
Satu minggu kemudian.
Apart L'Voneu
Calesta menatap pria di depan nya, pria yang tentunya dapat membuat siapapun tergoda.
Setiap kali ia mengatakan ingin mengakhiri hubungan yang dibangun atas dasar memberi dan menerima tersebut.
"Paman," panggil gadis itu lagi.
Richard berhenti sejenak dari apa yang ia kerjakan namun ia kembali melanjutkan pekerjaan nya dan pura-pura tak mendengar suara panggilan gadis itu.
"Paman! Aku panggil dari tadi!" ucap Calesta yang kali ini meraih lengan pria itu.
"Hm? Besok kita akan ke pantai, kau mau berlayar kan?" tanya pria itu dengan nada rendah.
Calesta menggeleng, ia bahkan bingung kenapa harus pergi ke tempat yang memiliki musim panas.
"Kita bisa yang dekat saja, kenapa harus pergi ketempat jauh? Bukan, lebih tepat nya kita tidak usah pergi saja!" ucap gadis itu dan beranjak mengambil tas nya.
Richard pun langsung berjalan mendahului dan meraih tangan gadis itu, "Kita di sini saja."
"Untuk lihat paman bekerja?" tanya gadis itu lagi karna semenjak ia meminta untuk berhenti berhubungan Richard bagaikan 24/7 yang terus melekat.
"Baik, aku berhenti bekerja." ucap nya tak lagi memegang pekerjaan nya.
"Paman, kemarin...
Aku kan bilang kalau kit- Humph!"
Mata gadis itu membulat, bibir nya kembali di bungkam setiap kali ia membicarakan tentang kesepakatan yang tak lagi ia inginkan tersebut.
"Kau tidak tidur siang?" tanya pria itu sembari menghimpit tubuh kecil itu.
"Aku sedang tidak ingin," ucap gadis itu sembari berusaha mendorong pria itu menjauh.
"Kenapa?" tanya Richard yang memang sengaja ingin mengalihkan pembicaraan.
"Sedang tidak bergairah saja untuk itu," jawab Calesta karna ia mulai ingin mengakhiri hubungan tersebut.
Richard tersenyum mendengar jawaban gadis itu, jika hanya tak bergairah adalah yang tak sulit baginya sama sekali.
"Berarti aku tinggal menaikkan gairah mu saja kan?" tanya pria tampan itu sembari kembali memangut bibir merah muda gadis itu.
Calesta terbungkam oleh ciuman panas tersebut, ia tak bisa mendorong tubuh tegap itu dan lagi-lagi kembali terbuai.
Richard melepaskan ciuman nya menatap sejenak ke wajah yang tengah mengambil napas dalam tersebut membuat nya semakin gemas dan ingin memakan nya.
"Kali ini sedikit pelan bisa kan? Perut ku sedang tidak nyaman belakangan ini," ucap Calesta lirih sembari memberi isyarat pada pria itu.
"Bukan nya tadi sedang tidak mau?" goda Richard sembari memberikan senyuman nya.
Wajah Calesta memerah ia membuang pandangan nya berusaha menghindar dari godaan tersebut.
Richard tertawa kecil melihat reaksi gadis itu, ia melanjutkan ciuman nya dan mulai membuka satu persatu semua pakaian yang melekat di tubuh gadis itu hingga polos.
Ungh!
Gadis itu mencengkram erat bantal yang menjadi sandaran kepala nya, melepaskan ombak besar nya yang kesekian kali nya.
"Di wajah?" tanya pria itu dengan napas yang terdengar berat.
Gadis itu masih menatap sayup setelah apa yang ia lepaskan, ia menggeleng pelan, "Jangan wajah ku nanti lengket."
Pria itu semakin gemas melihat wajah yang terlihat acak-acakan karna ulah nya serta rambut di sekitar dahi yang basah karna keringat nya, ia bertanya meminta izin namun pada akhirnya tetap melakukan apa yang ia inginkan.
Ssh...
Gadis itu memejam, pria itu tetap memberikan semua vanila nya ke wajah nya, setelah ia rasa berhenti ia kembali membuka mata nya.
"Kan, wajah ku lengket...
Aku tidak suka lengket.." keluh nya dengan suara parau karna ia biasa ingin langsung tertidur namun tak akan nyaman saat cairan berserakan di wajah nya.
Richard tak menjawab dan hanya tersenyum, ia sangat suka penampilan gadis itu sekarang, wajah yang penuh akan sesuatu milik nya yang membuat nya merasa gadis itu kini hanya sudah milik nya seutuh nya.
"Tidak apa-apa, nanti ku bersihkan," jawab Richard sembari mengarahkan ibu jarinya guna mengalihkan semua vanila itu kedalam mulut Calesta, "Telan."
