
Hari mulai menjelang malam. Lentera yang terpasang di setiap perumahan di kota itu satu persatu mulai dinyalakan. Keadaan kota yang sejak pagi terasa sepi kini kembali hidup. Orang-orang beraktivitas seperti biasa.
Para petualang dan pasukan militer kerajaan yang sebelumnya ikut bertempur menghadapi gelombang monster saat ini sedang menghibur diri dan melepas penat agar di gelombang monster berikutnya mereka bisa kembali bersemangat.
Setelah mendapatkan informasi berharga dari sekelompok party itu, Zero dan Gladius kembali pada tujuannya untuk mencari tempat penginapan.
Di tengah perjalanan mencari penginapan, Gladius yang berjalan di samping Zero sejak tadi penasaran dengan informasi yang Zero cari tentang bangsawan yang tinggal di kota ini.
Dari ekspresi yang dia tangkap ketika Zero mencari tahu informasi tentang bangsawan itu sepertinya bangsawan itu memiliki hubungan yang sangat buruk dengan Zero.
Gladius kemudian mengungkapkan rasa penasarannya."Tuan, bolehkah saya mengetahui alasan mengapa Tuan mencari informasi tentang bangsawan itu. Siapa tahu saya bisa membantu Tuan untuk mencari tahu lebih jauh tentangnya."
Mendengar keingintahuan Gladius, Zero berpikir sepertinya tidak ada salahnya jika memberitahukan alasan dirinya melakukan itu.
"Aku hanya ingin memberikan sedikit pelajaran padanya. Pelajaran yang mungkin tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya," kata Zero dingin memberitahukan tujuannya pada Gladius.
"Memangnya apa yang sudah dia lakukan pada, Tuan?" Gladius tambah penasaran, terlebih saat melihat Zero seperti sangat membenci bangsawan itu.
"Bukan padaku, tapi Sherria," jawab Zero.
Mendengar pernyataan itu, Gladius teringat oleh kejadian sebelumnya saat Sherria tampak takut ketika mengetahui quest yang Zero terima berhubungan dengan kota ini.
"Sekarang saya sedikit mengerti alasan mengapa Sherria-chan waktu itu takut dengan kota ini. Jadi Sherria-chan pernah mempunyai masalah yang buruk dengan bangsawan yang tinggal di sini." Gladius menyimpulkan apa yang dia tahu.
"Ya, kurang lebih begitu."
Zero membenarkan kesimpulannya tersebut lalu menjelaskan lebih rinci lagi mengenai masalah yang dialami Sherria pada Gladius.
__ADS_1
"Dulu sebelum dia bertemu denganku, Sherria adalah seorang budak bangsawan itu. Kau pasti mengerti masalah seperti apa yang dialami Sherria saat tinggal bersamanya,' jelas Zero terdengar ada perasaan marah saat menceritakan semua itu.
Gladius tentunya terkejut mendengar fakta yang tidak disangka-sangka tersebut. Sherria yang Gladius kenal sebagai sosok penyihir yang berbakat ternyata dulunya adalah seorang budak. Bagaimana bisa?
"Saya terkejut mendengarnya, Tuan. Saya tidak menyangka kalau Sherria-chan ternyata dulunya adalah seorang budak. Kasihan sekali. Apa mungkin Charla-chan juga sama sepertinya?" Gladius menunjukkan rasa kepeduliannya.
"Tidak, Charla tidak sama seperti, Sherria. Namun nasib yang dialaminya tidak jauh berbeda dengannya." Zero berhenti sejenak untuk melihat Gladius yang tampak ingin mengetahui tentang masa lalu mereka lebih jauh.
"Nasib buruk mereka terjadi setelah penjarahan besar yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tidak dikenal…" Zero lanjut menceritakan semua yang dia ketahui tentang masa lalu Charla dan Sherria sebelum akhirnya mereka bisa bertemu dengannya.
Gladius mendengarkan dengan khidmat cerita tersebut. Beberapa kali Gladius mendengar ada keganjilan saat Zero menceritakan bagian Charla yang terdampar ke dunia yang tidak dikenal bersamanya. Biarpun terdengar ganjil, Gladius mengetahui semua yang Zero ceritakan itu bukanlah cerita karangan belaka.
Gladius kini mengetahui banyak hal tentang masa lalu Charla dan Sherria. Begitu pun dengan sosok Zero yang sebenarnya.
"Saya sudah menebaknya dari dulu. Tuan pasti bukan orang yang berasal dari dunia ini." Gladius menyimpulkan setelah Zero selesai bercerita.
