
Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.
Terima kasih dan selamat membaca
______________________________
"Sudah kubilang bukan untuk tidak mengikutiku." Akira menyadari keberadaan Charla yang kini tengah berjalan mendekatinya.
"Habisnya aku bosan kalau harus menunggu sendirian disana." Charla duduk di samping Akira yang tengah berbaring di hamparan rumput yang sedikit menjorok ke bawah, dengan kedua tangan terlipat ke belakang sebagai bantalan sambil memejamkan matanya menikmati angin semilir yang menerpa.
"Pemandangan yang indah..." Mata Charla berbinar oleh kekaguman saat melihat pemandangan alam sekitar. Hamparan rumput hijau disertai bunga bertebaran dimana-mana. Langit sore yang masih tampak cerah memperjelas keindahan alam lainnya.
Sudah lama Charla tidak menemukan pemandangan yang begitu indah seperti ini sejak hari-hari sebelumnya dia selalu berada di dalam hutan.
Charla merentangkan kedua tangannya, menghirup udara sekitar lalu menghembuskannya, "Ah...nikmati sekali...untungnya aku mengikuti Akira-san kesini..."
Akira tidak menanggapi perkataan Charla dan masih memejamkan mata.
Tidak ada lagi percakapan diantara mereka setelah itu. Mereka berdua saling terdiam, sibuk menikmati keindahan alam sekitar dengan caranya tersendiri.
Sampai beberapa saat berlalu, Charla lebih dulu memecah keheningan, "Akira-san, apa ada sesuatu yang kau pikirkan?" tanya Charla saat menoleh pada Akira dan menemukan Akira seperti tidak sedang menikmati keindahan alam melainkan sedang sibuk memikirkan sesuatu.
"Tidak ada." Akira tidak ingin menjelaskannya, atau lebih tepatnya tidak bisa.
Charla mengetahui ada suatu hal yang coba Akira sembunyikan darinya walaupun dia sebenarnya sudah tahu apa itu, namun dia masih belum bisa mengungkapkannya pada Akira.
'Sepertinya memang tidak ada cara untuk membebaskannya dari tempat ini. Apa yang harus aku lakukan sekarang...' Akira sudah berpikir sejak tadi tetapi usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil.
Sekarang dia mengakui betapa bodohnya dirinya karena mencari sesuatu yang tidak pasti. Seharusnya Akira sudah tahu kalau dia tidak bisa keluar dari tempat ini bersama Charla, hal yang membuatnya terlihat bodoh yaitu karena dia masih belum bisa menerima kenyataan itu.
Situasinya sekarang membuat Akira merasa bimbang terlebih ketika dia teringat kembali akan perkataan Thamuz tadi yang masih segar di telinganya.
"Akira-san, aku tahu apa yang sedang kau pikirkan..." Charla kembali memecah keheningan, akhirnya dia memutuskan untuk mengungkapkan sesuatu yang sejak tadi tidak bisa dia ungkapkan.
"Sudah jangan khawatirkan aku. Aku tidak apa-apa kalau harus berakhir seperti ini." Charla mencoba tetap ceria di depan Akira meski perasaannya kini sedang goyah.
Akira membuka matanya, sedikit terkejut terhadap penuturan Charla. Dia lalu bangkit dan menatap Charla, "Bicara apa kau, Charla. Apa yang kau ketahui dariku."
"Aku tahu, Akira-san sekarang pasti sedang memikirkan bagaimana caranya agar bisa mengeluarkanku dari tempat ini, kan?"
Akira membuka mulutnya namun tidak ada satupun kata yang terucap karena tebakan Charla memang sepenuhnya benar.
Akira baru teringat kalau sebelumnya dia juga pernah berjanji untuk mengeluarkan Charla dari tempat ini. Meskipun janji yang dia utarakan pada saat itu bukan dimaksudkan untuk Charla melainkan dirinya sendiri.
Melihat Akira tidak bisa menjawabnya, Charla tersenyum sambil memejamkan matanya sesaat,"Ternyata memang benar."
