Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Toko Luar Biasa


__ADS_3

Dengan dituntun Gladius, Zero berjalan ke tempat dimana dia akan menjual barang-barang bernilai yang dia punya.


Sepanjang perjalanan, Zero meminta Gladius untuk menerangkan apa-apa saja yang dia ketahui tentang kota ini. Zero membutuhkan banyak informasi darinya mengingat dia baru beberapa hari tinggal di kota ini.


Gladius berkata pada Zero kebetulan dirinya sudah lama sekali tinggal di kerajaan ini dan dia sering berpindah-pindah tempat dari satu kota ke kota lain untuk mencari sesuatu yang menarik, jadi dia sudah mengenal banyak hal yang ada di dalamnya, contohnya seperti berbagai informasi tentang kota yang kini dia tempati.


"Berapa lama itu?"


"Hmm… kurang lebih… seratus tahunan lebih mungkin saya mendiami kerajaan ini."


"Hah? Yang benar saja? Kau sudah tinggal di kerajaan ini selama seratus tahun lebih? Bagaimana bisa?" Zero begitu terkejut sekaligus tidak percaya saat mendengar informasi itu dari Gladius secara wajah pria yang sepantaran dengannya ini tidak menunjukkan kalau dirinya sudah berusia satu abad lebih.


Tetapi saat melihat wajah Gladius, Zero mendapati apa yang diucapkan olehnya itu semuanya benar. Dan juga Zero mengingat sebelumnya Gladius pernah berkata kalau dirinya bukanlah manusia biasa melainkan manusia buatan ayahnya.


"Setelah ini selesai kau harus memberitahukan semua hal tentang identitasmu yang sebenarnya padaku." Zero penasaran dengan identitas Gladius yang menurutnya begitu misterius.


"Baik, Tuan." Gladius mengangguk pelan mengiyakan permintaan tuannya.


Gladius kemudian mulai menjelaskan satu persatu yang dia ketahui tentang kota ini pada tuannya, baik buruknya dia jelaskan semuanya.


"Begitu rupanya. Ternyata banyak juga tempat-tempat seperti itu." Zero tertarik akan tempat-tempat yang Gladius jelaskan.


"Apa Tuan ingin aku bawa ke sana?"


"Ya. Nanti kau bawa aku ke sana." Zero berniat mengunjungi tempat-tempat itu nanti karena untuk sekarang dia ingin pergi ke tempat tujuannya terlebih dahulu.


Semakin dalam Zero menuju ke tempat yang kini dituju, semakin terasa suram jalan yang dilaluinya.


Di setiap jalannya, Zero menemukan banyak gelandangan yang tidur di jalanan. Banyak pula para budak yang tengah disuruh-suruh oleh majikannya serta orang-orang bertampang tidak bersahabat yang memantau setiap orang yang berjalan di tempat itu.


Tempat yang kini dipijaki terlihat kotor di mata Zero karena kehadiran mereka.


Orang-orang yang tampak seperti preman itu tidak ada yang berani mengganggu Zero saat melihat sosok yang tengah berjalan di sisinya. Terlihat jelas mereka seperti tidak ingin berurusan dengannya.


Di masing-masing sisi tempat yang Zero lalui terdapat tempat-tempat penjualan yang menjual beraneka barang kuno atau antik, baik untuk dijadikan pajangan maupun untuk aksesoris.


Zero tidak tertarik dengan apa yang mereka jual dan terus melangkah menuju ke tempat yang dituju.


"Apakah masih jauh?"


"Sebentar lagi sampai, Tuan."

__ADS_1


Tak lama berjalan menyusuri tempat itu akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Tempat itu berada di ujung jalan dan tampak cukup ramai diisi oleh orang-orang.


"Ini dia, Tuan."


"Oh, ini, tempatnya…"


Tempat yang direkomendasikan oleh Gladius sangat besar, memiliki lima lantai di dalamnya dan diatasnya terdapat papan nama bertuliskan nama toko tersebut: Toko Luar Biasa.


"Hm...Tidak buruk…" Zero melihat nama toko tersebut tidak terlalu berlebihan.


Pasalnya dari luar dia sudah bisa melihat benda-benda bernilai seperti patung, lukisan, kerajinan tangan dan lain sebagainya dijejerkan di depan jendela untuk menarik perhatian pelanggan yang berlalu lalang di tempat itu.


Ketika masuk ke dalamnya, Zero melihat sesuatu yang lebih luar biasa lagi. Selain menjual barang-barang antik atau kerajinan tangan yang bernilai disana juga menjual item-item berharga bagi para petualang seperti potion atau obat-obatan dan berbagai perlengkapan.


Banyak petugas dan pelayan yang melayani orang-orang yang sekedar melihat-lihat atau ingin menjual dan membeli sesuatu di toko tersebut.


"Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan?" Zero langsung disambut oleh seorang pelayan cantik di toko itu.


"Aku ingin menjual sesuatu. Dimana aku bisa melakukannya?" tanya Zero sambil melirik ke kiri dan kanan.