Gladius ingin mencari tahu lebih jauh tentang masa lalu Zero, tetapi dia mengurungkan niatnya saat melihat Zero seperti tidak ingin menceritakan masa lalunya yang kelihatannya sangat buruk dari cerita masa masa lalu Charla dan Sherria yang sebelumnya dia dengar.
"Lalu apa yang ingin Tuan lakukan untuk memberikan pelajaran pada bangsawan-bangsawan bodoh itu? Jika ada yang dibutuhkan, Tuan bisa memerintahkanku. Saya akan segera melaksanakannya." Gladius mengalihkan pembicaraan.
Zero melirik Gladius sekali lalu menjawab,"Aku akan memberitahukannya nanti setelah gelombang monster ini selesai."
*~*
Di tempat Charla dan yang lainnya kini berada sedang diadakan sebuah pesta untuk merayakan kemenangan semua orang yang telah berjuang menghadapi gelombang monster. Pesta itu juga ditujukan untuk menyambut kedatangan Charla dan lainnya yang telah membantu meringankan beban mereka.
Fluffy dan Rimuru saat ini sedang menikmati pesta itu bersama anak-anak seusianya. Fluffy terlihat senang bisa berkumpul dan bermain kembali dengan mereka. Begitupun dengan Rimuru yang senang bisa mendapatkan teman baru di kerajaan tuannya.
__ADS_1
Sementara itu, Charla dan Sherria saat ini sedang duduk bersama orang-orang yang mempunyai peranan penting dalam menjaga kerajaan itu dari bencana gelombang monster.
"Keputusan Zero-sama menyuruh kalian untuk datang ke sini sudah sangat tepat. Kami benar-benar terbantu. Berkat kehadiran kalian, kerugian yang terjadi di gelombang monster ini jadi bisa diminimalisir," kata Netero selaku orang yang bertanggung jawab sebagai pemimpin yang menjaga keamanan di kerajaan itu.
"Benar, kami senang kalian mau repot-repot datang ke sini membantu kami," timbal Rob yang juga diberi amanat oleh Zero untuk menjaga tempat itu.
"Jika tidak ada kalian, kami semua pasti akan kewalahan menghadapi semua monster tadi," sahut Droy yang memiliki peran yang sama dengan Rob,
"Tidak perlu menyanjung kita seperti itu. Ini juga tempat tinggal kita, jadi sudah seharusnya kita melindunginya," jawab Charla yang tidak ingin besar kepala.
"Jujur, kita juga senang bisa membantu kalian melindungi tempat ini." Sherria menimpali sambil tersenyum.
Orang-orang yang berkumpul di satu meja itu sama-sama mengapresiasi kerendahan diri Charla dan Sherria yang telah membantu semua orang yang tinggal di tempat itu.
"Zero-sama benar-benar sosok yang luar biasa, ya. Kalian yang dulunya hanyalah seorang gadis yang lemah kini bisa berubah menjadi sosok yang dapat diandalkan oleh banyak orang. Dan semua itu terjadi dengan begitu cepat sampai-sampai aku merasa iri mengetahuinya," ujar Rob tersenyum menjelaskan perasaannya.
"Aku juga berpikir begitu. Tidak pernah kusangka jika suatu saat diriku yang dulunya tidak bisa melakukan apa-apa ini ternyata bisa menjadi sosok yang berguna bagi banyak orang." Charla mengungkapkan apa yang dirasakannya.
"Apalagi denganku yang dulunya hanya bisa menjadi beban bagi yang lain. Aku tidak pernah menyangka diriku yang seperti itu suatu saat bisa menjadi seperti sekarang ini. Bahkan semua ini masih terasa seperti mimpi bagiku." Sherria tersenyum penuh rasa bersyukur atas semua pencapaiannya itu.
"Aku dan Sherria sangat bersyukur bisa bertemu dengan pria seperti Zero-sama," kata Charla sambil tersenyum menatap bulan yang bersinar terang menerangi tempat itu.
"Bukan hanya kalian. Semua orang yang ada di sini juga merasakan hal yang sama. Tanpanya kita semua tidak akan pernah bisa mempunyai tempat tinggal yang nyaman dan penuh keharmonisan seperti ini." kata Netero mewakili perasaan semua orang yang ada di tempat itu. Dia dan yang lainnya ikut menatap bulan di atasnya yang tampak begitu indah di malam hari ini.
Zero yang berada jauh dari tempat mereka juga saat ini sedang menatap bulan yang sama sambil memikirkan keadaan Charla dan lainnya serta semua orang yang ada di kerajaannya.
"Kuharap mereka semua baik-baik saja di sana."
__ADS_1