
"Tidak mungkin…"
Mata semua orang yang ada di dalam ruangan itu sama sekali tidak bisa berkedip saat menyaksikan apa yang terjadi di depannya sekarang.
Kemustahilan? Hal tabu? Menentang takdir? Semuanya segera terpecahkan begitu menyaksikan secara nyata rekan mereka yang tadi sudah tewas kini mulai menggerakkan tubuhnya kembali.
Pria dewasa bersama yang lainnya segera memastikan apakah mereka benar-benar hidup atau tidak. Mereka membuka kain penutup itu dan menemukan wajah mereka yang sudah mati yang awalnya pucat kini kembali berwarna. Luka tusukan yang membuat mereka tewas tertutup rapat seperti semula. Dan apa yang terjadi selanjutnya membuat mereka kesulitan bernafas.
Rekan mereka yang sudah mati mulai membuka matanya kembali.
"Ini… mereka hidup."
"Ini tidak bohong, kan?"
"Mereka hidup…mereka hidup…"
Semua yang ada di dalam ruangan kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan ketidak percayaannya terhadap apa yang kini mereka saksikan.
"Mereka hidup!" Seru pria dewasa penuh keterkejutan.
Merasa penasaran, mereka yang tadi menunggu di luar segera menerobos masuk ke dalam saat mendengar seruan itu dan memperlihatkan reaksi yang sama saat melihat apa yang kini terjadi di depan matanya.
"Zero-sama…" Sherria menutup mulutnya dengan satu tangan, sulit mengartikan perasaannya saat ini. Antara senang, terkejut tidak percaya dan takjub kini dia rasakan disaat yang bersamaan.
'Berhasil...ini benar-benar nyata. Aku berhasil menghidupkannya…' Zero bangkit dari posisinya. Dia merasa lega karena proses menggunakan sihir terlarang itu telah selesai dan hasilnya sudah terlihat di depan mata.
Sensasi yang Zero rasakan sebelumnya saat menggunakan sihir terlarang ini sangat sukar diartikan. Awalnya dia merasa jiwanya seakan sedang tersedot ke dalam satu dimensi yang sangat gelap namun begitu dia selesai menggunakan sihir tersebut dia merasakan perasaan lega yang sangat lega sekali seolah dia baru saja berhasil selamat dari kematian.
Zero sendiri selaku orang yang telah membangkitkan mereka sama terkejutnya. Pada saat yang sama dia juga merasa senang karena dengan begini dia tidak perlu takut lagi jika suatu saat kehilangan sosok yang disayang.
Zero berbalik, menatap Sherria dengan senyuman. Mengabaikan mereka yang tengah mengerumuni rekannya yang hidup kembali, Zero berjalan mendekati Sherria.
Saat Zero di depannya, Sherria menekukkan tubuhnya memeluk Zero, meluapkan perasaannya saat ini sambil meneteskan air mata kebahagiaan.
"Sherria, aku sudah membuktikannya. Aku bisa menghidupkan kakakmu...Tidak, Aku bisa menghidupkan seluruh keluargamu kembali…kau bisa berkumpul lagi bersama mereka." Zero berkata lembut di telinga Sherria sambil mengelus-elus rambutnya.
"Ya, Zero-sama. Anda sudah membuktikannya…" Sherria tidak bisa menahan rasa bahagianya dan juga masih tidak menyangka kalau apa yang Zero katakan sebelumnya akan terbuktikan.
Zero melepas pelukan itu lalu memegang pundak Sherria, menatapnya dengan senyuman hangat.
"Mulai sekarang jangan salahkan dirimu lagi, mengerti," kata Zero sambil mengusap air mata yang mengalir di kelopak mata Sherria.
"Baik, Zero-sama. Terima kasih…" Sherria menampilkan senyuman terbaiknya pada Zero.
Semantara itu, di tempat yang sama para penduduk desa yang tadi ingin ikut karena penasaran semuanya kini tengah mengerumuni rekannya yang telah hidup kembali. Perasaan mereka campur aduk saat menyaksikan kenyataan yang sangat sulit diperkirakan tersebut.
