
3 Hari kemudian.
Ainsley kini mulai sangat menyukai bayi nya, wajah yang memiliki bentuk yang sama seperti Ayah nya dan kulit yang seputih dirinya.
"Kau sudah selesai?" tanya pria itu saat melihat gadis itu merapikan pakaian nya ketika selesai memberi asi.
"Hm, Paman mau lihat dia?" tanya Ainsley melihat sekilas dan kembali menatap ke arah putra nya.
Ia tak bisa berhenti menurunkan senyuman nya, rasa nya ia benar-benar memiliki keluarga, satu-satu nya hubungan darah yang ia ciptakan sendiri.
Richard mendekat, melihat makhluk kecil yang rapuh dan menggemaskan itu terlelap sembari terkadang mengesap bibir nya seakan masih menyusu.
"Seharusnya kau berhenti memanggil ku paman," ucap Richard pada gadis itu.
"Hm?"
"Panggil aku dengan sebutan lain," ucap pria itu mengulang.
"Daddy? Biar Baby Axel terbiasa?" tanya gadis itu sembari memutar kepala nya.
"Lalu kau jadi Mommy nya?" tanya pria seperti mengikuti alur yang di buat gadis itu.
"Tentu! Aku kan yang melahirkan nya!" jawab Ainsley dengan cepat.
Lalu kembali melihat ke arah putra nya sembari sesekali mengusap pipi lembut bayi menggemaskan itu.
Richard menunjukkan smirk nya, anak yang dulu nya tak di inginkan gadis itu kini menjadi bagian dari kesayangan nya yang tak bisa di lepaskan.
...
Pukul 08.15 pm.
Ainsley melihat layar ponsel nya, jarinya mengetuk, bingung antara ingin menelpon atau tidak pada pria yang ia sukai.
"Bukan nya setelah melahirkan aku bebas kan? Terus kenapa sekarang masih takut sih?" gumam nya sembari tangan nya dengan ragu melihat ke arah nomor telepon di ponsel nya.
Tuk!
"Astaga!" pekik nya terkejut saat jarinya tanpa sadar benar-benar menelpon pria itu.
"Halo?" jawaban dari sebrang sana panggilan nya terhubung.
"Sean?" jawab gadis itu lirih.
Tak ada balasan sejenak, namun pria itu segera membalas jawaban gadis itu.
"Hm? Kau tidak bisa tidur?" tanya pria itu dengan nada rendah, ia ingat dulu gadis itu pun sering menelpon saat tak bisa tidur ataupun sedang bosan.
"Bu-bukan, aku mau beri tau..." jawab nya lirih.
"Beri tau apa?" jawab Sean dari telpon.
"Aku sudah melahirkan, anak nya bukan anak ku benar-benar menggemaskan!" jawab gadis itu gugup.
Hening sejenak, pria itu terdiam tak membalas ucapan gadis itu karna jujur ia merasakan sedikit sakit di hati nya, namun saat mendengar suara yang terlihat senang itu ia pun tak ingin lagi menghapus nya.
"Benarkah? Selamat yah, aku boleh melihat nya?" tanya pria itu yang bersikap seakan menyukai kelahiran anak pertama gadis itu.
"Boleh! Sean kapan mau kesini?" tanya Ainsley semangat.
Mungkin ia egois namun ia masih melakukan apapun yang menurut hati nya akan membuat nya bahagia.
Ia yang masih belum ada hubungan apapun dengan Richard tentu membuat nya masih bebas memilih, namun ia lupa jika anak yang ia lahirkan membuat nya memiliki satu tali sebagai bukti jika ia dulu pernah melakukan hubungan dalam dengan pria itu.
"Hm? Besok? Setelah meeting?" tanya Sean pada gadis itu.
"Bisa! Nanti aku kasih tau rumah sakit sama kamar aku!" jawab Ainsley dengan semangat.
"Yasudah, sekarang tidur." ucap Sean pada mantan kekasih nya tersebut.
......................
La Pierre Penthouse.
Selama di Spanyol, dibandingkan membuat kembali mansion mewah ia lebih memilih membeli salah satu apartemen termewah di negara tersebut.
Sean menatap lampu binar yang bersinar di balik dinding kaca yang besar tersebut, menampilkan semua bentuk kota dari atas.