"Humph...
Paman, tidak suka..." ucap nya mengeluh namun tetap tak bisa menghindari semua yang di masukkan ke mulut nya.
Richard tak menjawab ia memasukkan ibu jarinya ke mulut gadis itu dan melihat apakan benar sudah di telan atau belum.
Cup!
Satu kecupan melayang di dahi yang penuh akan keringat tersebut, "Ainsley ku yang manis," gumam nya lirih.
"Hm? Paman bilang apa?" tanya gadis itu lirih.
Richard bangkit dari tubuh mungil itu dan mengambil handuk basah untuk mengusap dan membersihkan sisa vanila di wajah yang tak bisa ia masukkan ke mulut gadis itu.
"Tidak apa-apa, kau mengantuk kan? Sekarang tidur siang dan mimpi yang indah." jawab nya dengan nada rendah yang terdengar tulus.
Ia kembali mengesap kening gadis itu, dan beranjak bangun guna menyelesaikan pekerjaaan yang awalnya tertunda dan ia berencana menyelesaikan semua hingga tak ada lagi penghalang saat ia liburan nanti.
...
Pukul 05.45 Pm.
Gadis itu mulai terbangun ia bangkit dari tidur nya dan dan beranjak turun melihat pakaian yang berserakan.
"Kau sudah bangun? Sana mandi dan pakai pakaian mu," ucap Richard pada gadis itu saat melihat kelinci menggemaskan kan nya sudah bangun.
"Pakaian ku kan kotor, aku mau pakai apa?" tanya nya sembari meraih kembali pakaian nya.
"Kau kan bisa pakai pakaian ku, seperti tak pernah pakai saja." ucap Richard menggoda gadis itu.
"Kemeja paman kebesaran!" jawab Calesta mendengus.
Richard hanya tersenyum, ia mendekat dan mengelus kepala gadis itu dengan lembut, lalu mengambil kemeja nya dan memakaikan nya menutup tubuh mungil tersebut.
"Sekarang makan dulu," ucap nya sembari membawa gadis itu ke meja makan.
Calesta menurut ia menghabiskan makanan yang sudah di siapkan untuk nya.
__ADS_1
"Kau mau mandi?" tanya Richard sembari membereskan bekas makanan yang mereka pakai barusan.
Calesta tak menjawab ia memilih ke arah balkon dan merasakan mentari senja.
"Mau mandi bersama?" tanya pria itu pada Calesta.
"Jangan lagi, aku masih lelah..." jawab gadis itu sembari seakan memeluk dirinya sendiri.
Richard tertawa mendengar nya ia semakin gemas dan ingin terus memangsa gadis itu namun kini ia lebih ingin menggoda nya.
"Apa yang sedang kau pikirkan? Hm? Dasar nakal!" ucap Richard tertawa menggoda gadis tersebut.
Calesta langsung membalik tubuh nya menatap luar memilih tak menanggapi godaan yang datang pada nya.
......................
Keesokkan hari nya.
Richard menepati janji nya membawa gadis itu ke laut, Calesta berdiri di atas pembatas kaca menatap lautan luas yang di depan nya.
Ia berpikir keras jika setelah liburan ini ia akan memutuskan hubungan nya dan tidak terbuai dengan sentuhan dan ciuman maut pria tampan itu.
Richard datang dan mulai memeluk gadis itu dari belakang, ia mengesap punggung dan leher gadis itu dengan lembut.
"Apa yang kau pikirkan? Hm?" tanya Richard di telinga gadis itu.
Calesta menoleh ke belakang, ia tak menjawab karena tak mungkin ia bilang ingin berhenti setelah berlayar, "Tidak ada."
Richard tersenyum dan mengusap lengan gadis itu dari belakang, ia menyukai saat-saat seperti, waktu yang sangat ingin ia hentikan agar tak cepat berlalu.
"Love you, babe..." bisik nya lirih pada gadis itu.
Calesta mendengar bisikan lirih tersebut, ia sering mendengar kata-kata seperti ketika ia tengah berc**ta dengan pria tampan itu.
Maka dari itu ia selalu menganggap ucapan tersebut hanya angin lalu yang dikatakan saat hasrat pria tampan itu tengah memuncak, namun kini pernyataan tersebut semakin sering ia dengar bahkan saat tubuh nya tak saling bertaut satu sama lain.
Kapal tesebut mulai berlayar di laut lepas, gadis itu masuk kedalam kapal yang memiliki ruangan tidur ia memeriksa beberapa bawaan nya lebih dulu.
Setelah itu ia pun keluar dan mencari keberadaan paman tampan nya hingga ia menanyakan pada salah satu pelayan di kapal.
"Tuan berada di sana nona," ucap nya sembari menunjuk dimana pria itu berada.
