
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terima kasih dan selamat membaca
______________________________
Lantai 10
"Tempat apa ini?" Akira bertanya pada dirinya sendiri, mencari tahu tempat yang kini dia pijaki.
"Setiap lantai di Menara Agung ini benar-benar misterius…" Kata Akira setelah pandangannya memutari seluruh sudut tempat tersebut.
Dari apa yang Akira lihat, sekarang dia sedang berada di sebuah ruangan minimalis dengan nuansa yang gelap dan hanya disoroti oleh satu lampu kristal yang menggantung di atas kepalanya. Di setiap dinding maupun alas ruangan terdapat rentetan lukisan kaligrafi dengan pola tulisan yang rumit dan terkesan kuno.
Selain itu yang menarik perhatian Akira dari tempat ini yaitu, terdapat empat lorong persimpangan yang keempatnya mengarah seperti arah mata angin, sedangkan Akira kini berdiri di tengah-tengahnya. Berdasarkan felling Akira di masing-masing persimpangan ini akan ada bahaya yang sedang menunggu.
{Quest lantai sepuluh— Misi: Melangkahlah ke jalan yang benar}
Panel misi ditampilkan.
"Hm...Sama seperti sebelumnya, misi kali ini tidak memiliki batasan waktu. Kemungkinan waktu yang kuhabiskan disini akan jauh lebih lama. Dan lagi misi kali ini menyuruh aku untuk memilih, ya..." gumam Akira sambil memandangi panel misi.
"Jadi, sekarang kemana aku harus melangkah? Yang pasti setiap langkah yang aku ambil sekarang akan menjadi penentu keadaanku selanjutnya. " Akira bertopang dagu memikirkan langkah terbaik yang harus dia ambil.
"Sistem Call: Apakah tidak ada saran atau petunjuk yang bagus mengenai langkah yang harus aku ambil?"
[Tidak tahu. Pikir saja sendiri]
"La-lagi?" Akira mengerutkan wajahnya kesal. Lama-lama dia bisa frustasi mendengar jawaban itu-itu lagi. Kali ini Akira tidak ingin terbawa emosi, cukup dengan menghela nafas saja. Dia lebih memilih berfokus untuk menentukan pilihannya.
Beberapa menit kemudian, dengan penuh keyakinan, Akira akhirnya memutuskan untuk mencoba memilih melangkah ke persimpangan lurus di depannya.
"Cih, apanya yang akan selalu ada membantu Playernya disetiap ada masalah. Dasar pembohong. Sistem bodoh, bodoh, bodoh..." gerutu Akira sambil memcebikkan bibirnya selagi berjalan ke persimpang yang dia pilih.
*\~*
Setibanya di persimpangan tersebut...
"Oi,oi,oi! Apa-apaan ini!" Akira terkejut bukan main. Saat dia tiba di persimpang tersebut, dia disapa oleh pemandangan yang begitu mengerikan.
"Kalau bisa memilih akan lebih baik kalau di persimpangan ini aku dihadapkan dengan monster atau hewan buas saja." Akira berkata penuh keraguan. Jujur dia tidak percaya sekaligus sangat-sangat terkejut dengan situasi yang terjadi di depannya kali ini.
__ADS_1
"Siapa saja, jawab pertanyaanku! Apa yang kulihat sekarang ini benar-benar nyata?" Fenomena yang ditangkap oleh sepasang bola matanya saat ini sungguh tidak biasa.
Jalan setapak menuju neraka kematian, mungkin lima kata ini bisa menggambarkan apa yang Akira lihat di depannya sekarang. Sejauh mata memandang rintangan yang mematikan seperti siksaan neraka siap menemaninya sampai di ujung sana.
Besi-besi berdentangan sampai memekakan telinga— api menyembur tidak karuan ke segala arah— duri-duri tajam nan besar bermunculan seperti gelombang laut dari bawah tanah—panah melesat kesana kesini dengan sangat cepat— patung-patung prajurit berjajar rapi di masing-masing sisi, berdiri tegak sambil memegang pedang besar dengan kedua tangannya seperti sedang bersiap-siap untuk menghacurkan apa saja yang ada di dekatnya, dan masih banyak lagi rintangan lainnya yang jauh lebih mematikan.
Dua kata untuk mengungkapkan perasaan Akira setelah melihat semua itu, Sungguh mengerikan…
Akira tidak tahu apakah dia bisa melewati semua rintangan yang ada di depannya ini atau tidak. Tentu dia ragu, apalagi rintangan kali ini taruhannya adalah nyawa. Dia juga tidak bisa kembali ke tempat asalnya karena jalan masuk sebelumnya sudah tertutupi oleh tembok. Dia merasa menyesal karena telah salah memilih jalan.
"Bagaimana ini…" Akira semakin ragu. Pilihan satu-satunya hanya melewati rintangan tersebut. Tidak ada cara lain lagi.
Di tengah keraguannya, pandangan Akira sesaat terarah pada sepatu yang dia gunakan. Sepatu tersebut seakan memberikan sedikit harapan baginya. Dia berpikir, mungkinkah masih ada kemungkinan dia bisa melewati rintangan ini?
"Aku tidak akan pernah tahu kalau belum mencobanya."
Akira mulai mempunyai sedikit keyakinan untuk menghadapi rintangan tersebut.
"Sistem Call: Ganti title The Great Finder menjadi The Genius, segera!"
[Baik]
Selepas membulatkan tekadnya, Akira mulai berpikir, mencoba menganalisa setiap rintangan di depannya dengan baik. Setiap langkah yang akan dia ambil saat ini bak ibarat seperti dirinya berjalan diatas domino. Sekali saja dia salah langkah, maka semuanya akan berakhir.
