Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Misi Bertahan Hidup XII


__ADS_3

Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.


Terima kasih dan selamat membaca


______________________________


"Akira-san! Akira-san! Akira-san! Sadarlah!" Charla berusaha menyadarkan Akira yang kini tengah meronta kesakitan di tanah sembari memegangi tangannya layaknya cacing kepanasan.


"Hentikan!


Hentikan!


Hentikan!


Sudah! Kumohon hentikan!"


Wajah Akira terlihat sangat menderita saat menyaksikan semua kejadian tadi yang tidak pernah dia ketahui pada kenyataannya semua itu hanyalah ilusi.


"Akira-san! Sadarlah! Kumohon sadarlah!" Sejak tadi Charla sudah berusaha menyadarkan Akira, bahkan dia sampai melanggar perkataan Akira dengan nekat keluar dari pelindung itu. Namun sayang, kelihatannya Akira masih tetap tak kunjung sadarkan diri juga.


Akira sendiri saat ini masih dalam pengaruh ilusi Thamuz, setelah sebelumnya dia sempat melihat ke titik dimana mata Thamuz berubah.


Akira sekarang sedang dibawa pada sebuah peristiwa yang begitu menyakitkan, dimulai dari kematian Charla sampai pengalaman masa lalunya yang sungguh menyedihkan.


"Hahaha! Percuma saja, demi-human! Kau tidak akan pernah bisa menyadarkan dia dari pengaruh ilusiku!" Thamuz tertawa puas menikmati penderitaan Akira dari jarak yang cukup dekat.


Charla memeluk erat tubuh kecil Akira yang masih meronta kesakitan tuk mencoba menenangkannya,"Akira-san…maaf...karena gara-gara diriku yang tidak berguna, Akira-san jadi seperti ini..." Charla menyalahi dirinya sendiri. Air mata mengalir deras di matanya karena tak kuasa menahan kesedihan yang sangat mendalam saat melihat sosok yang sudah melindunginya selama ini menderita.


"Sudah...kumohon hentikan..." Charla memberanikan diri menatap Thamuz. Menatapnya penuh harap agar Thamuz mau mengabulkan permintaanya.


Thamuz terkekeh mendengar permohonan Charla, "Asal kau tahu saja demi-human, aku sendiri pun tidak bisa menghentikan ilusiku."


"Memangnya kenapa?"


Thamuz tidak langsung menjawab. Dia terkekeh sambil berjalan mengitari Charla seperti mengamati sesuatu pada dirinya. Lalu dia berkata, "Karena ilusiku bukanlah sihir yang bisa aku hentikan begitu saja, melainkan kutukan yang hanya akan terlepas oleh sebuah perasaan yang sangat kuat. Dan yang aku lihat...kau sama sekali tidak memiliki perasaan sekuat itu padanya."


"Perasaan yang kuat?" Charla menatap Thamuz yang masih mengitarinya selagi mencoba mencerna penjelasannya tersebut. Pandangannya kembali pada Akira yang masih dalam kondisi yang memprihatinkan.


'Apa perasaanku masih belum cukup kuat untuk membebaskanmu, Akira-san…' gumamnya dalam hati.


"Dan asal kau tahu lagi. Perasaan yang kumaksud barusan tidak akan pernah muncul pada dirimu." Thamuz menghentikan langkahnya tersenyum menatap Charla.


"Kenapa?"


"Sebab, kau dan dia itu berbeda." Thamuz menunjuk mereka berdua secara bergiliran sambil terkekeh.

__ADS_1


"Aku tidak mengerti. Perasaan apa yang kau maksud itu? Kumohon beritahu aku." Charla memasang wajah memohon.


Thamuz mengelus dagunya dengan pandangan sedikit ke atas, memikirkan sesuatu, "Hm...Aku pun sama tidak tahu dan juga selama ini penasaran, perasaan apa itu...setahuku perasaan itu seperti…"


"..."


"Ah, sudahlah menyerah saja. Intinya kau tidak akan pernah bisa melepaskannya. Lagian jika aku tahu pun, aku tidak akan memberitahukannya padamu. " Thamuz menggaruk kepalanya tidak ingin memikirkan perasaan yang tidak dia ketahui itu lebih jauh.


"Nikmati saja penderitaannya disini bersamaku sampai dia mati dengan sendirinya. Setelah itu kau juga akan segera menyusulnya, Hahaha! " Thamuz tertawa lantang.


