
" Kami mendengar di dalam hutan darah telah muncul senjata pusaka tingkat dewa, sekte kita tidak bisa membiarkan sekte lain mendapatkan nya, jadi kita harus mendapatkan nya terlebih dahulu. Dan satu satu nya cara hanya dengan menguasai kerajaan Xin terlebih dahulu maka hutan darah pun akan menjadi milik sekte kita" jelas Patriak sekte dengan sikap tenang.
" Lalu bagaimana dengan cara kalian mengendalikan para siluman itu?" Tanya Raja tengkorak penuh selidik
" Ada seseorang yang membantu dan memberitahu cara mengendalikan siluman-siluman itu!" Jawab nya
" Kau dapat Informasi dari mana, hingga begitu yakin di hutan darah terdapat senjata pusaka tingkat dewa, sedangkan dua organisasi pengumpul informasi terbesar saja seperti paviliun harta tidak mendapatkan kabar ini! Kau seorang pemimpin jangan sampai tertipu..."
Awal nya Patriak sekte mendengarkan petuah-petuah Raja tengkorak dengan baik, namun seorang tetua terlihat membisikkan sesuatu ke telinga Patriak sekte, setelah itu sikap Patriak sekte terlihat sangat berbeda. Mendengar ceramah dari Raja tengkorak membuat Patriak sekte terlihat sangat kesal, meski wajah nya masih menampilkan sikap yang tenang, namun genggaman tangan nya telah terkepal sedari tadi.
" Cukup paman! aku adalah Patriak sekte tengkorak hitam, seharusnya paman bersikap hormat pada ku, namun yang paman lakukan hanya menentang perintah ku. Ingat paman setiap perkataan ku harus di laksanakan oleh setiap anggota sekte tengkorak hitam tanpa terkecuali!" Ujar Patriak sekte segera memotong ucapan Raja tengkorak dengan emosi.
" Fu Shun ada apa dengan mu, sikap mu sangat berbeda dengan terakhir kali kita bertemu... Namun meski aku tidak tahu kau kenapa, seharusnya kau tidak lupa bukan, meski kau Patriak sekte ini, tapi keputusan akhir tetap berada di tangan ku, aku memang hanya seorang tetua, namun perintah ku sama dengan perintah Patriak, kau juga harus ingat ini! aku yang mengangkat mu menjadi seorang pemimpin maka aku juga bisa menggantikan posisi mu dengan orang lain, jika kau masih membuat keputusan yang merugikan sekte!" Setelah mengatakan itu Raja tengkorak keluar dari ruangan tersebut dengan marah.
" Ada apa dengan Shun'er, mata itu... Jangan-jangan..." Batin Raja tengkorak, dia berbalik sejenak untuk melihat Patriak sekte yang tidak lain adalah Fu Shun yang sudah ia anggap keponakan nya sendiri, namun tatapan dari mata sang Patriak terlihat sangat aneh menurut nya. Tentu saja ia juga mengawasi gerak-gerik dan perubahan ekspresi pada Fu Shun, bahkan interaksi nya dengan salah satu tetua yang terlihat mencurigakan ia pun menyadari nya, namun dia sengaja berpura-pura tidak mengetahui apapun.
" Apa yang kalian tunggu di sini, cepat pergi dari hadapan ku, kecuali tetua pertama kau tetap di sini temani aku!" Seru Patriak Fu Shun dengan marah.
" Baik Patriak, kami pamit untuk diri" ucap kedua tetua
" Hmm.."
Di luar ruangan Raja tengkorak yang sedang berjalan di hentikan oleh kedua tetua.
__ADS_1
" Salam Tetua Agung!" Seru kedua nya
" Tetua Shi, tetua Peiyu! Mengapa hanya kalian berdua saja?"
