Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Pertemuan tak Terduga


__ADS_3

Selama beberapa waktu berjalan di tengah hutan, Zero tidak menemukan apapun yang menarik. Merasa bosan dia pun meminta Sistem untuk menghiburnya.


"Sistem, apa kau punya sesuatu yang menarik untuk menghiburku?" tanya Zero sambil membuka menu store-nya dan membeli satu permen lolipop lalu mengemutnya sambil berjalan.


[Ada. Kalau Anda ingin hiburan Sistem bisa melakukannya]


"Hiburan seperti apa yang kau maksud?" Zero penasaran.


[Anda bebas menentukannya. Anda bisa meminta Sistem bernyanyi, bercerita, bermain tebak-tebakan atau apapun itu]


"Mm...begitu." Zero merasa tertarik.


"Baiklah, kalau begitu coba bernyanyilah…" titahnya.


[Baik]


Menerima perintah Zero, Sistem mulai bernyanyi.


"Stop…!" Zero dengan cepat menyuruh Sistem berhenti karena suara yang keluar dari mulut Sistem terdengar kaku dan tidak enak untuk didengar, tidak layak disebut sebagai nyanyian.


"Itu yang kau sebut bernyanyi?" Protes Zero.


[Ya. Apa ada masalah?]


"Tentu saja, suaramu terlalu jelek."


Sistem terdiam sebelum kembali bersuara.


[Kalau begitu bagaimana dengan hiburan yang lain?]


Zero menimbang sebentar lalu memutuskan,"Yasudah, coba ceritakan satu cerita yang menarik." Zero memberi perintah lain.


[Baik]


Sistem menerima perintah Zero dan mulai menceritakan satu kisah. Namun sayangnya lagi-lagi Zero menyuruhnya berhenti tepat di paragraf pertama.


"Kau bercerita atau sedang mengeja sesuatu?" Protes Zero saat mendengar kalimat yang dituturkan oleh sistem tidak layak didengarkan saat bercerita.


[Apa ada masalah?] Sistem dengan polos bertanya.


Zero menggaruk kepalanya, "Ahk, sudah lupakan, sekarang lebih baik bermain tebak-tebakkan saja." Dia mencoba hiburan lain.


[Baik. Apa Anda ingin tebakan yang lucu, romantis, menyedihkan atau menakutkan?] Sistem memberi tiga pilihan.


"Yang lucu saja,"


[Baik]


Sistem mulai mengeluarkan tebakan terbaiknya.


[Coba tebak, kenapa matahari tenggelam?]


"Kenapa matahari tenggelam…" Zero bergumam, mengelus dagu berpikir," Mungkin karena ingin pulang ke tempat asalnya, " jawabnya.


[Salah]


"Lalu?"


"Matahari tenggelam karena tidak bisa berenang."


Seketika Zero ingin tertawa mendengarnya, "Benar juga..."


[Apa itu terdengar lucu?]


"Ya. Berikan aku tebakan yang lain lagi." Zero masih belum cukup.


[Baik]


Sistem mulai menyiapkan tebakan selanjutnya.


[Kenapa zombie kalau ingin menyerang mesti bareng-bareng?]


"Hm…" Zero mencari jawaban yang tepat, "Karena mereka setia kawan," tebaknya.


[Salah]

__ADS_1


"Lalu?"


[Karena kalau sendiri namanya bukan zombie tapi zomblo]


Kali ini Zero tertawa mendengarnya, "Hahaha, sialan. Lagi-lagi aku salah."


[Apa Anda ingin lanjut?]


"Tidak. Sekarang giliranku yang memberi tebakan untukmu."


[Sistem siap menjawabnya]


Zero bertopang dagu memikirkan tebakan yang tidak bisa ditebak oleh Sistem.


"Coba tebak. Di cuaca yang sedang mendung terdapat 5 orang tapi hanya ada 1 payung. Bagaimana caranya agar mereka semua tidak kehujanan?" Zero melontarkan tebakannya.


[Mm…] Sistem terdengar berpikir.


[Berteduh dulu] tebaknya.


"Salah."


[Lalu, apa jawabannya?]


"Jawabannya, ya tinggal jalan saja. Kan baru mendung, belum hujan." Zero menjawab santai sambil tertawa ringan.


[Oh, iya. Sistem salah karena tidak mencerna kata-kata itu terlebih dahulu]


Zero kembali tertawa, "Hahaha, kau ternyata bisa seperti itu juga." ejeknya.


