
Apart.
Pria itu terlihat cemas, tak ada kabar ataupun panggilan nya yang di angkat sedangkan supir yang menjemput dan membawa istri kecil nya pun tak bisa ia hubungi sama sekali.
"Dad?"
"Daddy?"
Suara kecil menggemakan yang memanggil nya sembari menarik kain celana nya dengan tangan mungil yang gempal.
"Fey? Kenapa sayang?" ucap nya yang langsung menggendong tubuh anak yang belum genap usia 3 tahun itu.
Hari semakin larut namun sang istri belum kembali juga, "Telpon nya kenapa tidak di angkat?" decak nya merasa kesal.
Fey pun hanya menatap dengan mata bulat nya dan melihat sang ayah.
"Daddy?" panggil nya sembari menyentuh wajah pria tampan yang menjadi ayah nya.
"Jaga mereka, aku akan beru uang lembur." ucap nya yang menurunkan putranya dan mulai keluar dari apart nya meninggalkan anak-anak menggemaskan itu pada para pengasuh.
...
Sementara itu.
Kini pesawat letak lepas landas dan mengudara di langit.
"Papa memang udah kasih tau kakak kan?" tanya Celine lirih pada sang ayah.
"Iya, kamu sekarang bagaimana kabar nya? Kamu bilang sudah nikah kan? Sama kak Steve?" tanya Mike lagi pada gadis itu.
Celine diam sejenak dan mengangguk pelan, "Tapi kenapa sekarang papa peduli sama kami? Dulu Celine sering hubungi papa mama tapi gak pernah di jawab, di hari aku sama kak Steve nikah aja papa mama gak datang walaupun udah Celine kabari..." ucap nya pada sang ayah dengan suara rendah.
"Maaf yah, Papa terlambat tau nya." ucap Mike yang sadar pesan yang di kirim putri sambung nya itu tak pernah sampai pada nya selama hampir 3 tahun lebih.
Namun dari pada menyangkal dan membuat hubungan antara ia dan putri sambung nya itu makin jauh ia pun memilih untuk meminta maaf lebih dulu.
"Celine? Kamu dengerin Papa nak? Kamu sama kak Steve itu anak Papa, dulu Papa gak mau kalian bareng karna Papa juga takut."
"Takut kalau kalian punya masalah di hubungan dan nanti malah buat kalian jauh, sedangkan Papa sama Mama? Kami mau kalian punya hubungan yang baik terus, dan yang kedua kamu dulu juga terlalu kecil untuk hal seperti itu. Kamu sama kak Steve mungkin mikir nya bisa jalani semua nya."
"Memang benar kalian bisa jalani semua nya, tapi perjalanan nya itu yang seperti apa? Kamu tau nak? Setiap orang tau mau jalan yang paling mulus untuk di lewati anak-anak nya. Maaf tindakan Papa sama Mama dulu juga salah, tapi itu bukan berarti kami tidak sayang kalian..." terang nya pada putrinya.
Gadis itu hanya diam, awal nya ia merasa marah karna seperti di tinggalkan oleh kedua orang tua yang ia sayangi namun ia juga merasa begitu merindukan sang Ayah ataupun pelukan hangat ibu nya. Celine menyayangi pria itu layaknya ayah kandungnya.
"Mama gimana Pa kabar nya?" tanya nya dengan suara serak dan memalingkan wajahnya sembari mengusap ujung mata nya dengan jari telunjuk nya yang lentik.
Mike hanya menarik napas nya dengan panjang dan memilih untuk berdalih kecil, "Mama kamu itu cuma mau lihat kamu dan sekarang Papa yakin kalau Mama kamu akan baik-baik saja." ucap nya tersenyum tanpa mengatakan kondisi sebenarnya.
__ADS_1
......................
Prancis.
7 Jam kemudian.
Mansion Evans.
"Gak ada yang berubah ya Pa di sini?" tanya nya sembari melihat ke arah seluruh bangunan megah itu yang masih sama seperti tiga tahun yang lalu.
"Ada beda nya kok, kalau kamu gak ada mansion nya lebih sunyi dari biasanya." ucap Mike sembari mengusap kepala putri nya.
Ia tak menanyakan apakah anak yang dulu ingin ia gugurkan itu sudah di lahirkan atau telah tiada karna bagi nya yang terpenting adalah kembali nya putri sambung nya agar sang istri bisa segera pulih.
"Kamu ke kamar Papa yah? Lihat Mama kamu, pasti bakal jadi kejutan buat Mama kamu." ucap nya pada gadis itu.
Celine pun mengangguk dan mulai berjalan menuju kamar kedua orang tua nya. Sedangkan Mike mulai kembali mengaktifkan telpon gadis itu dan memeriksa catatan panggilan dan pesan nya.