"Kalau boleh tahu item seperti apa yang ingin anda jual itu?" Pelayan itu balik bertanya


"Sejenis tanaman obat langka mungkin."


Zero dan Gladius dibawa oleh pelayan toko itu ke sebuah ruangan tempat menjual item-item langka yang letaknya berada di lantai tiga toko tersebut.


Di sana terlihat ada tiga orang yang tampak sedang bernegosiasi dengan petugas yang bertugas di tempat itu. Mereka sedang membicarakan harga terbaik mengenai item yang dijual yang dapat menguntungkan kedua belah pihak.


Zero dan Gladius menghampiri meja salah satu petugas yang sedang tidak melayani siapa pun.


"Apa ada yang ingin anda jual?" tanya nya tanpa basa-basi.


"Ya. Aku ingin menjual sesuatu." Zero merogoh kantong ajaib yang dia bawa lalu memperlihatkan item yang ingin dijual ke kakek tua yang bertugas di sana.


"Berapa harga terbaik yang bisa aku dapatkan dengan menjual daun ini?" Zero meletakkan daun itu ke meja di depannya.


"Kalian dari mana mendapatkan Daun Suci Para Dewa ini?" Petugas itu terkejut, rekan di sampingnya dan ketiga orang yang tengah bernegosiasi serentak mengalihkan pandangannya ke arah Zero dan Gladius. Penasaran tentunya.


"Di puncak gunung kematian," jawab Zero singkat.


Saat mendengar puncak gunung kematian mereka langsung tahu kedua pria itu pasti seorang petualang kelas atas yang berhasil menaklukan gunung tersebut.

__ADS_1


"Hebat…aku pernah mendengarnya, daun ini dapat menyembuhkan segala jenis kutukan dan penyakit. Dengan meminum saripati daun ini seseorang yang lumpuh bisa kembali lagi berjalan, yang tuli bisa kembali mendengar dan yang buta bisa kembali melihat. Ini item yang sangat langka," jelasnya terkagum-kagum.


Zero langsung bisa menebak harga yang bisa didapat dari menjual daun ini pasti sangat fantastis.


"Aku tidak berani menentukan harga dari daun ini. Lebih baik anda langsung menawarkannya ke pemilik toko ini. Biar aku yang mengantarkan kalian ke tempatnya." Petugas tersebut antusias sekali.


Segera saja dia membawa Zero dan Gladius ke tempat orang yang mengelola toko luar biasa tersebut.


"Tuan, apa anda ada di dalam?"


"Ya. Masuk saja."


Saat membuka pintu masuk ruangan pemilik toko tersebut, Zero dan Gladius menemukan seorang pria berusia empat puluh tahunan tengah mengurus berkas-berkas di meja kerjanya.


Pemilik toko menghentikan aktivitasnya saat melihat kehadiran mereka.


"Ada apa?" Pemilik toko bangkit dari kursinya.


"Mereka ingin menawarkan item yang sangat langka, Tuan. Aku tidak berani menawarnya jadi lebih baik aku menyerahkan mereka pada Tuan saja," jelasnya memperkenalkan Zero dan rekannya.


"Oh, begitu. Baiklah, kau boleh pergi biar aku yang mengurusnya."


Petugas itu mengangguk lalu pergi dari hadapan mereka dan kembali ke tempat meja kerjanya.


"Lebih baik kita bicarakan ini sambil duduk." Pemilik toko mempersilahkan Zero dan Gladius duduk di kursi yang disediakan.


"Perkenalkan namaku Gildart. Aku yang mengelola toko luar biasa ini." Pemilik Toko memperkenalkan diri.


"Namaku Zero dan dia Gladius." Zero membalas perkenalannya. Gladius hanya mengangguk pelan sambil menunjukkan senyuman ramahnya.


"Langsung saja pada intinya, jadi Item seperti apa yang ingin kalian tawarkan itu?" tanya nya tanpa basa basi.


Zero mengeluarkan daun emas itu dan menaruhnya di meja, menunjukkannya pada Gildart.


"Anda pasti mengenal daun ini, kan? Berapa harga terbaik yang bisa aku dapatkan jika aku menjualnya?" Zero memulai negosiasi. Gladius memilih diam mengamati.


Gildart melebarkan kedua matanya, begitu terkejut dan menjadi antusias saat melihat daun emas itu tetapi dia mencoba kembali tenang di hadapan kedua pria di depannya.


Gildart mengambil daun emas itu lalu menelitinya untuk membuktikan keasliannya. Setelah diteliti daun emas itu memang asli, untuk itu dia semakin bersemangat untuk mendapatkannya.


"Hm...Aku bisa membayar tiga ratus koin emas untuk daun ini." Gildart menawarkan harga pertamanya.

__ADS_1


"Hah? Tiga ratus? Apa anda bercanda? itu terlalu sedikit." Zero menolaknya mentah-mentah.


__ADS_2