Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Side Story : (Hungry)


__ADS_3

3 Hari kemudian.


Kehilangan peliharaan pasca mati nya kucing cantik itu kini sudah tak lagi membuat Celine menangis.


Teman yang sedikit, media sosial yang tak punya, serta penggunaaan ponsel yang di batasi oleh sang kakak pada akhirnya membuat nya kembali bergantung dengan pria itu.


Langkah nya mendekat pada pria yang tengah duduk melihat ke arah laptop nya, kamar yang besar itu tentu nya menjadi sekaligus tempat kerja untuk pria tampan itu.


"Kakak," panggil nya dengan memeluk pundak pria itu dari belakang yang tengah duduk.


Steve tersenyum saat ia merasakan pelukan gadis kesayangan nya, kini hari-hari gadis itu sudah kembali seperti biasa dan memperhatikan nya seperti sebelum nya.


"Kenapa?" tanya pria itu sembari memegang tangan yang melingkar di pundak nya itu.


"Besok belanja lagi yuk," ajak nya pada pria itu.


Steve melepaskan tangan gadis itu dan menarik ke pangkuan nya.


"Bisa, pulang kamu sekolah?" tanya nya dengan gemas.


Satu anggukan menjadi jawaban gadis itu dengan semangat.


Pria itu tersenyum sembari menatap gemas dan ingin mencubit pipi gadis nya.


"Boleh aja sih, tapi kamu tidur di sini kan?" tanya pria itu sembari mencium dan perlahan membuka piyama gadis itu.


"Kakak lagi sakit?" tanya Celine dengan tatapan polos nya pada pria yang membuka pakaian nya.


"Iya, jadi harus di keluarin sekarang..." jawab pria itu sembari menutup laptop nya.


Siapa yang bisa menahan jika gadis menggemaskan itu datang dan duduk di pangkuan nya lalu menatap mata nya dengan polos dan senyuman cerah.


"Iya, gak apa-apa. Lagi pula Celine juga suka..." ucap nya dengan senyuman yang malu-malu dan wajah yang memerah.


Pria itu tersenyum, ia semakin mencium gemas gadis itu dan kembali melanjutkan aksi nya.


......................


Mentari yang cerah dan hari yang terlihat terang itu di penuhi dengan tawa gadis yang terlihat begitu ceria itu.


"Hihi wajah nya lucu kak, seru lihat badut panda..." ucap nya pada sang kakak dengan tawa yang membuat mata nya seperti sabit.


Steve tersenyum melihat gadis itu, "Celine? Jangan duduk di situ. Kotor," ucap nya pada gadis cantik itu yang masih tertawa karna mengingat badut dengan kostum panda yang membuat nya tertawa.


"Panda nya jatuh, kasihan tapi lucu..." jawab nya yang masih tertawa cerah.



Pria itu membuang napas nya, ia tak jadi memarahi gadis itu karna merasa tak suka saat gadis itu dekat dan membantu seseorang yang berada di dalam kostum panda.


Karna ia tau yang berada di dalam nya adalah seorang pria dan gadis itu terlihat tertarik, walaupun bukan ketertarikan lawan jenis namun tetap saja membuat nya cemburu.


"Kamu mau berenang sama kakak nanti?" tanya Steve pada gadis itu.


"Berenang? Mau! Yang di villa kan kak?" tanya gadis itu yang semakin semangat.


Steve tersenyum dengan smirk nya, tentu nya tak akan hanya berenang biasa namun berenang yang tak biasa belum lagi lokasi yang berada di villa pria itu semakin tak ada gangguan dari kedua orang tua nya.


"Iya, tadi kakak udah beli kamu baju buat berenang nya lagi." ucap nya yang tersenyum simpul.


"Kalau gitu di pantai aja kak," ucap Celine dengan semangat.


Pria itu sebelum nya sudah membelikan pakaian dalam yang memiliki model sekali tarik saat menemani gadis itu belanja.


Pakaian yang bagi nya akan begitu terbuka dan hanya boleh ia saja yang melihat nya.


Tapi? Pantai?


Mana mau ia menunjukkan keindahan tubuh gadis kesayangan nya itu pada orang banyak selain diri nya.


Bagi nya gadis itu sesuatu yang ekslusif yang hanya bisa di nikmati oleh nya bukan orang lain.


"Kalau ke pantai jauh, dari sini saja sudah dua jam, belum lagi nanti macet juga." ucap nya berdalih yang juga menjadi salah satu alasan nya.


Selain ia yang juga hanya ingin melihat gadis kesayangan nya, ia juga ingin cepat-cepat melihat gadis polos itu memakai pakaian dalam yang menantang.


