Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Lost her


__ADS_3

"Ainsley?!" panggil Vindi saat melihat teman nya hari ini masuk kuliah setelah hampir dua bulan lebih tak pernah masuk.


Gadis itu menoleh sekilas dan kembali meletakkan buku-buku nya ke atas meja.


"Kau baik-baik saja? Kenapa tak ada kabar? Kau kenapa sih?!" tanya Vindi yang terus menggerakkan lengan teman nya karna tak di gubris.


"Aku baik-baik saja," jawab Ainsley singkat dan menatap ke depan.


"Dosen tampan itu, sudah tidak mengajar lagi. Kau tau kan? Jadi bosan tidak ada cuci mata lagi..." keluh Vindi.


Pelajaran pun di mulai dan gadis itu sama sekali tak bergeming, ia masih sulit mengatur ekspresi hingga tanpa sadar terus menampilkan wajah datar.


...


Ting...


Ponsel nya bergetar, Ainsley pun melihat nya dan membaca pesan yang menampilkan ia harus kembali malam ini ke kediaman utama nya.


Walaupun ia merasa jengah namun masih ada satu ikatan yang tak bisa di putus dan di hentikan di dalam tubuh nya.


Ikatan darah...


......................


Apart Winter Garden.


Gadis itu duduk menatap video orang-orang yang tersenyum dan tertawa, bibir yang terangkat, senyum yang ceria dan bersikap baik-baik saja.


Itulah yang sedang ia coba tiru saat ini, ia memperhatikan ke cermin dengan sesekali melirik ke arah video orang-orang yang sedang tersenyum di ponsel nya.


Gadis itu menyentuh bayangan nya di cermin ia mencoba tersenyum dan tertawa seperti yang ia lihat, ia berusaha meniru nya dengan alami namun...


Deg...


Ia tersentak, nafas nya kembali sulit saat ia memaksakan dirinya lagi untuk kembali bersikap baik-baik.


Hah...hah...hah...


Tarikan nafas nya semakin tak terkendali, ia pun beranjak meraba obat penenang yang ada di rak penyimpanan nya dan menelan nya segera.


Gadis itu diam sesaat setelah tenang dan mulai bangun lagi, ia kembali menatap dirinya sendiri yang tak bisa menampilkan emosi apapun saat ini, dan ketika ia memaksa nya ia akan kembali ke titik di mana rasa takut itu muncul lagi.


"Sebenarnya apa mau mu? Apa kalau kau pergi akan ada yang menangis untuk mu?" ucap nya lirih saat menyentuh bayangan dirinya di cermin.


Ia seperti berbicara dengan orang lain ketika melihat dirinya sendiri, ia sudah sepenuh nya hilang arah.


Berusaha berdiri di depan badai membuat nya jatuh berulang kali dan bahkan kini ia berharap ikut menghilang di telan badai yang di depan nya agar tak perlu lagi terjatuh.


...


Kediaman Belen.


Makan malam, adalah dua kata yang biasa diartikan sebagai pererat hubungan namun tidak bagi keluarga tak harmonis itu.


Bagi Michele makan malam adalah arti kata bahwa ada yang ingin ia bicarakan dalam lingkup keluarga inti.

__ADS_1


"Ku dengar kau masuk rumah sakit? Sudah ku bilang jangan berulah kan?!" ucap Michele berdecak kesal pada putri nya.


Fanny menoleh ke arah Ainsley dan melihat gadis itu memakan steik nya dengan tenang, ia sudah merasa gadis itu berbeda sejak pembicaraan terakhir mereka.


"Sekarang kau bahkan tak menjawab ayah mu?! Benar-benar anak tidak berbakti!" kesal Michele sekali lagi memarahi gadis cantik itu.


"Bukankah anda harus nya bertanya apakah saya baik-baik saja? Jika anda benar-benar ayah saya," ucap Ainsley setelah meletakkan garpu nya dan menatap sang ayah.


Deg...


Ucapan yang di kembalikan seperti batu lemparan pada pria itu, Michele memilih tak menjawab namun menatap begitu kesal ke arah gadis itu.


"Benar-benar tak tau sopan santun!" Michele yang kembali menyalahkan putri nya karna ia anggap membalas ucapan nya dengan penghinaan.


"Benar, saya tidak tau sopan santun..." ucap Ainsley lirih, "Karna anda tak pernah mengajari saya, dan saya mempelajari sikap saya dari anda." jawab nya lagi.


Ia tak tau kenapa bisa berkata demikian, namun dibandingkan amarah pada ibu nya ia lebih marah pada sang ayah.


Walaupun sang ibu menyiksa nya namun setidaknya wanita itu terkadang melihat nya berbeda dengan sang ayah yang total mengabaikan nya bahkan saat ia disiksa habis-habisan oleh sang ibu.


"Berhenti bertengkar dan makan saja," decak Fanny saat ia melihat kini Ainsley yang sudah bisa menjawab perkataan yang di lontarkan pada nya.


"Kalau kau becus mengurus anak dia tak akan seperti ini," ucap Michele sembari menatap tajam sang istri.


"Kalau kau menceraikan ku dari awal, dia bisa diasuh dengan ibu lain dan mungkin tak akan seperti ini." balas Fanny tak mau kalah pada suami nya.


Michelle menatap tajam ke arah sang istri namun ia memang tak ingin melepaskan wanita itu, dan yang menjadi korban atas semua sikap egois nya adalah putri nya sendiri.


"Kenapa keturunan ku bisa bodoh sekali! Kau harus nya lebih pandai bersikap! Kau mau membuat keluarga mu malu sampai mana?!" ucap Michele membuang nafas dengan kasar sembari meminum wine nya.


