Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Angel


__ADS_3

Kediaman Belen.


Gadis kecil yang memilki paras seperti boneka dengan mata bulat berwarna hijau dan coklat keemasan, bibir mungil yang berwarna merah muda dan pipi menggemaskan dengan wajah cantik yang memiliki kulit seputih susu dengan rambut ikal bergelombang yang rapi.


"Juga mau main..." gumam nya kecil saat ia menghela nafas nya karna bosan dalam pelajaran nya.


Untuk gadis seusia nya yang masih ingin bermain namun tak bisa mendapatkan nya karna harus belajar.


Gadis itu pun turun dari meja belajar nya dan menuju ke ruangan sang ibu, "Bunga nya cantik!" seru gadis berparas bak boneka hidup tersebut saat melihat bunga yang sudah di susun dengan cantik di dalam vas yang berada sebelum kamar sang ibu.


Dengan tangan kecil nya ia mencoba menyentuh bunga yang sudah di rangkai sang ibu di dalam vas.


"Sedang apa? Kau tak belajar?" tanya seorang wanita yang langsung mengejutkan gadis kecil itu.


Prang!!!


Karna terkejut gadis itu tak sengaja menjatuhkan vas yang berisi rangkaian bunga yang di buat sang ibu.


"Dasar anak sial! Apa yang kau lakukan?!" tanya wanita itu marah dan langsung mendatangi gadis kecil yang berdiri gemetar ketakutan tersebut.


"Ma-maaf Mah..." ucap nya lirih dengan suara gemetar dan menunduk.


Plak!


Satu tamparan kuat mendarat di pipi gadis yang masih berumur 6 tahun tersebut hingga membuat nya langsung jatuh tersungkur ke lantai.


Gadis itu tak berani menjawab dan hanya menangis sembari memegang pipi nya yang terasa perih dan mulai lebam.


Wanita itu tak merasa iba ia sudah terbiasa menjadikan gadis kecil itu sebagai pelampiasan nya sejak masih berumur 3 tahun. Yang awal nya hanya mencubit kini mulai menampar, memukul dan menjambak rambut gadis itu hingga terkadang sampai rontok.


"Aduh! Sakit Mah! Huhuhu...


Ampun..." tangis yang mulai menggema saat tangan sang ibu menarik rambut panjang nya dengan kuat.


"Kau harus nya di kamar dan belajar kan?! Kenapa disini?!" teriak wanita itu sembari memukuli putri semata wayang nya.


Plak! Plak!


"Sakit Mah...


Huhuhu..." tangis gadis itu melindungi kepala nya dari pukulan dan tarikan rambut yang begitu kuat.

__ADS_1


Auch!


Ringis gadis itu saat tubuh kecil nya di seret dan di tarik paksa ke gudang di ruang bawah tanah yang gelap dan lembab hanya memiliki sedikit cahaya dari ventilasi udara yang berada di dekat pintu.


Cahaya dari lampu di kediaman megah itu juga yang bisa memasuki nya. Semua pelayan melihat nyonya Belen itu menyiksa putri nya hanya karna hal sepele namun tak ada satupun yang berani menghentikan nya karna mereka juga masih menginginkan keselamatan nya.


Bruk!


Wanita itu melempar tubuh mungil yang sudah lebam membiru dengan pukulan yang baru ia layangkan.


"Diam disana! Renungkan kesalahan mu!" ucap wanita itu dengan tatapan tajam.


"Mah...


Ainsley gak mau disini...


Mau main sama teman yang lain..." ucap nya lirih dengan tangis segugukan sembari meraih kaki ibu nya.


Bruk!


Wanita itu menendang gadis kecil yang sedang memeluk kaki nya karna tak ingin kembali di kurung di ruangan lembab dan gelap tersebut.


Gadis itu terlempar dan langsung jatuh tersungkur, ia menangis dan meringkuk dalam rasa sakit nya. Bukan nya merasa iba wanita itu malah tersenyum simpul dan mendekat ke arah gadis kecil yang meringkuk tersebut.


"Akh! Ampun Mah...


Ainsley janji jadi anak baik Mah...


Sa..sakit Mah..." teriak nya dalam tangis saat paha kecil nya di injak oleh sang ibu yang saat itu memakai heels tinggi.


