat tangan di dada dan membuang muka.
"Kenapa?"
"Pertama, kau harus berterima kasih dulu karena aku sudah menolongmu…"
"Tidak mau."
"Kedua, kau harus meminta maaf karena barusan sudah mengejekku. "
"Bodo amat."
"Dan yang ketiga—"
Kruk~
"Sekarang apa?"
"Ahh! Dan yang ketiga aku lapar. Lebih baik aku mencari makanan dulu untuk mengisi perutku!" Charla menghentakan kakinya berniat meninggalkan Akira dengan wajah sedikit memerah, merasa malu bercampur kesal saat melihat sikap Akira.
"Tunggu. Tidak perlu mencarinya…" Akira mengeluarkan buah apel di kantong ajaibnya dan memperlihatkannya pada Charla, "Aku bisa memberimu berbagai makanan yang kau mau, asalkan kau jawab dulu pertanyaanku."
Charla yang hendak pergi, berhenti saat melihat apel di genggaman Akira. Pandangannya beralih pada kantong di pinggangnya, "Kantong yang bisa menyimpan berbagai barang di dalamnya. Apa kantong di pinggangmu itu termasuk item sihir?" tanya Charla dengan mata melebar sambil menunjuk kantong yang dimaksud.
__ADS_1
"Ya. Disini aku menyimpan banyak sekali makanan," jawab Akira sambil memainkan apel di tangannya.
Charla menelan ludahnya, "Baiklah. Aku akan menjawab pertanyaanmu. Tapi sebelum itu... aku mau satu…" pinta Charla sambil menunjukan satu telunjuknya dan tersenyum penuh makna.
"Tidak boleh. Jawab dulu pertanyaanku."
"Ayolah...aku sudah menolongmu tadi…"
"Tidak. Jawab dulu pertanyaanku."
"Hanya satu saja..."
"Tidak mau."
"Yasudah kalau begitu lebih baik aku mencarinya sendiri." Charla bersikap merajuk berpura-pura ingin meninggalkan Akira.
Akira berdecak, malas untuk berdebat, "Baik-baik kau menang…" lalu melemparkan apel tersebut ke arah Charla yang kemudian ditangkap olehnya.
"Yatta! Satu lagi, " pinta Charla lagi sambil cengengesan.
"Hah~?" Akira mengepal tangannya tinggi-tinggi dengan rahang mengeras.
"Bercanda…" Charla terkekeh. Dia kembali duduk bersandar di pohon dan mulai memakan apel itu.
"Omong-omong kenapa anak seusiamu bisa ada disini? Dari segi penampilan kau terlihat bukan anak biasa. Kau terlihat seperti seorang petualang. Apa kau kesini bersama rekanmu juga? Atau jangan-jangan kau terpisah dari keluargamu?" Charla melontarkan berbagai pertanyaan selagi memakan apel itu.
"Oi, oi. Bukannya kau mau menjawab pertanyaanku tapi kenapa sekarang kau malah bertanya balik?" Akira mulai dibuat emosi oleh sikap Charla.
"Ah, iya. Karena keenakan makan aku jadi lupa," jawab Charla sambil cengengesan dengan wajah tanpa dosa.
"Lu-lupa katamu?" Akira menodongkan pistolnya kembali ke arah Charla.
"Bercanda-bercanda..." Charla segera mengangkat kedua tangannya berusaha menenangkan Akira, "Jangan marah. Baik-baik, aku akan menjawabnya."
Akira menurunkan senjatanya kembali.
"Um...bagaimana cara menjelaskannya, ya...sederhananya setelah aku mati, tiba-tiba aku sudah ada disini," jelas Charla seperti sedang mengingat-ngingat sesuatu.
'Sama seperti dia…' Dia yang Akira maksud adalah Kakek Ryu.
"Apa sebelumnya kau mendapatkan sebuah petunjuk kenapa kau bisa ada disini?" Akira bertanya kembali.
"Ah, iya. Aku sempat mendengarnya. "
"Apa itu?"
"Um...Seingatku dia hanya menyuruhku untuk tetap hidup, " jelas Charla sambil mengingat kembali keadaan terakhirnya sebelum dia berakhir disini. Wajahnya tampak muram setelah berhasil mengingatnya. Dia berhenti memakan apel itu seperti tidak mempunyai selera lagi.
'Siapa sosok ini sebenarnya. Dan sekarang, misi seperti apa yang harus aku jalani.' Akira mengelus dagunya berpikir, ikut mencari tahu kedua hal itu secara bersamaan.
Di tengah kesibukan mereka, telinga Charla tiba-tiba bergerak seperti merespon sesuatu. Pikiran Akira pun terpecah saat merasakan ada beberapa orang yang mendekat ke arahnya.
"Dua...tiga...tidak, semuanya lima orang..."
Sesaat kemudian, Akira merasakan ada sebuah pisau yang melesat sangat cepat ke arahnya namun kecepatannya masih bisa dia prediksi. Ketika Akira mencoba mengambil pisau itu, Charla secara mengejutkan tiba-tiba bergerak melindunginya dengan menjadi tembok, hingga pada akhirnya pisau itu berakhir menancap dalam di pundak Charla.
"Kau baik-baik saja...?" Charla bertanya lirih sambil meringis kesakitan namun seulas senyuman masih terpahat di belahan bibirnya.
"Bodoh! Apa yang kau lakukan?!" Akira sangat terkejut melihat aksi nekat Charla. Dengan segera Akira membantu melepaskan pisau yang menancap dalam di pundaknya.
"Aw...!" Pisau itu berhasil Akira keluarkan dari pundak Charla.
"Aku hanya mencoba melindungimu..." jawab Charla masih meringis kesakitan.
"Itu yang kumaksud. Kenapa kau mencoba melindungiku?!" Akira bertanya setengah teriak.
Pada saat yang sama Akira merasakan kelima orang itu sudah sangat dekat. Dan sejurus kemudian mereka menampakan dirinya.
Sesuai perkiraan Akira jumlah mereka ada lima orang, dan mereka berlima kini tengah santai berdiri di atas pohon sambil menatap rendah mereka berdua.
"Serahkan kantong ajaibmu anak kecil! " seru salah satu dari mereka.
"Manusia…" Wajah Akira menjadi dingin saat mengetahui kelima orang tersebut ternyata adalah manusia.
Di lima lantai penghabisan ini akan agak sedikit lama karena banyak drama dan pertarungan yang terjadi disini. Jadi buat kalian yang bertanya kapan si MC keluar, tunggu saja sampai lima lantai ini selesai sambil menikmati drama dan pertarungan seru yang akan terjadi :) Terimakasih:)
__ADS_1