Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Sudah Waktunya bangun


__ADS_3

Zero menggerakkan kedua tangannya, mencengkram kedua pedang yang terhunus di lehernya itu hingga hancur berkeping-keping.


"Tidak perlu sampai seperti ini pada anak kecil…" Zero menatap tajam mereka berdua.


"Tidak mungkin…" Mereka berdua terjatuh ke belakang, sangat terkejut menyaksikan apa yang sudah Zero lakukan. Setahu mereka pedang tersebut bukanlah pedang biasa, tetapi Zero bisa menghancurkannya dengan mudah jelas hal itu memperlihatkan kalau fisiknya tidak kalah besar dengan energi sihirnya.


"Zero-sama, kumohon maafkan mereka…" Sherria tidak ingin terjadi apa-apa pada kedua orang temannya itu.


Zero menghela nafas pelan, mencoba tidak memperdulikan aksi mereka barusan.


"Baik-baik, sekarang biar kau saja yang menjelaskannya pada mereka…" Zero berjalan meninggalkan mereka bertiga dan bersandar di salah satu pohon sambil memejamkan mata.


"Sherria, siapa dia sebenarnya?"


"Kenapa kau bisa mengenal orang sepertinya?" tanya mereka berdua setelah Zero pergi dari hadapannya.


"Aku akan menjelaskannya nanti. Untuk sekarang kalian bisa menganggapnya sebagai orang baik." Sherria meyakinkan mereka.


"Kalau begitu apa maksud perkataannya tadi?" Rob terdengar tidak suka.


"Aku tahu kalian pasti tidak percaya mendengarnya, tapi aku sudah melihatnya kemarin. Zero-sama memang bisa menghidupkan kembali mereka yang sudah mati. Dan tujuannya kesini yaitu untuk menghidupkan kembali Nee-san dan teman-teman kita yang lain." Sherria berharap mereka percaya.


"Sherria, apa pikiranmu sedang di otak-atik olehnya?" Droy berpikir Sherria sudah gila.


"Menghidupkan orang yang sudah mati jelas adalah suatu hal yang tabu dan tidak mungkin terjadi." Rob masih sulit mempercayainya.


"Aku tahu itu. Awalnya aku juga berpikir begitu. Tapi kumohon untuk kali ini percayalah padaku. Aku bersumpah atas apapun itu. Tolong jangan buat Zero-sama marah lagi." Sherria berusaha keras meyakinkan mereka.


"Kau sungguh tidak sedang diancam atau diapakan olehnya?"


"Aku sungguh. Zero-sama hanya ingin bertemu dengan Nee-san saja. Dia…" Sherria mulai menjelaskan tentang Zero yang sempat bertemu dengan kakaknya di dunia lain yang menjadi alasan mengapa dirinya ingin menghidupkannya kembali.


"Ini...ini benar-benar sulit dipercaya, Sherria…" Rob menggeleng pelan sambil memijat keningnya yang terasa pusing oleh hal-hal tidak masuk akal yang Sherria ceritakan.


Rob kemudian menatap kedua bola mata Sherria yang tampak serius lalu menghela nafas, "Baiklah, karena kau terlihat sungguh-sungguh seperti itu dan lagi aku tahu kau tidak mungkin berbohong, untuk kali ini aku akan coba mempercayainya."


"Ya. Aku juga. Aku menaruh harap pada perkataanmu, Sherria."


Kedua kakak beradik itu akhirnya memutuskan mencoba percaya pada perkataan Sherria.


Sherria yang senang mendengarnya langsung mengalihkan pandangannya ke arah Zero.


"Zero-sa…" Namun dia tidak melihat ada Zero di sana.


"Aku sudah mendengarnya." Zero tiba-tiba muncul di belakang kedua kakak beradik itu.


"Sejak kapan?" Mereka sontak terperanjat melihatnya.


"Sejak barusan." Zero menjawab santai.

__ADS_1


"Sudah jangan banyak cakap, bawa aku ke tempat mereka sekarang," titah Zero.


"Baik. Kebetulan tadi kami sedang jarah di makam mereka."


