
"Kalian mengerti dengan apa yang sedang kalian lakukan…" suara Zero tidak kalah dingin, mengintimidasi mereka.
"S-Siapa kau?" Pemilik api itu yang pertama kali bereaksi. Dia terkejut melihat ada anak sepantaran dengannya mampu menangkis apinya dengan begitu mudah.
"Kenapa kau malah balik bertanya…" Zero menggerakkan tangannya, mencengkram leher anak laki-laki itu tanpa sedikitpun menyentuhnya.
"K-kenapa ini…leherku..." Anak laki-laki itu meronta kesakitan sambil memegangi lehernya yang terasa ada sesuatu yang mencengkramnya. Sedangkan mereka yang di dekatnya terlihat ketakutan dan segera memilih melarikan diri.
"Siapa yang suruh kalian pergi?" Aura sihir yang Zero keluarkan seketika membuat mereka yang hendak kabur berhenti dan memaksa mereka terjatuh dalam posisi berlutut.
"K-Kenapa ini. Tubuhku tidak bisa digerakkan."
"Berat sekali..."
"Apa ini ulahnya..."
Pandangan mereka segera tertuju pada Zero, menatapnya penuh ketakutan. Sementara adik terkecilnya yang tadi sempat tersungkur ke belakang tidak kalah terkejutnya melihat kehadiran Zero yang tiba-tiba muncul di depannya.
"Aku tanya sekali lagi, apa kalian mengerti dengan yang sedang kalian lakukan." Zero menekan auranya lagi dan masih mencengkram anak yang tadi hampir membunuh adiknya itu dengan kuat.
"Hentikan… sudah kumohon hentikan..." Adik terkecil yang melihat semua kakaknya diperlakukan seperti itu segera bergerak menyuruh Zero untuk berhenti dengan cara memegangi tangannya.
"Hah~?" Zero menatap tajam ke adik terkecil yang berdiri di sampingnya itu, "Kenapa kau menghentikanku? Bukankah mereka sejak tadi terus-terusan melukaimu, bahkan sampai mencoba membunuhmu," kata Zero terdengar tajam.
"Sudah tolong hentikan! Jangan sakiti kakakku! Aku mohon..." Si adik tidak mendengarkan kata-kata Zero. Dia terus mencoba menggerakkan tangan Zero yang membuat kakaknya tercekik itu dengan segenap tenaga, bahkan sampai mengeluarkan air mata.
"Apa kau tidak mendengarku, hah?"
Si adik masih saja terus seperti itu dan membuat Zero kesal, karena sifatnya yang naif itu seolah mengingatkan dia pada dirinya sendiri.
"Naif..." Zero menggerakkan satu tangannya yang lain menerbangkan adik kecil itu ke belakang.
Dia pun melepas cengkraman yang mencekik anak itu dan juga menarik kembali aura sihirnya dan membuat mereka bisa kembali bernafas bebas. Meski begitu tidak ada diantara mereka yang berani kabur dari tempat itu. Ketakutan terlihat jelas di wajah mereka.
"Kau tidak apa-apa..." Gadis demi-human yang tadi berlari menyusul Zero langsung mendekati anak kecil itu.
"Tidak apa-apa..." Adik kecil menggeleng pelan.
"Syukurlah..." Sherria membersihkan tubuh adik kecil itu yang dipenuhi dengan pasir.
"Kakak siapa? Apa kakak temannya?" tanya adik kecil itu sambil menunjuk Zero.
"Iya, kakak temannya."
"Kalau begitu kumohon suruh dia berhenti..." Adik kecil itu memohon.
__ADS_1
"Sudah jangan takut, dia bukan orang jahat." Sherria tersenyum menatap adik kecil itu mencoba membuatnya tenang.
"Siapa diantara kalian yang paling tua disini..." Zero berjalan mendekati mereka semua. Mereka yang ketakutan serempak langsung melirik ke kakak paling tertua mereka. Sedangkan si kakak terlihat semakin ketakutan melihat Zero berjalan mendekatinya.
"Mewakili mereka semua apa kau mengerti dengan apa yang sedang kau lakukan?" Zero berdiri di depan kakak tertua yang tengah terduduk itu, menatapnya dingin.
"I-Iya. Aku mengerti. Aku salah..." Si kakak mengangguk-anggukkan kepalanya bersikap bersalah.
"Kalau begitu sekarang apa yang harus kau lakukan?" Zero menyilangkan kedua tangan di dadanya.
"A-Aku minta maaf..." Si kakak bersujud meminta maaf pada Zero. Begitupun dengan yang lain.
"Kenapa kalian meminta maaf padaku?" tanya Zero terdengar dingin.
Mendengar pertanyaan itu, si kakak dengan cepat menegakkan tubuhnya lantas segera meminta maaf pada adiknya yang tadi dia permainkan.
"Adik, maafkan kakak. Kakak bersalah..." Yang lain pun segera ikut meminta maaf.
Si adik yang tadi mereka permainkan berdiri.
"Iya tidak apa-apa...aku memaafkan kalian..." jawabnya sambil tersenyum seolah tidak ada rasa marah sama sekali meski mereka sudah memperlakukannya buruk tadi.
"Hah? Kau memaafkannya begitu saja?" Zero dibuat geram oleh sifat naif anak itu.