"Sekarang coba tebak ini…"


Disaat Zero hendak memberikan tebakan yang lain tiba-tiba telinganya menangkap suara teriakan minta tolong.


"Nanti saja kita lanjutkan." Zero segera menghentikan main-mainnya dan menuju ke sumber suara berasal.


*~*


Setibanya tak jauh di sana, dari kejauhan Zero melihat seorang gadis demi-human tengah dikejar oleh sekelompok laki-laki yang tampak seperti sedang mempermainkannya.


Zero melangkah santai mendekati gadis yang berlari ke arahnya itu. Namun di tengah langkahnya tiba-tiba gadis itu tersandung sesuatu dan terjatuh.


"Hahaha! Sudah selesai main kejar-kejarannya?"


"Kubilang juga apa, kau tidak bisa kabur dari kami." Sekelompok laki-laki yang semuanya mempunyai tampang sangar itu sampai lebih dulu. Menertawai gadis itu.


Zero menyusul dan berdiri santai di hadapan mereka selagi mengemut permen lolipop di mulutnya. Dia pun bertanya, menarik perhatian mereka.


"Yo, Paman, sedang apa kalian?"


Sekelompok laki-laki itu mengalihkan pandangannya menatap Zero dengan kerutan di dahinya, sedikit terkejut melihat ada seorang bocah di tengah hutan seperti ini.


"Bocah, seharusnya aku yang bertanya, sedang apa kau disini?" tanya salah satu dari mereka.


"Oh, kebetulan lewat saja." Zero menjawab santai, masih mengemut permen lolipopnya.


Sekelompok laki-laki itu saling berpandangan memperlihatkan senyuman licik kemudian serempak mengangguk.


Tiba-tiba ada sesuatu yang masuk dalam pikiran Zero memberitahukan kalau mereka yang di hadapannya berniat melakukan hal yang tidak baik padanya. Zero segera menyadari kalau ini semua pasti karena skill Sage Eye, atau mata bijaknya.


"Adik kecil, apa kau ingin ikut dengan paman?" Salah satu dari mereka mendekat, mencoba bersikap ramah di depan Zero.


"Tidak mau." Zero menolak dengan ekspresi datar. Dia Mengetahui apa yang ingin mereka lakukan.


"Apa yang ingin kalian lakukan pada gadis itu?" Zero menunjuk gadis yang dimaksud.


"Itu bukan urusanmu, lebih baik kau ikut dengan kita kalau kau ingin mengetahuinya," jawab seseorang yang berada di dekat gadis itu.


"Benar adik kecil, bagaimana kalau kau ikut dengan paman." Orang itu mendekat lagi kemudian menggerakkan tangannya berniat menyentuh Zero, "Paman mempunyai mainan yang bagus di rumah…"


Ketika tangan orang itu hampir sampai di pundak Zero, dalam sekali ayunan tangan yang mengeluarkan api, tubuh orang itu seketika berubah menjadi abu yang sontak membuat beberapa orang di belakangnya yang menyaksikan terkejut bukan main.


"Sudah kubilang aku tidak mau… dan jangan sekali-kali coba menyentuhku…" Zero memandangi beberapa orang di depannya dingin, membuat mereka langsung berhenti bernafas dan panik ketakutan.


"Mo-mo-monster!" Tanpa banyak pikir beberapa orang yang ada di sana segera melarikan diri.

__ADS_1


Mengabaikan mereka, Zero mendekati gadis yang tersungkur lemas di depannya. Dari dekat Zero melihat kondisi tubuh gadis demi-human berjenis rubah itu sungguh memprihatinkan, tubuhnya dipenuhi luka memar dan cambukkan serta pakaian yang dia gunakan sudah banyak yang terkoyak memperlihatkan beberapa bagian yang tidak sepantasnya dilihat.


Sayangnya Zero tidak berniat menolongnya dan memilih kembali melangkah pergi meninggalkannya.


"T-tolong…"


Tapi suara gadis itu menghentikan langkah Zero. Dia pun berbalik dan menghampiri gadis musang itu lagi.


'Perasaan ini... Kenapa aku merasakan sesuatu yang rasanya akrab sekali dalam dirinya.' Itu yang Zero rasakan saat memandangi gadis itu lebih jauh.


"Apa perlu aku menolongnya…" Zero menggaruk belakang kepalanya, terlihat malas menolong gadis yang sudah tidak berdaya ditambah lagi dalam kondisi yang memprihatinkan.


"T-tolong…" Gadis itu mendengar perkataan Zero membuatnya menghela nafas.