Sementara itu masih seperti biasa Freya hanya tertidur dan terbaring di atas ranjang nya yang begitu empuk.
Jam yang menunjukkan mulai pukul 5 pagi dan mulai memberikan hari yang baru itu pun memberi kejutan yang begitu ia nantikan.
Gadis itu tersentak sejenak melihat kondisi sang ibu, tubuh yang dulu nya tak gemuk namun berisi itu kini lebih kurus.
Tak hanya itu, wajah yang dulu nya begitu cerah dan terlihat segar pun kini layu dan pucat.
Deg!
Wanita yang selalu berada antara tidur dan tidak itu langsung membuka mata nya, ia menoleh melihat ke arah gadis yang selama ini begitu ia rindukan.
"Ce..Celine? Nak? Mama gak mimpi kan?" gumam nya yang langsung beranjak dengan berusaha bangun agar bisa duduk.
Gadis itu pun langsung mendekat dan membantu sang ibu.
"Celine sudah pulang nak? Maaf..." ucap wanita itu dengan suara gemetar sembari memegang dan meraba wajah putri nya agar sadar jika ia sedang tak bermimpi.
Air mata nya meleleh, ia menatap dengan mata tak percaya sekaligus mata yang begitu terlihat bahagia saat rasa rindu itu kini sudah mulai pecah membuyar.
"Maaf..." ucap nya lagi yang penuh dengan nada penyesalan.
Satu tarikan dari wanita yang sudah mulai berumur setengah abad itu pun membuat seluruh tubuh gadis cantik itu terasa hangat.
"Maaf..."
Hanya satu kata yang keluar dari bibir wanita itu tanpa bisa menanyakan hal yang lain nya.
Celine tersentak, pelukan hangat sang ibu membuat nya lupa jika sebelum nya ia tengah marah. Hati nya luluh dan langsung membalas pelukan wanita itu.
__ADS_1
Ia tak tau mengapa, tak merasa sedih namun ia malah menitikkan air mata. Sesuatu yang membuat nya bingung dan pada akhirnya hanya membalas pelukan erat wanita itu.
...
Mike diam sejenak, ponsel itu langsung berdering begitu ia membuka nya.
Ia pun lantas mengangkat nya, suara yang sangat ia kenali langsung terdengar di telinga nya.
"Celine? Kamu di mana? Supir yang bawa kamu juga hilang? Terjadi sesuatu? Celine?"
Ia diam sejenak mendengar suara putra nya yang begitu keras kepala hingga membawa lari putri sambung nya.
"Celine sama Papa, kalau kamu mau bertemu dia, pulang sekarang juga." ucap nya dengan nada rendah dan langsung mematikan ponsel nya.
Ia menatap berat ke arah ponsel keluaran terbaru itu. Menghela napas nya dengan panjang dan berharap agar putra nya itu segera menyusul nya.
"Ku harap dia segera kembali," gumam nya lirih.
......................
Sementara itu.
New York
Apart.
Pria itu membatu sejenak begitu mendengar apa yang sampai di telinga nya barusan.
Ia kembali menghubungi namun tentu tak ada jawaban sama sekali.
"Celine sama Papa? Mereka mau aku dan Celine pisah lagi?!" gumam nya sembari menggenggam erat ponsel di tangan nya.
"Addy? Ammy nana?" (Daddy? Mommy mana?)
Rey si putra kedua yang lebih cepat di bandingkan ketiga saudara nya yang lain itu terlihat mendekat ke arah sang ayah dengan tubuh nya yang masih belum berkembang dengan sempurna itu dan terlihat bagaikan boneka salju berjalan.
Steve mengalihkan pandang nya pada putra nya yang sudah terbangun di bandingkan saudara kembar nya yang lain.
Tangan nya pun langsung meraih tubuh mungil itu dan menggendong nya dengan lembut agar putra nya merasa nyaman.
"Rey kenapa udah bangun? Kangen Mommy?" tanya nya pada anak menggemaskan itu yang kembali mengantuk di gendongan nya.
"Ley au cucu amyy..." (Rey mau susu Mommy...) ucap nya lirih sembari menghisap jempol nya yang sudah seperti kebiasaan walaupun sudah di biasakan untuk tidak melakukan nya.
"Minum susu nya sama Daddy yah? Daddy buatin." ucap nya dengan lembut yang menurunkan sejenak amarah nya karna sang istri di bawa pulang oleh sang ayah.
Ia pun beranjak ke dapur dan mulai membuatkan susu formula untuk si putra kedua yang masih sangat celat itu.
__ADS_1
Setelah memberikan susu formula pada putra kedua nya ia pun segera menelpon para pengasuh anak-anak nya agar lebih cepat datang dan ia yang bisa pergi lebih cepat menyusul kembali istri kecil nya.