Ainsley diam namun ia sadar hal itu di tujukan untuk nya.


batin gadis itu bertanya, ia tak pernah sekali pun merasakan hangat nya keluarga namun ia harus mengorbankan seluruh hidup dan perhatian nya untuk satu kata yang menjadi tanggung jawab nya sejak lahir 'Keluarga'


"Saya tak pernah minta dilahirkan, dan kalian hanya orang yang membawa ku ke dunia bukan keluarga ku..." gumam nya lirih.


Entah karna ia yang masih mengalami cacat mental dan belum pulih sepenuh nya atau karna depresi dan ledakan emosi yang dulu nya selalu ia pendam membuat nya sanggup berkata demikian.


Deg...


Fanny dan Michele tersentak, walaupun Ainsley tak mengatakan dengan lantang namun suara lirih itu masih dapat terdengar sayup di telinga kedua orang tua nya.


Wanita itu mengerutkan dahi nya dan menatap ke arah putri nya, ia tak nyaman ia merasa sekarang putri nya sudah benar-benar membangun jembatan lain diantara mereka yang sulit untuk di lewati.


"Ains-"


Plak!


Mata Fanny membelalak seketika, ucapan nya terpotong begitu melihat suami nya bangkit dan menampar putri nya.


Panas dan perih di rasakan gadis itu, namun ia berusaha menahan suara ringisan nya, ia melirik ke arah tangan sang ayah yang gemetar setelah menampar nya.


Sang ayah yang tak pernah memukul nya namun selalu tak peduli akan hidup mati nya dan selalu membalikkan punggung nya serta bersikap dingin itu kini memukul nya.


"Berani sekali kau berkata seperti itu!" ucap Michele dengan mata menyala menatap putri nya yang masih menunduk dengan pipi memerah.

__ADS_1


"Apa kau baik-baik saja? Kenapa bisa seperti itu? Bagaimana kabar mu? Luka mu sudah membaik? Apa yang sebenarnya terjadi? " ucap nya yang membuat bingung sang ayah, "Bukankah ini yang harusnya di katakan seorang Ayah saat bertemu putri nya yang hampir mati?" sambung gadis dengan mengangkat wajah nya dan menatap sang ayah.


Michele masih terdiam mendengar perkataan putri nya, hingga seorang pelayan datang membawakan makanan tambahan sesuai jam nya yaitu puding buah persik. Fanny mengernyit melihat hal itu.


Persik? Siapa yang membawa nya? Michele?


Batin nya menatap makanan penutup tersebut.


Sedangkan Ainsley juga melihat makanan penutup tersebut, ia melirik ke arah sang ibu yang terlihat bingung dan kembali menatap sang ayah.


"Ck! Percuma saja!" decak Michele yang kembali duduk di kursi nya, ia tak tau jika malam ini bukan nya pembicaraan baik yang terjadi namun malah pertengkaran karna gadis patuh itu kini sudah tak lagi sama.


"Puding ini untuk saya?" tanya Ainsley pada sang ayah sembari melihat puding yang memiliki banyak persik di sekeliling nya.


"Kau lihat?" jawab Michele tak suka karna masih terkejut dengan sikap putri nya.


Ainsley menghela nafas nya, "Anda yang siapkan sendiri?" tanya nya lagi pada sang ayah.


"Sekarang aku menyesal menyiapkan nya," jawab Michele.


Ia tau jika putri nya suka makanan manis karna pernah melihat gadis itu lahap memakan permen dulu nya maka dari itu ia menyiapkan makanan manis saat ia memanggil putri nya namun ia tak tau hal lain nya.


"Terimakasih makanan nya," ucap Ainsley dan meminum air minum lalu memakan puding tersebut.


"Ainsley?" panggil Fanny terkejut melihat gadis memakan puding di depan nya.


Ainsley tak menghiraukan nya dan memakan hingga setengah dari apa yang ada di depan nya. Lalu setelah itu ia pun kembali.


"Saya sudah tau arah pembicaraan nya, saya tak akan memalukan nama keluarga Belen lagi, jadi saya akan undur diri." ucap nya beranjak pergi di situasi panas tersebut.


"Saat ini...


Saya sudah benar-benar kehilangan anda..." ucap nya ambigu menatap sang ayah dan pergi begitu saja.


Michele tak mengerti namun ia tak sadar jika malam ini ia juga sudah kehilangan putri nya yang begitu berharga.


...


Fanny mengikuti langkah Ainsley setelah makan malam, gadis itu masih berjalan dengan normal tanpa ada yang terjadi.


"Kau baik-baik saja?" ucap wanita itu sembari mencekal tangan putri nya.


Ainsley tersentak dan menatap tangan nya, namun ia mulai menepis nya, "Apa sekarang adalah adegan ibu yang baik?" ucap nya baik bertanya.


Fanny terdiam, mengernyitkan dahi nya tak mengerti.


"Lalukan yang seperti biasa anda lakukan, jangan memperdulikan saya...


Nyonya Belen," ucap lagi dan kembali pergi sebelum ia kehilangan kesadaran nya.


Gadis yang memiliki alergi berat pada buah persik itu namun memakan makanan yang disiapkan untuk nya, walau itu seperti racun namun setidaknya ia ingin mencoba sesuatu yang pertama kali di siapkan sang ayah untuk nya.


...****************...


Jangan lupa dukungan nya yah♥️♥️

__ADS_1


Oh iya cerita ini ga jadi othor hapus yah, karna othor mau prepare cerita baru sekalian buat season tiga, makanya kalo buat remake kayak nya agak gimana gitu😂🤣


Happy reading♥️♥️♥️


__ADS_2