"Suamiku…"
"Ayah…"
"Anakku…"
Keluarga mereka yang tadi telah ditinggalkan memeluk erat orang terkasihnya yang kini hidup kembali. Mereka tidak bisa menahan deraian air matanya karena sangat bahagia bisa bertemu dan berkumpul lagi.
"Apa yang terjadi padaku?" Salah seorang penduduk desa yang telah hidup kembali memegang keningnya, belum mengerti dengan keadaannya sekarang.
__ADS_1
"Kau tidak mengingatnya?" Pria dewasa bertanya.
"Tidak…" Orang itu menggeleng pelan.
"Apa kau tidak mengingat apapun?" Pria dewasa berkerut dahi.
"Ahk…" Orang itu merasakan sakit di keningnya seiring dengan ingatannya mulai kembali.
"Yang aku ingat...sebelumnya aku sedang berada di dalam kegelapan lalu tiba-tiba aku tertarik ke suatu tempat yang bercahaya hingga sampai ke tempat ini." Orang itu menjelaskan apa yang tadi dia lihat. Yang lain pun menjelaskan hal yang sama dengan orang itu.
"Kalian semua sebelumnya sudah mati," jelas Pria dewasa.
"Mati..."
"Ya."
Mereka yang hidup kembali mulai teringat akan kejadian sebelum mereka tewas. Semua rekannya yang sebelumnya melihat bagaimana mereka mempertaruhkan nyawanya membenarkan kalau mereka benar-benar sudah mati.
"Benar, aku ingat, saat itu aku sempat bertarung dengan sekelompok prajurit itu." Salah satu dari mereka mengingatnya.
"Jadi sebelumnya benar aku sudah mati?" tanya orang itu mewakili yang lain.
"Benar..." Semua orang yang menyaksikan membenarkan.
"Jika memang begitu bagaimana caranya kami bisa hidup kembali?" Orang itu tampak kebingungan, begitupun yang lainnya.
"Semua itu berkat dia…" Pria dewasa menunjuk ke salah satu arah. Pandangan semua penduduk desa segera terarah pada Zero yang tengah berhadapan dengan Sherria.
"Dia yang telah menghidupkan kalian semua," jelas pria dewasa itu yang membuat mereka yang hidup kembali tidak bisa mempercayainya.
"Ya. Kami tahu kalian pasti akan berpikir demikian. Awalnya kami juga tidak bisa mempercayainya tapi kami melihatnya secara langsung. Dia sosok yang sudah menyelamatkan desa kita dari sekelompok orang itu. Dan barusan kami semua yang ada di dalam menyaksikan bagaimana dia menghidupkan kalian."
Melihat bagaimana reaksi rekannya yang terlihat percaya dengan apa yang diucapkan oleh pria dewasa itu mereka tidak ada pilihan lain selain ikut percaya.
"Kalau boleh tahu siapa dia sebenarnya?" tanya orang itu.
"Sudah pasti dia seorang dewa. Tidak ada makhluk yang bisa melakukan hal semenakjubkan ini selain dewa."
Semua orang yang melihat aksinya tadi setuju dengan perkataan pria dewasa itu.
"Dewa…" Mereka yang dibangkitkan kembali tidak percaya akan ada dewa yang datang menyelamatkan desa ini dan menghidupkan kembali mereka.
"Sudah, ayo kita semua ucapkan terima kasih padanya…" ajak Pria dewasa.
Mereka yang terbaring membangkitkan diri. Kemudian semuanya berjalan menghampiri Zero lalu bersujud di depannya.
Zero berbalik saat melihat Sherria bangkit dan pandangannya terarah ke belakangnya. Dia menemukan para penduduk desa sudah dalam posisi bersujud.
"Dewa, apa anda yang sudah menghidupkan kami?" tanya mereka yang telah dihidupkan kembali.
"Dewa?" Zero dan Sherria menaikkan kedua alisnya mendengar istilah itu.
Zero terkekeh dalam hatinya, 'Memang tidak heran mereka menganggapku sebagai dewa, mengingat menghidupkan orang yang sudah mati bukanlah hal yang biasa,' pikir Zero.
"Dewa?" Zero terkekeh keras menanggapi panggilan mereka, "Salah, aku bukan dewa. Jangan pikir hanya karena aku menghidupkan kalian aku adalah dewa."
