Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Stuck with past


__ADS_3

Mansion Zinchanko.


Pria itu memakai kemeja putih yang ia ambil dari lemari nya barusan, satu persatu kancing rapi itu ia kaitkan di kemeja nya.


Tangan nya membuka salah satu laci meja kaca di samping nya guna mengambil jam tangan yang di simpan dan di susun di dalam rak yang rapi.


Ting!


Pria itu menoleh, ia melihat salah satu gelang yang terjatuh ke lantai saat ia menarik jam tangan nya yang berada di dekat jajaran jam tangan milik istri nya.


"Gelang? Aku tidak pernah lihat yang seperti ini? Juga tidak pernah membelikan nya," gumam nya lirih sembari memikirkan sesuatu hingga membuat dada nya memanas.


"Richard? Masih lama?" suara yang memanggil nya dari luar ruangan dan beranjak ke dalam ruangan.


Ia pun membuka ruangan ganti itu dan melihat pria yang tengah memegang gelang nya di tangan.


"Kenapa ada pada mu?" tanya nya beranjak mendekat dan ingin meraih nya namun Richard langsung memundur dan mengangkat tangan nya.


"Siapa yang memberi nya?" tanya nya dengan wajah yang datar sembari memberikan tatapan yang tajam pada wanita itu.


"Beri apa? Aku beli sendiri kok!" jawab Ainsley sembari berusaha mengambil nya.


"Kenapa tidak pernah kau pakai? Aku juga tidak ingat kau pernah beli yang seperti ini," ucap Richard yang enggan memberikan gelang tersebut.


"Perhiasan ku kan banyak, kau mana ingat yang aku beli yang mana saja kan?" tanya Ainsley lagi.


"Kalau begitu buang saja yang ini, aku belikan yang baru." ucap nya sembari beranjak keluar dan membawa gelang cantik tersebut.


Mata wanita itu membulat mendengar nya, ia langsung mengikuti langkah suami nya dan berbalik.


"Apa sih?! Jangan kebiasaan buang-buang barang! Kan ini barang aku! Juga beli nya pakai uang ku kan?!" tanya nya sembari mengejar dan berusaha mengambil nya.


Richard tak membiarkan tangan kecil itu mengambil apa yang berada dalam genggaman nya, ia menepis tangan dengan tenaga tak seberapa itu.


"Kau yang beli? Yakin? Bukan ada yang membelikan nya?" tanya pria itu sembari mendekat dan menatap tajam.


"Itu gelang ku, kembalikan." jawab Ainsley sembari membuang pandangan nya.


Richard menggeleng pelan melihat nya, "Kau gila?! Kita sudah hampir menikah 6 tahun dan kau masih menyimpan barang pemberian pria lain?!" bentak nya yang memenuhi kamar tersebut.


Ainsley tersentak, bibir nya membatu tak menjawab pertanyaan yang terdengar sangat emosi dan kesal itu.


"Pria lain apa? Memang nya aku ada keluar selama lima tahun terakhir? Aku juga keluar hanya dengan mu kan?" elak nya sembari berusaha mengambil nya lagi.


"Tidak! Mau mu itu apa sih?! Aku sudah berusaha jadi yang kau mau kan? Tapi apa?! Kau masih seperti ini!" ucap nya sembari menepis tangan yang ingin merebut gelang di genggaman nya.


"Aku juga sudah ikuti mau mu kan?" tanya Ainsley mengernyit.


"Do you still love him? It's been almost 6 years," tanya pria itu mendekat sembari menatap iris hijau di depan nya.


Ainsley terdiam, ia tak membalas ataupun menjawab nya, "Jangan tanya yang tidak-tidak!"


Richard memejam rasa nya dada nya kembali memanas, memang hubungan nya membaik selama 5 tahun terakhir namun ia terkadang juga sering bertengkar karna kecemburuan nya.

__ADS_1


Setiap kali mereka keluar ke pesta ataupun pergi bersama dan ada yang mendekat ataupun terus melihat wanita itu maka ia juga akan marah.


Dan karna alasan itu lah wanita itu semakin jarang keluar, tak hanya ia putra nya pun sama seperti nya, ikut terkurung di tempat mewah itu.


"Tidak-tidak?! Kau sendiri saja tidak jawab!" ucap nya kesal sembari menarik dan menyudutkan wanita itu ke dinding.


Ukh!


Ainsley meringis, tangan nya menyentuh dan memegang erat tangan yang saat ini tengah melingkar kuat di leher nya.


"Le-lepas! Aku tak bisa napas..." ucap nya lirih dengan wajah memerah.


Pria itu tak mengatakan apapun, ia masih terbakar dengan cemburu nya.


Sementara itu.


Axel mulai bosan menunggu kedua orang tua nya turun untuk sarapan bersama, tangan mungil nya bermain sendok dan garpu di depan nya.


"Mommy lama banget sih manggil Daddy!" gumam nya berdecak dengan kesal sembari memanyunkan bibir nya.


Ia pun perlahan turun dan berjalan ke kamar kedua orang tua nya, "Axel panggil aja deh! Mommy nih suka telat!" gerutu nya sembari berjalan ke kamar kedua orang tua nya.


Ia pun telah sampai dan membuka pintu kamar kedua orang tua nya.


"Jawab! Mendadak suara mu hilang?! Ha?!"


