
2 Hari Kemudian.
Gadis itu mulai gelisah, ia tak di biarkan keluar sedangkan hari menuju ke Itali semakin dekat.
"Mamah?" ucap nya lirih saat melihat sang ibu masuk ke dalam kamar nya.
Tubuh kecil nya berlari dan segera memeluk wanita itu dengan erat.
"Mah, maaf..."
"Mamah jangan marah lagi sama Celine..." ucap nya sembari memeluk sang ibu.
Freya masih diam sejenak, "Kalau Mamah bilang kamu harus jauhin kak Steve kamu mau?" tanya nya pada putri nya.
Celine melepaskan pelukan nya menatap wajah sang ibu yang tempo hari baru saja menampar nya.
"Kak Steve juga gak salah Mah, Kak Steve begitu karna Celine nakal tapi abis itu kak Steve gak ada sakitin Celine sama sekali Mah." ucap nya pada sang ibu yang masih membela pria yang sudah mengisi begitu banyak hari nya.
"Tidak menyakiti mu? Kamu tau memang nya apa yang dia lakukan? Jangan jawab karna mau nakal terus di hukum ataupun karena dia sayang sama kamu." ucap Freya pada putri nya.
"Ta...tapi kan memang bener..." ucap Celine lirih, "Kak Steve baik Mah, jangan marah sama kakak..." ucap nya sekali lagi pada sang ibu.
Wanita itu terdiam, tatapan polos dan naif putri nya terlihat jelas, "Kamu mau ke Itali?" tanya nya lagi pada gadis itu.
Celine langsung mengangguk dan menatap sang ibu, "Mamah akan buat kamu ke Itali." ucap nya sembari melihat wajah putri nya.
"Kamu itu masih muda, masih banyak yang harus kamu kejar, kamu impikan, kamu wujudkan..." ucap nya sembari mengusap pipi putri nya yang menatap nya dengan bingung karna tak mengerti mengapa ia bicara demikian.
Sebagai seorang ibu tentu nya tak mau melihat impian putri nya terhalang, ia tak mau melihat putri kecil nya yang masih terlihat kanak-kanak itu untuk mengurus anak.
"Kamu cuma perlu menyingkirkan satu aja halangan nya, mau?" tanya Freya pada gadis itu.
Celine menatap bingung, tak ada satu pun yang memberi tau nya tentang apa yang terjadi, namun ia berpikir ibu nya tak akan menyakiti nya sehingga satu anggukan menjadi jawaban.
"Nanti Mamah kembali, kamu di sini aja. Besok kamu ke Itali." ucap nya sembari kembali meninggalkan putri nya.
"Tapi Mah? Kak Steve..." ucap nya lirih yang hampir tak bersuara karna takut sang ibu marah lagi pada nya.
Ia tentu mencari dan merindukan pria itu, bukan hanya karna hormon hamil nya yang ingin dekat dengan ayah dari bayi-bayi yang ia kandung namun juga karena perasaan nya yang sudah terlalu jatuh untuk pria itu.
"Celine kangen kak Steve..." ucap nya lirih tak berani bersuara dengan gamblang.
Sedangkan sang ibu mulai berpikir untuk memberikan nya sesuatu yang bisa menghilangkan bayi-bayi yang hadir dalam tubuh nya tanpa ia ketahui.
......................
Tik!
Satu ketikan terakhir di keybord yang berada dia depan nya membuat pria itu menarik napas panjang dan terlihat lega.
"Aku menemukan nya..." gumam nya lirih yang kini sudah tau di mana lokasi gadis kecil kesayangan nya di sembunyikan.
Dua hari hanya berkutat di depan komputer untuk mencari gadis itu tentu nya membuat hari nya berantakan.
Namun kerja keras nya tak sia-sia, ia menemukan seseorang yang sangat ia cari.
Pria itu pun kini tinggal mengatur strategi untuk menerobos pengawalan sang ayah yang di tempatkan di mansion tempat gadis nya di sembunyikan.
