
" Baiklah aku dan teman teman ku pun akan membantu" ujar Li Hongli, dia tidak mungkin membiarkan ayah nya berperang sendirian, ia pun tidak akan membiarkan ayah nya terluka karena perang ini.
" Terimakasih atas bantuan kalian... Sekali lagi kami akan merepotkan mu tuan Li" ujar Raja Xin
" Hmm"
" Ayah aku pun akan ikut dalam perang ini" seru Xin Jiao
" Tidak ibunda tidak mengijinkan mu mengikuti perang ini" permaisuri Xin langsung menolak mentah-mentah permintaan putri nya.
" Tapi ibunda...."
" Tidak ada tapi tapian"
" Ayahanda tolong biarkan aku mengikuti perang ini bersama yang lain nya. Ini juga kesalahan ku, jika saja aku tidak melepaskan Xin Junda waktu itu semua nya tidak akan seperti ini... Lagi pula aku sebagai tuan putri harus bisa membantu rakyat ku yang sedang kesulitan" ucap Xin Jiao
" Ayah aku pun meminta ijin untuk berperang.... Aku akan merasa malu karena sebagai pangeran mahkota tidak dapat membantu rakyat ku sendiri" Xin Zhuo juga tidak ingin kalah dengan adik nya
" Baiklah ayahanda izinkan" ujar Raja Xin
" Tapi yang mulia...."
" Sudahlah istri ku, mereka sudah dewasa biarkan mereka memilih apa yang mereka inginkan.... Lagi pula apa yang mereka katakan benar, kita tidak pantas menjadi pemimpin kerajaan ini jika kita saja hanya menutup mata dengan apa yang sedang terjadi" potong Raja Xin
" Tuan Li Hongli mohon anda dapat melindungi putri ku" ucap Raja Xin pada Li Hongli
" Aku tidak janji, dia yang memutuskan, dia sendiri yang harus merasakan akibat nya" ucap Li Hongli acuh tak acuh
Wush
Li Hongli terlebih dahulu melesat ke gerbang kota yang di ikuti Li Yuwen.
" Yelu kau tetap di sini bersama Ying Yue, jagalah Raja dan permaisuri Xin" ujar Yueyin
" Baik nona" ucap Yelu dan Ying Yue serentak
" Ying Liang ikuti kami"
" Baik"
" Tunggu!" Saat Yueyin ingin pergi dari sana Xin Zhuo menghentikan nya
Yueyin menatap Xin Zhuo seperti mengatakan 'ada apa'
" Lebih baik kita menunggangi kuda untuk menghemat energi"
" Baik"
" Prajurit bawa beberapa kuda kemari"
" Nona Yueyin apa kua bisa menunggangi kuda, bila tidak bisa lebih baik..." Seru Xin Zhuo
" Aku bisa" potong Yueyin
__ADS_1
" Baiklah"
Hiaat
Tanpa menunggu yang lain nya Yueyin segera melajukan kuda nya, di ikuti Ying Liang, sedangkan Xin Zhuo satu kuda dengan Xin Jiao.
_____________________________________________
Di pusat kota
" Ying Liang kau bantu Xin Zhuo dan Xin Jiao mengungsikan para warga" suruh Yueyin
" Baik nona"
" Tidak aku ingin maju ke Medan perang, bukan hanya mengungsikan para warga, untuk apa aku kemari jika hanya untuk itu"
" Kau seorang putri, bersikaplah selayaknya seorang putri dari suatu kerajaan... Apakah saat rakyat mu dalam masalah, bukan nya menyelamatkan mereka kau hanya memikirkan perang. Lagi pula kau hanya akan menyusahkan saja jika berada di sana" ucap Yueyin kejam
" Tapi...."
" Sudahlah Meimei, apa yang nona Yueyin katakan itu benar, kita sebagai anggota kerajaan wajib mendahulukan keselamatan rakyat" ujar Xin Zhuo
" Kalian bisa menyusul jika telah selesai menyelamatkan para warga" ucap Yueyin acuh tak acuh
Hiaat
Hiaat
Tanpa menunggu jawaban dari Xin Jiao, Yueyin pergi dari tempat itu untuk menyusul Li Hongli dan Li Yuwen.
" Baiklah... Namun kenapa dia memerintah kita, kemampuan nya juga bisa di katakan seimbang dengan ku, bukankah itu berarti dia juga hanya akan menyusahkan Li Hongli saja" ujar Xin Jiao masih tidak terima di perintah oleh Yueyin
" Hahaha....." Ying Liang tertawa kecil mendengar percakapan kedua orang ini
" Kenapa kau tertawa" ucap Xin Jiao menatap tajam Ying Liang
" Bukankah kalian semakin membuang waktu kalian jika masih saja berbicara" ucap Ying Liang tidak peduli
" Itu bukan jawaban pertanyaan ku"
" Kau ingin tahu, baiklah akan ku beri tahu. kau yakin nona Yueyin memiliki kemampuan yang setara dengan mu?" Bukan jawaban namun Ying Liang membalas nya dengan pertanyaan kembali.
Ying Liang segera melakukan tugas nya membantu beberapa rakyat mengungsikan mereka ke tempat yang aman. Ying Liang juga membantu beberapa orang biasa yang di ganggu atau di serang oleh siluman maupun beberapa orang orang musuh yang berhasil memasuki kota ini.
