
Hari ini merupakan hari ketiga sekaligus hari terakhir dalam pertempuran gelombang monster.
Sebagian petarung di seluruh dunia sudah mempersiapkan diri di garis depan tuk bersiap menampilkan penampilan terbaiknya di pertempuran terakhir ini.
Saat ini di kota Buldovia, Zero dan Gladius sedang bersiap-siap untuk pertempuran puncak yang akan segera mereka hadapi. Setelah siap, mereka pun berangkat ke lokasi pertempuran.
Setibanya di lokasi pertempuran, Zero dan Gladius menemukan mereka yang akan bertempur kali ini jauh berbeda dari yang kemarin. Terutama dari segi jumlah. Kali ini mereka menemukan petualang yang masih bertahan setelah pertempuran kemarin hanya berjumlah 250 orang. Sementara para petarung yang sudah siap bertempur melawan para monster 85℅ didominasi oleh pasukan militer kerajaan.
"Keputusan mereka untuk pergi dari kota ini sudah sangat tepat," kata Zero terkekeh pelan.
Zero tentunya tahu alasan mengapa para petualang yang kemarin ikut bertempur di tempat itu kini berkurang. Hal itu jelas karena mereka tidak ingin bertempur lagi bersama orang sepertinya.
Ketika mengamati para petualang yang masih bertahan di sana, Zero menemukan ketiga petualang pangkat diamond itu ternyata masih bertahan di tempat itu. Ekspresi mereka terlihat tidak suka saat melihat ke arahnya.
"Kupikir mereka akan ikut pergi seperti yang lain, tapi nyatanya mereka masih setia menunggu di sini." Zero mendengus pelan dengan seulas senyuman melihat mereka.
Sebenarnya ketiga petualang itu mempunyai banyak alasan untuk pergi dari kota itu. Namun karena suatu alasan, mereka memutuskan untuk bertahan demi menjaga statusnya sebagai petualang pangkat diamond dan demi upah yang akan didapatkan setelah quest ini selesai.
Selain petualang, Zero menemukan beberapa sosok yang bisa dikatakan kuat di antara ribuan prajurit yang tampak biasa-biasa saja di sampingnya. Di antaranya yaitu satu Ksatria suci bintang tiga, sepuluh Ksatria suci bintang dua, dan dua puluh ksatria suci bintang satu.
"Dari banyaknya pasukan militer kerajaan yang ditugaskan untuk berjaga di sini serta beberapa ksatria suci pangkat tinggi yang berdiri di sana, kelihatannya memang akan terjadi sesuatu yang sangat besar hari ini. Aku jadi tambah bersemangat jika begini." Zero tampak tak sabar ingin segera memulai pertempuran.
Saat pandangan Zero masih menyapu keadaan sekitar, dia melihat salah satu ksatria suci bintang tiga tampak berjalan santai menghampirinya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
Ksatria suci itu memiliki tampang malas dan terkesan seperti mayat hidup. Akan tetapi aura yang terpancar dalam dirinya memperlihatkan kalau dirinya setara dengan orang-orang kuat sekelasnya. Zero dan Gladius serta orang yang memiliki kemampuan di atas menyadari hal itu.
__ADS_1
Sebagian orang yang berada tak jauh dari Zero memusatkan perhatiannya pada Ksatria suci itu, penasaran dengan apa yang ingin dilakukannya pada Zero
Ksatria suci itu berdiri di hadapan Zero dan berkata, "Oh, jadi kau orangnya..." Reaksi yang ditunjukkan oleh Ksatria suci itu biasa-biasa saja saat pertama kali melihat Zero.
"Siapa dan ada urusan apa kau denganku?" Zero balas memandangnya datar tanpa senyuman sedikitpun.
Menjawab pertanyaan Zero, Ksatria suci itu memperkenalkan dirinya dengan intonasi malas. "Namaku Michael, salah satu Ksatria suci di kerajaan ini. Aku di sini hanya ingin bilang bahwa aku senang kau berada di sini. Setidaknya kehadiranmu telah meringankan sedikit pekerjaanku," kata sosok yang memperkenalkan dirinya sebagai Michael.
Tak ingin membalas perkenalan dirinya, Zero menatap Michael dalam untuk mencari tahu maksud dirinya berada di situ. Semua orang yang ada di sekitar situ juga ikut mencari tahu tujuannya mendekati Zero apa.
Tidak peduli melihat Zero tidak membalas perkenalannya, Michael bertanya."Kau ingin mengambil alih semua monster yang muncul di tempat ini sendirian, kan?"
"Kalau iya kenapa..." jawab Zero terdengar menantang.
