
"Bagaimana menurutmu dengan cerita barusan. Terdengar keren, kan. Aku yakin cerita ini pasti akan disukai oleh banyak orang jika kau yang membuatnya," kata Zero setelah menjelaskan cerita yang dia pikir bagus untuk Viona buat.
"Emm…kedengarannya bagus." Viona setuju setelah menilai cerita tersebut, "Mungkin nanti aku akan membuatkannya untukmu," lanjutnya sambil tersenyum melihat Zero.
"Aku tidak sabar menantikannya." Zero membalas senyuman Viona.
Setelah itu tidak ada lagi percakapan di antara mereka. Zero dan Viona terduduk diam selama beberapa waktu untuk sekadar menikmati momen indah seperti ini yang sudah lama tidak mereka rasakan. Kedua mata mereka tertuju pada pemandangan kota di depannya, angin halus yang berhembus menciptakan rasa sejuk dan nyaman di dalam diri mereka. Rasanya mereka berharap momen seperti ini bisa terus berlangsung selamanya.
"Dibandingkan denganku, kamu yang sekarang sangat berbeda dari yang dulu kukenal, Zero." Viona lebih dulu memecah keheningan sambil menoleh ke Zero yang duduk di sampingnya. "Ketika melihat sikapmu yang sekarang, aku merasa seperti sedang melihat orang lain meskipun aku tahu kalau itu dirimu." Viona membandingkan sosok Zero yang sekarang.
"Benarkah?" Zero menaikkan sedikit alisnya dan tersenyum melihat Viona.
"Emm…" Viona mengangguk pelan lalu memusatkan pandangannya kembali ke depan.
"Aku tahu sikapmu bisa berubah seperti ini pasti terjadi karena kamu sudah melalui perjalanan yang begitu panjang dan berat seperti cerita yang kamu ceritakan sebelumnya." Viona kali ini percaya dengan cerita yang tadi Zero ceritakan yang menjadi alasan mengapa sikapnya bisa berubah seperti sekarang.
"Begitulah..." Zero membenarkan. Dia menghela nafas sejenak sambil memejamkan mata kemudian melanjutkan, "Diriku yang dulu dengan diriku yang sekarang tidak lagi sama. Aku bukan lagi Akira yang seperti dulu yang selalu bisa berbuat baik walau apapun keadaannya.
Aku yang sekarang sangat jauh dari kata baik, Viona. Andaikan kau tahu apa saja yang sudah aku lakukan selama hidup di dunia ini, kau pasti akan membenciku diriku yang sekarang." Ketika mengatakan itu semua, Zero teringat dengan perbuatan buruk yang pernah dilakukannya yang mungkin bisa membuat Viona tidak suka terhadapnya.
Viona bisa merasakan berbagai macam perasaan yang sulit dijelaskan ketika Zero menjelaskan semua itu padanya. Yang pasti perasaan itu bukanlah perasaan yang bisa membuatnya senang dan Viona sedikit mengerti tentang perasaannya tersebut.
"Tidak…" Viona menyangkal pernyataan Zero yang berkata dia pasti akan membencinya. Dia menoleh, meraih tangan Zero, menggenggamnya, dan berkata secara lembut, "Seburuk apapun dirimu yang sekarang, aku tidak akan pernah membencimu, Zero..."
Zero senang mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Viona, tetapi dia sadar kalau perbuatannya selama ini memang akan membuat Viona tidak suka terhadapnya.
"Kau yakin tidak akan membenciku?" Zero menatap Viona serius, mencari tahu apakah Viona yakin dengan jawabannya itu andaikan dia memberitahukan perbuatannya selama ini.
"Emm…" Viona mengangguk pelan diikuti senyuman ringan.
"Sekalipun aku sudah membunuh banyak nyawa, termasuk kedua orang tuamu yang dulu." Zero berkata dingin, menguji kepercayaan Viona setelah mendengar pernyataan tersebut.
Senyuman Viona seketika hilang saat mendengar pernyataan dari Zero yang berhasil mengejutkannya. Namun sesaat kemudian dia segera mengerti alasan mengapa Zero bisa bertindak demikian.
Viona bisa memahami bagaimana perasaan Zero saat itu yang telah melalui peristiwa yang begitu berat dan menyakitkan. Kemungkinan saat Zero melakukan itu, dia sedang dalam situasi yang benar-benar membuatnya menderita.
Zero mendengus pelan diikuti senyuman kecil saat melihat reaksi Viona yang tertegun setelah mendengar pernyataan tersebut.
"Kau pasti benci kan mengetahui hal itu. Memang seperti itulah diriku yang sekarang. Aku bukan lagi orang baik seperti yang kau kenal. Aku yang sekarang benar-benar buruk, Viona..." Zero mengatakan itu seolah tanpa beban padahal hatinya sebenarnya takut jika Viona memang akan membenci dirinya yang seperti itu.
