
Seiring gadis berambut pirang itu menegakkan tubuhnya kembali, alis dan mulutnya sedikit terangkat saat Zero menyebutkan satu nama itu. Dia begitu terkejut mendengarnya, terlebih saat mendapati wajah pria yang terjatuh di depannya ini sangat akrab sekali dengan sosok yang dikenal biarpun agak sedikit berbeda.
Sebelumnya dia tidak yakin kalau pria tersebut adalah dirinya tapi ketika mendengar pria tersebut menyebut nama itu perasaannya tiba-tiba menjadi sulit diartikan.
Zero sendiri yang masih dalam posisi terjatuh belum berkedip sedikitpun begitu melihat wajah gadis di depannya saat ini sangat mirip sekali dengan kekasihnya terdahulu sampai-sampai dia berpikir kalau itu memang dirinya—Tidak, lebih tepatnya dia berharap kalau itu memang dirinya.
Keduanya saling bersitatap dalam diam memandangi wajah lawan jenis di depannya tanpa ada satupun kata yang terucap.
Zero mengedipkan matanya dan perlahan mulai menegakkan tubuhnya untuk memastikan sosok gadis di depannya ini.
"Yui, apa benar ini dirimu..." tanya Zero dengan ekspresi penuh harap.
Gadis itu sekali lagi terkejut mendengar nama itu disebut. Dia membuka sedikit mulutnya tapi tidak ada satu katapun yang terucap. Mulutnya terasa sangat sulit untuk digerakkan.
Sebelum Zero bisa mendapatkan jawaban dari gadis itu seruan beberapa orang segera memecah perhatiannya.
"Zero-sama! Awass!!"
Charla, Sherria dan Fluffy melompat ke arah Zero berniat menangkap kucing yang kini terbang ke arahnya.
Bruk!
Sayang sekali ketiga gadis itu tidak berhasil menangkap kucing itu dan malah berakhir menabrak Zero hingga menjatuhkannya kembali dalam posisi saling bertumpukkan.
"Aduh…"
"Sakit…"
"Maaf, Zero-sama…"
Zero tidak diberi kesempatan untuk mencari tahu gadis di depannya karena dirinya kini sama sekali tidak beri ruang untuk berbicara apalagi bergerak.
"Hei, apa yang kau lakukan di sini?" Seorang gadis berambut merah muncul dari samping menghampiri temannya yang tengah melamun dan langsung menarik tangannya untuk pergi meninggalkan tempat itu.
"Ayo, yang lain sudah menunggu," ajaknya buru-buru menyeret temannya untuk pergi.
"Ah, iya…" Gadis berambut pirang itu melangkahkan kakinya mengikuti temannya namun pandangannya masih belum terlepas dari Zero.
Begitupun dengan Zero, meskipun dia kini sedang dihimpit oleh mereka bertiga namun pandangannya masih terpusat pada gadis berambut pirang yang seiring waktu menjauh dari pandangannya. Dari tatapannya dia seolah ingin meminta jawaban dari pertanyaan yang belum dijawab tadi.
Setelah cukup jauh gadis berambut pirang itu memperlihatkan sedikit senyumannya pada Zero sekali sebelum mengalihkan pandangannya ke depan.
'Syukurlah...akhirnya kau bertemu dengan orang-orang baik…' batin gadis berambut pirang itu tersenyum penuh arti.
Dia kini sepenuhnya yakin jika pria itu memang sosok yang dia kenal biarpun namanya sekarang berbeda.
Meski dia tidak tahu kenapa pria yang dicintainya itu bisa ada di dunia ini, tetapi dia bersyukur bisa melihatnya sekali lagi, bersyukur bisa melihatnya dikelilingi oleh orang-orang baik dan bersyukur melihat mereka yang mengelilinginya sepertinya sangat menyayanginya.
Sedangkan di samping lain, Zero yang sekilas melihat gadis itu tersenyum padanya mencoba mengartikan apa maksud dari senyumannya itu.
'Yui...apa benar itu dirimu...'
*~*
__ADS_1
"Zero-sama, apa kau baik-baik saja?" Charla bertanya pada Zero yang sejak tadi melamun seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Ya..." Zero menyadarkan dirinya dan mencoba tidak lagi memikirkan gadis itu.
"Pada akhirnya kita hanya bisa menangkap satu, ya..." Zero menghela nafas pelan melihat kucing oren di pelukan Charla.
Kucing itu berhasil tertangkap setelah mereka semua bekerja sama.
"Setidaknya kita masih bisa menyelesaikan quest ini," kata Sherria yang lalu dibenarkan yang lainnya.
Setelah beberapa langkah berjalan, mereka pun akhirnya sampai di tempat pemilik kucing itu
"Maaf, kami hanya bisa menangkapnya satu." Charla menyerahkan kucing itu pada pemiliknya.
"Ah iya, tidak apa-apa. Aku justru senang kalian berhasil menangkapnya," balas Pemilik kucing itu.
"Ini imbalan karena kalian telah berhasil menyelesaikan quest dan ini tip dariku untuk kalian." Pemilik kucing itu memberikan dua kantong uang pada mereka kemudian kembali ke dalam rumahnya.
"Terima kasih," jawab mereka serempak.
Zero bersama yang lainnya kemudian pergi dari tempat itu menuju ke tempat guild untuk melaporkan hasil kerja mereka.