......................


Villa


Steve menunggu di kolam renang nya, ia sudah menunggu beberapa saat namun gadis itu tak muncul dengan pakaian yang ia harapkan.


Sementara itu.


Celine mengernyit, ia menatap bingung dengan pakaian dalam yang terlihat tak bisa menutupi apapun dari tubuh nya.


"Ini kan sama aja gak pakai apa-apa, Gimana mau pakai nya ini?" gumam nya yang terlihat bingung.


"Kalau begini sekali tarik juga langsung kelihatan," ucap nya sembari memandang ke arah cermin melihat tubuh nya yang tanpa ia sadari akan membuat hasrat pria langsung naik.


"Ih, gak ada yang bisa di tutup." ucap nya saat melihat lekuk tubuh nya sendiri memakai apa yang di belikan sang kakak.


"Yauda deh pakai aja, nanti kelamaan nunggu kakak jadi marah." ucap nya lirih sembari berjalan keluar melihat sang kakak.


Ia pun datang, namun langkah nya melambat menatap ke arah pria yang sudah tertidur dengan berendam di pinggir kolam.



Selain karna kantuk saat menunggu pria itu pun juga memang sudah lelah karna memiliki terlalu banyak pekerjaan.


Celine duduk di tepi kolam, menatap wajah sang kakak yang membuat nya merasa terpesona.


Alis yang tebal, bulu mata yang lentik, hidung mancung dan bibir yang mempesona serta tubuh yang begitu bagus dengan bentukan otot yang sempurna membuat siapapun dapat jatuh hati.

__ADS_1


Tangan kecil nya perlahan memegang ke arah wajah pria itu, menyentuh nya dengan pelan di sepanjang garis hidung mancung itu.


Steve yang hanya tidur sekilas pun langsung bangun, ia membuka mata nya dan langsung terpana melihat gadis yang memakai pakaian dalam yang membuat mata nya langsung terang.


"Celine?" panggil nya sembari beranjak mendekat ke arah gadis itu.


Wajah gadis itu memerah, pasal nya sang kini tepat berada di antara kedua paha nya karna ia masih duduk di tepi kolam sedangkan pria itu sudah berada di kolam renang.


"Kak? Jangan di situ..." ucap nya lirih dengan wajah memerah.


"Kenapa?" tanya Steve tersenyum simpul menatap wajah malu gadis nya.


Wajah polos dengan tubuh ranum remaja yang tengah memakai dalaman yang dapat membuat siapapun ingin langsung memakan nya.


"Geli kak..." jawab Celine lirih pada pria itu.


"Apa nya yang geli?" ucap Steve pura-pura tak tau sembari mencium dan menghisap sekilas paha adik tiri nya itu.


"Ih, Kakak! Lihat nih Celine merinding." ucap gadis itu yang merasa geli dan tersentak akibat ulah nakal sang kakak sembari menunjukkan pori-pori nya yang naik.


Steve tertawa dan menatap gadis itu sembari mengusap paha mulus gadis yang duduk di tepi kolam itu.


"Kamu cantik pakai itu," ucap nya dengan senyuman nakal pada gadis nya.


"Kalau pakai ini apa nya yang cantik kak? Gak ada yang bisa di tutup juga, sekali tarik langsung lepas," jawab Celine dengan polos tak tau jika saat ini ia tengah membuat hasrat pria itu bangkit dan memuncak.


"Kalau pakai ini, kamu gak perlu lepas lagi kalau kakak mau cium kamu, tinggal di geser begini langsung kelihatan." ucap pria itu dengan nakal dan menggeser kain berbentuk segitiga kecil yang berada di depan nya.


"Eh?" Wajah Celine langsung memerah akibat ulah nakal sang kakak.


"Ungh! Ka..kakak nakal..." ucap nya lirih ketika wajah pria itu sudah tenggelam di antara kedua paha nya.


Steve mendengar nya namun ia tak menjawab dan hanya fokus memakan apa yang ada di depan nya.


Ia memainkan jari nya dan mengangkat wajah nya setelah membuat sang adik merasakan sesuatu yang melayang.


"Sama kamu siapa yang lebih nakal? Hm?" tanya nya pada gadis itu.


"Kak, tangan nya pelan..." ucap gadis itu lirih dengan terengah-engah.


"Pelan yang bagaimana? Seperti ini?" tanya pria itu tersenyum sembari mempercepat tangan nya.


Gadis itu tak mengatakan apapun selain suara yang semakin membuat pria itu tak bisa menahan diri nya.


Byur!


