Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Pertarungan Magic Emperor


__ADS_3

Zero masih setia menyaksikan mereka yang masih berusaha memadamkan apinya meskipun usahanya itu sama sekali tidak membuahkan hasil. Bahkan salah satu dari mereka yang tidak sengaja menyentuh apinya malah berakhir secara mengenaskan. 


"Jangan sampai menyentuhnya, api ini berbahaya!" teriak salah satu dari mereka memperingatkan. 


Mereka yang dekat dengan api itu seketika tidak berani lagi mendekat dan lebih memilih memadamkan api itu dari jauh. Mereka jelas tidak ingin berakhir seperti orang yang tadi menyentuhnya dan kini hangus tak bernyawa. 


"Ada apa dengan api ini? 


Kenapa susah sekali dipadamkan? 


Siapa sebenarnya yang telah membuat api seperti ini?"


Mereka tampak kebingungan dengan api tersebut dan sosok yang telah memantiknya. Tidak ada satupun dari mereka yang berhasil memadamkannya, bahkan untuk secuil api pun mereka tidak mampu. 


Pada akhirnya mereka hanya bisa pasrah mengamati bangunan yang besar itu seiring waktu hangus dilalap oleh si jago merah. Hingga beberapa menit kemudian, bangunan itu pun lenyap dan hanya menyisakan puing-puingnya saja. 


"Kurasa sudah cukup..."


Zero memadamkan api neraka miliknya setelah memastikan bangunan yang dilahapnya sudah hangus beserta dengan barang haram dan para budak menyedihkan yang ada di dalamnya. 


Zero memadamkan api itu karena tidak ingin api yang amat berbahaya itu menyebar dan menimbulkan kericuhan yang lebih besar lagi. 


Mereka yang tadi bersusah payah memadamkan api itu menjadi keheranan saat melihat api yang berkobaran itu tiba-tiba padam dengan sendirinya. Disaat yang sama mereka tentunya merasa lega karena dengan begitu tidak ada korban yang berjatuhan. 


"Dengan ini, semua urusanku di kota ini telah selesai." Zero kemudian pergi dari tempat itu dengan melompati atap demi atap bangunan. 


Disaat Zero hendak kembali ke penginapan, di tengah langkahnya, Zero dicegat oleh salah satu ksatria suci yang dia kenal. Ksatria suci yang tampak berusia dua puluh tahunan itu kini sedang berdiri di atap bangunan, menghalau langkahnya. 


'Cih, kenapa harus bertemu dengannya disini,' batin Zero memperlihatkan ekspresi malas dari balik topengnya. 

__ADS_1


"Hei, bocah bertopeng, Venom, atau apa sebutanmu itu, senang bertemu denganmu…" Ksatria suci itu tersenyum karena merasa berhasil menangkap Zero kali ini setelah sebelumnya selalu gagal,"Habis dari mana kau? Kenapa terburu-buru seperti itu? Jangan bilang kau yang tadi telah membakar bangunan itu?" Senyumannya kini berganti dengan ekspresi dingin seolah ingin mengintimidasi. 


"Maaf, aku tidak mempunyai waktu untuk menjawab pertanyaanmu." Zero yang tidak ingin berurusan dengannya memilih pergi melarikan diri.


"Mau kemana kau? Kali ini aku tidak akan melepaskanmu!" Ksatria suci yang dikenalinya yang tidak lain adalah Lawrence mengejar Zero. 


Zero dan Lawrence saling kejar-kejaran dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang. Menapaki satu atap ke atap lainnya dan menghindari setiap rintangan yang muncul di hadapannya. 


Zero menoleh ke belakang dan terkesan mengetahui Lawrence ternyata mampu mengimbangi kecepatannya meski dia kini sudah menggunakan kecepatan penuhnya. 


"Ahh...Kalau begini aku tidak bisa kembali ke penginapan. Aku tidak ingin dia tahu siapa aku sebenarnya." Menyadari hal itu, Zero beralih membawa Lawrence keluar kota. Dia baru berhenti setelah berada di pinggiran hutan yang letaknya jauh dari kota itu. 


"Sudah berhenti bermain kejar-kejarannya dan jawab pertanyaanku tadi." Lawrence segera menghadang Zero, tidak ingin membiarkannya kabur lagi. 


"Aku tidak mempunyai kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu, kan? Lalu untuk apa kau memaksaku. Lagi pula jika pun aku memberitahukannya, kau tidak mungkin percaya." Zero bersikap santai selagi mengamati situasi sekitar. Dia menemukan tidak ada orang lain selain dia, Lawrence dan Gladius yang kini memantaunya dari kejauhan. 


