Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)

Never Gone (Hasrat Dan Obsesi)
Side Story : ( Now you're mine)


__ADS_3

Gemerlap cahaya yang menyinari ball hotel membuat mata siapapun dapat merasakan kemewahan di dalam nya.


Suara berisik dari beberapa orang yang tengah berbicara mulai terdengar bersahutan dengan melodi indah yang bermain memenuhi tempat tersebut.


Gaun putih yang menyapu lantai dengan mengembang dan hiasan yang terlihat sederhana namun juga anggun di saat bersamaan.


Pria itu menunggu dengan berdiri di ujung tujuan, menatap nya dengan tatapan lembut dan hangat.


Gadis itu tersenyum tipis, ia menatap pria yang menjadi pendamping di samping nya untuk mengantar nya, rasanya ia tak begitu nyaman karna yang ia ingin untuk mengantarkan pernikahan nya kelak adalah pria yang ia panggil dengan Papa.


Langkah pelan itu berhenti tepat di samping pria yang beberapa detik lagi akan menjadi pasangan hidup nya yang resmi di mata hukum dan yang maha kuasa.


Janji pun mulai di ucapkan, sumpah sehidup semati mulai terucap dan mengikat satu sama lain.


Pria itu menatap iris biru di depan nya, terlihat bahagia namun juga sendu di saat bersamaan karna merindukan seseorang yang ia sayangi.


Menarik leher jenjang gadis itu perlahan dan mulai memangut bibir merah muda mungil di depan nya.


Tamu yang datang pun bersorak, hanya kenalan dan rekan pria itu saja yang hadir karna gadis nya tak sempat memiliki teman sama sekali ataupun mengenal orang lain.


"I Love you, now you're mine..." bisik pria itu saat tautan manis nya terlepas.


Celine tersenyum namun ia tak mengatakan apapun.


...


Acara yang panjang dan melelahkan itu akhirnya berakhir, pasangan yang kini sudah resmi itu pun memilih menginap di hotel presiden suite room tempat di mana ia melangsungkan pernikahan nya.


Piyama tidur yang tipis membuat lekuk sempurna gadis itu terlihat, tubuh nya mulai kembali seperti sedia kala, tak terlihat seperti tubuh wanita dewasa karna masih terlihat bagaikan remaja yang berkembang dan perlahan beranjak berubah menjadi fisik yang seharusnya untuk wanita dewasa.


"Kak?" panggil nya lirih ketika pria itu mencium tengkuk nya dari belakang.


Langit yang gelap dengan hiasan bintang yang bertabur karna malam itu merupakan malam yang cerah di tambah dengan gemerlap lampu bangunan dan jalan yang membuat malam tersebut bagaikan lentera yang terang.

__ADS_1


"Hm? Kenapa?" Steve menjawab sembari mengelus lengan halus gadis nya.


"Kita nikah tapi Mamah Papa gak datang kak?" tanya Celine lirih yang merindukan kedua orang tua nya.


Steve menghentikan elusan nya sejenak, ia perlahan mendekat dan merengkuh tubuh kecil itu dalam dekapan nya, sedangkan Celine hanya melihat bayangan nya dari dinding kaca besar hotel tersebut.


"Mereka kan gak mau datang, mereka itu gak peduli sama kita..." ucap nya pada gadis nya, "Kamu pernah coba telpon tapi tidak di angkat kan?" tanya nya lagi.


Gadis itu memang pernah beberapa kali menghubungi kedua orang tua nya namun tak pernah sampai karna sang kakak sudah memblokir nya sejak awal hingga panggilan dan pesan itu tak pernah sampai.


"Tapi masa mereka gak kangen kita kak? Masa Mama gak kangen Celine lagi?" tanya nya lirih.


Steve diam sejenak, jujur saja ia tak memiliki niat sama sekali untuk kembali. Ia tak tau apa yang ada di pikiran orang tua nya jika ia kembali dan sudah menikahi gadis yang dulu di tentang habis-habisan.


Dan yang terpenting ia tak bisa melupakan di mana gadis nya tergeletak di lantai dengan kesakitan dan hampir keguguran.


"Kakak gak mau ada yang pisah sama kamu, Mama sama Papa gak mau kita bareng..." ucap nya lirih sembari memeluk gadis nya dengan erat.


