
Selesai membantu Charla meningkatkan kekuatannya selanjutnya giliran Sherria yang sejak tadi menunggu di ruangan sebelah.
Saat Sherria memasuki ruangan, Zero langsung saja menyuruhnya untuk memposisikan diri di atas ranjang kasur.
"Sherria, bagaimana keadaan tanganmu?" Zero ikut memposisikan diri di belakang Sherria, masih dalam wujud pria dewasa.
"Tanganku baik-baik saja, Zero-sama. Aku tidak merasakan kendala apapun."
"Syukurlah kalau begitu… "
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, Zero-sama?" tanya Sherria.
"Etto...Mm…apakah kau bisa melepaskan bajumu?" pinta Zero terdengar sedikit ragu, sama seperti saat meminta hal ini pada Charla sebelumnya.
"Eh?" Sherria tersentak kaget. Dirinya mencoba mencerna perkataan Zero, memastikan kalau barusan dirinya tidak salah dengar.
Sampai ketika dirinya memastikan kalau itu benar, wajah Sherria seketika memerah sampai mengeluarkan uap.
"Me-melepaskan bajuku, Zero-sama? Itu...anu...Bu-bukankah Zero-sama sudah melakukannya dengan Nee-san tadi?" Sherria menjadi salah tingkah.
"H-hah?B-Bagaimana kau mengetahuinya? Apa kau mengintipnya barusan?" Zero terkejut mendengarnya.
"Ti-tidak, Zero-sama. Aku hanya tak sengaja mendengarnya. Aku sungguh tidak mengintipnya. Sumpah!" sangkal Sherria segera sambil menggeleng keras.
Sherria mengetahui hal itu karena sebelumnya ketika dirinya keluar ruangan dan hendak ke kamar mandi, dia tak sengaja mendengar desahan kakaknya di ruangan sebelah sehingga dia berpikir Zero pasti tadi sedang melakukan '69' dengan kakaknya.
"Ahk… sudah hentikan, jangan dibahas lagi. Ini memalukan. Lagi pula aku tidak sungguh melakukannya." Zero menggaruk kepalanya. Dia paling tidak suka membahas hal seperti ini.
"Eh, benarkah?"
"Ya."
Sherria berbalik menghadap Zero dan memasang wajah bersalah, "Maafkan aku, Zero-sama, karena sudah membicarakan hal seperti ini dan sumpah aku tidak mengintipnya tadi."
Zero mengibaskan tangannya, "Jangan dipikirkan, sekarang lepaskan saja bajumu—ah, maaf, maksudku hanya setengah belakang bajumu saja. Sepertinya tadi aku sudah salah berbicara, ya...." Zero menyadarinya sehingga membuat Sherria berpikiran yang aneh-aneh tadi.
Sherria berbalik, terdiam, ragu menuruti kemauan Zero karena suatu alasan yang dia tidak ingin Zero ketahui.
"Tenang saja, Sherria. Aku tidak akan melakukan apapun dengan tubuhmu." Zero memegangi pundak gadis rubah itu.
__ADS_1
Sherria menundukkan wajahnya semakin ragu menuruti permintaan Zero.
"Bukan itu, Zero sama…Kalau Zero-sama menginginkannya… aku bisa memberikannya..." Sherria pelan-pelan mengatakan itu.
"Sherria…" Zero beralih memegangi atas kepala Sherria, "Sebelumnya sudah kukatakan bukan, tubuhmu hanya milik pria yang kau cintai…" Dengan lembut, Zero mengelus rambut oren yang tumbuh di kepala Sherria
"Tapi…"
'Pria yang kucintai hanya, Zero-sama.' Sherria ingin mengatakan itu langsung pada Zero, tapi dia ragu untuk mengatakannya.
"Zero-sama, maaf… kali ini aku tidak bisa menuruti permintaanmu." Suara Sherria terdengar sendu dengan ditaburi rasa malu di dalamnya.
Zero berhenti mengelus kepala Sherria, "Kenapa memangnya? Coba beritahukan padaku alasannya."
Sherria menggigit bibirnya, ragu mengatakan alasannya sebelum perlahan dia meyakinkan diri mencobanya.
"Habisnya tubuhku…tubuhku ini sudah kotor, Zero-sama… aku malu memperlihatkannya padamu..." lirih Sherria. Jejak-jejak air mata mulai terlihat di kelopak matanya.
"Tidak perlu malu, Sherria. Coba perlihatkan padaku. Aku ingin melihatnya." Zero berkata dengan intonasi tegas.
Dengan membawa perasaan malu, Sherria pun perlahan membuka setengah baju belakangnya, memperlihatkan sesuatu yang memalukan pada Zero.
"Apa semua ini ulah majikanmu sebelumnya?" tanya Zero yang mengetahui sebelumya Sherria pernah menjadi seorang budak.