Gadis itu pun melihat ke arah yang di tunjuk dan beranjak ke tempat pria itu.
Mata nya sempat terpana sejenak melihat pria itu menarik salah satu tali temali di kapal dengan kemeja yang terbuka dan sinar mentari yang berada di balik pria tersebut.
"Paman?" panggil Calesta dan membuat pria itu menoleh.
Ricard pun turun dan menatap yang memanggil nya dari seberang sembari membenarkan kaca mata nya karna sinar mentari yang mencolok.
"Calesta? Ada apa?" tanya pria itu mendekat dan menangkup wajah imut tersebut.
"Kenapa? Kucing itu tak ada? Sudah tanya pelayan kapal?" tanya Richard pada gadis cantik tersebut.
"Sudah tapi mereka tidak tau," jawab Calesta dengan wajah bingung.
"Mau cari bersama?" tanya Richard dan segara mencari dimana tempat yang biasanya di kunjungi kucing.
Calesta mengikuti pria itu dan mencari keseluruh kapal, "Bagaimana kalau kucing nya lompat ke laut?"
Richard tersenyum, ia menemukan kucing yang di cari gadis itu, "Kalau aku menemukan nya berikan aku hadiah."
"Memang nya paman sudah da-"
Miaw...
Ucapan nya terpotong menatap kucing kecil tersebut yang di berikan pada nya.
"Sekarang mana hadiah ku?" tanya Richard dengan smirk nya saat gadis itu mengambil kucing dari tangan nya.
"Hadiah?" tanya Calesta sembari mengelus kucing yang berada di tangan nya.
"Hm, hadiah." jawab Richard mengulang dan mendekat namun gadis itu langsung mendorong dada bidang nya.
Perut nya kembali bergejolak dan ingin memuntahkan sesuatu lagi.
Hoek!
"Pa-paman aku mual..." ucap nya lirih dan segera berlari ke kamar mandi di kapal.
Richard mengikuti gadis itu, sekarang gadis cantik semakin sering mual ataupun semakin sensitif di segala hal.
"Kau mabuk laut?" tanya Richard pada gadis itu sembari mengelus punggung gadis itu dengan lembut.
Calesta menggeleng, ia beranjak dan mengatakan ingin istirahat.
Richard tak dapat mencegah, walau awal nya ingin berlibur namun tak bisa di paksakan karna kondisi gadis cantik itu.
"Tidak apa, tidur lah..." ucap Richard sembari mengelus kepala gadis itu hingga tertidur.
...
Pukul 08.15 pm.
Malam mulai datang namun itu gadis malah terlelap, karna tak tega membangunkan nya Richard meletakkan malam malam gadis itu di samping tempat tidur diatas meja yang tak jauh dari nya dan keluar kembali.
Kucing gadis itu mulai masuk, ia menatap makanan yang harus nya untuk gadis cantik yang tengah tertidur tersebut.
Walaupun sudah di berikan makanan kucing namun kucing berwarna berbulu oranye itu tampak nya masih ingin memakan makanan yang tadi di letakkan Richard.
...
Richard pun kembali ke dalam kabin dan melihat makanan yang tadinya ia antar tumpah ruah berserakan beserta dengan kucing terlihat mati keracunan tersebut.
Richard terkejut, bukan karna makanan nya jatuh namun karna kucing itu yang mati setelah memakan makan malam yang harus nya untuk gadis nya.
Ia pun mengecek Calesta yang masih tertidur pulas dan bernapas lega saat tau gadis itu tak memakan makanan nya.
__ADS_1
Ia pun langsung keluar, "Siapa yang tadi memasak makan malam?" tanya nya dengan geram.
Amarah nya meninggi saat tau seseorang mengincar nyawa gadis nya.
Para awak kapal itu saling menatap satu sama lain dan chef nya pun mulai maju, ia tak tau sama sekali kenapa tuan nya begitu marah.
"Sa-saya tuan," jawab nya gugup.
Bugh!
Satu pukulan kuat melayang hingga membuat pria paruh baya itu tersungkur seketika, "Kau berani ingin meracuni wanita ku?!"
Chef tersebut terkejut, ia langsung menyanggah nya seketika karna ia tak pernah sekali pun melalukan hal tersebut.
"Sa-saya tak melakukan apapun tuan..." ucap nya gemetar merasakan hawa membunuh yang begitu kuat.
"Periksa mereka semua," perintah Richard pada beberapa bawahan kepercayaan nya yang ia bawa dalam liburan nya sedangkan Liam tak ikut karna harus tetap mengontrol situasi selama tuan nya tak ada.
"Tuan, kami menemukan ini!" ucap saah satu bawahan nya saat mendapat suatu botol mencurigakan dari seorang pelayan pria yang membantu pekerjaan di dapur kapal.
