Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Takut


__ADS_3

Sunyi...


Tak ada satupun suara yang di apartemen itu setelah Sean pulang, gadis itu sudah menghentikan tangis nya.


Kini ia merasa sunyi, lebih sunyi dari biasanya entah suasana ataupun perasaan nya yang menjadi lebih sunyi.


Desiran air yang jatuh ke tubuh gadis itu membuat nya dingin, ia duduk dengan rendaman bathup yang penuh dengan sabun beraroma segar.


"Padahal aku selalu sendiri, tapi kenapa sekarang lebih merasa sepi..." gumam nya sembari memainkan busa, mata nya mulai berair lagi.


Sesak di dada nya tak kunjung hilang, ia mulai merasa lebih kesepian dan sendiri saat memutuskan hubungan nya.


Tapi ia juga takut, takut akan semua hukuman yang dulu nya berlaku pada nya.


......................


4 Hari kemudian.


Sation Company.


"Nona Mandy ingin bertemu, apa dia bisa masuk?" tanya sekertaris Jhon membuyarkan lamunan pria itu.


"Mandy? Hm, suruh dia masuk kesini." jawab Sean saat perhatian nya sudah teralihkan.


"Ini wine nya, sudah tak ada lagi tapi mungkin botol nya berguna, Histon menyimpan nya dengan sangat baik." ucap Mandy memberikan sebotol wine kosong pada pria di depan nya.


"Bagaimana kau mendapatkan nya?" tanya Sean sembari menaikan alisnya dan memperhatikan botol tersebut.


"Tak perlu tau, tapi mana bayaran ku?" tanya Mandy menagih imbalan nya.


"Ini di dalam nya sudah ada yang kau butuhkan," jawab Sean sembari memberikan card yang berisi sejumlah uang yang cukup besar.


"Karna ini dari mu, berarti tak akan mengecewakan, tapi..." ucap nya tak melanjutkan.


"Apa?" tanya Sean ketus.


"Kau tak mau tidur dengan ku lagi? Hanya sebagai teman ranjang," tawar wanita itu, ia selalu ingin menangkap ikan besar seperti pria di depan nya.


"Histon kurang memuaskan mu?" tanya Sean mengejek pada wanita itu.


"Maybe, I miss your body? Or your game?" jawab Mandy dengan tawa.


"Sayang nya aku tidak, keluar." usir Sean sembari menunjuk ke arah pintu.


Mandy pun membuang tatapan kesal dan beranjak pergi namun sebelum ia menyentuh pintu ia menghentikan langkah nya.


"Nama pacar mu Ainsley kan?" tanya nya sebelum pergi.


"Apa urusan dengan mu?" tanya Sean dengan tak suka saat nama gadis nya di sebut.


"Danny menyebut nya beberapa kali, mungkin dia mau balas dendam pada mu dan kau tau kan? Dia seperti apa?" ucap Mandy sebelum ia keluar.


Sean diam sejenak, walaupun ia tau jika Mandy sangat matrealistis dan mementingkan uang serta memiliki hidup yang bebas namun wanita itu tak pernah memaksa merebut sesuatu ataupun bersikap yang melampaui batas, maka dari itu ia sempat memiliki hubungan ranjang yang cukup lama dengan wanita itu.


Dan karna itu ia tau jika ucapan yang baru saja di katakan bukanlah sekadar ucapan belaka,apa lagi saudara tiri kedua nya yang mengincar gadis nya.


Jika Histon yang memiliki sikap buruk dengan berjudi maka Danny memiliki kebiasaan buruk bermain wanita dan menyiksa nya saat melakukan hubungan ranjang.


"Sial!" umpat nya dengan kesal, "Aku harus menyingkirkan nya..." gumam pria itu dengan tatapan tajam.


...


Sean pun membawa botol wine yang di bawa Mandy sebelumnya dan menyerahkan pada sekertaris Jhon untuk di periksa.


"Baik, saya akan memberikan hasil nya secepat nya tuan." jawab sekertaris Jhon pada Sean.


"Segera beri tau hasil nya dan awasi Danny." perintah nya pada sekertaris nya.


"Baik, tuan." jawab sekertaris Jhon dan beranjak pergi.