"Bodoh, kau seharusnya mengerti. Inilah alasan mengapa mereka berbuat seperti ini padamu. Itu semua karena kau terlalu naif..." gerutu Zero menceramahi adik itu. Pada saat yang sama dia seolah seperti sedang menceramahi dirinya sendiri yang saat itu masih naif.
Zero segera mengalihkan pandangannya kembali ke mereka yang ada di depannya.
"Kalian masih ingin berbuat seperti itu lagi padanya?" Zero menatap tajam mereka semua.
"T-Tidak. Kami berjanji mulai sekarang akan berbuat baik..." Kakak yang paling tua mewakili adik-adiknya yang lain.
Zero mendeteksi ada kebohongan yang terucap dari perkataan kakak tertua barusan serta skill Sage Eye-nya memberitahukan bahwa mereka semua bukanlah orang yang suka menepati janji.
"Benarkah begitu... " Zero tersenyum sinis kemudian mengeluarkan sesuatu dari ruang kosong yang sontak membuat mereka semua terkejut sebelum berubah menjadi takut.
"Benar. Kami janji tidak akan berbuat jahat lagi padanya." Kakak tertua mencoba meyakinkan Zero tetapi Zero tidak melihat kata-kata itu bisa dipegang.
Zero mendekati kakak tertua sambil menggenggam sesuatu yang tadi dia keluarkan di tangannya.
Adik kecil itu mencoba menghentikan langkah Zero namun segera ditahan oleh Sherria.
"Jangan khawatir, dia tidak akan berbuat jahat pada kakakmu…" Sherria mengingatkan sambil tersenyum. Si adik mengangguk, mencoba percaya pada perkataannya.
"A-Apa yang ingin kau lakukan..." Melihat Zero mendekat, kakak tertua menjadi ketakutan, sama halnya dengan yang lain.
__ADS_1
Begitu jaraknya dekat, Zero dengan cepat meraih tangan kakak tertua lalu menggambar sesuatu menggunakan spidol permanen yang tadi dia keluarkan pada telapak tangan kakak tertua.
"A-Apa ini?" Kakak tertua melihat gambar di telapak tangannya.
"Itu simbol kutukan…" Zero tersenyum lebar.
"Jika kau sekali saja mengingkari janjimu..." Zero menunjuk ke salah satu pohon besar sebelum sesaat berikutnya
Bum!
Pohon itu meledak yang sontak membuat mereka semua yang ada di situ terkejut.
"Kau dan orang-orang di dekatmu akan bernasib sama seperti itu." Zero berniat menakut-nakuti mereka.
"K-Kenapa kau melakukan ini padaku. Ini terlalu berlebihan..." Kakak tertua yang mempercayai perkataan Zero menjadi sangat ketakutan. Adik-adiknya yang lain kini menjadi takut berada di dekatnya.
"Aku hanya memastikan kau benar-benar sungguh dengan perkataanmu..." Zero tersenyum melihat reaksi kakak tertua.
Kakak tertua menelan ludah serta berkeringat dingin saat melihat nyawanya kini terancam jika dia mengingkar janji.
"Kusarankan kau sebagai yang tertua disini agar mengajari adik-adikmu dengan baik, mengerti?"
Kakak tertua dengan patuh mengangguk-anggukan kepalanya.
"Termasuk kalian juga…" Zero menatap satu persatu mereka semua sebelum ikut menuliskan simbol yang sama juga pada tangan mereka.
"Baiklah. Kurasa sudah cukup..." Zero memasukkan spidolnya kembali ke dalam ruang kosong—inventory. Semuanya kini mempunyai simbol yang sama di telapak tangannya.
"Jangan pikir aku sedang berbohong hanya untuk menakut-nakuti kalian saja." Zero berkata dingin, melihat ada diantara mereka yang tidak mempercayai simbol itu. Namun setelah berkata demikian mereka pun langsung sepenuhnya percaya kalau simbol itu memang adanya.
Zero berharap dengan cara ini mereka bisa menjadi akur sekarang.
"Sudah cukup…" Zero berbalik meninggalkan mereka menuju ke tempat Sherria dan adik kecil itu berada.
"Hei kau, mulai sekarang kurangi sifat naifmu itu atau suatu saat kau akan menyesalinya." Zero menatap tajam memperingati adik itu sejenak sebelum pandangannya kembali pada Sherria.
"Ayo Sherria." Dia berjalan ke salah satu arah meninggalkan mereka semua yang ada di sana.
"Baik, Zero-sama." Sherria mengikuti dari belakang.
"Te-terima kasih!" Si adik membungkukkan setengah tubuhnya menghadap mereka berdua. Dia tahu kalau simbol itu hanya sebatas gertakkan agar kakaknya mulai saat ini bersikap baik padanya. Atas hal itu dia merasa berterima kasih.
Zero hanya melambaikan satu tangannya sedangkan Sherria tersenyum sesaat melihat adik kecil itu.
Di belakang adik kecil itu kini kakak-kakaknya terlihat lesu, tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Simbol di tangannya itu benar-benar membuat mereka menjadi dilema.
__ADS_1
Namun pada saat yang sama mereka mulai menyadari kalau mereka selama ini telah berbuat jahat pada adiknya, padahal adiknya selama ini selalu berperilaku baik. Dan jika bukan karena adiknya tadi yang memohon untuk melepaskannya mungkin nyawa mereka tidak terselamatkan sekarang.