__ADS_1
Viona memposisikan dirinya berhadapan dengan Zero sebelum menjawab,"Aku tahu apa yang kamu lakukan itu merupakan suatu hal yang buruk, tapi aku tetap tidak akan membencimu, Zero. Seburuk apapun dirimu aku tidak akan membencimu..." Viona mengulangi kalimat yang sama untuk menunjukkan pada Zero kalau dirinya menerimanya meski dalam keadaan terburuk sekalipun.
"Kenapa begitu?" Zero ingin tahu alasannya.
"Sebab aku sangat memahami siapa dirimu. Aku tahu kamu pasti mempunyai alasan yang bisa kumengerti kenapa kamu bisa bertindak demikian. Aku percaya kamu tidak seburuk apa yang kamu ceritakan. Aku percaya itu, Zero," tegas Viona menatap Zero dengan sungguh-sungguh untuk memberitahukan kalau dia percaya padanya.
Zero tersenyum mendengar jawaban Viona yang sesuai dengan yang diharapkannya. Dia mengelus rambut Viona secara lembut, selembut senyuman yang dia tunjukkan padanya. "Terima kasih Viona karena sudah mau memercayaiku. Aku berjanji dalam keadaan apapun aku tidak akan menjadi orang yang buruk. Aku akan menggunakan kekuatanku ini dengan benar dan tidak akan pernah menggunakan kekuatanku ini untuk melukai orang-orang yang kusayang," kata Zero terdengar meyakinkan.
"Aku percaya padamu, Zero." Viona menunjukkan senyuman terbaiknya, percaya jika Zero tidak akan mengingkari janjinya.
Zero dan Viona kemudian kembali memposisikan dirinya seperti semula. Lalu Viona lanjut membahas tentang kehidupan Zero yang sekarang.
"Zero, aku tidak menyangka jika di dunia ini kamu ternyata orang yang hebat," kata Viona sambil menatap langit cerah di atasnya.
"Orang hebat, ya…" Zero membaringkan tubuhnya di atas hamparan rumput, bersiap mendengarkan sehebat apa dirinya yang sekarang menurut Viona.
"Aku sudah mendengar banyak hal tentangmu, baik dari Charla maupun orang-orang. Aku turut senang saat mendengar kamu mempunyai banyak prestasi yang mengagumkan. Apalagi semua itu berkaitan dengan keselamatan banyak orang. Kamu benar-benar hebat, Zero." Viona senang dengan semua prestasi yang telah Zero capai.
"Aku juga senang dengan semua pencapaianku selama ini. Berkat itu, aku bisa mendapatkan apa yang aku mau." Zero menanggapi pujian Viona dan teringat dengan satu demi satu pencapaiannya.
Percakapan mereka kembali terhenti untuk beberapa saat. Zero yang sedang terbaring di atas hamparan rumput memandangi Viona yang tengah khusyuk menikmati pemandangan kota di depannya. Angin kecil bertiup halus menerbangkan rambut Viona, memperlihatkan kecantikannya yang tiada tara dan berhasil membuat Zero terpukau melihatnya.
"Kau tahu Viona, berkat pencapaianku waktu itu karena telah menyelamatkan kota ini dari kehancuran, aku diberi hadiah berupa sebuah wilayah oleh kerajaan," kata Zero.
"Heh, benarkah?" Viona bereaksi menatap Zero, terlihat senang mendengar hal itu.
"Ya. Rencananya di wilayah ini aku ingin menciptakan sebuah tempat yang layak untuk ditinggali oleh orang-orang yang sesuai dengan kriteriaku. Tempat yang bagus dan ideal di mana tidak ada orang-orang busuk di dalamnya. Aku berharap mereka yang tinggal di tempat ini bisa saling menjalin hubungan baik dan mau bahu-membahu membantu sesama. Aku ingin menciptakan sebuah tempat yang layak untuk ditinggali oleh orang-orang seperti mereka." Zero menjelaskan tujuannya pada Viona.
"Tujuanmu untuk membuat tempat seperti ini begitu mulia, Zero. Aku sangat mendukung rencanamu ini dan semoga semuanya berjalan sesuai dengan apa yang kamu harapkan." Viona merasa tersentuh mendengar Zero masih begitu peduli dengan orang lain. Dia senang karena sikapnya yang mulia ini tidak hilang dalam dirinya.
"Kalau begitu Viona, apakah kau mau ikut bersamaku untuk tinggal di sana. Aku ingin mulai sekarang kau hidup bersama denganku..." Zero memberitahukan maksud sebenarnya mengatakan itu pada Viona.
"Itu…" Viona yang terkejut mendengar permintaan Zero tidak bisa langsung menjawabnya karena suatu alasan.
"Kenapa?" Zero terlihat sangat berharap Viona mau menerima permintaannya.
Viona tidak tahu harus menjawab apa. Di satu sisi dia sangat ingin bisa kembali bersama Zero namun di sisi lain dia tidak ingin jika kehadirannya ini mengganggu orang-orang yang sebelumnya sangat dekat dengan Zero.