"Maka nya jangan banyak membantah! Bermain? Kau juga tak boleh melakukan nya! Yang boleh kau lakukan hanya mengikuti apa yang ku katakan." ucap sang ibu dengan senyuman puas melihat gadis kecil itu merintih menahan sakit.


Gadis kecil yang masih berumur enam tahun namun tak dapat bermain atau berteman dengan sosialisasi yang begitu di batasi membuat nya tak tau apapun tentang dunia dan menjadikan nya bodoh dengan kehidupan sosial saat ia beranjak dewasa.


"I-iya Mah..." ucap nya dengan susah payah di tengah tangis nya.


Wanita itu pun tersenyum, pakaian putri kecil yang mulai terlihat tak rapi dan kusut serta wajah sembab karna tangis dan tubuh yang membiru di segala sisi tak terkecuali wajah nya.


Ibu gadis itu pun mengibaskan tangan nya dan mengusap nya membuang sisa helai rambut yang ikut rontok di tangan nya karna ia menyeret gadis kecil itu dengan menarik rambut nya sekuat tenaga.


"Kau seperti nya terlalu gemuk sekarang sebaik nya kau mengurangi makanan mu, dan kau di sini sampai ayah mu pulang." ucap wanita itu tersenyum simpul dan meninggalkan putri nya yang tengah meringkuk kesakitan dalam tangisan lirih nya.

__ADS_1


Ia tak merasa bersalah sama sekali dan merasa senang saat mendengar tangisan gadis itu, ia ingin suami nya terluka saat melihat ia menyiksa putri nya dan menceraikan nya setelah itu mendapat kebebasan nya.


"Jangan ada yang melepaskan atau memberi dia makan dan minum sampai Michele kembali," perintah nyonya di kediaman mewah itu pada para pelayan yang saling menatap khawatir pada nona muda nya.


"Ba-baik nyonya..." ucap para pelayan tersebut dengan takut dan menunduk sekaligus merasa iba dan kasihan pada gadis malang itu.


......................


2 Minggu kemudian.


Gedung konser.


"Ainsley?" panggil Sean saat melihat kekasih nya melamun sebelum memasuki aula panggung nya.


"Eh? Iya?" jawab Ainsley gugup yang di sadarkan lamunan nya saat melihat karangan bunga harum di tangan nya yang baru saja di berikan kekasih nya.


"Kenapa? Hm? Gugup?" tanya pria itu dengan lembut pada gadis yang memakai gaun berwarna putih polos dan bando putih di kepala nya.


"Bukan, aku suka bunga nya..." jawab gadis itu dengan senyuman seperti malaikat yang baru saja jatuh dari langit.


"Kalau kau suka, akan ku belikan lagi nanti." ucap Sean dengan gemas sembari mencubit pipi gadis itu.


Ainsley hanya tersenyum manis mendengarnya, ia bisa mendapatkan bunga tanpa mendapat pukulan dari pria di depan nya, walaupun terkadang pria itu kasar pada nya namun ia tak begitu memperdulikan hal tersebut.


"Tapi paling suka sama Sean!" seru Ainsley sembari memeluk pria itu.


Cup...


Satu kecupan lembut melayang di bibir gadis itu hingga membuat senyuman cerah merekah di wajah gadis cantik itu.


Setelah waktu tampil di mulai, Sean pun duduk di bangku nya melihat gadis nya yang begitu cantik memainkan permainan piano dengan jemari lentik nya.


Alunan yang menjadi satu dengan konsep polos yang sungguh menunjukkan jati diri gadis itu.



Setelah suasana permainan nya selesai gadis itu berdiri dan memberi hormat namun mata nya sempat melihat ke arah lain karna menolak pandangan mata sang ibu yang menatap nya tajam dan dingin.


"Dia sangat menarik...


Aku semakin menginginkan nya..." gumam seorang pria dengan seringai nya yang duduk di bangku terakhir menyaksikan pertunjukan gadis itu.

__ADS_1


Wajah dan sikap yang polos seperti malaikat membuat nya semakin ingin memiliki dan mengotori gadis itu dengan dunia nya yang penuh dengan lumpur.


__ADS_2