Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Sarang Perampok Bulan Merah III


__ADS_3

Zero dan Gladius menemukan pria berusia tiga puluh tahunan dan tampak masih muda itu merupakan pemimpin dari kelompok perampok Bulan Merah yang ditakuti oleh banyak orang.


Setelah pria jangkung itu pergi, Zero dan Gladius kini hanya saling bersitatap dengan Netero—pemimpin kelompok itu— yang dengan santainya terus menghisap rokoknya tanpa ada satu katapun yang terucap.


Zero dan Gladius sudah menduga orang yang menjadi pemimpin perampok yang disegani banyak orang ini pasti bukanlah orang sembarangan.


'Dia kuat…' Zero mengakui kekuatan Netero setelah melihat energi sihir yang terpancar dalam dirinya meski dirinya kini mencoba menutupinya.


Berbanding dengan Zero yang lebih tertarik pada Netero, Gladius di sampingnya lebih tertarik memperhatikan sesuatu yang ada di atasnya sambil tersenyum.


Sama halnya dengan Zero, Netero pun bisa melihat sesuatu yang tidak biasa dalam diri kedua orang di depannya. Dia langsung bisa mengetahui siapa mereka berdua sebenarnya.


"Jadi ada urusan apa kalian datang ke sini?" tanya Netero setelah menghisap habis rokoknya seiring bangkit dari kursinya.


Dari gelagatnya, Zero dan Gladius bisa menebak kalau Netero pasti sudah mengetahui identitasnya sebenarnya.


"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu." Zero membuka penutup wajahnya. Gladius di sampingnya turut mengikuti.


"Sebelum menanyakan apa itu, aku ingin bertanya satu hal pada kalian." Netero mengeluarkan sesuatu dari balik saku celananya dan melemparkannya pada Zero dan Gladius


Zero dan Gladius refleks menangkap benda yang dilemparkan cepat itu, sebelum ketika melihat ke depan, orang yang melemparkan benda berupa korek padanya itu menghilang dan tiba-tiba muncul di belakangnya sambil menghunuskan kedua pedangnya tepat di leher Zero dan Gladius.


"Apa yang sudah kalian lakukan pada rekanku?" tanya Netero terdengar dingin sambil menekan sedikit kedua pedang kembarnya ke leher mereka agar mereka tidak berani macam-macam.


Netero mengetahui Zero dan Gladius dapat memasuki rune yang terpasang di sekitaran pohon itu pasti karena memakai pakaian dari kedua rekannya.


Netero berpikir kedua pria ini pastilah pintar karena bisa mengetahui cara masuk ke dalam tempat ini, padahal pintu masuk tempat ini sudah diatur sebaik mungkin agar tidak ada orang sembarangan yang masuk ke dalam.


"Oh, kau sudah menyadarinya, ya..." Zero terkekeh pelan, terkesan melihat kepekaan Netero. Sepertinya julukan pemimpin memang pantas disematkan untuk orang sepertinya.


"Maaf, dia sudah kubunuh." Setelah memberitahukan hal itu, Zero dan Gladius dengan cepat melepaskan diri dari Netero.


Namun meski berhasil terlepas, leher mereka yang menyentuh pedang itu sedikit tergores membuat darah keluar, tetapi tidak terlalu berdampak apapun pada mereka.


"Begitu, ya... Kalau begitu aku tidak mempunyai jawaban untuk orang yang sudah membunuh rekanku." Netero menghunuskan kedua pedangnya pada Zero dan Gladius dengan sikap bersiap bertarung.


Dua orang rekannya yang sejak tadi mengamati dari atas muncul di belakang Netero, bersiap membantunya.


Zero dan Gladius sudah menyadari kehadiran kedua orang itu sejak tadi. Mereka sebelumnya sedang bersantai di atas tempat itu sambil membaca buku.


Dalam sekali lihat Zero bisa melihat kemampuan dan tingkatan sihir mereka tidak bisa dianggap remeh.

__ADS_1


"Bagaimana cara kalian menemukan tempat ini? Dan apa tujuan kalian datang ke sini?" tanya Netero penasaran.


Zero mengeluarkan belati yang sebelumnya digunakan untuk melacak tempat mereka kemudian melemparkannya pada Netero.


"Tidak terlalu sulit. Aku cukup menggunakan belati itu. Kau pasti mengenalnya, kan?" Zero menyunggingkan senyuman tipis.


'Bagaimana caranya dia mengetahui lokasi ini hanya dengan sebuah belati? Apa dia mempunyai kemampuan khusus untuk melacak keberadaan seseorang dengan menggunakan salah satu benda atau sesuatu yang mempunyai jejak orang tersebut,' pikir Netero berdasarkan perkiraannya.


"Kita tidak mempunyai tujuan khusus disini. Kita hanya mendapatkan permintaan untuk mengatasi perampok seperti kalian," ujar Zero.


Netero terkekeh, "Mengatasi kami, ya. Sepertinya kalian terlalu percaya diri. Kalian pikir kalian bisa selamat setelah memasuki tempat ini?" Netero membalas senyuman Zero.


"Percaya diri? Selamat?" Zero terkekeh keras, "Kau salah… Dari awal aku memasuki tempat ini seharusnya kalian sudah kalah. Sebelum bertemu denganmu aku bisa saja menghabisi semua orang yang ada di sini, tapi aku tidak melakukannya karena aku menemukan sesuatu yang menarik dari kalian," ujar Zero.