Di depan gerbang kota Huanxi sudah berdiri pasukan yang di pimpin oleh jenderal Weiheng, awal nya mereka cukup kesulitan mengahadapi siluman siluman tingkat rendah, namun setelah kedatangan para tetua sekte Awan putih serat Li Hongli dan Li Yuwen mereka bisa mengatasi nya dengan baik, hanya saja mungkin ada beberapa siluman dan beberapa orang yang telah berhasil memasuki kota.
Karena sebelum kedatangan para tetua serta Li Hongli dan Li Yuwen mereka sulit mengatasi masalah di sana. Namun bukan itu masalah terbesar nya sekarang, masalah nya adalah di depan mereka berdiri banyak pasukan yang terdiri dari manusia dan siluman mereka bahkan ada beberapa yang berada di tingkat tinggi.
" Sekte aliran hitam!" Seru salah satu tetua sekte Awan putih
" Apa? sekte aliran hitam, bagaimana mungkin untuk apa mereka menyerang kerajaan Xin?" Tanya jenderal Weiheng terkejut
" Ya, dan mereka bukan hanya dari Sekte tingkat rendah atau menengah, namun di pimpin oleh sekte tingkat tinggi, lihatlah itu!" Tunjuk nya pada seseorang
__ADS_1
" Dia adalah salah satu tetua tingkat tinggi dari Sekte tengkorak hitam, salah satu sekte bintang tiga" ujar nya lagi
" Bagaimana ini bisa terjadi? Jika putra lain dari Yang Mulia Raja Xin kemari untuk merebut tahta ayah nya, dia tidak akan mungkin bisa membuat sekte bintang tiga begitu tertarik hanya untuk kerajaan kecil seperti ini" ucap Li Yuwen yang di setujui oleh yang lain nya
" Kalian mengetahui sesuatu! Katakanlah..." Ucap Li Hongli singkat
" Sebenarnya....."
" ini menyangkut tentang rumor yang beberapa waktu lalu sempat beredar di kalangan para Kultivator entah itu aliran hitam maupun putih" ucap seseorang tiba-tiba diatas langit
" salam tetua agung" ujar tetua Sekte awan putih
Terlihat seorang pria paruh baya yang sedang terbang di atas langit, pria paruh baya itupun turun dari ketinggian langit dan hanya menganggukkan kepala nya sebagai balasan dari penghormatan yang mereka berikan
" Ada apa tetua agung kemari" tanya tetua itu, mereka yang ada di sana pun tidak menyangka akan kedatangan tetua agung sekte Awan putih
Tak
Tak
Tak
Suara kuda semakin mendekati tempat itu, di atas kuda Yueyin lah yang menunggangi nya. Yueyin sempat terkejut akan kehadiran tetua agung sekte Awan putih di tempat itu, tentu saja dia mengenal siapa pria paruh baya itu hanya saja mereka belum pernah saling bertemu.
Yueyin turun dari kuda nya dan menatap orang orang yang berada jauh di luar benteng pertahanan kota, namun ia merasa mereka datang bukan untuk memerangi kerajaan ini, tetapi ada maksud lain yang tersembunyi.
" Untuk apa mereka mengulur waktu!" Ceplos Yueyin
" Mengulur waktu? Maksud nona?" Tanya jenderal Weiheng bingung
" Kau tanyakan saja pada tetua agung Shang" ucap Yueyin acuh
" Seperti nya nona mengenal ku!" Ucap tetua agung Shang penasaran
" Hanya kebetulan, seperti nya mereka menunggu penjelasan mu tetua" balas Yueyin
" Jelaskan" suara Li Hongli yang begitu dingin dan tak ingin berbasa-basi sempat membuat tetua Shang tertegun sejenak, namun setelah menenangkan hati nya dia pun menatap pemuda itu dengan penasaran.
Siapa pemuda ini, kenapa ia merasa pemuda ini memiliki aura yang begitu mendominasi, pikir nya
" Kalian tentu pernah mendengar banyak rumor setelah terjadi nya fenomena aneh lima bulan yang lalu" semua orang menganggukkan kepala mereka, namun Li Hongli menaikan alis nya tidak mengerti begitu pun dengan Yueyin.
" Fenomena apa?" Tanya Yueyin
Sekarang giliran semua orang menatap Yueyin bingung, bagaimana mungkin gadis ini tidak tahu fenomena yang sempat menggemparkan dan membuat orang orang banyak membicarakan nya.
" Nona apa kau tidak mengetahui fenomena yang terjadi Lima bulan lalu?" Tanya jenderal Weiheng
Bukan hanya Yueyin tapi Li Hongli pun menggelengkan kepala nya tidak tahu.
" Kau pun tuan Li, bukankah lima bulan yang lalu tuan dan teman teman tuan pergi menuju hutan darah?" Tanya jenderal Weiheng kembali
" Lalu apa hubungan nya dengan itu?" jawab Li Hongli
__ADS_1
" Tentu itu sangat berhubungan, karena fenomena yang sangat menakjubkan serta menakutkan itu terjadi tepat di atas hutan darah...."