Steve menarik gadis itu ke dalam kolam setelan menarik jemari nya, ia membuat tubuh ramping itu membelakangi nya dan mulai melakukan puncak aksi nya.


....


4 Jam kemudian.


Gadis itu meminum coklat panas yang di berikan sang kakak di sore hari yang mulai memberikan angin dingin walaupun siang begitu panas.


Walaupun ia terkadang merasa sakit karna pria itu terlalu agresif namun ia juga menikmati nya karna kali ini bukan lah hukuman yang tak akan mendengarkan permintaan nya.


"Kamu udah minum obat nya?" tanya Steve yang duduk di samping gadis itu.


"Obat? Vitamin tadi yah kak?" tanya Celine sembari mengernyit.


"Iya," jawab pria itu sembari menatap ke arah wajah cantik adik tiri nya itu.


"Kalau gak minum kenapa kak rupa nya? Celine kan udah besar." jawab nya yang mulai menolak meminum obat.


Jujur saja gadis itu bahkan sulit untuk meminum obat ketika ia sakit dan kini?


Hampir setiap hari ia di suruh meminum obat tersebut setelah sang kakak bermain panas dengan tubuh nya.


"Kamu itu masih kecil, nurut aja sama kakak." ucap Steve yang tak mau menjelaskan panjang lebar.


"Tapi kenapa kak? Celine kan penasaran," jawab nya lagi pada pria tampan itu.


"Kalau kamu gak minum nanti bisa sakit, terus jadi anak kecil terus, mau?" tanya Steve pada Celine dengan mengatakan kebohongan yang akan menjadi bomerang.


"Beneran?" tanya Celine menatap tak percaya.


Ia sudah pernah membuang sekali vitamin yang di berikan sang kakak dan tak merasa sakit sama sekali, ia juga merasa tinggi nya tetap sama dan tak terlihat tumbuh sama sekali.


"Iya, masa kakak bohong sama kamu." ucap Steve mencium gemas pipi gadis nya.


"Iya deh iya," jawab Celine pada sang kakak.


"Kakak ambil lagi yah, belum kamu minum pasti." ucap Steve yang memang selalu mewanti-wanti karna takut gadis nya hamil di usia remaja.


Celine menerima obat yang di berikan sang kakak, "Kak Celine mau apel dong..." ucap nya pada pria itu.


Steve mengusap kepala adik nya, ia pun beranjak menuruti permintaan gadis kecil kesayangan nya itu.


Sedangkan Celine melihat ke arah pil kontrasepsi yang ia kenal sebagai vitamin dan meletakkan nya ke dalam tanah di pot bunga hiasan di samping ia duduk.


"Celine kan lagi gak sakit jadi kamu aja yang minum obat, biar sehat..." ucap nya tersenyum dengan mata polos sembari menyiramkan air minum nya di pot bunga kecil tempat ia mengubur pil nya.


Untuk kali kesekian nya gadis itu melewatkan pil nya yang di berikan sang kakak.


......................


3 Minggu kemudian.


Mansion Evans


"Kakak mau kemana?" tanya gadis itu lirih dengan mata berbinar dan memeluk pria itu dengan erat.


"Kakak ada urusan sebentar, Celine di ruang dulu yah..." ucap pria itu yang mengusap lembut punggung gadis yang sekarang semakin manja pada nya.

__ADS_1


"Ajak Celine gak bisa ikut?" tanya nya dengan wajah memelas yang membuat pria itu tak tega menolak nya.


Steve bukan nya tak mau mengajak namun saat ini ia tengah bekerja di perusahaan lain tanpa sepengatahuan sang ayah dan mengembangkan suatu rancangan untuk diri nya sendiri.


Membangun relasi yang nanti nya akan berguna agar ia bisa berdiri sendiri tanpa bantuan sang ayah dan memiliki posisi serta kekuasaan yang sama dengan ayah nya.


Semua itu hanya karna satu alasan!


Gadis kecil kesayangan nya tak akan bisa lagi tersentuh oleh orang lain termasuk kedua orang tua nya saat ia sudah mempunyai posisi yang sama tinggi.


Bahkan jika ia membawa gadis itu kabur dan pergi sekalipun sang ayah tak akan bisa menemukan nya dengan segala kekuasaan yang ia miliki dan ia juga bisa memberi kebutuhan pada gadis nya.


"Celine? Kakak kan pergi buat Celine juga, biar nanti kakak bisa sama Celine terus." ucap nya pada gadis itu.


"Tapi celine gak mau pisah dari kakak, rasa nya tuh lebih nyaman kalau sama kakak..." ucap nya dengan manja dan tak mau melepaskan pelukan nya.