__ADS_1
"Dia sudah melahirkan," gumam pria lirih sembari membayangkan akan jadi seperti apa anak yang di lahirkan gadis itu.
Apakah akan mirip ayah nya atau lebih mirip pada ibu nya.
......................
Keesokkan harinya.
Sebuket bunga yang harum datang bersama pria yang membawa nya.
"Sean?" panggil gadis itu saat melihat pria yang ia tunggu sudah datang.
"Bagaimana kondisi mu?" tanya pria itu sembari memberikan bunga untuk gadis yang tengah di rawat pasca melahirkan itu.
"Baik, aku sudah dapat perawatan." jawab Ainsley tersenyum.
"Kau mau lihat bayi ku?" tanya nya sembari beranjak bangun.
Pria itu langsung mendekat dan berusaha memapah nya, "Tidak apa, aku bisa sendiri." jawab Ainsley tersenyum sembari mendorong bantuan pria tampan itu.
"Sean mau lihat anak ku?" tanya Ainsley pada pria itu.
"Hm, siapa nama nya? Dia sudah punya?" tanya Sean pada gadis itu.
"Sudah! Paman yang beri nama!" jawab gadis itu segera, "Axel Miller Zinchanko."
Sean mengangguk, "Nama yang bagus." ucap nya tersenyum tipis.
Ainsley berjalan mendekat ke arah keranjang bayi yang tak jauh dari nya, pria itu pun juga mendekat melihat makhluk kecil yang tengah tertidur.
"Dia..." ucap pria itu lirih.
Ainsley menoleh ke arah pria itu mendengar jawaban yang menggantung.
"Sangat mirip ayah nya," sambung Sean pada gadis itu.
"Tidak! Dia mirip dengan ku!" sanggah gadis itu sembari kembali menatap bayi nya, "Iya kan, sayang?" tanya gadis itu sembari menguyel pipi putra nya.
Baby Axel mulai menggeliat, ia mengusap ke kanan dan ke kiri karna ibu nya mengganggu tidur nyenyak nya.
"Huu..." Baby Axel semakin menggeliat dan mulai seakan ingin bangun.
"Tapi gemas..." jawab Ainsley tersenyum menatap putra nya yang semakin menggeliat sebelum bangun.
"Ainsley?" panggil Sean lirih dan tak lama kemudian.
HUE....
Huhu....
HUE...
"Dia bangun kan?" ucap pria itu pada gadis di samping nya yang terkejut mendengar tangisan putra nya sendiri.
"I-iya..." jawab Ainsley tertawa kikuk sembari berusaha mengambil putra nya dan menggendong nya.
"Ssttt..."
"Anak kesayangan Mommy, jangan nangis lagi..." ucap nya berusaha menenangkan putra nya.
"Tangan mu jangan terlalu di lipat," ucap Sean sembari membenarkan posisi tangan gadis itu.
Sedangkan Baby Axel masih terus menangis tersedu karna tidur nya di ganggu oleh ibu nya yang merasa gemas melihat nya.
"Aduh! Infus ku!" ringis Ainsley saat pria itu membenarkan posisi gendong nya.
Sean pun mengambil bayi mungil itu dari tangan Ainsley sehingga gadis itu bisa membenarkan infus nya lebih dulu.
"Sstt..."
"Tenang yah, sekarang kita tidur yah..." bisik pria itu di telinga bayi kecil sembari menggendong dan menyandarkan di dada bidang lalu menepuk dan mengelus punggung mungil itu dengan lembut.
Ia pernah mengikuti kelas perawatan anak yang sama seperti Ainsley saat Richard masih tak begitu membatasi hubungan mereka.
Tangisan bayi kecil itu perlahan reda, dan mulai tenang. Mata nya mulai kembali terlelap saat bersandar di dada bidang pria itu.
"Eh? Dia tidur?" tanya Ainsley terkejut melihat putra nya, "Mungkin dia mengenal mu? Aku dengar bayi yang dalam kandungan bisa kenal siapa yang sering berinteraksi dengan ibu nya." ucap Ainsley tersenyum.
__ADS_1
Sean tak begitu mengerti hal seperti itu namun bayi kecil itu mulai kembali terlelap di dada bidang nya.
"Kalau paman yang gendong dia juga cepat tidur," ucap Ainsley sembari menguyel pipi putra nya lagi.