"Apa maksudmu?" Netero dan kedua orang di sampingnya tidak mengerti.


Zero berkata seperti itu seolah-olah dia mampu menghabisi dirinya dan semua anggotanya sendiri dengan mudah. Netero tidak tahu apakah yang Zero katakan itu hanya sekedar gertakan atau bukan, tapi dia harap itu benar.


"Lupakan dulu soal itu. Sekarang giliranku yang bertanya, apa tujuan sebenarnya kelompok ini didirikan?" Zero mengalihkan pembicaraan.


"Kenapa kau menanyakan hal itu? Apa itu sesuatu yang penting menurutmu?"


"Aku hanya ingin mengetahuinya saja."


"Tidak ada. Lagi pula aku tidak membutuhkan banyak jawaban darimu karena aku sudah mendapatkan sedikit jawaban yang aku butuhkan dari rekanmu yang mengantar kita tadi. Tapi jika kau mempunyai jawaban yang dapat memuaskanku, aku akan menawarkan sesuatu yang menguntungkan untuk kalian," ujar Zero tersenyum angkuh sambil bersilang tangan di dada.


"Maaf, aku tidak butuh tawaranmu." Netero mengangkat kedua pedangnya bersiap memulai pertarungan. Kedua orang di sampingnya mengeluarkan dua belati di pinggangnya bersiap membantunya.


"Ah... Padahal aku sudah berbaik hati pada kalian. Tapi mau bagaimana lagi..." Zero menggaruk belakang kepalanya.


"Tuan, biar aku yang urus dua orang itu," kata Gladius.


"Baik, aku percayakan mereka padamu. Tapi ingat, jika kau ingin membunuhnya jangan sampai membuat tubuhnya hancur," saran Zero


"Kenapa memangnya, Tuan?" Gladius tidak mengerti.


"Sudah lakukan saja perkataanku."


Gladius mengangguk tidak ingin banyak tanya karena menurutnya Zero pasti mempunyai alasan menyuruhnya demikian.


Zero dan Gladius memisahkan diri. Netero dan kedua orang rekannya ikut memisahkan diri sesuai dengan lawan yang akan mereka hadapi. Mencari tempat yang cocok untuk memulai pertarungan.

__ADS_1


Zero dan Netero saling berhadap-hadapan dalam jarak lima meteran sedang Gladius berhadapan dengan kedua orang rekannya.


"Apa kau tidak ingin memanggil rekan kalian yang lain untuk membantu kalian," ejek Zero.


"Kita bertiga saja sudah cukup untuk mengatasi kalian," kata Netero dengan percaya diri.


"Oh…" Zero hanya ber-oh pelan menanggapi kepercayaan dirinya.


"Kau yakin ingin menghadapiku menggunakan tangan kosong?" Netero menaikkan satu alisnya, menyuruh Zero mengeluarkan senjatanya.


"Sebaliknya, apa kau yakin memintaku menggunakan senjata untuk melawanmu?" Zero tersenyum mengejek.


"Ya. Aku ingin bertarung denganmu secara adil."


"Baiklah, kalau kau yang menginginkannya…" Zero memanggil kedua pedang kembarnya dan bersiap bertarung dengan adil melawan Netero.


"Sekarang apa kita bisa memulainya?" Zero tersenyum sambil memposisikan senjatanya bersiap bertarung.


Netero mulai mempersingkat jarak mendekati Zero sambil mencari celah sebelum melesat menyerang Zero menggunakan kedua pedang kembarnya.


Zero menyambut kedua pedang kembar Netero dengan kedua pedang kembarnya juga.


Sementara di sisi lain, Gladius dan kedua orang rekan Netero masih belum memulai pertarungan. Mereka masih saling bersitatap dalam diam mengamati lawan yang akan mereka hadapi.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Gladius bertanya dengan ramah.


"Apa itu?" Salah satu dari mereka menanggapi


"Kalian ingin mati dengan cara seperti apa?" Gladius tersenyum sinis menunjukkan sebelah gigi taringnya yang panjang dan melebarkan sedikit matanya yang sipit.


"Terserah dirimu. Itupun jika kau bisa melakukannya." Kedua orang itu tampak sangat percaya diri menghadapi Gladius yang hanya seorang diri.


"Sayangnya aku tidak diperbolehkan menghancurkan tubuh kalian. Tapi tenang saja, aku masih mempunyai banyak cara untuk membunuh kalian." Gladius mulai berjalan mendekati mereka berdua.


"Berhenti mengoceh dan cepat lawan kita." Kedua orang itu memposisikan belatinya dengan baik, bersiap bertarung.


Gladius mendengus geli melihat kepercayaan diri mereka sebelum dirinya menghilang dari pandangan mereka dan muncul di belakang salah satunya.


Rekan yang satunya baru menyadari keberadaan Gladius setelah melihat rekannya tersungkur ke depan.


"Apa yang terjadi?" Dia tidak tahu kenapa rekannya bisa tumbang, namun ketika melihat Gladius menunjukkan sesuatu di tangannya dia sontak terkejut.

__ADS_1


"Contohnya seperti ini…" Gladius tersenyum lebar sambil menunjukkan jantung rekannya yang masih berdetak di tangannya, sebelum meremasnya hingga hancur.


__ADS_2