Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Sarang Perampok Bulan Merah


__ADS_3

Zero bersama Gladius pulang kembali ke penginapan setelah mendapatkan semua informasi tentang perampok itu dari Lawrence.


Keesokan harinya mereka berdua dibawa oleh Lawrence ke salah satu tempat di pusat kota untuk mengambil sesuatu yang bisa dijadikan alat untuk melacak keberadaan perampok itu.


Setelahnya Zero kembali lagi ke penginapan untuk memberitahukan sesuatu pada Charla dan yang lainnya.


"Zero-sama, apa kita akan berangkat sekarang?" Charla bertanya dengan senyuman berseri. Dia sepertinya sudah tidak lagi memikirkan kejadian sebelumnya dan sudah kembali bersemangat seperti biasa.


"Tidak, kalian diam saja disini. Kali ini hanya aku dan Gladius saja yang akan menjalankan quest terakhir ini." Zero menolak mengajak mereka karena beberapa alasan.


"Kenapa memangnya?" Senyuman Charla beralih melengkung ke bawah. Yang lainnya saling berpandangan dengan ekspresi muram mendengarnya.


"Apa ini ada kaitannya dengan kejadian kemarin?" Sherria bertanya saat merasa demikian.


"Ya. Itu salah satunya." Zero membenarkan.


"Aku ingin ikut, Zero-sama. Kali ini aku pasti bisa menjaga diri. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi." Charla memohon untuk ikut diikuti yang lainnya juga.


"Tidak, Charla. Aku tidak bisa membawa banyak orang untuk menjalankan quest ini. Berdasarkan informasi yang aku dapatkan semalam, quest ini sangat berbahaya. Kalian tahu kan quest kali ini seperti apa?"


Mereka yang tidak diajak mengangguk mengetahui misi dari quest terakhir tersebut. Tapi tetap saja mereka berharap Zero bisa mengajaknya untuk ikut.


"Dan juga ada satu hal yang tidak bisa kalian lakukan dalam menjalankan quest ini." Zero menatap ke arah Charla dan Sherria.


"Apa itu?" Mereka bertanya.


"Membunuh seseorang..." Zero berkata dingin,"Apa kalian bisa melakukannya? Jika kalian bisa melakukannya aku akan mempertimbangkannya kembali," lanjutnya dengan sorot mata yang tajam.


"Itu…" Charla dan Sherria tidak bisa menjawab karena apa yang Zero ucapkan itu memang benar. Mereka belum mempunyai keberanian untuk merenggut nyawa seseorang.


Seketika mereka menjadi bungkam dan tidak mempunyai pilihan lain selain mengikuti saran Zero.


Gladius di belakang Zero mendenguskan sedikit nafasnya ke samping sambil tersenyum tipis. Dia sudah menebak kalau kedua gadis Demi-human itu tidak akan berani melakukannya dan menurutnya orang seperti itu tidak pantas untuk berada di samping Zero.


"Akan ada banyak aksi pembunuhan dalam menjalankan quest ini, karena kita akan dihadapkan dengan sekelompok perampok, terlebih mereka bukanlah perampok biasa. Aku tidak ingin kalian menghambat kerjaku dengan alasan tidak berani membunuh seseorang." Zero berkata datar mencoba menekan mereka untuk tidak ikut.


Charla dan Sherria hanya terdiam tidak bisa lagi menyanggah pernyataan Zero.


"Oleh karena itu lebih baik kalian diam saja disini sambil menyerap inti monster yang masih tersisa. Aku akan menjalankan quest ini berdua saja dengan Gladius." Zero kembali menunjukkan senyumannya.


"Kalau begitu kenapa Tuan tidak mengajakku untuk ikut?" tanya Fluffy sambil memanyunkan bibirnya,"Aku bisa membunuh siapapun Tuan, jika Tuan yang memintanya," lanjut Fluffy yang ingin ikut.