Sean menjauhkan Baby Axel dari tangan gemas gadis itu, "Dia baru tidur nanti bangun lagi."
"Aku kan ibu nya!" jawab Ainsley lesu.
"Iya, tapi tangan mu usil." jawab Sean pada gadis itu.
Ainsley hanya dia sembari terlihat sedikit kesal namun ia merasa senang hari ini, "Dia tidur nya nyaman, mungkin dia salah kira Sean adalah paman mungkin?" celetuk gadis itu.
"Mungkin..." jawab Sean lirih, "Kau terlihat sangat menyayangi nya." sambung menatap wanita itu.
Ainsley tersenyum menatap putra nya yang tertidur, "Dulu aku memang tidak tau akan seperti ini, tapi sekarang waktu lihat dia lahir dia itu seperti akan jadi kebahagian ku, hidup ku." jawab nya tanpa sadar saat melihat ke arah putra nya.
Sean diam sejenak, ia menatap ke arah gadis itu lalu melihat ke arah putra gadis itu juga.
Beberapa saat kemudian.
Setelah mengembalikan Baby Axel ke keranjang bayi nya, Sean pun menyeduhkan teh untuk gadis itu.
"Aku berencana kembali ke Prancis setelah ini," ucap Ainsley setelah meminum teh yang di berikan oleh pria itu.
"Prancis? Bukan nya kau lebih suka di sini?" tanya Sean pada gadis itu.
"Benar, tapi kalau Papah tau aku masih hidup, mungkin Mamah Clarinda bakal kena masalah." jawab Ainsley tersenyum pahit.
"Aku bisa bantu rahasiakan tentang mu, orang tua mu juga tidak akan tau." ucap Sean pada gadis itu.
Ainsley menggeleng, kalau soal itu, Richard pun sudah menawarkan bantuan yang sama namun tetap saja akan ada cela yang mungkin akan membuat orang tua asli nya tau.
"Katakan kalau ada yang kau inginkan," ucap pria itu setelah melihat gadis di depan nya menggeleng.
Ainsley menatap pria itu, "Sean tidak takut dekat dengan ku? Mungkin bisa terluka lagi." tanya gadis itu.
"Aku akan terluka kalau jauh dari mu," jawab pria itu tertawa.
"Aku tidak bercanda Sean! Kalau nanti tiba-tiba-"
"Tenang saja, aku tidak akan mati lebih dulu sebelum kau." potong pria itu tersenyum.
"Sean!"
"Iya, bercanda..." jawab pria itu sembari mencubit pipi gadis itu dengan gemas.
"Apa yang kalian lakukan?"
Suara yang membuat gadis itu tersentak dan menatap ke arah pintu di mana suara itu datang.
Sean menoleh dan berbalik, "Menurut mu?"
"Ck! Dasar sia-"
"Kita bicara di luar," ucap Sean sembari menahan pria itu dan membawa nya keluar.
Ia tau jika di biarkan lebih lama lagi mungkin Richard akan memukul nya ataupun ia yang memukul pria itu duluan.
...
"Sedang apa kau di sini?!" tanya Richard merasa geram.
"Kau punya hak menanyai ku?" tanya Sean yang semakin membuat pria itu geram.
Richard menarik kera kemeja Sean dan Sean pun langsung melakukan hal yang sama.
Tatapan yang sama-sama memandang dengan tajam dan kuat, bagai macan dan singa yang tengah berada dalam pertarungan.
"Kau mau melewati pintu kematian lagi?!" tanya Richard dengan tajam.
"Kalau pun aku mati, aku akan membawa mu!" ucap Sean dengan tatapan yang sama.
"Kau tak akan bisa menyentuh nya lagi!" ucap Richard pada Sean dengan geram.
Sean menggertak kan gigi nya, ia pun tersenyum yang membuat pria itu terprovokasi.
"Kau hanya memiliki tubuh nya tanpa hati nya, kau yakin cukup puas dengan itu?" tanya Sean dengan smirk nya.
__ADS_1
Richard menjadi geram, ia marah sekaligus ingin membunuh pria di depan nya saat ini juga namun ia harus menahan nya.
"Saat aku memiliki tubuh dan hidup nya, dia bahkan tak akan berani memikirkan siapa yang di hati nya lagi." ucap Richard yang kini berbalik memprovokasi pria itu.