Deg!


Anak berumur 5 tahun itu tersentak, ia terkejut mendengar suara besar sang ayah dan melihat dari pintu wajah memerah sang ibu yang tak bisa bernapas sama sekali.


Richard tersentak mendengar suara mungil putra nya, ia perlahan melepaskan tangan nya dan membuat wanita itu ambruk ke lantai serta langsung terbatuk.


"Huhu! Daddy kok jahat sama Mommy?" tangis nya yang terkejut sembari memeluk ibu nya.


Ainsley mengambil napas nya dan menghirup udara yang sempat tak bisa ia hirup selama beberapa saat tadi.


"Sstt, Daddy gak jahat kok! Mommy gak apa-apa..." ucap Ainsley sembari memeluk tubuh mungil yang menangis dan masuk kedalam pelukan nya.


Sedangkan Richard hanya diam melihat putra nya menangis tersedu, "Sini sama Daddy."


"Gak mau! Daddy nakal! Daddy nakal sama Mommy!" ucap nya sembari menangis dan menolak tangan sang ayah.


"Makan sama Mommy yuk, Axel lapar kan? Anak Mommy kenapa nangis? Daddy gak jahat sayang..." ucap nya sembari menghapus air mata anak laki-laki menggemaskan tersebut.


"Lehel Mommy kenapa jadi belubah walna? Kok jadi bilu? Mommy mau belubah jadi Dolaemon? Huhu..." tangis nya yang semakin menjadi melihat leher sang ibu yang membiru karna cekikan sang ayah.


"Hush! Masa Mommy jadi Doraemon? Sarapan sama Mommy yah," ucap nya sembari menggandeng putra nya.


Ekor mata nya melirik sejenak ke arah pria itu, ia pun berusaha bangun sembari mengambil gelang yang berada dalam genggaman pria itu dan membawa putra nya keluar.


Richard hanya mengepal melihat wanita itu mengambil gelang yang berada di tangan nya sekilas dan membawa putra nya.


"Argh!" ia frustasi karena tak bisa melakukan apapun saat putra nya melihat nya.

__ADS_1


...


Pukul 10.25 pm


Ainsley mengelus dan mengusap wajah putra nya yang kini sudah terlelap setelah ia membacakan buku cerita.


Ia melihat ke arah jam di dinding kamar putra nya yang menunjukkan jika malam sudah larut namun suami nya masih belum kembali.


Ainsley membuang napas nya pelan, ia tau jika suami nya memang akan pergi tadi pagi tapi tak tau akan kembali selarut ini.


Ia tau pertengkaran nya kali ini memang merupakan salah nya namun ia juga tak ingin membuang semua barang masa lalu nya.


"Maaf," gumam nya lirih.


Mata nya perlahan menutup kantuk sembari memeluk putra nya saat menunggu suami nya.


Pukul 01.52 am


Richard kembali, ia mengganti pakaian nya dan kembali bersih sama seperti itu pergi meninggalkan rumah mewah itu.


Ia pun langsung beranjak ke kamar nya dan melihat tempat tidur nya yang kosong, mata nya mengernyit namun ia tau dimana lagi istri nya kalau tak berada di kamar nya.


"Dia di sini lagi," gumam nya sembari mendekat dan mengambil wanita perlahan agar tak membangunkan putra nya ataupun membuat wanita itu terbangun.


Ia pun menggendong nya kembali ke kamar nya, walaupun ia tadinya sedang sangat marah namun ia juga tetap tak bisa berjauhan dari wanita itu.


Ia hanya membuang napas nya dengan pelan sembari menyelimuti tubuh wanita itu dan perlahan memeluk nya juga sebelum menjatuhkan dan mengistirahatkan mata nya.


...


Cahaya yang mulai masuk memenuhi ruangan yang mewah itu membuat Ainsley perlahan terbangun.


Tubuh nya merasa berat dan ia merasakan dekapan di tubuh nya yang mengukung nya.


Pandangan yang mengabur itu perlahan jernih dan melihat ke arah pria itu.


"Aku akan lebih berusaha lagi, jadi ku mohon bersabar..." gumam nya sembari menyentuh wajah pria itu.


Ia tau pria itu tak akan meminta maaf ataupun merasa bersalah pada nya, namun ia yang tak nyaman karna merasa yang menjadi sumber masalah dalam pertengkaran nya kali ini.


......................


Mansion Sean.


Pria itu mengancing kemeja di tangan nya, sedangkan pria yang menunggu nya di balik kaca terlihat tengah menggeser layar lebar dan pipih di depan nya.


"Ada jadwal lagi hari ini?" tanya nya sembari menoleh ke belakang.


"Pertemuan dengan dewan utama ** grup hari ini jam 8," jawab pria itu sembari mendekat dan menunjukkan jadwal nya.


Sean mengangguk, "Oh iya, selain pertemuan di pesta 6 bulan yang lalu kau tau apa dia punya kabar terbaru?" tanya nya lirih.


"Presdir! Ini sudah hampir 6 tahun!" ucap sekertaris Jhon yang langsung menyemprot tuan nya karna menanyakan kabar dari wanita yang sama terus menerus.

__ADS_1


"Memang nya apa hubungan nya? 6 atau 10 tahun tidak ada batasan kan?" tanya nya enteng sembari mengendikkan bahu nya.


__ADS_2