Heroes From Hell (With The System)

Heroes From Hell (With The System)
Misi Bertahan Hidup VI


__ADS_3

Sebagai bentuk apresiasi kalian untuk cerita ini, saya harap kalian mau menyempatkan diri untuk like atau komen setelah membaca agar penulis semakin bersemangat lagi membuat cerita ini.


Terima kasih dan selamat membaca


______________________________


"Jangan sentuh dia!"


Hanya dalam setengah tarikan nafas, Akira sudah berdiri di depan ketiga orang itu, membelakangi Charla yang merangkak mundur ketakutan. Dalam setengah tarikan nafas berikutnya, Akira mengayunkan senjatanya dengan sangat cepat dan seketika membuat kepala ketiga orang itu hancur dari tempatnya.


Ketiga orang itu bahkan tidak sempat mengetahui apa yang baru saja membuatnya terbunuh saking cepatnya gerakan Akira. Andai mereka tahu jika sosok yang baru saja membuatnya terbunuh adalah seorang bocah, mungkin sampai di akhirat pun mereka tidak bisa terima akan kenyataan yang begitu memalukan itu.


Sementara Charla yang saat itu tengah merungkup ketakutan dan bersandar di pohon dengan kondisi setengah tubuhnya sudah dilucuti, terkejut saat melihat sosok yang sudah menolongnya tidak lain adalah sosok yang dua hari belakangan ini sudah dia tinggalkan.


Charla bisa melihat wajah Akira meski Akira dalam posisi membelakangi. Dia tampak sangat marah, nafasnya memburu, tangannya bergetar. Charla baru pertama kali ini melihat ekspresi Akira yang seperti ini sejak hari-hari sebelumnya dia masih bersamanya.


"A-Akira-san…" Charla menutup mulutnya sendiri meliputi air mata mengalir deras di pelupuk matanya. Antara rasa takut, senang, bersalah semuanya bercampur aduk saat bertemu kembali dengan Akira.


Akira menghela nafas dengan jeda yang lama kemudian menoleh melihat kondisi Charla yang sungguh menyedihkan.


"Maaf…" lirih Charla saat pandangannya bertemu sambil menutupi bagian yang tidak sepantasnya dilihat oleh Akira.


Akira menoleh kembali, menatap mayat yang sudah berubah menjadi partikel cahaya itu sebelum bertanya, "Charla, siapa suruh kau pergi tanpa minta izin dulu dariku?" Suara Akira terdengar dingin.


"Itu…" Charla menggigit bibirnya kesulitan menjawab sehingga tidak mampu menjelaskan apapun.


Alasan mengapa Charla meninggalkan Akira tanpa sebab yaitu karena dia berpikir dengan meninggalkan Akira mungkin adalah jalan terbaik mengingat dia sama sekali tidak berguna saat bersamanya, oleh karena itu dia tidak ingin menjadi bebannya lagi dan lebih baik pergi.


"Apa aku ada membuatmu salah?" tanya Akira sambil menyilangkan kedua senjatanya kembali ke tempatnya.


"Tidak!" sergah Charla segera.


"Lantas?"


Charla terdiam selama beberapa saat sebelum menjawab, "Aku...aku hanya tidak mau membuat Akira-san kerepotan... "lirihnya mengungkapkan.


"Kenapa kau berpikiran seperti itu?"


"Habisnya aku hanyalah gadis cengeng yang tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa membuat masalah saat bersamamu…aku benar-benar tidak berguna..." Charla berkata lirih menjelaskan.


Akira kembali menghela nafas. Dia kemudian menjawab, "Bodoh. Dengan kau menyelamatkanku di hari pertama...memberikan informasi yang tidak kuketahui...selalu menemaniku kemanapun aku pergi...berbincang, bercanda, menghilangkan rasa kesepianku selama ini...dan segala yang telah terjadi kau masih menganggap dirimu tidak berguna? Lantas harus bagaimana lagi agar kau terlihat berguna di depanku?"


Charla terdiam cukup lama tidak mampu menjawab perkataan Akira, sebab perkataan Akira membuat rasa bersalah lebih mendominasi perasaannya saat ini.

__ADS_1


Charla berdiri dalam posisinya, mendekati Akira lalu mendekap tubuh kecilnya dengan posisi kedua kaki tertekuk. Dia hanya bisa menjawab pertanyaan Akira dengan cara seperti ini, berharap apa yang ingin dia sampaikan bisa tersampaikan.


Akira bisa merasakan perasaan hangat menyelimuti seluruh tubuh pada saat Charla mendekapnya. Sensasi yang sempat dia coba lupakan kini bisa kembali lagi dia rasakan.


"Jangan pergi lagi...Aku berjanji akan mencari cara untuk mengeluarkanmu dari tempat ini…" janji Akira yang tidak pasti.


Entah akan tertepati atau tidak, dia pun tidak tahu. Namun seperti yang dia katakan, dia akan berusaha mencari cara agar hal itu bisa terjadi, bagaimanapun itu.


"Baik...aku tidak akan meninggalkanmu lagi…"


"Benar...Terus Ikuti saja aku."


*~*



"Apa kau sudah tenang?" tanya Akira setelah melihat Charla telah selesai mengganti bajunya dengan baju yang dia beli di toko sistemnya.