__ADS_1


Sean menatap kosong ke arah dinding kaca di ruangan kantor nya, sudah beberapa hari ia tak menemui ataupun menelpon Ainsley sejak hari di mana gadis itu putus dengan nya.


dr. Canly menyarankan ia memberi waktu pada Ainsley agar dapat memahami dirinya sendiri, namun tentu saja ia merasa sangat takut karna sejak awal ia sudah tau jika gadis itu 'Butuh' bukan 'Cinta' pada nya namun ia tetap mengikuti saran dr. Canly karna tak ingin memilki lebih banyak jarak lagi.


Rasa nya seperti ini yah waktu aku terus mengancam putus dengan mu? Tapi tak pernah benar-benar menginginkan nya.


Aku merindukan mu...


......................


Karna kelas yang di mulai siang membuat Ainsley masih tak beranjak dari ranjang nya, ia tak bersemangat sama sekali semenjak ia memutuskan kekasih nya.


Jaga dirimu baik-baik...


Itulah kalimat yang ia dengar sebelum pria itu keluar dari apart nya.


"Aku sudah melakukan hal yang benar kan? Ini yang terbaik untuk kami..." gumam nya membuang nafas kasar.


Ia tak pernah melihat raut dan iris yang begitu berbeda, mata yang bergetar dan takut di tinggalkan berada di mata pria itu.


Dan semenjak hari itu ia tak lagi melihat Sean ataupun berbicara ataupun hanya sekedar mengirim pesan.


...


Universitas.


Setelah kelas selesai gadis itu pun beranjak menuju parkiran dan ingin segera bergegas kembali ke apart nya.


Plak!


Satu pukulan yang tak sopan melayang di bok*ng gadis itu hingga membuat Ainsley tersentak dan terkejut.


Ia mengerutkan dahi nya mengingat siapa wajah tak asing di depan mata nya.


"Lama tak bertemu cantik!" seru pria di depan gadis itu.


Ainsley beringsut memundur dan ingin segara masuk ke dalam mobil nya namun tangan nya di cekal segera.


"Kenapa kau mau membantu anak haram itu? Kau tak mau pindah dengan ku saja?" ucap pria itu menyeringai.


Ainsley mengernyit dan akhirnya ingat jika pria di depan nya adalah kakak kedua Sean, ia pernah bertemu di pesta yang diadakan Sation Company setahun yang lalu saat menjadi pasangan Sean.


Anak haram?


Ia memikirkan kara tersebut, karna selama tiga tahun ia berpacaran dengan Sean ia sama sekali tak tau menau tentang cerita tersebut.


"Kau tak tau kalau pacar mu anak di luar nikah?" ucap Danny dengan senyuman nya lalu menelisik tubuh gadis itu.


Ia ingin balas dendam pada adik tiri karna membuat sang kakak dikirim ke perusahaan cabang diuar negeri.


Ainsley tak bisa menyembunyikan raut nya, ia hanya tau hubungan Sean dengan keluarga nya tak baik namun ia tak pernah tau cerita lengkap nya.


"Kau itu cuma di manfaatkan, dia perlu kekasih yang bisa membantu nya menjadi Presdir," ucap Danny lagi yang terus menghasut gadis itu.


Walaupun tubuh gadis itu depan nya tak memiliki tubuh sintal seperti yang ia sukai namun semua proposi nya terlihat pas dan segar seperti anak remaja di tambah lagi wajah memelas dan lembut yang membuat nya semakin ingin dimangsa.


"Bukan urusan mu! Tak perlu ikut campur!" ucap Ainsley yang ingin beranjak pergi.


"Sial!" decak nya kesal melihat gadis itu mengabaikan nya.


Tempat yang sepi di daerah parkiran mobil itu membuat Danny lebih berani menjalankan aksi nya, ia memang selalu ingin merebut apapun yang di miliki oleh adik tiri nya itu.


Sejak ayah nya membawa Sean dan melihat sang ayah menyayangi adik nya itu membuat nya terus cemburu, maka dari itu ia selalu merisak dan mengambil semua yang di miliki Sean. Mainan, pakaian yang di sukai, apapun yang terlihat di sayangi pria itu selalu ia rebut.


"Akh!" Ainsley tak bisa masuk ke mobil nya rambut panjang nya tertarik ke belakang hingga membuat nya terhuyung.