Berkat tittle The Genius yang sebelumnya dia dapatkan, tingkat analisisnya terhadap berbagai hal meningkat. Dia dapat dengan mudah menemukan berbagai celah untuk melangkah melewati setiap rintangan tersebut berdasarkan dengan perhitungannya.
Akira mengepal tangannya erat sambil mulai memasang kuda-kudanya. Dengan tarikan nafas panjang dan satu hentakan kaki, Akira melesat secepat yang dia bisa menerjang rintangan yang ada di depannya demi bisa mencapai ujung sana.
*\~*
"Huh....huh...huh... akhirnya..." Akira merobohkan tubuhnya secara telungkup ke lantai. Nafasnya tidak beraturan.
Singkat cerita akhirnya Akira berhasil keluar dari tempat yang seperti neraka itu dengan kondisi yang kacau balau. Tubuhnya dipenuhi dengan luka yang membuat HP-nya berkurang sampai setengahnya.
{HP : 486/1100}
Beberapa menit beristirahat, Akira membangkitkan tubuhnya kembali.
Disaat dia melihat ada dimana dirinya saat ini, matanya terbelalak karena terkejut.
"Kenapa aku kembali lagi kesini?!" Akira terkejut saat mengetahui dirinya kembali lagi ke tempat semula. Ke tempat empat persimpangan sebelumnya.
{Quest lantai sepuluh— Misi: Melangkahlah ke jalan yang benar.}
__ADS_1
"Jadi tadi itu aku salah memilih jalan, ya...." Akira terkekeh dengan cara yang sulit dijelaskan seolah itu adalah hal yang memprihatinkan.
Bohong kalau dia tidak takut terhadap rintangan tadi, mengingat rintangan tadi bukanlah rintangan yang main-main. Dia sampai dihadapkan langsung dengan yang namanya kematian. Tentu saja dia akan takut. Terlebih meski dia berhasil keluar, dia sampai babak belur seperti itu.
"Jangan bercanda! Jadi jalan mana yang seharusnya benar! Apa aku harus mencoba semua persimpangan yang ada di sini?" keluh Akira sangat kesal dengan nafas memburu.
Menghela nafas panjang, Akira lalu menampar wajahnya sendiri mencoba menyadarkan dirinya dari rasa takut, kemudian dia menyeringai sinis,
"Benar.... Aku harus mencoba semuanya. Tidak akan menarik kalau misi ini selesai hanya dalam satu rintangan saja bukan?"
Merasa tidak takut lagi, Akira mulai melangkahkan kakinya ke persimpangan yang belum dia pilih, tapi sebelum itu dia memulihkan dirinya terlebih dahulu dengan menkonsumsi potion class tinggi yang akan langsung memulihkan tubuhnya kembali seperti semula dengan cepat.
"Yosh, jangan patah bersemangat..."
Persimpangan demi persimpangan Akira coba. Setiap persimpangan yang dia pilih di dalamnya terdapat rintangan yang hampir sama dengan yang sebelumnya, bahkan bisa dibilang jauh lebih sulit.
Namun seiring berjalannya waktu, rintangan yang awalnya sulit itu lambat laun malah jadi terlihat biasa. Bahkan Akira sampai menjadikan setiap persimpangan tersebut sebagai tempat latihannya. Gerakannya juga menjadi semakin lincah berkat setiap rintangan yang ada di sana.
"Sial! Kenapa aku terus kembali ke tempat ini!"
Meski dirinya sudah memasuki semua persimpangan tersebut akan tetapi misi yang harus dia jalani masih belum selesai-selesai. Setiap berhasil keluar dari tempat itu dia selalu kembali lagi ke tempat yang semula.
Akira yang pertama sudah merasa kesal malah semakin bertambah kesal. Dia akhirnya memutuskan tidak lagi memasuki salah satu dari persimpangan di sana. Dia merasa yang dia lakukan akan sia-sia jika terus melakukan hal yang sama. Oleh karena itu kali ini dia mencoba menggunakan otaknya.
"Hm...tempat ini mungkin sama seperti labirin...kalau begitu aku harus mencari petunjuk untuk memecahkannya..."
Akira mencoba mencari petunjuk dari tempat itu. Apapun yang ditemui di tempat itu akan dia teliti. Hingga pandangannya kemudian tertarik pada salah satu tulisan kuno berupa angka dan huruf di dinding tempat itu.
"Tiga...kali empat...no, lima..."
Biarpun agak tidak terlihat jelas, namun Akira bisa mengetahui kalau tulisan itu merupakan petunjuk yang kini dia cari-cari.
(3 X 4 + n o 5 ) Begitu tulisan kuno tersebut terlihat.
Setelah berhasil mengartikan tulisan tersebut, Akira lalu menganalisa maksud dan artinya.
Tidak butuh waktu lama bagi Akira memecahkan arti dan maksud dari tulisan itu. Dia hanya tinggal membaca tulisan kuno tersebut secara terbalik hingga akhirnya berhasil menemukan petunjuk untuk menyelesaikan misinya.
"Jika dibalik, tulisan kuno tersebut akan membentuk kalimat 'South' yang artinya 'Selatan'. Sedangkan X3... "
"Ah, benar itu dia! Itu berarti aku harus berjalan ke persimpangan yang mengarah ke selatan sebanyak tiga kali-!"
Akira segera mengikuti arahan yang berhasil dia pecahkan itu. Dan itu memang benar berhasil setelah Akira mengikutinya.
__ADS_1
Akira akhirnya bisa menyelesaikan lantai ke sepuluh yang sungguh merepotkan ini.
——