Tapi ia tak bisa melakukan nya karna masih mempertimbangkan orang tua nya sendiri lah yang melakukan nya, sehingga yang ia lakukan hanya membawa lari gadis nya agar tak ada yang menjadi penghalang nya lagi ataupun membahayakan anak-anak nya seperti sebelum nya.


"Kakak gak kangen Mama Papa?" tanya Celine pada sang kakak.


Steve tak menjawab, ia membalik tubuh gadis itu hingga menatap nya.


Iris biru yang terang itu menatap seakan membutuhkan jawaban segera.


"Sekarang kelurga kamu itu kakak, ada anak kita juga. Kamu punya kakak sayang..." ucap nya lirih dengan lembut.


"Iya, Celine lupa kita kan udah nikah..." jawab nya lirih.


Steve tersenyum mendengar ucapan polos gadis nya yang bahkan lupa dengan acara nya barusan.


Pria itu mulai memangut bibir gadis nya lagi dengan lembut, ia mengelus leher jenjang itu dengan menarik pinggang ramping itu agar semakin lekat dan erat pada nya.

__ADS_1


Tak ada perlawanan sama sekali gadis itu tau kini ia tak punya alasan apapun lagi, apa lagi dengan latihan setiap hari yang membuat nya semakin terlatih untuk di beberapa hal tentang keharmonisan nya bersama pria nya.


Pria itu perlahan menurunkan ciuman nya, menarik nya piyama itu hingga jatuh ke lantai, menghimpit tubuh gadis nya hingga tak bisa lari kemanapun.


Ia pun perlahan menggendong tubuh gadis nya dan membawa nya ke atas ranjang, ciuman itu berlanjut sedangkan tangan nakal itu kini tengah membuka salah satu pakaian yang tertinggal di tubuh gadis nya karna menghalangi jemari nya.


"Kak..." panggil gadis nya itu lirih yang terbuai dengan sentuhan pria nya.


"Hm?" Steve menjawab tanpa melihat ke arah gadis nya karna sibuk menciumi apa yang ada di depan nya.


"Celine mau di atas kakak..." jawab nya lirih.


Steve pun langsung melihat dan menoleh ke arah gadis nya.


"Biasanya kan kakak yang menang, Celine yang kalah, yang ngerasain pegel semua kan Celine, sekali-sekali kakak yang rasain, kan kita udah nikah..." ucap nya lirih.


Steve mengernyit mendengar nya, kalah dan menang? Apa bagi gadis itu yang hanya diam menikmati adalah yang kalah?


Ia tersenyum simpul mendengar nya, ia pun langsung naik dan membalik tubuh gadis nya hingga membuat gadis itu duduk tepat di atas perut nya.


"Nah sekarang coba kamu buat kakak yang pegel, kakak gak lakuin apapun lagi, terserah kamu mau sentuh kakak di mana aja." ucap nya sembari meletakkan tangan gadis itu di dada bidang nya.


Wajah cantik itu langsung memerah bagaikan tomat melihat tubuh bidang yang penuh otot berada di bawah tubuh nya, ia bahkan menduduki perut yang penuh dengan kotak itu hingga membuat nya bisa merasakan suhu hangat sang kakak.


"Coba kamu duduk nya turun sedikit lagi," ucap Steve yang sedikit menurunkan tubuh gadis itu.


Celine semakin memerah hingga membuat sang kakak tertawa dengan gemas, "Mulai dong, katanya mau buat kakak yang pegel?" tanya Steve yang sudah tak sabar dengan gadis nya.


"Ih! Ka..kakak nanti Celine buat gak bisa bangun lagi loh nanti pagi!" ucap nya tak mau kalah tanpa tau jika ia lah nanti nya yang tak akan bisa bangun lagi.


Steve tertawa mendengar ucapan gadis nya, "Makanya coba buat kakak gak bisa bangun besok pagi." ucap tersenyum sembari mengelus dan mer*mas roti bantal yang gadis nya yang begitu empuk itu.


"Ka..kakak nakal!" ucap Celine memerah yang menyadari kejahilan tangan yang menganggu nya walau kini ia berada di posisi yang lebih mendominasi.

__ADS_1


__ADS_2