...
Kfdrty Software Company
Pria yang sudah cukup berumur itu tersenyum lebar melihat seseorang yang sudah bagaikan mesin penghasil uang untuk nya.
"Anda bisa membantu saya?" tanya Steve menatap pria itu.
"Apa itu? Katakan saja?" jawab Presdir Ronald dengan senang hati ingin mengabulkan nya.
"Halangi informasi dari GnB company tentang apa yang saya lakukan selama satu bulan kedepan." ucap nya yang tau jika sang ayah akan selalu mengikuti gerak gerik nya.
"Itu perusahaan orang tua mu kan? Kau mau keluar dari sana dan bekerja di tempat ku?" tanya Presdir Ronald dengan tatapan menggebu.
"Tidak, tapi sebagai bayaran nya saya akan perpanjang kontrak selama satu tahun lagi jadi saya akan bekerja untuk perusahaan ini selama tiga tahun." ucap Steve pada pria itu.
Memiliki sesuatu yang kuat secara legal tentu nya memerlukan upaya serta usaha yang begitu keras dan ia tengah berusaha dan masih merintis nya karna tau kini kekuatan yang ada di tangan nya masih begitu lemah.
"Hahaha! Kenapa hanya tiga tahun? Aku bisa menjadikan CEO di sini kalau kau mau," ucap pria itu tertawa.
"Anda bisa meneruskan nya pada putri anda bukan pada ku," jawab Steve dengan dingin dan tak tertarik.
"Bicara tentang putri ku, apa kau tidak tertarik dengan nya? Dia seusia dengan mu, cantik dan juga pin-"
"Saya memiliki wanita yang akan saya nikahi," jawab Steve langsung yang tentu nya tak ingin dekat dengan gadis lain selain gadis kecil kesayangan nya.
Ronald membuang mata nya dengan sedikit kesal namun ia tak memasukkan nya ke hati.
"Dan juga berikan saya 20 pengawal hari ini." ucap nya lagi mengatakan hal yang ia perlukan selanjutnya.
"20? Untuk apa? Itu terlalu banyak?" tanya Presdir Ronald dengan bingung.
"Jangan tanya alasan nya dan sebagai balasan nya saya akan memenangkan proyek Shiny Blue." jawab Steve yang selalu datar dan menatap dengan dingin.
Presdir Ronald menarik napas nya, sungguh tawaran yang sangat menggiurkan untuk nya.
......................
Mansion.
Gadis itu menatap ke arah minuman berwarna hitam yang baginya terlihat aneh.
"Itu apa Mah? Bau nya aneh, Celine gak mau..." ucap nya menolak pada apa yang di berikan sang ibu.
__ADS_1
"Celine? Kamu gak nurut sama Mamah? Kamu mau Mamah marah lagi sama kamu?" tanya Freya yang seperti memberikan hawa intimidasi pada putri polos nya.
"Bukan gak nurut Mah, Cel-"
"Kamu mau Mamah kecewa lagi sama kamu? Kamu mau nyakitin hati Mamah lagi?" tanya wanita itu pada putri nya.
"Apa suka sama kak Steve itu nyakitin Mamah? Memang nya Celine gak boleh suka sama orang lain?" tanya gadis itu lirih.
Tentu nya hal tersebut menjadi pukulan besar pada wanita cantik itu, namun tetap saja.
Ia tak mau ada yang menggunjingkan putri nya, bahkan dulu sewaktu ia menikah dengan Mike saja banyak yang membicarakan nya dari belakang.
Berbicara tentang status dan juga mengatakan jika ia seperti rubah licik yang merayu duda tampan yang merupakan konglomerat.
Walaupun ucapan tersebut mungkin di katakan karna iri dengan diri nya namun ia tak mau putri nya mendapatkan hal yang sama.
Terlebih lagi situasi dan putri nya yang masih begitu kecil untuk bisa bepikir secara dewasa.