"Emm…" Sherria mengangguk pelan sebagai jawaban. Dia hendak menutup kembali tubuh belakangnya karena malu, namun Zero menahannya dengan memeluknya.
"Sherria… Kau pasti sudah mengalami sesuatu yang menyakitkan sebelum bertemu denganku..." Zero turut prihatin dengan masa lalu Sherria. Tanpa sadar dia teringat dengan kekasihnya yang dulu yang juga memiliki nasib yang sama dengan Sherria, dan bahkan lebih buruk.
Sherria bisa merasakan dekapan penuh kasih sayang dan kepedulian yang Zero berikan padanya. Dia senang bisa merasakan dipeluk seperti ini oleh sosok yang dicintainya.
"Oleh karena itu aku bersyukur bisa bertemu denganmu, Zero-sama. Aku senang Zero-sama menyelamatkanku waktu itu..." Sherria berkata penuh rasa syukur.
"Sherria… tidak peduli siapa yang menjadi majikanmu, aku berjanji akan menemukannya dan membalas apa yang telah diperbuat padamu. Aku berjanji akan membalas perbuatannya ribuan kali lipat dengan yang sudah dia lakukan padamu." Zero berkata sungguh-sungguh.
"Terima kasih Zero-sama karena sudah mau peduli denganku." Sherria tersenyum, pipinya merah merona.
'Aku mencintaimu…' Dua kata itu hanya bisa Sherria ucapkan dalam hatinya.
*~*
__ADS_1
Setelah Zero membantu Charla dan Sherria membuat Second Origin, keesokan harinya Zero juga membantu meningkatkan tingkatan sihir Rimuru hingga sama seperti mereka.
Di hari itu juga Zero membantu meningkatkan elemen sihir dalam diri Sherria dan Rimuru mengingat elemen sihir merupakan salah satu aset terpenting untuk mengembangkan pondasi sihir dan meningkatkan kekuatan mereka.
Sedangkan Charla yang tidak memiliki elemen sihir, disuruh untuk fokus merombak lingkaran sihirnya menjadi sirkuit sihir, mengingat dirinya sekarang sudah mempunyai wadah kedua yang menjadi pondasi paling penting untuk membuat sirkuit sihir.
Meski sulit, Charla berhasil merombak satu sampai tiga lingkaran sihir dalam satu hari itu tanpa menggunakan sumber daya. Menurut Zero itu merupakan pencapaian yang mengesankan.
Cukup kalian ketahui lagi, jika seorang penyihir elemen mempunyai kapasitas sihir yang besar, seorang penyihir non-elemen mempunyai kelebihan dalam proses pembentukan lingkaran atau sirkuit sihir.
Beberapa hari kemudian, Zero berhasil meningkatkan tingkatan sihir mereka bertiga hingga berada di tingkat Magic Warrior tahap akhir dengan dibantu sumber daya Air Mata Putri Duyung.
Mereka hanya perlu memperdalam kemahiran dan bakat sihir mereka jika ingin mencapai Magic General tahap awal, untuk itu hari ini Zero berniat mengajak mereka berlatih.
*~*
"Mengesankan…ini sungguh mengesankan..." Gladius terkesan melihat Charla, Sherria dan Rimuru mampu berkembang secepat itu hanya dalam waktu beberapa hari.
Gladius tidak tahu trik seperti apa yang Zero lakukan untuk meningkatkan kekuatan mereka karena menurutnya semua sumber daya yang dibeli saat itu tidak akan membuat kekuatan mereka meningkat sebesar ini.
Gladius hanya bisa menebak Zero pasti mempunyai sumber daya yang sangat berkualitas yang bisa meningkatkan kekuatan seseorang dengan cepat.
"Ini semua berkat Zero-sama, Gladius-san." Charla mewakili, menjawab keterkesanan Gladius.
Saat ini mereka semua tengah berada di depan pintu masuk penginapan.
"Gladius, kau bilang di kota ini terdapat tempat berlatih yang bagus bukan?" tanya Zero. Dulu Gladius pernah menceritakan tempat itu padanya.
"Apa Tuan ingin kesana?"
"Ya. Aku ingin menguji kekuatan mereka."
"Baik, aku akan membawa kalian kesana."
Gladius segera menuntun Zero bersama yang lainnya ke tempat yang dimaksud. Butuh beberapa menit untuk mereka sampai di sana.
Tempat yang Gladius maksud itu ternyata bangunan tertinggi dan termegah di kota tersebut. Zero tidak mengira kalau bangunan itu di dalamnya ternyata terdapat fasilitas untuk berlatih.
Saat memasuki ke dalam bangunan yang megah itu, Zero dan yang lainnya menemukan tempat untuk berlatih itu luas sekali. Di dalamnya mereka melihat banyak petualang maupun lainnya sedang melatih tubuh dan keterampilan mereka.
__ADS_1
"Tempat ini sangat bagus. Kau tidak salah merekomendasikan tempat ini padaku." Zero merasa cocok dengan tempat itu.