"Arghh!!!"


Tawaan Thamuz seketika berhenti saat melihat Akira semakin meronta-ronta kesakitan di pelukan Charla.


"Ini dia…" Senyuman Thamuz melebar seolah akan menyaksikan sesuatu yang menarik.


Charla yang tidak bisa menahan kekuatan Akira terpaksa harus melepaskannya. Akira yang berhasil melepaskan diri dari pelukan Charla berdiri dan berjalan ke salah satu arah.


"Akira-san! Kau mau kemana?" Charla ikut membangkitkan diri mencoba menghentikan langkah Akira. Pada saat Charla sudah berhasil meraih tangannya, Akira secara kasar menepis tangan itu kembali hingga membuat Charla terjatuh ke belakang.


"Akira-san..." Charla dengan segenap tenaga berusaha membangkitkan tubuhnya kembali.


Akira berjalan dengan tatapan kosong ke salah satu arah seperti orang linglung. Langkahnya berhenti tepat di sebuah batang pohon yang besar.


Akira menatap pohon itu sejenak sebelum secara mengejutkan dia menhantamkan kepalanya sendiri ke batang pohon itu dengan keras hingga membuat kepalanya berdarah. Tidak satu dua kali, Akira terus menjedotkan kepalanya itu berkali-kali sambil menyerukan kata, "Pengkhianat! Pengkhianat! Pengkhianat!"


Sementara Charla yang menyaksikan hal itu sontak dibuat panik. Dengan segera dia bergegas menghentikan aksi Akira.


"Apa yang kau lakukan, Akira-san! Berhenti! Jangan sakiti dirimu lagi!" Charla berusaha menarik tubuh Akira untuk menjauhkannya dari pohon itu.


Masalahnya sekuat apapun dia menarik tubuh Akira, Akira sama sekali tidak bergeming dan terus menyiksa dirinya sendiri.


"Hahaha! Dia akan mati kalau kau tidak segera menghentikannya, demi-human!" Thamuz dari kejauhan terus tertawa. Bahkan dia sampai berbaring sambil memegangi perutnya seolah yang Akira lakukan itu adalah sesuatu yang sangat lucu baginya.


"Akira-san! Kumohon sadarlah! Sudah hentikan!!" Charla melipat lututnya lalu memeluk tubuh Akira dari belakang dengan deraian air mata yang mengalir deras, tak kuasa melihat Akira seperti itu terus.


"Yui, kenapa kau menghianatiku! Kakek, Charla, kenapa kau meninggalkanku! Kalian semua, kenapa kalian tega berbuat seperti itu padaku!" Akira terus menyerukan kata-kata yang tidak dimengerti oleh Charla.


"Akira-san, sadarlah! Semua itu hanya ilusi! Jangan terjerat kembali oleh masa lalumu! Dan aku masih hidup! Aku ada disini, di belakangmu!" Charla masih terus mencoba membuat Akira tersadar.


"Jawab!! Jawab! Jawab! Kenapa?!" Akira tidak bisa mendengar Charla dan malah semakin menggila, membuat Charla semakin panik melihatnya.


"Benar! Aku membutuhkan perasaan yang kuat untuk menyadarkanmu!" Charla segera menyadari perkataan Thamuz tadi. Dia mulai mencoba menyalurkan perasaannya pada Akira.


"Aku akan memberikan perasaanku padamu, Akira-san. Jadi kumohon berhenti..." Charla mendekap tubuh Akira erat-erat selagi menyalurkan segala perasaan yang dia rasakan pada Akira.

__ADS_1


"Lebih kuat! Lebih kuat! Lebih kuat!" Charla memejamkan matanya, membayangkan perasaannya saat ini pada Akira. Kilas balik kenangan bersama Akira di hari-hari sebelumnya terlintas di benaknya. Semua kenangan yang menggembirakan, mengharukan sampai menyedihkan membawanya pada satu perasaan.


"Aku mengerti perasaan apa itu!" Charla membuka matanya. Dengan segenap tenaga dia menggerakan tangannya untuk membalikan wajah Akira lalu memberikan sebuah ciuman penuh arti yang berisi perasaan yang berhasil dia temukan itu, yang tidak lain adalah perasaan cinta.