"Orang jahat, ya…" Zero terkekeh pelan,"Kau mengejarku sampai sini karena ingin menangkapku bukan?" 


"Tentu saja. Memangnya apa lagi? Aku tidak akan melepaskan orang yang telah mengganggu ketenangan di kota ini." Lawrence menghunuskan pedangnya dengan sebelah tangan ke arah bocah di depannya. 


"Ketenangan?" Zero tertawa pelan, tidak takut dengan pedang milik Lawrence meski harus dia akui pedang itu memiliki kualitas yang tinggi. 


"Sepertinya kau selama ini hanya duduk diam dan bobo manis di rumah saja ya sampai tidak mengetahui kebusukan yang sering dilakukan oleh orang-orang busuk yang telah meresahkan banyak orang di kota ini," kata Zero terdengar seperti meledek. 


"Apa maksudmu berkata begitu?" Lawrence tidak suka dengan penuturan Zero. 


"Apa kau tahu alasanku menghukum pemilik tempat itu beserta dengan tempat persembunyiannya?" tanya Zero. 


Lawrence mendengus pelan sambil tersenyum, "Kau pasti hanya ingin merampas kekayaan miliknya saja atau sekedar untuk bersenang-senang seperti yang telah kau lakukan dengan perang waktu itu, kan. Kau bahkan sampai berani melakukan hal yang hina dengan melukai harga diri adikku sebagai seorang wanita." Lawrence terdengar marah di bagian kalimat terakhirnya. Dia mengepal gagang pedangnya dengan erat sampai urat-urat di tangannya keluar. 

__ADS_1


"Jadi begitu menurutmu…" Zero menghela nafas pelan. Dia mengetahui pasti Lawrence sangat marah dengan aksinya waktu itu yang telah memangkas mahkota adiknya. 


"Biar kujawab pertanyaanmu tadi. Alasanku melakukan itu pada pemilik tempat itu karena dia selama ini telah melakukan sesuatu yang dapat merugikan banyak orang," ujar Zero. 


"Omong kosong. Kau pikir aku akan percaya dengan perkataanmu lalu melepaskanmu begitu saja." Lawrence tersenyum mengejek seperti tidak sudi mempercayai perkataan Zero. 


"Sudah kuduga kau pasti tidak akan mempercayainya. Sayangnya aku tidak bisa menunjukkan kebenarannya karena buktinya sudah aku bakar bersama dengan mayatnya." Zero menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal lalu kembali membuang nafas, "Asal kau tahu saja, aku tidak ingin bertarung denganmu, tapi aku juga tidak ingin ditangkap olehmu," kata Zero. 


"Menggelikan. Jangan bersikap seolah kau masih bisa hidup setelah ini." Lawrence menatap bocah di depannya dingin namun penuh amarah di dalamnya. Pedangnya yang terpantulkan cahaya bulan terhunus ke arahnya. 


"Sepertinya memang tidak ada pilihan lain…" Zero memanggil pedang class B dalam inventory-nya lalu memposisikan diri bersiap bertarung, "Majulah jika kau ingin menangkapku. Aku akan menyelesaikan ini secepatnya," tantang Zero. 


"Jangan banyak tingkah, bocah..." Lawrence maju lebih dulu menyerang Zero yang kemudian disambut olehnya. 


Pertarungan antara Zero versus Lawrence pun terjadi di pinggir hutan yang sepi. 


Kedua pedang saling berbenturan, menciptakan percikan api dan dentingan yang sangat keras. 


Zero menggunakan teknik Enfold untuk memperkuat pedangnya karena menyadari pedang miliknya kalah kuat jika dibandingkan dengan pedang milik Lawrence. 


Zero dan Lawrence juga tentunya tidak lupa menggunakan teknik Enhancement untuk meningkatkan kekuatan, kecepatan serta ketahanan tubuhnya. 


Setelah menggunakan semua teknik tersebut, Zero dan Lawrence mulai bertarung dengan serius. Saat sejenak bergerak mundur, keduanya serempak mengeluarkan aura sihir yang mereka punya untuk mengintimidasi lawan dan kembali maju menyerang. 


Zero bisa mengetahui tingkatan sihir Lawrence dari aura sihir yang dia keluarkan. Zero terkesan karena Lawrence mampu menyembunyikan tingkatan sihir sebesar ini tanpa alat bantu sepertinya.


Zero tidak menyangka kalau Lawrence ternyata adalah seorang Magic Emperor sama seperti dirinya, meskipun dirinya sudah berada di tahap akhir sedangkan Lawrence masih berada di tahap awal. 


Pertarungan antara kedua Magic Emperor berlangsung dengan sengit. 

__ADS_1


__ADS_2