
Selesai memberikan beberapa porsi kalimat motivasi pada mereka, Zero lanjut mengecek tempat penyulingan.
"Tuan." Semua yang ada di dalam segera menghentikan aktivitasnya saat Zero memasuki ruangan.
"Bagaimana hasilnya?" Zero melihat-lihat semua peralatan yang berserakan di tempat itu memperlihatkan mereka seperti sedang membuat sesuatu.
"Berjalan dengan baik, Tuan." Mereka tersenyum puas seperti sudah berhasil membuat sesuatu yang hebat.
"Kami sudah bisa membuat beberapa potion peningkat stamina, dan sudah mencobanya pada mereka yang sedang bekerja. Hasilnya sesuai dengan yang kita harapkan."
"Baguslah kalau begitu. "Zero merasa senang dengan kerja mereka.
Sekedar informasi, class Alchemist tidak membutuhkan tingkatan sihir yang tinggi melainkan keterampilan sihir yang mumpuni. Mereka tidak perlu terlalu berfokus meningkatkan sihir tetapi perlu meningkatkan pengetahuan dalam bidang Alchemist.
"Potion peningkat stamina ini juga sudah bisa kami buat dalam bentuk pil agar lebih efisien dikonsumsi." Salah satu dari mereka menyerahkan pil yang sudah dibuat pada Zero.
"Aku suka dengan kerja kalian..." Zero memuji mereka sambil berdecak kagum. Dia meneliti pil yang sudah dibuat oleh mereka kemudian menelannya. Saat itu juga Zero merasa staminanya meningkat, membuktikan bahwa khasiat dari pil itu benar adanya.
"Aku memiliki banyak potion di penyimpananku…" Zero mengeluarkan beberapa potion di inventory-nya satu persatu, "Ini semua bisa menjadi sampel untuk kalian teliti dan pelajari." Dia menjajarkan semuanya di satu tempat.
Mereka semua di sana yang semuanya adalah paruh baya terkesan melihat semua potion yang Zero tunjukkan.
"Ini Health Potion III. Kalian bisa mulai meneliti dan membuatnya dari sini." Zero menunjukkan satu botol cairan berwarna biru pada mereka
"Jika kalian sudah bisa melakukannya…" Zero beralih mengambil botol berisi cairan berwarna oren dan merah lalu menunjukkannya lagi pada mereka." Kalian bisa lanjut membuat Health Potion II dan Health Potion I. " Zero memberi arahan.
Mereka mengangguk paham. Mereka tentunya tidak ingin terlalu terburu-buru untuk mencoba membuat potion kelas tinggi seperti itu.
"Potion seperti ini pasti banyak dicari oleh para petualang. Jika kalian sudah bisa membuatnya atau bahkan sampai memasarkannya, aku akan memberikan hadiah yang bagus untuk kalian." Zero mencoba memotivasi mereka.
"Kami akan berusaha membuatnya," jawab mereka serempak penuh semangat.
"Termasuk yang lainnya juga. Kalian bisa menjadikan semua ini sampel untuk meningkatkan pemahaman kalian di bidang Alchemist." Zero melambaikan tangannya ke semua potion di depannya. Setiap potion terdapat label nama di ujung botolnya, jadi mereka bisa mengenali khasiat dari potion itu tanpa perlu Zero jelaskan satu persatu.
"Terima kasih, Tuan. Ini akan sangat membantu kami." Mereka membungkuk, menunjukkan rasa terima kasih.
"Ah iya satu lagi…" Zero berjalan ke salah satu meja lain kemudian mengeluarkan berpuluh-puluh potion yang sama dengan yang ada di depannya tadi.
"Bagikan semua potion ini ke anak-anak," titahnya.
"Potion apa itu, Tuan?" Mereka menghampiri Zero, melihat lebih dekat.
"Ini potion untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seseorang, akan sangat cocok jika diberikan pada anak-anak," jelasnya.
"Begitu, ya."
"Baik, Tuan. Kami akan membagikannya nanti."