"Ya. Aku tahu kau bisa melakukannya, Flo. Tapi kali ini aku ingin kau menjaga mereka selama aku tidak ada di sini, mengerti?" Zero tersenyum menatap Fluffy.


"Mmm… baiklah kalau itu mau, Tuan. Aku akan melaksanakannya." Fluffy membalas senyuman Zero.

__ADS_1


"Aku juga akan menjaga mereka, Tuan." Rimuru di sampingnya mengikuti.


Sementara Charla dan Sherria tersenyum kaku mendengar kalau mereka akan dijaga oleh dua orang bocah yang usianya lebih muda dari mereka.


*~*


"Kalau begitu kita berangkat." Zero dan Gladius melambaikan tangan, berpamitan pada yang lainnya. Mereka ikut melambaikan tangannya juga.


"Hati-hati…" Charla dan yang lainnya yang tidak ikut hanya bisa mendoakan keselamatan mereka.


Zero dan Gladius pergi keluar kota untuk menjalankan quest terakhir tersebut. Kini Zero sudah mendapatkan sesuatu yang bisa digunakan untuk melacak sarang perampok itu.


Saat sudah jauh di perbatasan kota dan tidak ada satupun orang yang bisa melihatnya, Zero memanggil dua Wyvern yang sudah dijadikan undead sebagai transportasi menuju ke tempat sarang perampok itu berada.


Zero dan Gladius masing-masing menaiki salah satu Wyvern itu kemudian melesat terbang ke udara. Mereka berdua mampu berdiri di atas punggung Wyvern dengan stabil meski Wyvern bergerak sangat cepat.


Selagi terbang sambil memberikan arahan pada Wyvern yang ditunggangi, Zero terus melacak keberadaan sarang perampok itu menggunakan belati pemberian Lawrence yang dikatakan adalah milik salah satu anggota perampok itu yang tertangkap.


Gladius hanya bisa terkesan mengetahui Zero memiliki kemampuan yang sangat berguna seperti itu.


Berkat belati milik salah satu anggota perampok itu, Zero bersama Gladius akhirnya bisa sampai di sarang perampok Bulan Merah yang lokasinya berada di tengah hutan.


Mereka pun turun dari atas punggung Wyvern kemudian Zero mengembalikan kedua Wyvern itu ke tempatnya.


"Disini rupanya sarang persembunyian mereka. Ternyata tidak buruk. Pantas saja tidak ada orang yang dapat mengetahui keberadaan mereka…" Zero dan Gladius menemukan sebuah pohon yang sangat besar di tengah hutan yang rindang.


"Ternyata ini sarangnya. Mereka pintar juga membuat persembunyian di tengah hutan seperti ini," ujar Gladius.


Selain itu pohon besar itu juga terlihat dilindungi oleh sebuah rune yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang, tetapi Zero dan Gladius dapat mengetahui kalau rune yang terpasang di setiap lingkupan pohon itu tidak biasa dan cukup sulit untuk dihancurkan.


"Apa kita hancurkan saja rune ini , Tuan?" tanya Gladius.


"Jangan, orang yang memasang rune ini pasti akan mengetahui kalau ada penyusup yang memasuki wilayah mereka."


"Lalu apa yang harus kita lakukan, Tuan?"


"Kita tunggu saja di sana sampai ada orang yang masuk atau keluar dari pohon itu. Kita harus mencari tahu bagaimana cara mereka memasuki pohon itu. " Zero menunjuk ke atas pohon yang akan dijadikan tempat untuk bersembunyi. Keduanya kemudian melompat ke atas pohon itu dan bersembunyi di sana.


Setelah berjam-jam menunggu, Zero dan Gladius akhirnya mendapati ada dua orang perampok berpakaian serba tertutup yang hendak memasuki pohon besar itu.


Gladius memberi kode pada Zero seolah bertanya apa yang harus dilakukan dengan kedua perampok itu.