"Kakak sebentar aja kok, nanti waktu kakak pulang, kakak turuti semua mau nya Celine deh..." ucap pria itu mengecup bibir gadis di depan nya.


Gadis itu terlihat lesu dan cemberut, ia melepaskan pelukan nya dan beranjak pergi, "Kakak gak sayang Celine lagi!" ucap nya dengan merajuk dan keluar dari kamar sang kakak.


Pria itu membuang napas nya, gadis kecil nya semakin sensitif, manja, dan mudah marah pada nya.


Namun begitu pun ia semakin suka dan merasa gemas akan tingkah gadis kesayangan nya itu.


......................


Internasional high school.


Gadis itu keluar bersama teman-teman nya, senyuman cerah terlihat di wajah cantik itu.


"Celine makan nya banyak banget, biasa nya makan nya sedikit?" celetuk Rachel pada teman nya.


"Eh? Nama nya juga lapar, tadi kan kita abis pelajaran olahraga." jawab Celine pada temannya itu.


"Biasanya tuh haus Celine," jawab Rachel terkekeh.


"Nih, aku juga minum." jawab gadis itu sembari meminum jus yang ia pesan.


"Kalau gitu aku yang makan," ucap Rachel sembari merebut makanan teman nya.


"Ih! Rachel nyebelin!" ucap Celine pada teman yang tertawa lepas itu.


...


Pria itu menatap ke arah gadis yang sang adik yang terlihat kesal itu.


"Kenapa?" tanya nya pada gadis kecil kesayangan nya.


"Masa tadi makanan aku di ambil temen ku kak, aku kan masih laper! Jahil banget!" adu nya pada sang kakak.


"Makanan aja?" tanya Steve mengulang.


Satu anggukan menjadi jawaban, pria itu pun membuang napas nya pelan, biasa nya gadis itu tak akan begitu perhitungan dengan makanan.


"Kakak beliin pizza mau?" tawar nya agar rasa kesal sang adik hilang.


"Mau! Celine jadi laper lagi denger pizza hihi!" ucap nya yang langsung tersenyum cerah padahal sebelum nya tengah memasang wajah masam.


Pria itu tersenyum tipis, ia mengusap kepala gadis nya.


......................


Restoran.


Steve menatap gadis cantik yang tengah makan dengan lahap itu, menghabiskan satu pizza ukuran besar sendirian padahal biasa nya sangat sulit untuk menyuruh gadis itu makan.


"Kamu makan terus sekarang? Biasa nya tidak mau makan banyak..." ucap nya sembari mengusap sudut bibir gadis yang terkena saya dengan tissu.


"Enak sih kak pizza nya," jawab Celine tersenyum.


"Kakak?" panggil gadis itu pada pria di depan nya.


"Hm?"


"Kiss Celine," ucap gadis itu tiba-tiba dengan senyuman cerah.


Steve terkejut sejenak, bukan nya tak mau namun ia heran dengan sikap gadis nya yang sekarang selalu memberi nya kejutan.


Namun tetap saja ia merasa senang dengan permintaan gadis itu.


"Tumben kamu mau di kiss kalau lagi di luar?" goda pria itu menatap adik nya.


"Celine malah sekarang mau nya di peluk kakak," ucap nya dengan tersenyum karna ia semakin hari hanya ingin lengket terus seperti lem pada pria itu.


Cup!


Steve dengan gemas mengecup bibir gadis di depan nya, "Mau ke sana tidak? Nanti kakak peluk?" tanya nya sembari menunjuk bangunan hotel yang terlihat di tempat mereka makan.


Celine menggeleng, "Celine tuh mau nya di peluk terus di cium, bukan mau yang itu kak..." ucap nya pada sang kakak.


Ia hanya sedang ingin manja dan lengket pada sang kakak bukan sedang ingin melakukan hubungan yang sebelum nya lagi.


Steve melihat gemas ke arah gadis itu, "Love you..." ucap nya lirih tanpa sadar saat melihat wajah gemas adik tiri nya yang masih mengenakan seragam sekolah tersebut.


"Love you too," jawab Celine tersenyum pada sang kakak.


...****************...


Oh iya kalau ada yang tanya ini kenapa gak di jadikan beda novel aja karna othor rencana nya Hanya pendek aja yah paling panjang juga cuma 40 atau 30 an eps nya.


Dan kalau novel baru pasti cari judul, sinopsis, cover dan takut nya jadi gak tekajar nanti, sekian jawaban dari othor yah๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Happy reading๐Ÿ’•๐Ÿ’•

__ADS_1


__ADS_2