"Yosh, kalau begitu semangat. Aku akan menunggu hasil kalian selanjutnya."
Setelah tidak ada yang perlu dibahas lagi, Zero kembali mengecek tempat lain yang belum dia datangi. Dia kali ini menuju ke tempat rumah sakit untuk melihat perkembangan para dokter yang ada di sana.
"Tuan." Mereka yang sedang bertugas segera memberi hormat saat Zero memasuki ruangan.
__ADS_1
"Kenapa mereka?" Zero menemukan ada beberapa pasien yang sedang terbaring sakit di sana.
"Ini mungkin efek dari kabut itu, Tuan. Meskipun kabut itu sekarang sudah tidak ada, tapi efek dari kabut itu masih ada. Kemungkinan semua orang di desa pun suatu saat akan mengalami hal yang sama," jelas salah seorang dokter perempuan di sana.
"Apa kalian bisa menyembuhkannya?" Zero memastikan.
"Kami sudah berhasil menyembuhkan salah satu dari mereka, Tuan." Para dokter itu menunjuk ke salah satu pasien yang sudah sembuh.
"Bagus..." Zero senang melihat mereka bisa menjadi dokter di desa ini.
Meskipun tingkatan sihir mereka sangat rendah tapi pemahaman mereka di bidang pengobatan dan kesehatan cukup tinggi untuk menutupi kekurangan itu.
Dari apa yang sebelumnya dia dengar, dulu tidak ada satupun orang di desa ini yang bisa menyembuhkan efek dari kabut itu, tapi sekarang mereka bisa menyembuhkannya.
Semua itu berkat pil pemberian dari Zero dan kerja keras mereka yang setiap harinya terus mempelajari berbagi hal tentang pengobatan dan kesehatan demi bisa menjadi dokter yang siap melayani mereka yang sedang sakit. Kehadiran mereka bisa membantu banyak orang di desa ini.
"Kalau kalian membutuhkan bantuan cari aku." Zero merasa tidak perlu menyembuhkan mereka yang belum terkena efek kabut itu karena itu bisa menjadi bahan latihan yang bagus bagi mereka.
"Baik, Tuan." Semuanya menerima saran Zero.
Setelah cukup melihat perkembangan mereka, Zero keluar dari ruangan itu. Dia mengamati keadaan desa yang masih dibangun itu sampai ke segala sisi kemudian terbang tinggi ke udara untuk mengamatinya lebih jauh.
Dari ketinggian, Zero bisa melihat keadaan desa itu lebih jelas. Banyak bangunan dan tempat-tempat yang sudah jadi, biarpun bangunannya tidak sesuai dengan apa yang Zero harapkan, tapi untuk sekarang dia tidak terlalu mempermasalahkannya. Para ras demi human pun kini sudah mempunyai tempat tinggalnya sendiri.
Meski begitu banyak juga lahan yang masih kosong dan perlu Zero pikirkan akan dibangun tempat seperti apa di sana. Tapi untuk sekarang Zero tidak ingin memikirkannya dulu. Dia ingin fokus pada pembangunan yang sudah jadi dan hal-hal lain yang lebih penting.
Zero mengetahui ada 500 lebih yang tinggal di desa ini. Dia merasa jumlah itu masih belum cukup untuk membangun desa ini menjadi kerajaan.
"Benar, aku membutuhkan tambahan tenaga dan juga memerlukan keahlian para ras kerdil itu untuk membangun kerajaanku." Zero memutuskan akan mengajak orang lain dan para ras Dwarft untuk ikut bergabung ke kerajaannya.
"Rob dan Droy sudah kembali bersama rekan-rekannya, Tuan." Regu pengintai menyampaikan informasi.
"Bagus, suruh mereka nanti ke ruanganku," titah Zero yang segera dilaksanakan.
Zero kembali melanjutkan langkahnya ke tempat Charla dan Sherria berlatih untuk menyuruh mereka pulang.
Setelah menyuruh mereka semua pulang, Zero kembali ke ruangannya, kembali wujud asalnya lalu beristirahat sambil menunggu kedatangan Rob bersama yang lainnya.