Charla kemudian mendekap kedua lututnya sebelum menjelaskan sesuatu yang sudah lama dia tutupi,"Akira-san, aku minta maaf, karena sebelumnya aku tidak memberitahukan semua informasi yang kuketahui padamu..."
"Maksudnya?" Akira mengerutkan dahinya belum mengerti.
"Sejujurnya aku juga masih belum percaya dengan informasi yang satu ini…" Charla menghela nafas singkat lalu melanjutkan.
"Sebelum aku bisa ada disini, sebenarnya aku sempat mendapatkan dua informasi...Yang pertama, seperti yang pernah Akira-san ketahui, aku disuruh untuk bertahan hidup di tempat ini, dan yang kedua..." kata-kata Charla tertahan untuk sesaat. Dia menoleh menatap Akira sambil tersenyum dan kembali melanjutkan, "Yang kedua aku diberitahukan kalau hanya akan ada satu orang yang bisa keluar dari tempat ini...
Ini juga menjadi alasan lain mengapa sebelumnya aku memutuskan untuk meninggalkanmu, karena aku tidak ingin hal seperti ini terjadi."
Akira semakin terkejut mendengar penjelasan Charla. Tidak pernah dia sangka ternyata selama ini Charla juga memikirkan hal yang sama dengannya.
Akira menggigit bibirnya sambil memijat keningnya dengan pandangan menunduk ke bawah tidak bisa berkata apa-apa. Penjelasan Charla membuat situasi yang kini dia hadapi semakin sulit.
"Jadi, jangan khawatirkan aku. Aku tidak apa-apa kalau harus mati di tanganmu, Akira-san." Charla tersenyum menatap Akira, tetapi senyumannya tidak menunjukan kalau dirinya sedang bahagia, terlihat ada tanda-tanda air mata di kelopak matanya.
Akira menggelengkan kepalanya, "Tidak bisa. Tidak adil kalau hanya aku sendiri yang keluar dari tempat ini. Aku juga ingin membebaskanmu, Charla." Akira bersikukuh untuk membebaskan Charla, padahal dia tahu kalau itu bukanlah hal yang mudah, atau bahkan bisa dibilang mustahil.
Charla merasa senang mendengar keinginan Akira begitu kuat, tetapi dia juga harus sadar apa yang Akira inginkan tidak akan bisa terkabulkan.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, Akira-san..." Charla meraih kepala Akira secara lembut lalu membenamkannya di pelukannya.
Charla rela berkorban demi Akira karena dia berpikir setidaknya dengan begini dia akan terlihat lebih berguna.
"Charla...baru pertama kali ini ada seseorang yang bersikap seperti ini padaku..." Suara Akira terdengar sendu.
"Tidak...Akira-san hanya lupa saja..." Charla mengelus-elus kepala Akira penuh kasih.
"Aku tidak ingin kehilangan sosok sepertimu lagi, Charla. Aku akan mencari cara untuk membebaskanmu, apapun itu aku yakin pasti ada cara." Akira masih keukeuh pada pendiriannya, rasanya sangat sulit untuk melepaskan seseorang yang sudah menjadi sosok yang sangat berharga baginya.
Sesaat kemudian sesuatu yang mengejutkan tiba-tiba terjadi. Suara gemuruh terdengar sangat keras beresonansi di udara disertai langit yang semula berwarna putih kini perlahan berubah menjadi warna merah.
Akira melepaskan diri dari pelukan Charla dan terkejut melihat fenomena tersebut, "Apa yang terjadi?"
"Tidak tahu..." Charla menggeleng pelan. Dia merasakan suatu firasat kalau fenomena ini menandakan sudah waktunya dia berpisah.
Akira segera menoleh ke panel waktu di sampingnya. Dia terkejut bukan main saat melihat waktu yang tersisa.
{0 hari| 0 jam | 15 menit| 23 detik}
"Kenapa secepat ini?" teriaknya.
"Akira-san, apanya yang cepat?" Charla ikut terkejut sekaligus bingung mendengar perkataan Akira.