Para petarung yang mendengar perkataan Michael tentu saja terkejut. Siapa sangka sosok Ksatria suci bintang tiga seperti Michael akan menyetujui aksi Zero yang seharusnya membuatnya rugi.
Zero sendiri tidak mengerti maksud Michael mendukungnya seperti ini untuk apa. Apalagi dengan sikapnya yang tampak aneh seperti itu. Meski begitu, untuk sekarang Zero tidak menemukan sedikitpun bukti kalau Michael mempunyai niatan buruk padanya.
"Dan kau..." Michael melihat ke arah Gladius di samping Zero yang tengah menunjukkan senyuman ramah.
"Kali ini kau tidak perlu lagi mengumpulkan inti monster itu seorang diri. Kau bisa meminta bantuan pasukanku. Tenang saja, kita tidak akan meminta imbalan apapun. Aku hanya ingin mereka sedikit berguna di sini," jelasnya berniat meringankan beban Gladius. Sama halnya seperti Zero, Gladius pun tidak mengerti mengapa Michael melakukan ini.
"Kau yakin ingin dengan ini? Kita merasa sangat terbantu, loh. Benar kan Gladius?" kata Zero berpura-pura baik di depan Ksatria suci itu.
"Ya, Anda baik sekali pada kita. Kita sangat menghargainya," sahut Gladius.
__ADS_1
"Tidak masalah. Kalian boleh meminta bantuanku ataupun yang lain selama kita masih mampu melakukannya dan selama aku tidak sedang bermalas-malasan," kata Michael seraya melangkah pergi dari hadapan mereka dan kembali ke tempatnya semula, "Kalau begitu kalian berdua semangat, ya. Aku akan menyaksikan penampilan kalian," lanjutnya sambil melambaikan satu tangannya.
Orang-orang yang menguping percakapan mereka merasa keberuntungan kali ini akan kembali berpihak pada Zero saat mengetahui Michael kini malah mendukung aksinya itu.
"Orang aneh, tapi menarik... Kelihatannya seru juga kalau aku mencari sedikit masalah dengannya," gumam Zero diam-diam masih mengamati Michael yang misterius baginya.
Zero kemudian memandang ke atas saat menyadari langit sudah mulai berubah pertanda gelombang monster yang ditunggu-tunggu sejak tadi akan dimulai.
"Kurasa hari ini akan menjadi pertempuran yang cukup melelahkan." Zero mulai melakukan peregangan, bersiap memulai aksinya seperti kemarin. Gladius di sampingnya tampak sudah jauh lebih siap untuk membantu tuannya.
Pertempuran gelombang monster di masa permulaan akhirnya dimulai. Zero seperti biasa segera bergerak ke tengah-tengah lapangan itu dan mengaktifkan skill pemancingnya untuk membuat monster-monster yang bermunculan bergerak ke arahnya.
Melihat Zero sudah memulai aksinya, para petarung segera buru-buru untuk menghabisi monster-monster yang bermunculan sebelum diambil alih oleh Zero.
Zero seperti biasa mengambil alih pertempuran sementara yang lainnya hanya berusaha menghadang agar monster-monster itu tidak lepas ke arahnya.
Semua pasukan militer kerajaan sudah diberitahu hal seperti ini akan terjadi sehingga mereka tidak mempermasalahkan aksi Zero. Mereka sepakat untuk tidak mencari masalah dengannya karena bagaimanapun juga mereka harus menjalin hubungan yang baik dengan orang sepertinya.
Pertempuran terjadi di setiap penjuru kerajaan Blue Diamond, Balviar, dan Extavia. Semua orang yang bertempur mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya di akhir gelombang monster ini. Terkecuali bagi mereka yang mempunyai kemampuan menghadapi gelombang monster ini dengan mudah, mereka tidak perlu terlalu bersusah payah atau sampai serius menanggapinya.
Di tempat Charla dan lainnya berada suasana pertempuran masih sama seperti yang kemarin meski atmosfer pertempuran di tempat itu kali ini sedikit berbeda. Apalagi monster-monster yang muncul di tempat itu tingkatannya berbeda dengan yang kemarin. Hal itu membuat mereka harus bekerja lebih keras lagi.
Pertempuran besar melawan monster yang bermunculan di setiap tempat terus terjadi. Masa demi masa bergulir begitu cepat tanpa disadari oleh mereka yang terlalu asik bertempur. Hingga akhirnya masa penghabisan yang menjadi penentu akhirnya pertempuran gelombang monster pun tiba.
"Ini yang terakhir, ya." Zero bangkit dari kursinya dan bersiap memulai pertempuran yang terakhir di gelombang monster ini.
__ADS_1