Selama beberapa saat menunggu, Rob berama yang lainnya akhirnya datang. Zero membangkitkan tubuhnya dan menyuruh mereka masuk.
Melihat jumlah mereka yang cukup banyak, Zero mengeluarkan beberapa kapsul berisi kursi untuk mereka duduk kemudian memulai pembahasan.
Para ras demi-human yang Rob dan Droy ajak masih sulit percaya jika sosok bocah yang tengah duduk angkuh di depannya ini adalah sosok yang telah membangkitkan semua penduduk desanya. Namun penjelasan semua penduduk desa yang mengatakan itu benar memaksa mereka untuk percaya, terlebih apa yang sudah mereka saksikan saat ini terbukti benar adanya.
"Apa kalian ingin tinggal di desa ini?" tanya Zero sambil menaikkan satu alisnya.
"Benar, Tuan." Mereka mencoba bersikap sehormat mungkin di depan Zero.
"Baiklah, aku akan dengan senang hati menerima kalian." Zero melihat mereka bisa menjadi orang yang bisa diandalkan.
"Terima kasih, Tuan," kata mereka serempak
"Kalau begitu aku akan memberikan tugas yang harus kalian lakukan mulai sekarang." Zero mulai membagikan tugas untuk mereka lalu dilanjut dengan membicarakan berbagai hal tentang pembangunan desa ini, terutama pada bagian pertahanan.
__ADS_1
Zero juga menanyakan berbagai hal tentang dunia luar pada mereka yang tak lain merupakan seorang petualang. Banyak informasi yang dia dapat dari mereka termasuk informasi tentang ras Dwarf yang saat ini sangat Zero butuhkan.
Pembahasan terus berlanjut sampai ketika hari sudah gelap mereka berhenti dan kembali ke tempatnya masing-masing.
*~*
Malamnya Zero memutuskan untuk tidur bersama Charla dan Sherria. Dia mengetuk pintu masuk terlebih dahulu untuk memastikan apakah mereka sudah tidur apa belum.
"Charla, Sherria…" panggil Zero.
"Zero-sama?" Mereka berdua bangkit dari tidurnya saat mendengar suara Zero.
"Ya. Ini aku."
"Masuk saja, Zero-sama," kata Charla.
"Apa aku boleh tidur dengan kalian?" tanya Zero setelah memasuki ruangan.
"Tentu saja boleh." Mereka berdua mempersilahkan.
Zero menghampiri mereka lalu menaiki ranjang kasurnya dan membaringkan tubuhnya di tengah-tengah mereka berdua.
"Ada apa Zero-sama? Kenapa tiba-tiba ingin tidur bersama kita?" Charla terkekeh sambil memposisikan tidurnya menghadap Zero yang kini kembali dalam wujud anak kecil. Sherria ikut tersenyum menghadapnya.
"Tidak ada apa-apa." Zero memejamkan matanya.
"Bulan depan kita akan keluar desa." Zero membuka matanya kembali.
"Keluar desa?"
"Ya."
"Kalau boleh tahu kemana itu, Zero-sama?" tanya Sherria.
"Kita akan pergi ke ibukota kerajaan Blue Diamond," jelas Zero
"Apa yang ingin Zero-sama lakukan di sana?"
"Nanti juga kalian akan mengetahuinya." Zero tidak ingin menjelaskannya sekarang.
"Apa hanya bersama kita berdua?" Charla memastikan.
"Ya. Sebelumnya aku sudah berjanji kan, akan mengajak kalian berdua untuk berpetualang bersama."
Charla dan Sherria menjadi antusias mendengarnya.
"Baiklah kalau begitu, kita akan selalu mengikuti Zero-sama kemanapun Zero-sama pergi." Charla menggenggam tangan Zero. Sementara Sherria masih tersenyum menghadapnya.
"Sudah tidur. Besok kalian harus berlatih lebih keras lagi." Zero memejamkan matanya.
"Baik. Selamat malam, Zero-sama…"
"Selamat malam…"
__ADS_1
Like & Coment