"Bawah dia ruang kabin bawah kapal!" perintah Richard langsung.
...
AKH!
Pria itu menjerit seketika, rantai yang menggantung kedua tangan nya sedangkan besi panas terus menerus di tempelkan pada nya.
"Siapa yang menyuruh mu?" tanya Richard saat bawahan menyiksa pria tersebut.
"Padahal sedikit lagi dia akan mati!" jawab pria itu yang tak peduli lagi dengan kehidupan nya.
Richard semakin geram, ia berusaha susah payah menemukan gadis itu dan tak akan membiarkan gadis itu pergi lagi dari nya.
"Beri ujung nya dengan mata pisau!" perintahnya sembari memberikan kayu yang mirip dengan cambuk kecil.
Bawahan nya segera melakukan apa yang diperintahkan.
Ctas!!
Sabetan mata pisau tajam yang berada di ujung kayu kecil itu langsung membelah kulit dan daging pria itu.
AKH!
Jeritan terdengar ketika besetan tajam terlihat memanjang, Richard tak berhenti ia terus melakukan hal yang sama guna mencabik-cabik pria yang berusaha meracuni gadis nya.
Darah segar terus terciprat ke wajah dan pakaian nya namun ia tak berhenti.
...
Calesta terbangun, ia tak merasakan pria itu di samping nya, dan memilih melanjutkan tidur nya namun telinga nya terdengar samar suara keributan dari luar.
Ia pun terpaksa bangun dan semua pekerja kapal langsung diam saat melihat gadis itu keluar kamar nya.
"Bukan nya sudah malam? Kalian tidak istirahat?" tanya Calesta pada pekerja kapal.
Mereka saling pandang satu sama lain, "Kami masih bekerja nona, Maaf kalau kami mengganggu." jawab mereka pada gadis itu.
"Tidak, tapi paman dimana?" tanya lagi pada orang-orang terlihat gugup tersebut.
"Tuan sedang ada pekerjaan," jawab salah satu dari mereka dan mulai berpamitan pergi.
Rasa kantuk gadis itu mulai hilang ia memilih berjalan di kapal sembari menatap laut malam.
Namun ia mulai mendengar samar suara teriakan, ia menherngit namun suara teriakan kesakitan itu senamin terdengr jelas.
Gadis pun berjalan mengikuti arah suara hingga menuruni anak tangga kabin bawah kapal.
AKH!
Suara teriakan yang semakin jelas hingga,
Deg!
Gadis itu terperanjat, tubuh nya membatu menyaksikan apa yang ada di depan nya, ia tak salah saat melihat postur tubuh pria yang ia kenali itu dengan mencabik dengan kayu kecil yang memiliki ujung mata pisau tajam.
Mencabik-cabik tubuh pria yang tengah diikat rantai hingga mengalirkan darah yang memberikan aroma menyeruak ke hidung nya.
Jantung nya berdegup kencang, wajah nya memucat dan suara nya tercekat menyaksikan hal tersebut.
"Sekarang kau masih tak mau bilang?" tanya Richard berhenti dan menatap masih menatap geram.
"Dasar iblis!" jawab pria itu yang sudah hampir tak terlihat yang mana kulit dan yang mana daging di tubuh nya.
"Ambil pisau," ucap Richard pada bawahan nya.
Pisau tajam pun di berikan pada nya, ia pun langsung menusuk satu mata pria itu dan mengeluarkan bola nya segera.
Crass...
AKH!
Calesta menyaksikan semua hal menhwrikan itu dengan mata nya sendiri, suara nya sama sekali tak keluar, namun kelapa nya mulai terasa sakit.
Deg!
Sekelebat tentang ia seakan pernah di perlakukan sama melintas di kepala nya, di rantai, di pukul, di cambuk dan siksa hingga di tinggal kan di tempat gelap yang kumuh.
Suara wanita dan pria yang saling bertautan di telinga nya hingga membuat nya mulai merasakan sakit yang menjalar ke seluruh tubuh nya.
"AKH! Berhenti!" teriak nya sembari meremas rambut nya dan memegang kepala nya.
Richard terperanjat ia langsung menoleh dan menatap ke arah gadis itu.
Gadis itu terduduk dan terlihat begitu kesakitan semua cairan merah kental mengalir deras di hidung gadis itu bagaikan air yang tumpah.
"Calesta!" panggil Richard namun tubuh gadis itu mulai terjatuh.
Mata nya menatap sayup sebelum terpejam melihat pria yang berlumuran darah itu tengah sangat memperhatikan nya.
Sekarang aku ingat...
Aku ingat semua nya...
Semua yang sudah terjadi pada ku...
__ADS_1