"Ugh!" ringis nya saat ia merasakan sesuatu yang menusuk di leher nya.


"Tenanglah! Dasar pelac*r!" bisik Danny berbisik di telinga gadis itu sembari terus menyuntikkan sesuatu di leher Ainsley.

__ADS_1


Setelah cairan di dalam jarum itu habis ia pun melepaskan jambakan nya dan Ainsley pun langsung ingin kabur seketika namun tangan nya di cekal lagi.


"Lepas! Tolong!" teriak nya berharap ada yang berada dekat di daerah parkiran tersebut.


Ia terus memberontak dan memukul tangan pria itu berulang kali hingga,


Plak!


Tangan nya tanpa sadar menampar wajah pria itu berharap ia bisa segera di lepaskan.


"Dasar Jal*ng!" ucap nya marah dengan tatapan memerah.


Plak!


Ia pun membalas menampar pipi gadis itu hingga langsung terjatuh ke bawah, jiwa gadis itu kembali terguncang dan mulai menangis ketakutan.


"Dasar pela-"


Bruk!!


Satu pukulan keras melayang tiba-tiba di belakang kelapa pria itu.


Crass...


Cipratan cairan merah kental berbau anyir ia menyiprat ke wajah Ainsley yang menutup mata nya dengan rapat saat Danny hendak memukul nya.


Namun ia tak merasakan apapun melainkan merasakan cipratan darah yang mengenai wajah nya dan suara terjatuh hingga membuat nya membuka mata secara perlahan.


Deg...


Ia terkejut melihat pria itu terjatuh dengan kepala yang menggenang darah dan menatap siapa yang memukul nya.


"Se-sean..." gumam nya tergagap karna terkejut.


Batu bata yang berdarah serta wajah pakaian yang memiliki bercak merah itu terpampang jelas di depan nya.


"Dia tak mati," ucap Sean sembari menjatuhkan batu bata berlumuran darah yang ia pegang dan mengulurkan tangan nya agar membantu Ainsley bangun.


Wajah Ainsley memucat ia merasa takut akan pria di depan nya yang terlihat tak merasa bersalah sama sekali sedangkan genangan darah dari kepala Danny terus keluar.


"Ke-kenapa?" tanya nya gugup sembari menatap ke arah Danny yang tak sadar dengan berlumuran darah.


"Dia menghina mu, juga memukul mu..." jawab Sean datar karna baginya yang gadis nya sangat berharga bahkan melebihi berlian manapun.


Sean terus mendekat namun gadis itu semakin takut, uluran tangan yang ia berikan di tepis dan Ainsley pun tanpa sadar mendorong pria itu.


"Pergi!" teriak nya sembari mendorong Sean.


Sean terkejut ia terjatuh saat gadis itu mendorong nya dan mengusir nya tanpa sadar karna takut.


"Ada apa ini? Wah..." suara seorang pria mengalihkan kedua orang itu.


"Paman?" gumam nya dengan suara gemetar dan berlari ke arah pria itu.


"Ainsley?" panggil Sean lirih sembari menatap gadis yang bersembunyi di balik punggung pria kekar itu menyembunyikan tubuh mungil nya.


Richard tersenyum simpul ia tak tau apa yang terjadi namun situasi ini menguntungkan nya, "Dia tak mau dengan mu, lagi pula kau harus membereskan kekacauan yang kau buat kan?" Richard yang sembari melirik ke arah Danny.


"Ainsley ikut dengan ku..." ucap Sean tak memperdulikan apa yang di katakan Richard.


Ainsley tak menjawab namun semakin meremas kemeja Richard dan bersembunyi di balik tubuh nya, ia saat ini mulai kembali memasuki halusinasi saat pria itu menghukum nya.


Karna sangat terkejut tentu saja membuat kejiwaan dan mental nya kembali terguncang sedangkan ia masih dalam tahap perhatian penuh psikiater.


"Tidak mau...


Jangan hukum aku..." tangis nya gemetar saat akal nya kembali tak sehat.


Deg...

__ADS_1


Sean tersentak, gadis itu menjauhi nya seperti melihat monster jujur saja hati nya teramat sakit melihat hal tersebut.


"Ainsley..." gumam nya lirih dengan bibir bergetar memanggil nama gadis yang ia cintai.


__ADS_2