Akira menggertakan giginya, sulit menjelaskannya pada Charla. Wajahnya tampak sangat gelisah.
"Sial!" Akira menggaruk kepalanya keras.
"Apa sudah saatnya kita berpisah?" Firasat Charla semakin besar begitu melihat ekspresi Akira.
"Jangan bicara seperti itu! Kau akan ikut keluar dari sini bersamaku!" Akira segera bangkit dari posisinya dan berjalan ke dekat pohon di belakangnya menjauhkan diri dari Charla
"Akira-san..." Charla tidak tahu bagaimana harus menanggapi situasinya saat ini. Dia ikut berdiri mengamati Akira dari kejauhan dengan perasaan yang sulit diartikan.
Disana Akira membuka panel map untuk mencari tahu situasinya sekarang.
"Sial! Sial! Sial! Kenapa harus secepat ini! " Akira memukul-mukuli pohon di depannya, merasa frustasi karena belum menemukan jawaban apapun untuk mengeluarkan Charla bersamanya. Charla sendiri yang melihat Akira di kejauhan mengerutkan wajahnya cemas.
"Apa aku harus meminta bantuannya…" Hanya ada satu pilihan yang terpikirkan oleh Akira saat ini meskipun dia tidak sepenuhnya yakin kalau ini akan berhasil.
"Sistem Call..." Akira sesaat tampak ragu sebelum melanjutkan, "Sistem Call: Sistem, kumohon...apakah ada cara untuk membebaskannya dari tempat ini? Jika ada tolong beritahu aku!" Setelah sekian lama memutuskan diam, Akira akhirnya meminta bantuan lagi pada Sistem.
Akira sebelumnya benar-benar sudah muak mendengar jawaban Sistem sehingga dia memutuskan untuk tidak ingin meminta pertolongan lagi padanya. Rasa muak itu masih ada saat mengetahui tidak ada jawaban sama sekali dari Sistem.
"Sistem...jawab pertanyaanku..."
Tidak ada jawaban.
Akira menghela nafas dengan wajah semakin cemas.
Ketika Akira berpikir itu adalah hal yang percuma secara mengejutkan Sistem menjawab pertanyaannya.
[Ada. Anda harus membunuhnya.]
Sayangnya jawaban Sistem tidak sesuai dengan apa yang Akira harapkan.
"Jangan bercanda!" Dalam sekali pukulan, Akira menghancurkan tiga sampai lima pohon di depannya saking kesalnya mendengar jawaban Sistem.
"Akira-san, sudah hentikan..." Charla yang berada di belakangnya mendekati Akira, merasa cemas pada kondisinya.
Akira tidak mendengarkan perkataan Charla. Dia masih fokus pada Sistemnya.
"Sistem kumohon, untuk kali ini janganlah bercanda..."
[Saya tidak bercanda. Sistem menerima pesan kalau memang hanya itu caranya.]
__ADS_1
"Pesan? Pesan dari siapa?" Akira kali ini keheranan mendengar jawaban Sistem.
[Tidak bisa menjawab.]
"Sistem!!!" Akira menjambak rambutnya sendiri sangat kesal pada Sistem. Benar-benar kesal. Dia tidak tahu lagi harus meminta bantuan pada siapa. Sistem yang saat ini menjadi satu-satunya orang yang bisa dimintai tolong kini malah menjadi penghancur harapannya.
Rasa kesal yang Akira rasakan seketika hilang saat Charla tiba-tiba merangkulnya dari belakang, "Sudah hentikan...bunuh saja aku...kita akhiri semuanya disini..." lirih Charla mulai menangis.
"Tidak bisa. Aku ingin kau ikut bersamaku." Akira menggelengkan kepalanya menolak.
Suara gemuruh terdengar semakin dekat, langit pun sudah hampir sepenuhnya berubah menjadi warna merah. Keadaan mereka sekarang semakin genting.
"Tidak ada lagi waktu untuk memikirkan itu, bunuh saja aku sekarang!" teriak Charla dengan deraian air mata yang tak dapat terbendung lagi.