Zero hanya mengangkat satu tangannya menyuruh Gladius untuk diam terlebih dahulu karena dirinya ingin mengetahui bagaimana perampok itu memasuki pohon besar itu


Saat kedua perampok itu memasuki rune dan berdiri di dekat pohon itu, salah satu dari mereka mengupas sedikit kulit batang pohon yang terkelupas. Disana mereka menemukan sesuatu seperti jam dengan di tengah-tengahnya terdapat sebuah gerigi untuk memutar jarum jam tersebut.

__ADS_1


Zero dan Gladius mengamati secara seksama apa yang akan mereka lakukan. Dan mereka melihat perampok itu memutar gerigi itu ke angka-angka yang tertera di sana, sebelum sesaat berikutnya batang pohon itu perlahan terbuka memperlihatkan anak tangga yang menjorok ke bawah dan menghubungkan jalan masuk menuju tempat persembunyian mereka.


Setelah mereka masuk ke dalam, batang pohon yang menjadi pintu itu menutup kembali, begitupun dengan kulit pohon yang terkelupas tadi.


"Begitu, ya… jadi itu cara masuknya…" Zero mengerti apa yang sudah mereka lakukan dan mengingat semua kode yang tadi mereka arahkan untuk memasuki pohon besar itu.


Zero dan Gladius kembali menunggu seseorang yang akan memasuki pohon besar itu.


Tak butuh lima menit, dua anggotanya yang lain terlihat dan hendak memasuki pohon besar itu.


Sebelum mereka bisa memasuki rune yang terpasang di sekitaran pohon itu, Zero sudah menghilang dari tempat persembunyiannya dan bergerak membunuh mereka satu persatu.


Kretek!


Kretek!


Kedua perampok itu tewas tanpa bersuara setelah kepalanya dipelintir oleh Zero.


Zero kemudian membawa mereka ke semak-semak dan melucuti pakaian kedua perampok itu.


"Buka bajumu dan pakai ini segera." Zero menyerahkan pakaian perampok itu pada Gladius.


Gladius yang mengerti apa yang Zero lakukan mengambilnya dan langsung memakai pakain berwarna hitam yang terlihat seperti ninja itu.


Alasan Zero memakai pakaian kedua perampok itu karena dua alasan. Pertama tentunya untuk menyamarkan diri dan yang kedua untuk memasuki rune itu.


Rune merupakan sihir penghalang yang bisa menentukan siapa saja yang boleh masuk. Dan untuk menentukan syarat siapa saja yang diperbolehkan masuk bisa dilakukan dengan berbagai cara.


Zero berpikir salah satu cara untuk memasuki rune itu yaitu dengan menggunakan sesuatu yang ada kaitannya dengan perampok itu, salah satunya yaitu pakaiannya.


Saat Zero dan Gladius mencoba memasuki rune itu menggunakan pakaian kedua perampok yang tewas tadi, ternyata itu benar berhasil.


"Sekarang tinggal membuka pintu masuk persembunyian mereka." Zero mengupas kulit pohon yang terkelupas itu dan menampilkan sebuah kunci untuk memasuki pohon itu.


"Apa Tuan mengingatnya?" tanya Gladius.


"Hm...Kalau tidak salah…" Zero mulai memutar jarum jam itu ke angka-angka yang sebelumnya dia lihat dari perampok tadi.


Sampai ketika Zero memutarnya ke angka terakhir, pintu pohon itu pun terbuka.


"Terbuka." Gladius terkesan Zero dapat mengingatnya.


"Ayo kita masuk," ajak Zero melangkah duluan menuruni tangga yang menghubungkan jalan menuju ke tempat persembunyian perampok itu. Gladius di belakangnya menyusul


Zero tersenyum dari balik kain yang menutup wajahnya.

__ADS_1


"Mulai dari sini permainan sebenarnya akan dimulai."


__ADS_2