"Kamu boleh suka sama kak Steve, tapi bukan rasa suka untuk laki-laki nak."
"Kamu itu masih kecil, kamu gak tau apa-apa tentang dunia, masa muda kamu juga gak akan mungkin bisa di ulang. Mama gak mau kamu nanti yang terluka." ucap nya pada putri nya sekali lagi.
Mike sudah menyetujui untuk mengugurkan kandungan gadis itu mengingat usia yang masih muda dan tentu nya masih menginginkan banyak hal selayaknya gadis remaja lain nya.
Celine diam sejenak, ia tak mengerti mengapa sang ibu berbicara seperti itu namun minuman aneh terus saja di sodorkan pada nya hingga membuat nya tak bisa menolak nya lagi.
"Bau nya aneh Mah," cicit nya sebelum meminum minuman yang di berikan sang ibu.
"Gak apa-apa, cuma obat kok nak..." ucap Freya kembali memberikan minuman yang akan menghilangkan cucu nya itu.
Celine mulai menahan napas nya agar aroma yang tak ia sukai itu tak terhirup, dalam satu tegukan ia mulai meminum habis minuman berwarna hitam berbau aneh itu.
Gluk...
Gluk...
Freya memperhatikan setiap tegukan yang di minum putri nya, ia berharap janin itu akan segera gugur nanti nya.
"Udah Mah," ucap Celine yang memberikan wajah mengerucut karna bukan hanya bau nya yang aneh namun rasa nya pun juga.
Freya mengambil gelas kosong itu menatap wajah putri nya yang tampak pedar menahan rasa yang kuat dari obat penggugur itu.
"Mah? Kita besok ke Itali?" tanya Celine ketiak sang ibu yang ingin beranjak pergi.
"Iya, kalau tidak ada masalah kamu pergi ke sana." ucap nya sembari meninggalkan putri nya.
Celine terdiam, menungggu sang ibu datang kembali pada nya.
Hari nya terasa begitu membosankan, ia berulang kali membuang napas dan begitu merindukan sang kakak.
"Apa kakak di marahin Papa yah? Makanya gak jemput aku?" tanya gadis itu lirih yang merasa sang kakak tak mengunjungi nya sama sekali.
Gadis itu mengernyit, perut nya terasa begitu sakit dengan rasa mulas yang dan perih yang bercampur.
Seluruh isi perut yang masih rata terasa begitu di putar dan gulung di dalam nya habis-habisan.
"A..aduh..."
"Kenapa sakit sekali?" gumam nya lirih yang ingin beranjak keluar dan memanggil sang ibu ataupun pengawal yang berjaga.
Namun langkah nya gontai, rasa sakit di perut nya membuat ia tak bisa berjalan dan terjatuh.
Bruk!
Wajah nya mulai memucat, keringat yang jatuh walaupun suhu tubuh nya sedang menurun saat ini.
Kak Steve? Kakak di mana? Celine sakit kak...
Tubuh kecil itu melingkar dan meringkuk di atas lantai keras nan dingin itu. Ia menahan sakit yang puluhan kali lebih menyakitkan di bandingkan nyeri saat datang bulan yang biasa nya.
Sementara itu.
Kekacauan yang terdengar memenuhi mansion tersebut.
Membawa 20 pengawal sedangkan hanya 15 pengawal yang berjaga di mansion yang hanya menjaga seorang gadis itu.
Pria itu berjalan sembari mencari ke setiap sudut kamar yang mungkin terdapat gadis nya.
Tangan nya mulai membuka satu pintu yang terkunci, ia mendobrak nya dengan keras dan menatap ke arah yang membuat iris nya membesar.
"Celine!" ia beranjak ke arah gadis bertubuh mungil itu yang meringkuk tak sadar di atas lantai.
Tubuh nya terasa dingin dengan keringat hanging yang terlihat di wajah pucat nya.