"Tidak!"
"Kumohon...aku tidak ingin melihatmu menderita..."
"Tidak! Aku tidak bisa! Aku akan sangat menderita jika melakukannya! " Akira masih menolak.
"Kalau begitu..." Charla menggerakan tangannya mengambil sesuatu di pinggang Akira.
"Biar aku sendiri yang melakukannya..." Sebelum Akira sempat menyadari apa yang ingin dilakukan Charla, Charla sudah lebih dulu menusukan belati milik Akira pada tubuhnya sendiri.
"Cha...Charla! Apa yang kau lakukan!" Tubuh Akira bergetar melihat aksi nekat Charla. Dia segera menangkap tubuh Charla yang terhuyung ke belakang, "Bodoh! Kenapa kau melakukan hal seperti ini…" Raut wajah Akira tampak sangat gelisah.
Charla tersenyum lemas menatap Akira,
"Maaf, Akira-san...kurasa ini satu-satunya jalan yang terbaik..." lirih Charla sambil menahan rasa sakit akibat tusukan di bagian vitalnya.
"Tidak...kau tidak boleh mati... Kau harus ikut bersamaku, Charla!" Akira menggelengkan kepalanya, tidak bisa terima jika dia harus berpisah. Air mata mulai keluar dari mata Akira dan menetesi wajah Charla yang perlahan berubah menjadi partikel cahaya.
"Maaf...aku tidak bisa…" Charla ikut meneteskan air matanya.
"Terimakasih, Akira-san...karena Akira-san selama ini selalu melindungiku...meski pertemuan kita terbilang singkat, tapi aku sangat senang bisa bertemu denganmu..." Charla tersenyum penuh kasih.
"Aku pun sangat senang bertemu denganmu...Jadi kumohon jangan tinggalkan aku, Charla."
Kilas balik kenangan bersama Akira terlintas di benak Charla, dari mulai kenangan menyebalkan saat pertama kali bertemu dengannya...
Kenangan lucu yang membuatnya ingin tertawa pada saat dirinya tidur di tenda Akira tanpa permisi...
Kenangan mengharukan saat dimana Akira datang sebagai penyelamatnya dan juga selalu menjadi tempat untuknya menangis dikala dia tidak bisa meluapkan perasaannya…
Sampai kejadian tadi yang penuh akan sukacita sebagai penutup cerita yang begitu indah dari pertemuan mereka...
"Aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu, Akira-san. Selama aku hidup, aku tidak pernah merasakan rasa yang sangat dalam seperti pada seseorang...meskipun terbilang lucu mencintai seseorang yang lebih muda dariku, tapi aku sangat bahagia bisa merasakan hal itu..."
"Tidak adil...jika kau mencintaiku kenapa kau harus pergi meninggalkanku…kenapa kalian semua sama..." Air mata terus keluar dari mata Akira karena tak kuasa menahan kesedihan yang sangat mendalam akan kepergian Charla.
"Jangan menangis..." Charla menyeka air mata yang mengalir di pelupuk mata Akira, "Akira-san yang ku kenal tidak pernah menangis...Akira-san yang ku kenal adalah orang yang kuat, pemberani dan baik hati...
Jadi jangan menangis..." Charla tersenyum seakan ingin mengartikan kalau dia sangat bahagia.
Air mata malah semakin mengalir deras di mata Akira terlebih saat melihat tubuh Charla sebentar lagi akan lenyap dari pandangannya.
Dengan segenap tenaga terakhir yang dia punya,Charla meraih kepala Akira dan memberikan ciuman hangat sebagai akhir cerita dan salam perpisahan darinya.
"Dengan begini aku terlihat lebih berguna sekarang..." Tubuh Charla akhirnya sepenuhnya memudar menjadi partikel cahaya dan hilang dari pangkuan Akira terbawa terbang ke udara.
"Sayonara, Akira-san...Aku yakin kita akan bertemu lagi..."
"Sayonara...."
——
__ADS_1
(╥﹏╥)