__ADS_1
Mendengar hal itu mereka menengadahkan kepalanya. Mereka saling berpandangan sesaat sampai pria dewasa mewakili mereka bertanya.
"Kalau boleh tahu, siapa Tuan sebenarnya?"
"Aku?" Zero terkekeh sambil menyilangkan kedua tangan di dada, "Aku adalah makhluk istimewa. Jangan samakan aku dengan makhluk banyak tingkah yang kalian sebut sebagai dewa itu. Jijik aku mendengarnya." Zero bersikap angkuh di hadapan mereka.
Mereka terdiam dalam posisinya, tidak ada yang bisa menanggapi sikap angkuh dari bocah yang berdiri di depannya.
"Sekarang berdirilah, jangan terlalu melebih-lebihkan diriku. Anggap saja sekarang aku adalah raja kalian,"
Mereka menuruti perkataan Zero dan berdiri.
"Tuan, kami ucapkan banyak sekali terima kasih karena telah menghidupkan kami kembali." Semuanya membungkukkan tubuhnya sekali berterima kasih.
"Ya. Sama-sama. Kuharap kehidupan yang aku berikan ini bisa kalian gunakan dengan baik."
"Baik, Tuan! Mulai sekarang nyawa kami milik Anda. Apapun yang Anda katakan akan kami laksanakan," kata salah satu dari mereka mewakilkan kesembilan orang itu.
"Bagus, aku suka dengan semangat kalian." Zero tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepala
"Anu~Tuan..." Salah seorang wanita terdengar ragu-ragu mengatakan sesuatu. Pandangan mereka terarah padanya.
"Ada apa?" Zero melirik ke arah wanita itu.
"Karena Tuan bisa membangkitkan mereka, Bisakah Tuan menghidupkan anakku kembali? Sebagai balasannya aku akan melakukan apapun yang Tuan inginkan," pinta wanita itu.
"Ayahku juga, Tuan. Dia baru beberapa hari ini meninggal."
"Kekasihku beberapa hari yang lalu mengorbankan nyawanya demi menyelamatkanku."
Satu demi satu dari mereka mulai meminta hal yang sama pada Zero.
"Tidak mau." Dua kata yang terdengar dingin dari mulut Zero membuat mereka berhenti bersuara dan membuat mereka yang tadi meminta merasa kecewa.
Zero memejamkan matanya sesaat sebelum ketika membuka matanya kembali sorot matanya berubah menjadi tajam menatap mereka.
"Jangan salah paham dulu. Sudah kubilang bukan aku tidak peduli dengan kondisi dan situasi kalian. Aku membangkitkan mereka bukan tanpa sebab, karena menurutku sembilan orang yang rela mempertaruhkan nyawanya demi desa ini suatu saat akan menjadi orang yang berguna bagi diriku dan kerajaanku…"
"Lantas sekarang kalian ingin bilang kalau sosok yang ingin kalian bangkitkan bisa berguna?" kata-kata mereka segera ditebak oleh Zero.
Zero memejamkan matanya lagi sambil tertawa pelan, "Hahaha, kalian jangan salah dulu mengartikannya."
Dia membuka matanya kembali namun sorot matanya tidak lagi tajam seperti tadi, melainkan berubah menjadi angkuh.
"Biar kuberitahu pada kalian, aku adalah orang yang suka pilih-pilih. Biarpun menurut kalian mereka bisa berguna tapi jika aku tidak, aku tidak akan pernah menerimanya. Semuanya tergantung pada penilaianku sendiri, mengerti?" Zero menekan kata terakhirnya.
Mereka menundukkan kepalanya dan serempak.berkata, "Mengerti, Tuan..."
Meski berkata demikian mereka terlihat seperti kecewa mendengarnya.
"Tidak mau bukan berarti aku tidak bisa melakukannya..." kata-kata itu seketika membuat mereka kembali menegakkan kepalanya.
"Aku akan mengabulkan permintaan kalian setelah kalian memenuhi satu syarat," kata-kata itu memberikan harapan pada mereka.
"Apa itu, Tuan?" tanya mereka serempak penuh harap.
__ADS_1
"Kalian harus menjadi orang yang berguna dulu di hadapanku, dan buat aku suka atau tertarik pada kalian, dengan begitu aku akan mengabulkan permintaan kalian itu..."