"Sudah." Charla mengangguk sambil menampilkan senyumannya. Akira bisa melihat kali ini Charla tidak lagi sok berpura-pura tegar di depannya, ekspresinya kembali seperti pada saat awal mereka bertemu.


"Apa baju ini cocok denganku?" Charla bertanya malu-malu sambil mengelus pipi dengan telunjuknya. Pipinya tampak merah merona.


"Hm…" Akira mengelus dagu mengamati Charla dari atas sampai bawah.


"Cocok." Akira mengangguk mantap.


"Apa tidak ada pakaian lain lagi? Sepertinya ini agak berlebihan." Charla tersenyum canggung setelah mengamati penampilannya sendiri.


"Kesini. Ada sesuatu di kepalamu." Akira mengangkat tangannya menyuruh Charla mendekat.


"Hah?" Charla sesaat kebingungan sebelum menurut dan menekukkan tubuhnya mendekat.


"Lebih dekat." Charla menekukkan tubuhnya lagi sampai wajahnya dengan wajah Akira hanya berkisar beberapa senti saja. Wajah Charla memerah dan spontan dia menutup matanya seolah mengerti apa yang ingin Akira lakukan selanjutnya.


Sampai ketika sebuah sentilan mendarat tiba-tiba di keningnya Pletak! Charla segera membuka matanya, "Aw! Sakit…" Charla memegangi bekas sentilan Akira. Rasa malu dan kesal bercampur saat ternyata dia salah menebak apa yang ingin Akira lakukan.


Akira hanya terkekeh sambil berbalik badan lalu berjalan santai ke salah satu arah, "Sudah jangan banyak tanya. Ayo kita pergi dari sini."


Charla mendengus sebal sebelum mulai mengikuti Akira dan berjalan di sampingnya selagi masih memegangi bekas sentilan yang Akira lepaskan tadi.


"Sakit tahu…" Akira hanya menanggapi kekesalan Charla dengan kekehan.


Akira berpetualang kembali bersama Charla, menyusuri hutan yang rindang meski kali ini tidak ada bahaya sama sekali yang menghadang. Suasananya sangat tenang.

__ADS_1


{9/100} {2 hari| 10 jam| 23 menit| 12 detik}


'Tersisa tujuh orang lagi, ya…' Akira menghela nafas setelah mengamati panel tersebut.


"Apa ada masalah, Akira-san?" tanya Charla yang berjalan di sampingnya.


"Bukan apa-apa." Akira menggeleng pelan. Pandangannya kembali terarah pada panel di sampingnya itu.


'Bukankah ini terlalu cepat. Padahal masih ada waktu dua hari lagi, ' pikir Akira saat membandingkan waktu yang tersisa dengan jumlah mereka yang masih hidup.


Sejurus kemudian, Akira menyentuh tanda minimize untuk membuka panel map.


Charla sudah terbiasa melihat Akira menyentuh-nyentuh ruang kosong jadi dia tidak terlalu memikirkannya dan hanya bisa mengamati dalam diam.


Mata Akira terbuka lebar. Setelah membuka panel map, dia melihat zona merah dan zona oren menyatu dan kini tiba-tiba bergerak mengecil dengan kecepatan yang tidak biasa.


Mata Akira semakin melebar saat baru menyadari posisinya sekarang ini sangat dekat sekali dengan zona merah dan oren yang menyatu tersebut. Jaraknya kurang lebih hanya berkisar seratus meter saja.


Sampai ketika Akira berbalik, sebuah suara samar gemuruh dengan diikuti warna merah yang menyelimuti langit menyadarkannya segera akan situasi yang berbahaya.


Charla yang ikut berbalik pun terkejut saat mendengar suara gemuruh tersebut semakin mendekat, "Apa yang terjadi?"


Dengan segera Akira bergegas membopong Charla tanpa menjawab pertanyaannya.


"A-Akira-san apa yang—"


"Jangan bicara dulu! Kita harus cepat-cepat pergi dari sini! Dan Jangan melihat kebelakang!!" Akira memotong dan segera bergerak dengan kecepatan tinggi.


Charla bisa melihat keseriusan dari wajah Akira. Dia tidak tahu alasan kenapa Akira menyuruhnya untuk tidak melihat ke belakang.


Pada saat Akira menoleh kebelakang, pepohonan terlihat seketika layu saat terkena zona merah tersebut. Akira bisa menebak jika dia berada di zona tersebut, dia juga akan mengalami nasib yang serupa.


Charla yang merasa penasaran ikut menoleh kebelakang sampai bola matanya melihat hal yang sama dengan yang disaksikan oleh Akira. Dia menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang baru saja dia saksikan.


"Akira-san...apa yang sebenarnya terjadi..."


"Sudah kubilang jangan lihat kebelakang!" sentak Akira yang membuat Charla mengernyit.


Akira semakin panik saat melihat kecepatan zona merah tersebut sangat mengejutkan karena dapat dengan mudahnya menyusul kecepatannya yang setahunya sudah sangat cepat.


Akira fokus ke depan dan bergerak secepat yang dia bisa tanpa menoleh lagi kebelakang.


Dia sungguh tidak menyangka sekaligus menganggap dirinya ceroboh dengan situasi yang terjadi padanya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2