Seketika Akira berhenti menyiksa dirinya sendiri dan perlahan-lahan kembali tenang diikuti matanya mulai kembali hidup.


Charla melepas ciumannya lalu tersenyum menatap Akira meliputi air mata kebahagiaan yang kali ini membasahi pipinya. Charla merasa lega sekali karena akhirnya perasaannya tersampaikan dan berhasil membuat Akira kembali tersadar dari pengaruh ilusi itu.


"Charla…" Akira sendiri balas menatap Charla dengan tatapan nanar, masih belum mengerti dengan situasinya saat ini, sebelum sesaat berikutnya setelah dia sepenuhnya sadar, Akira bergerak memeluk Charla, "Charla, kau masih hidup..." Akira tidak bisa menahan perasaannya saat ini. Dia meluapkan perasaan haru sekaligus bahagia dalam pelukan tersebut.


"Aku baik-baik saja...yang Akira-san lihat tadi semuanya hanya ilusi, " jelas Charla.


Di samping itu, Thamuz yang menyaksikan Akira berhasil terbebas dari ilusinya seketika berhenti tertawa dan bangkit dari posisinya, "Mustahil... bagaimana bisa seorang demi-human mempunyai perasaan itu pada manusia..." Thamuz membuka katup mulutnnya tidak percaya melihat Charla berhasil memberikan perasaan itu untuk menyadarkan Akira.


Begitu mendengar suara Thamuz, Akira melepas pelukan itu. Dia lalu menatap Thamuz dengan tatapan bengis penuh amarah, "Iblis sialan...berani-beraninya kau berbuat seperti itu padaku...akan kubuat kau menyesali perbuatanmu!"


"Akira-san hati-hati dengan matanya, kau bisa terpengaruh lagi oleh ilusinya. " Charla mengingatkan.


"Ya. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi." Akira teringat kembali dengan kejadian sebelumnya saat mata Thamuz berubah hingga berakhir membuatnya terjerat oleh ilusinya.


"Terimakasih Charla karena sudah menyadarkanku." Akira tersenyum menatap Charla kemudian bangkit dari posisinya.


Ketika merasakan rasa sakit di kepalanya, Akira memegangi kepalanya. Disana dia menemukan darah miliknya terus mengaliri sisi wajahnya tanpa henti.


"Apa yang tadi aku lakukan?" gumam Akira saat pandangannya mendapati ada bercak darah di sebuah batang pohon.


"Akira-san, kondisi tubuhmu masih belum pulih…lebih baik kita pergi dulu saja dari sini.. " Charla ikut bangkit dan memperingatkan Akira dengan nada cemas.


"Jangan khawatir, Charla. Aku sudah bersumpah akan mengalahkannya saat ini juga."


Charla yang melihat keseriusan di wajah Akira akhirnya dengan terpaksa menurut. Dengan kondisinya sekarang dia hanya bisa berharap semoga kejadian tadi tidak terulang kembali.


"Hati-hati..."


Akira menangguk dan mulai melangkah mendekati Thamuz sambil mengeluarkan senjata di punggungnya.


"Hahaha! Jangan sombong dulu, manusia! Dengan tubuh yang sudah babak belur seperti itu kau tidak mungkin bisa menang melawanku!" Thamuz masih bersikap seolah-olah dia yang akan menang.


"Tidak peduli seberapa hancur tubuhku, selama aku masih bisa berdiri dan memegang senjataku, aku bersumpah akan mengalahkan setiap musuhku…"


Setelah berkata demikian, seluruh tubuh Akira tiba-tiba diselimuti oleh aura putih keemasan dengan kilatan-kilatan kecil yang membentuk seperti listrik statis menyelimuti setiap sisinya.


Aura yang dipancarkan itu meliputi perubahan pada tubuhnya dimulai dari rambutnya tertarik ke atas, kedua bola matanya mengeluarkan cahaya yang menyilaukan hingga tak tampak sedikitpun pupil matanya, kedua sisi dahinya membentuk sebuah tanduk kecil, begitupun dengan urat-urat di wajahnya yang ikut terbentuk serta yang paling menakutkan yakni gigi taringnya memanjang tiga kali dari biasanya.


Penampilan Akira saat ini berhasil membuat kedua orang yang menyaksikan itu meneguk salivanya sendiri.

__ADS_1


"Berserker..."


__ADS_2