Mereka kemudian menuntun Zero ke tempat dimana jasad rekan mereka yang sudah tiada dikuburkan yang tidak lain di desa itu sendiri.


Sepanjang perjalanan mereka berdua menceritakan tentang kejadian di desanya yang tidak pernah dia sangka tersebut. Rob bersama Droy dan rekannya yang lain waktu itu baru pulang ke desanya setelah lama merantau di kota sebagai petualang.


Mereka yang awalnya membawa perasaan gembira karena ingin memperlihatkan hasil kerja kerasnya selama ini pada orang-orang desa seketika sirna saat mendapati apa yang terjadi di desanya.


Saat baru hendak memasuki pintu masuk desa hal yang pertama kali mereka lihat saat itu yaitu pemandangan desanya yang sudah hancur porak-poranda, mayat bergelatakkan di mana-mana dan bau busuk yang menyengat menyebar di segala tempat.


Mereka mendapati kabar dari desa terdekat kalau tempat itu diserang oleh sekelompok monster namun yang mereka lihat faktanya tidak seperti itu. Setelah mereka selidiki penyebab hancurnya desa itu ternyata ada kaitannya dengan penjarahan yang biasa dilakukan oleh sekelompok b*jingan tidak tahu diri. Mereka menyesal karena tidak ada di desa pada saat itu terjadi.


Pada akhirnya yang mereka bisa lakukan saat itu yaitu hanya memberikan pemakaman yang layak bagi mereka. Uang yang mereka bawa yang niat awalnya ingin dijadikan untuk berpesta mereka habiskan untuk pemakaman tersebut.


"Sudah berapa lama sejak kejadian itu terjadi?" Zero bertanya setelah mereka selesai bercerita.


"Kurang lebih baru satu bulan…" jawab Droy.


'Jadi tenggat waktunya sama…' Zero membandingkan waktu di dalam menara Agung dengan dunia ini.


"Kami bertekad akan menemukan mereka yang sudah menghancurkan desa kami dan memberikan hukuman yang layak atas apa yang sudah mereka lakukan," Tekad Rob.


Tak lama kemudian Zero bersama Sherria dan lainnya akhirnya sampai di tempat tujuan. Dari depan pintu masuk desa saja sudah bisa terlihat bagaimana kondisi dan situasi desa tersebut.


"Inikah desanya?" Zero memastikan.


Zero menoleh ke arah Sherria lalu memegang tangannya yang tampak bergetar seolah ketakutan. Dia mencoba membuatnya tenang.


"Ayo masuk," ajak Rob dan adiknya.


Saat memasuki desa tersebut, Zero menemukan bangunan-bangunan serta tempat tinggal yang ada di sana tampak porak-poranda seperti bekas hangus terbakar.


Sherria yang melihat desanya yang dulu asri kini kacau balau seperti ini hanya bisa bersedih. Kilas balik kenangan masa lalu-nya terlintas saat Sherria melihat ke arah bangunan dan tempat-tempat bermain yang dulu pernah dia dan kakaknya tempati. Semua yang ada di desa ini sekarang hanya tinggal menyisakan kenangan pahit yang sulit dia lupakan.


"Kesini…" Zero dibawa oleh Rob dan adiknya ke tempat mereka dimakamkan.


Terpampang di depan mata Zero tumpukkan tanah yang menjulang tinggi berjejeran sampai ke penjuru desa, jasad mereka yang telah tiada kini ada di dalamnya.


"Jadi apa yang ingin kau lakukan sekarang?" tanya Rob.


"Apa kalian tidak memberikan nama pada makam mereka?" Zero tidak bisa mencari tahu dimana makan Charla berada dan tidak bisa menebaknya.


"Kami memang sengaja tidak melakukannya," jawab Droy.


Tidak ingin memikirkan apa alasannya, Zero segera meminta bantuan sistem.


'Sistem apa ada cara untuk mencari tahu dimana letak makam seseorang yang ingin aku cari berada?'