" Menjawab Tetua Agung, tetua Cao sedang menemani Patriak di dalam" jawab tetua Shi dengan sopan
" Kedua tetua kalian yang selama ini berada di sekitar Patriak, apakah kalian merasa ada yang aneh dengan sikap Patriak akhir-akhir ini?" Tanya Raja tengkorak
" Menjawab, benar tetua agung kami merasakan nya." Jawab tetua Peiyu
" Jelaskan?"
" Tidak lama setelah kepergian tetua agung, Patriak memutuskan untuk bepergian ke luar sekte untuk berlatih namun sikap dan tempramen Patriak menjadi berubah saat bertemu dengan wanita dari sekte Mawar Hitam, Patriak selalu saja marah-marah pada hal kecil. Lalu tidak lama tetua Cao di angkat menjadi tetua pertama dan menjadi orang kepercayaan nya juga selalu di samping Patriak, kami tidak tahu apa yang selama ini mereka diskusi kan, karena kami selalu di minta pergi saat keduanya ingin membicarakan sesuatu!" Jawab tetua Peiyu dengan sopan dan hormat
" Baik, akan kami laksanakan!" Jawab kedua nya dengan sopan dan hormat meski Raja tengkorak telah pergi.
_____________________________________________
Li Hongli dan yang lain nya telah sampai di depan gerbang desa, namun ada yang aneh dengan desa yang mereka lihat sekarang.
Di lihat dari luar desa itu seperti desa mati, gerbang desa hanya menggunakan sebuah pagar kayu yang sudah tua dan rusak, tidak ada satupun penjaga yang menjaga di pintu masuk desa.
Mereka pun berjalan memasuki desa untuk mencari tahu apa yang terjadi dengan desa tersebut.
__ADS_1
Namun apa yang mereka lihat di dalam desa sekarang lebih mengejutkan dibandingkan saat berada di luar desa.
Desa itu tidak lah kosong ataupun tidak ada penghuni nya, karena di dalam desa banyak orang hanya saja, orang-orang itu terlihat kurus dan kelaparan, mereka memakai pakaian compang-camping seperti seorang pengemis, kondisi rumah-rumah yang ada di sana juga tidak bisa dikatakan baik. Banyak rumah yang hancur mungkin hanya beberapa rumah saja yang masih utuh dan aman untuk di tinggali.
" Kalian mau apa kalian ke mari cepat pergi dari sini! Kalian pergi jangan datang ke desa ini!" Seru seorang nenek yang terlihat hanya tulangnya saja, dia membawa tongkat dan mengangkat tongkat nya kearah Li Hongli dan yang lain nya untuk mengusir mereka.
" Cepat tinggalkan desa ini, uhuk-khuk..."
" Nek aku lapar!" Ucap seorang anak kecil yang sedang bersembunyi di belakang wanita tua tersebut.
" Adik kecil kau lapar, ini makanlah" Li Hongli mengeluarkan satu roti dan memberikan nya pada anak kecil tersebut.
" Kemarilah! kakak tidak akan menyakiti mu!" Seru Li Hongli tersenyum tipis
Dengan takut anak kecil itu keluar dan berjalan mendekati Li Hongli, dia mengambil roti tersebut dan langsung memakan nya dengan rakus.
" Nenek, ini untuk nenek" anak kecil itu membelah roti tersebut menjadi dua dan memberikan sepotong roti lain pada wanita tua tersebut.
" Kau lapar bukan cu, untuk mu saja nenek masih kenyang!" Ucap nenek tersebut dengan nada yang terdengar sangat lemah.
Dengan polos anak kecil itu memakan roti tersebut, dia memakan nya dengan cepat sampai memenuhi mulut kecil nya itu.
" Pelan-pelan tidak akan ada yang merebut nya dari mu!" Ucap Li Hongli mengelus rambut anak itu dengan lembut.
__ADS_1
Nenek yang melihat itu hanya bisa menangis haru, dia awal nya ingin menghentikan cucu nya untuk mengambil roti tersebut, namun melihat cucu kecil nya yang masih kecil begitu kelaparan dia pun tidak tega, ia pun merasa pemuda itu dan rombongan nya bukanlah orang jahat.