Jantung pria itu berdetak kencang, ia takut sekaligus khawatir dan merasa bodoh serta bersalah karna terlalu lama menemukan gadis itu hingga kondisi nya menjadi seperti sekarang.
Ia pun menggendong nya, beberapa pengawal lain nya yang melihat tuan muda nya membawa nona muda yang harus nya mereka jaga pun ingin segara menghalangi namun pengawal yang ikut bersama Steve pun langsung membuat rusuh kembali.
......................
Rumah sakit.
Steve terlihat gugup dan gelisah, pria yang bahkan terlihat seperti tak akan panik walaupun ada gempa dan tsunami itu namun kini terlihat begitu gusar.
Hanya dengan menunggu pemeriksaan gadis nya, "Saya bisa berbicara dengan wali pasien dan nona Celandine Amaranth?" tanya seorang perawat yang sembari melihat data pasien di tangan nya.
"Saya wali nya," ucap Steve yang langsung mendekat.
"Dokter ingin berbicara dengan anda Pak," ucap perawat tersebut dan membawa Steve ke ruangan sang dokter.
Steve mulai masuk dengan seorang dokter wanita yang terlihat cukup berumur menunggu nya.
__ADS_1
"Anda wali dari nona Celandine Amaranth?" tanya si dokter memastikan.
"Benar, ada apa dengan adik saya?" tanya Steve yang lebih mudah mengakui jika gadis itu adalah adik nya.
"Adik anda hamil," ucap dokter wanita itu memberi tau apa yang sudah di ketahui oleh wali pasien nya.
"Saya tau hal itu," ucap nya sekali lagi pada sang dokter.
"Dia meminum obat penggugur dengan dosis tinggi, tubuh nya mengalami penolakan dan hampir saja ia keguguran." ucap si dokter dengan membuang napas nya.
"Dan setelah saya priksa kandungan adik anda memiliki kembar 4, mereka masih selamat namun kondisi nya sangat lemah dan memerlukan bed rest mungkin sekitar 2 bulan atau sampai trimester pertama selesai karna kondisi kandungan yang sekarang rentan akibat obat pengugur." ucap sang dokter membuat pria itu begitu terkejut.
Steve terdiam, ia membatu mendengar ke empat anak nya hampir melayang ke langit jika ia terlambat sedikit lagi.
"Namun jika ingin tetap di lanjutkan kami bis mengugurkan nya lagi karna usia kandungan yang belum sampai sepuluh Minggu," ucap sang dokter.
Ia sering menemui beberapa kasus remaja yang meminta untuk di gugurkan kandungan nya karna terlalu bebas dan ia berpikir gadis ini pun memiliki masalah yang sama.
"Di gugurkan? Apa saya bilang ingin mengugurkan nya? Dari pada bicara seperti itu kenapa anda tidak mengatakan cara agar janin nya selamat sampai lahir?!" tanya Steve yang tertawa suasana marah di hati nya.
Dokter tersebut pun hanya membuang napas nya, ia mulai menjelaskan apa saja yang harus dilakukan agar janin-janin itu bisa selamat sampai kelahiran, walaupun resiko keguguran masih menghantui akibat obat yang membuat ke empat janin tersebut melemah.
......................
Apart.
Sesuai perjanjian dengan Presdir Ronald ia pun membawa gadis itu kembali ke apart nya dan menghilangkan jejak nya agar kedua orang tua nya tak bisa menemukan nya.
Pukul 09.16 pm
Celine mulai membuka matanya saat langit mulai menggelap dan tak memperlihatkan mentari lagi.
Sedangkan Steve menunggu nya dengan perasaan yang campur aduk sekaligus berpikir negatif jika gadis itu meminum obat penggugur dengan sendiri nya.
"Kakak?" tanya gadis itu dengan sinar cerah di mata nya menatap pria yang ia rindukan selama beberapa hari.
Pluk!
Gadis itu langsung beranjak bangun dengan tenaga yang entah dari mana untuk memeluk sang kakak yang duduk tepi ranjang yang ia tiduri.