"Hebat… kalian ternyata benar berhasil menyelesaikannya." Para pemula segera mengerubungi party Zero dan menanyakan bagaimana caranya dia menangkap kucing itu.
"Boleh juga ternyata kau pemula." Petualang senior menepuk pundak Zero dan ikut menanyakan bagaimana dia bisa menyelesaikan quest yang cukup sulit tersebut.
Zero menggaruk belakang kepalanya, malas menanggapi pertanyaan mereka.
Salah satu petualang ikut bersandar di pagar pembatas di sampingnya, "Ada apa? Kenapa kau terus-terusan melihat mereka. Apa jangan-jangan kau jatuh cinta pada salah satu gadis demi-human yang ada di sana?" godanya.
Pria berambut putih itu menolehkan wajahnya lalu tersenyum pada petualang itu, "Mana mungkin… aku hanya tertarik pada pria itu..."
"Pfft...yang benar saja. Jarang sekali kau tertarik pada seseorang, terlebih pada seorang pria." Petualang itu menepuk-nepuk pundaknya sambil menahan tawa.
"Apa yang membuatmu tertarik padanya?" tanya nya.
"Mm… entah...apa, ya…" Pria berambut putih mengelus dagunya sambil mengamati pria itu.
"Ho~ Siapa orang yang sudah berhasil menarik perhatianmu. Aku penasaran ingin melihatnya..." Petualang lain bersama party-nya berjalan menghampiri pria berambut putih.
Pria berambut putih menunjuk pria yang dimaksud.
"Dia ya...Kalau tidak salah dia itu pemula yang daftar tadi siang, kan?" tanya ketua party itu sambil bersilang tangan di dada.
"Ya. Dia menarik sekali, kan…" Pria berambut putih tersenyum sambil membuka sedikit matanya yang sipit, memperlihatkan ekspresi sinis.
"Benar, dia sangat menarik… " Ketua party dan anggotanya tersenyum licik memandangi party pemula itu.
"Menarik untuk dihancurkan..." lanjut ketua party itu yang diam-diam dibalas senyuman sinis pria berambut putih.
Kembali pada posisi Zero dan lainnya yang kini sudah tidak lagi dikerumuni oleh para petualang pemula.
"Zero-sama bagaimana kalau kita menyelesaikan quest yang lain?" usul Charla dengan penuh semangat.
__ADS_1
"Tidak...untuk sekarang kita kembali saja dulu." Zero berjalan lesu meninggalkan mereka.
"Eh, kenapa?" Charla dan yang lainnya berkerut dahi memandangi Zero yang terlihat aneh seperti sedang ada masalah.
"Aku lelah…" jawab Zero melangkah lebih dulu keluar gedung guild.
"Zero-sama…" Mereka yang masih mematung tidak mengerti kenapa Zero bersikap demikian.
*~*
Zero saat ini tengah sendirian di balkon kamar, bersandar di pagar pembatas sambil mengamati keadaan kota yang ramai seperti biasanya.
'Yui…apa itu sungguh dirimu?' Zero teringat kembali akan kejadian tadi dan pertanyaan itu masih terngiang-ngiang di pikirannya sampai saat ini.
"Kalau itu memang dirimu, kenapa kau tidak mengatakannya padaku…" gumam Zero sambil memandangi bulan yang tampak bersinar terang kemudian memejamkan mata.
Sherria yang saat itu telah selesai mandi melihat Zero dari balik pintu yang terbuka. Dia terdiam sejenak mengamatinya sebelum masuk menghampirinya.
"Anu, Zero-sama. Apa Zero-sama baik-baik saja?"
Zero membuka matanya lalu menoleh ke arah Sherria yang kini hanya terbalut kain handuk.
"Ya. Aku baik-baik saja." Zero tersenyum menatapnya, mencoba menutupi masalah yang ada dalam pikirannya.
"Apa ada sesuatu yang Zero-sama pikirkan?" Sherria melihat raut wajah Zero seperti sedang banyak pikiran.
"Tidak ada…" Zero memalingkan pandangannya ke depan.
"Begitu, ya." Sherria tidak ingin membahasnya lebih jauh.
"Sherria apa aku boleh minta tolong sesuatu?" Zero menolehkan sedikit wajahnya pada Sherria.
"Apa itu?"
"Tolong tampar wajahku." Zero meletakkan tangannya pada pipinya.
"Eh, tidak bisa! Aku tidak bisa melakukannya, Zero-sama." Sherria mengangkat kedua tangannya menolak permintaan Zero.
"Hahaha, aku hanya bercanda…" Zero tertawa pelan seiring menegakkan tubuhnya.
"Kalau begitu biar aku sendiri yang melakukannya…" Zero menggerakkan kedua tangannya lalu menamparkannya pada pipinya sendiri.
Plak!
Sherria melebarkan matanya terkejut melihat aksi Zero.
"Zero-sama…apa yang Zero-sama lakukan..." Sherria spontan meraih kedua tangan Zero supaya Zero tidak melakukannya lagi.
"Tenang saja. Aku tidak apa-apa. Aku sering menampar diriku sendiri ketika aku sedang banyak pikiran." Zero terkekeh pelan menanggapi reaksi cemas Sherria.
"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku...Sudah sekarang jangan khawatir, aku sekarang sudah lebih baikkan..." Zero mengelus-elus rambut Sherria mencoba membuatnya tidak khawatir.
"Baik…"
__ADS_1