__ADS_1


[Anda bisa menggunakan skill God's perception yang Anda dapatkan sebelumnya. Caranya sederhana, Anda tinggal menyentuh barang atau tempat yang memiliki jejak tubuh seseorang yang ingin Anda cari dengan begitu Anda bisa melacaknya, bahkan sampai jarak yang sangat jauh]


'Begitu, ya…' Zero mengerti penjelasan Sistem dan mengerti apa yang harus dia lakukan.


Zero mengeluarkan kalung milik Charla dari invetory-nya. Dengan kalung ini dia bisa mencari keberadaannya. Mungkin ini alasan mengapa kalung ini bisa ada padanya.


"Kau…" Mereka berdua kesulitan berkata-kata menyaksikan aksi Zero. Tetapi mereka tidak ingin bertanya terlebih dahulu dan menyaksikan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.


Sherria melihat kalung milik kakaknya di tangan Zero. Dia tidak bisa menebak apa yang ingin Zero lakukan dengan kalung itu.


Zero memejamkan mata sambil mengepal erat kalung itu, selanjutnya dia mulai mengaktifkan skill God's Perception-nya. Saat itu terjadi pandangan Zero mulai dibawa ke suatu tempat, yang tidak lain tempat dimana makam Charla berada.


"Aku menemukannya." Zero membukanya kembali lalu berlari ke arah dimana persepsinya berhenti.


"Kau disini ternyata…" Zero tersenyum, berdiri di salah satu makam yang dia pikir adalah tempat dimana Charla dimakamkan.


"Siapa yang ada di sana?" tanya Rob menyusul Zero yang tadi berlari. Mereka berdua mengikuti di belakangnya.


"Orang yang kucari..." Pandangan Zero masih terarah pada makam itu.


"Apa itu makan Nee-san, Zero-sama?" Sherria menebak pasti itu alasan mengapa Zero berdiri di makam itu.


"Ya. Sepertinya dia sekarang sedang teridur pulas disana." Zero tersenyum menatap Sherria.


"Apa kau yakin bisa membangkitkannya?" Rob memastikan sekali lagi.


"Kau bisa melihatnya…" Zero segera memposisikan dirinya, bersiap menggunakan sihir terlarang untuk membangkitkan Charla kembali.


"Sudah waktunya kau bangun, Charla…"


Setelah berkata demikian, Zero mulai menyatukan kedua tangannya, lalu dia menempelkan kedua tangannya itu ke tanah sampai sebuah pola sihir berwarna gelap membentuk lingkaran terlihat mencakup satu makam di depannya itu.


Setelah itu dia pun mulai merapalkan mantra.


"Namaku Zero. Aku disini memanggil kalian wahai para jiwa yang masih mempunyai keinginan hidup untuk kembali pada raga kalian. Lawan lah takdir. Bebaskanlah diri kalian dari belenggu yang memasung jiwa kalian disana dan kembali lah ke sini, temuilah semua orang yang menurutmu berharga dan selesaikanlah semua urusan yang ada di dunia ini agar suatu saat kalian bisa tenang disana..." Seiring berkata demikian sebuah cahaya yang menyilaukan keluar dari pola sihir berwarna gelap itu, disusul dengan segumpal cahaya hijau turun dari langit dan masuk ke dalam tanah dari makam itu.


Kedua kakak beradik yang menyaksikan hal itu tercengang terlebih saat menyaksikan apa yang terjadi selanjutnya.


"Namaku Zero! Dengan semua persembahan yang aku berikan, aku menyuruh kau untuk hidup kembali!"


"Bangkitlah…"


Sebuah peti tiba-tiba keluar dari tanah makam itu menuju ke permukaan, mengejutkan mereka semua yang ada di sana yang tidak percaya dengan apa yang kini sedang mereka saksikan.


Yang terjadi setelahnya, peti itu perlahan terbuka menampilkan sesosok gadis bertelinga kelinci yang tampak tengah berdiri tegap di dalam peti itu.


Ya, seperti yang mereka lihat, gadis bertelinga kelinci itu tak lain dan tak bukan adalah Charla.


Air mata tanpa aba mengalir deras di pipi Sherria. Dia tidak menyangka akan bertemu kembali dengan kakaknya tercinta yang waktu itu telah menyelamatkan nyawanya.

__ADS_1


"Nee-san..."


__ADS_2