"Celine kangen kakak! Kakak gak apa-apa kan? Mamah Papah gak marahin kakak kan?" tanya nya dengan penuh rasa khawatir sembari melihat ke arah wajah pria yang menatap nya dengan datar.
"Kamu minum obat nya sendiri?" tanya pria itu sembari menatap wajah yang terlihat begitu khawatir pada nya.
"Obat apa kak? Celine gak sakit kok? Oh iya tadi Celine sempet sakit perut kak..."
"Rasa nya sakit banget sampai Celine kayak mau mati." sambung nya lirih yang memegang perut nya.
Steve diam sejenak, wajah yang terlihat seperti tak tau apapun itu menatap nya dengan polos.
"Celine di mana kak? Apart kakak yah?" tanya nya yang sembari melihat dan merasa ia pernah di bawa kesana juga sebelum nya.
Tak ada jawaban sama sekali hanya tatapan yang melihat ke arah wajah cantik itu.
Ia tau gadis kecil nya tak berbohong ataupun sengaja ingin melukai anak-anak mereka.
"Kak? Celine besok boleh pergi ke Itali sama Mamah kak, tapi barang-barang Celine belum di siapin." ucap nya yang ingin beranjak namun perut nya kembali merasa nyeri.
Auch!
"Kenapa perut Celine sakit lagi?" gumam nya lirih.
Steve pun langsung meraih tubuh kecil itu dan menatap nya dengan khawatir, "Kamu mau kemana?" tanya nya pada gadis itu.
"Mau siapan kak, besok Celine mau ke Itali kan empat hari lagi Celine mau tampil kak." ucap nya pada sang kakak.
"Kakak kan bilang kalau kakak gak izinin kamu," ucap Steve pada gadis itu.
Celine langsung mengernyit, ia merasa tak terima karna sang kakak seakan sedang menghalangi mimpi nya.
"Kenapa kak? Mamah Papah aja setuju?" tanya gadis itu yang menaikkan suara nya ketika berbicara pada kakak yang ia rindukan.
"Kamu hamil!" ucap Steve yang tak mau lagi menutupi nya.
Deg!
Gadis itu terkejut dan membatu seketika mendengar ucapan sang kakak.
"Ka..kakak bilang apa?" tanya nya lirih dengan terbata.
"Kamu hamil, di dalam tubuh kamu di perut kamu saat ini, itu ada anak kita." ucap Steve dengan nada penuh penekanan pada gadis itu.
Celine terdiam semua nya seperti tak masuk akal di pikiran nya, "Tapi kenapa bisa kak?" tanya nya lirih dengan polos.
"Celine kan belum nikah sama kakak? Kenapa Celine bisa hamil sama kakak?" tanya nya lirih sembari memegang tangan pria itu.
Ia bahkan tak tau apa yang biasa ia lakukan akan menghasilkan kehidupan lain nya.
"Kamu itu sudah cukup umur untuk itu, kakak juga sudah dewasa apalagi kakak juga laki-laki normal kan?" tanya Steve pada gadis yang terlihat begitu terpukul itu.
"Yang biasa kakak lakukan itu, yang bisa kita lakukan, kalau kakak sedang melakukan..." ucapnya lirih yang mulai menjelaskan pada adik nya yang polos itu.
Gadis itu tak mengatakan apapun, namun ia hanya menangis tanpa sadar.
"Celine gak mau hamil kak..."
"Celine mau ke Itali, biar bisa masuk Julliard..."
"Temen-temen belum ada yang hamil, kenapa Celine bisa hamil? Celine gak mau..." ucap nya lirih yang merengek pada sang kakak.
Ia tak bisa mendengarkan penjelasan sang kakak karna begitu terkejut. Sedangkan pria itu hanya menatap gadis yang tengah menangis dengan lelehan air mata sembari merengek mengatakan tak menginginkan bayi nya sama sekali.
__ADS_1