Lantaran merasa iba dan teringat pada salah seorang demi human yang sama dengannya dia pun memutuskan menolongnya.


Zero membuka menu inventory-nya dan mengambil potion Health kelas tingginya di sana. Dia lalu berjongkok mengamati wajah gadis itu yang tampak dipenuhi luka memar sejenak sebelum membalikkan tubuhnya dan meminumkan potion itu melalui mulutnya.


Secara bertahap luka-luka yang ada di tubuh gadis itu pulih seperti semula, wajahnya yang semula pucat pun kembali berwarna namun tidak memperlihatkan tanda kalau dirinya akan sadar meski tadi dia masih bisa bersuara.


"Benar, mungkin aku bisa menanyakan sesuatu padanya…" Zero teringat akan salah satu tujuannya untuk mencari tahu keberadaan adik Charla. Dia akhirnya memutuskan menunggu gadis itu sadar dengan bersandar di dekat pohon.


Tak lama kemudian gadis itu pun sadar. Dia lalu membangkitkan dirinya.


"Dimana aku…" Gadis itu mengamati keadaan sekitar, mencari tahu keberadaannya sekarang.


"Kau sudah sadar?" Zero membuka matanya saat mendengar suara gadis itu.


Gadis itu menoleh ke sumber suara dan menemukan seorang anak kecil tengah bersandar di pohon.


"Anu~ Apa yang terjadi padaku?" Gadis itu bertanya, belum mengingat apa yang terjadi.


"Kau tidak mengingatnya?" Zero balik bertanya sambil merajut alis.


Gadis itu terdiam mencoba mengingat-ngingat kejadian sebelumnya tapi belum bisa.


Melihat gadis itu masih belum mengingatnya, Zero menghela nafas kemudian menjelaskan, "Kau dikejar sekelompok laki-laki tadi."


Mendengar penjelasan Zero, gadis itu seketika teringat dengan semua kejadian tadi. Dari mulai saat dirinya dikejar-kejar oleh sekelompok laki-laki itu sampai menyaksikan aksi Zero yang saat itu sempat dia lihat secara samar.


Meski enggan untuk percaya tetapi dia mengetahui kalau bocah yang berdiri tak jauh di sampingnya ini adalah sosok yang tadi dia lihat telah menyelamatkannya


"Anu~ Apa Tuan yang sudah menyelamatkanku?" Gadis itu memastikan.


"Tuan?" Zero spontan bergumam mendengar gadis itu tiba-tiba memanggilnya tuan.


"Ya. Kau tidak sadarkan diri tadi…" jelasnya.


"T-Terima kasih, Tuan…" Gadis itu bersujud terimakasih.


"Tidak perlu dipikirkan…" Zero mengibaskan satu tangannya malas. Gadis itu menegakkan tubuhnya kembali.


Gadis itu meneliti tubuhnya saat merasakan rasa sakit yang sejak tadi dia rasakan menghilang, "Lukaku… apa tuan yang menyembuhkannya juga?" tanya nya.


"Ya." Zero menjawab singkat.


"T-Terimakasih banyak, Tuan." Gadis itu berterima kasih kembali, dan hanya dibalas anggukan singkat.


"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi padamu?" tanya Zero.


Gadis itu terdiam sebentar lalu mulai menjelaskan bahwa sebelumnya dia mencoba melarikan dari majikannya namun saat itu aksinya segera diketahui.


Majikannya saat itu juga langsung menyuruh bawahannya untuk mencarinya. Dan seharian ini dia terus berlari untuk menjauhkan diri dari kejaran mereka karena tidak ingin kembali lagi ke majikannya yang kejam.


"Begitu, ya." Zero sudah menebak pasti gadis di depannya ini adalah seorang budak.


"Namaku Zero. Siapa namamu?" Zero memperkenalkan diri.


"S-Sherria, namaku Sherria..." Gadis itu ikut memperkenalkan diri terbata-bata.


"S-Sherria? Itukah namamu?" Zero segera bangkit begitu mendengar nama itu.


"I-Iya, apa ada yang salah." Gadis yang terlihat pemalu itu menjadi takut melihat reaksi Zero.


"Kau… " Zero mendekati gadis itu. Begitu sampai di dekatnya dia lalu memegang kedua bahu gadis itu membuatnya mengerjat takut.

__ADS_1


"Apa kau Sherria adiknya Charla?" tanya nya menatap serius Sherria. Dia tidak menduga jika sosok yang dia selamatkan ternyata adalah sosok yang sedang dia cari.


"Charla? Siapa itu?"


__ADS_2