"Maaf Zero, aku tidak bisa." Dengan berat hati, Viona memutuskan menolak ajakan Zero.
__ADS_1
"Jangan membohongi perasaanmu sendiri, Viona. Aku tidak suka. Aku bisa melihatnya dengan jelas kalau kau masih ingin kembali bersamaku seperti dulu. Kau tidak bisa membohongi itu, Viona. " Zero mengetahui alasan mengapa Viona menolak ajakannya. Dia juga sudah menyadari hal itu sedari awal.
"Maaf Zero, tapi menurutku lebih baik kita berteman saja. Sekarang kamu sudah bahagia bersama mereka, aku tidak ingin kehadiranku mengganggu hubungan kalian." Viona memberitahukan alasannya.
"Tidak, aku menolaknya. Aku akan jauh lebih bahagia jika bersamamu, Viona. Soal mereka kau tidak perlu khawatir. Mereka tidak seperti yang kau pikirkan. Aku yakin mereka pasti akan menerimamu." Zero keukeuh pada keinginannya untuk mengajak Viona tinggal bersamanya.
Viona membuang muka, sulit memutuskan apakah harus menerima permintaan Zero atau lebih baik menolaknya. Zero yang melihat Viona terdiam tanpa menjawab keinginannya hanya bisa menghela nafas. Namun dia masih belum mau menyerah untuk mengajak Viona ikut bersamanya.
Zero kemudian memegangi kedua pundak Viona, menatapnya dalam-dalam dan berkata, "Viona, kau pasti tahu kenapa takdir mempertemukan kita kembali. Itu karena dia ingin kita bisa bersama lagi, tapi kenapa kau malah menyangkalnya seperti ini."
Viona membuang wajahnya ke samping, merasa bimbang mengambil keputusan yang tepat. Perkataan Zero memang sepenuhnya benar, hanya saja dengan situasinya sekarang dia benar-benar kesulitan menerima keinginannya itu.
"Aku tahu Zero, tapi…" Viona tidak bisa melanjutkan perkataannya karena merasa akan sia-sia. Dia tidak tahu bagaimana cara menolak keinginan Zero tanpa harus menyakitinya.
Zero yang merasa perkataan saja tidak cukup untuk meyakinkan Viona memilih bersujud di hadapannya, memohon dengan sangat agar Viona mau menerima keinginannya. Dia tidak peduli dengan harga dirinya, selama dia bisa membawa Viona untuk ikut bersamanya dia akan melakukan segala cara.
"Kumohon Viona tinggal lah bersamaku. Aku benar-benar membutuhkanmu," kata Zero di kala dirinya bersujud.
Viona yang melihat Zero sampai bertindak seperti itu menjadi serba salah. Dia segera meminta Zero untuk memposisikan dirinya seperti semula namun Zero tidak ingin menuruti perkataannya sebelum Viona mau menerima permintaannya tersebut.
"Viona jangan membohongi perasaanmu sendiri. Kau juga ingin bisa kembali bersamaku, kan. Coba pikirkan lagi..." Zero terus membujuk Viona dan membuatnya semakin dilema dengan situasinya sekarang.
Viona memikirkan kembali permintaan Zero dan mempertimbangkan keputusan yang tepat. Setelah beberapa saat memikirkannya akhirnya Viona sampai pada satu keputusan.
"Berdirilah, kamu tidak perlu sampai bersujud seperti ini. Aku menjadi serba salah melihatnya," kata Viona sambil memegang bahu Zero.
"Yang kamu katakan benar, aku tidak bisa membohongi perasaanku. Aku ingin bisa bersamamu lagi, Zero. Apa benar tidak masalah jika aku ikut bersamamu."
Zero segera membangkitkan dirinya setelah mendengar Viona akhirnya mau menerima keinginannya. Ketika sudah berdiri, dia langsung memeluk Viona dan berkata, "Tentu saja, Viona. Aku sangat senang jika kau mau bersamaku. Kau tidak perlu khawatir soal mereka. Aku bisa meyakinkan mereka untuk menerimamu." Zero berusaha membuat Viona yakin pada keputusannya.
"Maaf karena sudah tidak jujur dengan perasaanku. Aku harap mereka mau menerimaku, Zero. Aku ingin bersamamu lagi..." Viona membalas pelukan Zero. Dia juga senang bisa bersama lagi dengan pria yang dicintainya.
"Tapi Zero, aku tidak bisa pergi denganmu sekarang. Bisakah kamu menungguku sampai aku bisa membujuk keluargaku yang sekarang," pinta Viona.
"Aku mengerti. Aku akan menunggumu kapanpun kau siap..." kata Zero terlihat sangat senang.
"Terima kasih..."
Zero melepaskan pelukannya setelah beberapa saat lalu berkata, "Viona bisakah untuk hari ini aku menghabiskan waktu denganmu karena besok aku akan pergi dari kota ini," pinta Zero.
__ADS_1
Viona hanya mengangguk, mengiyakan kemauan Zero.